
"Ini dia pasangan pengantin kita! Mari kita sambut, Marea Skylar Johnson dan Rainhard Luther!" tukas Jacob dengan antusias saat melihat putra bungsunya masuk ke dalam ruangan pertemuan dengan hanya memakai jaket bertudung serta celana jeans sobek-sobek. Sementara Rea, memakai kaus ketat memperlihatkan perut ratanya, outer hitam, serta celana kargo berwarna khaki.
Pasangan itu berdiri diam mematung sesaat dan tak lama, Rain menggandeng tangan Rea dan menuntutnya dengan percaya diri sambil melambai-lambaikan tangan ke arah para wartawan dan juga Jacob.
Rea memutuskan untuk ikut serta dalam permainan keluarga Luther ini. Wartawan pun segera mengarahkan kamera serta lampu sorotnya ke arah mereka.
"Tuan Luther, jadi kira-kira apa pernikahan ini mengusung tema minimalis dan anti-mainstream atau memang Anda berdua sengaja membuat sensasi?" tanya salah satu wartawan dan dengan cepat dia mengacungkan mike-nya ke wajah Rain dan Rea bergantian.
"Ahahaha! Anggap saja, kami mengusung tema dadakan dengan persiapan yang cukup mendadak juga," Rain kemudian mengangkat tangan kanan Rea dan memperlihatkan pita kabel yang mengikat jari kanannya. "Lihat! Hanya aku yang sanggup memberikan cincin ini pada kekasihku! Hahaha!"
Sontak saja, semua lampu flash kamera mengarah pada jari kanan Rea. Cahaya menyilaukan yang berasal dari kamera ponsel maupun kamera lainnya membuat gadis itu terpaksa mengalihkan pandangannya. Di sanalah matanya bertemu dengan kedua mata Ken. Rea memberikan senyum kecil pada kakak dari calon suaminya itu.
Seolah-olah puas menikmati pertunjukan dari anaknya, Jacob bertepuk tangan, menghampiri putranya, dan merangkulnya. "Sudah! Sudah! Silahkan, teman-teman wartawan, kami persilahkan untuk menikmati makanan yang sudah kami siapkan. Setelah itu masing-masing akan kami berikan waktu untuk bertanya kepada pengantin baru kesayanganku ini. Mari, mari, silakan,"
Selagi perhatian para wartawan teralihkan dengan makanan lezat nan mewah yang dihidangkan oleh Jacob, Rain protes kepada ayahnya tersebut. "Apa maksud Papa?"
"Kalian tau kalian sedang dihukum, 'kan? Kenapa kabur?" tanya Jacob tanpa memandang manik putra bungsunya.
"Astaga, ngga kabur! Cuma pengen keluar sebentar aja dibilang kabur! Papa too much!" tukas Rain kesal sambil berdesis.
Jacob menulikan indera pendengarannya, saat ini dia merasa marah sekali kepada putra nomor duanya itu, hingga malas untuk menanggapi sanggahan dari Rain. Dia hanya berharap, mereka introspeksi diri atas perbuatan mereka yang sudah sangat membahayakan nyawa mereka. Apalagi kali ini, Rea ikut terlibat di dalamnya. Bagaimana mereka bisa instrospeksi kalau mereka asik jalan-jalan? Jacob mendengus, kemudian berbicara lagi kepada Rain, "Temui wartawan setelah ini. Berdua!"
"Papa, ih!" protes Rain lagi. Dia tidak habis pikir mengapa ayahnya bisa semarah itu kepadanya. Toh, mereka hanya keluar dan dulu pun, tidak masalah. Kenapa sekarang menjadi sesuatu yang berat?
Rea mengejar Jacob saat pria itu keluar dari ruang pertemuan. "Papa! Tunggu!"
Merasa namanya dipanggil, Jacob pun berhenti. "Rea,"
"I'm sorry, Pa," kata Rea tanpa basa-basi. Gadis itu menundukkan kepalanya kepada Jacob.
"Untuk apa?" tanya Jacob.
Ingin sekali rasanya menangis. Sudah lama Rea tidak merasakan rasanya dimarahi oleh seorang ayah. Ayahnya pun tidak akan marah dengan membentak-bentak Rea, tetapi diam dan jika Rea meminta maaf, Alex akan bertanya untuk apa dia meminta maaf.
"Hmmm, Rea banyak salah sama Papa. Rea belajar motor dan ikut balapan dan Rea pergi main bersama Rain. Maafin Rea, Pa," jawab Rea masih tertunduk. Suaranya tercekat menahan tangis yang sudah ditahannya sejak dia sampai di gedung itu.
Jacob terdiam sesaat. "Kenapa kamu mengikuti Rain? Setiap apa pun yang dia lakukan, pada akhirnya kamu lakukan juga. Apakah kalian merasa hebat dengan melakukan itu?"
Rea menggelengkan kepalanya perlahan. Nafasnya sesak karena suara Jacob terdengar begitu pahit. "Tidak, Pa,"
Jacob melirik cincin kabel di jemari lentik Rea dan dia tersenyum. "Mintalah ganti cincin pada Rain, sebelum jarimu itu terluka,"
Rea memandang jarinya. Pandangan matanya sudah mengabur karena air mata yang tertahan. Dia mengangguk dan berjalan mendekati Jacob lebih dekat lagi.
Jacob merentangkan kedua tangannya dan membiarkan calon menantunya itu memeluknya dan menumpahkan butiran air mata yang Jacob tau, gadis itu sudah lama menahannya.
Berita tentang pernikahan Rain dengan Rea, merebak dengan cepat sampai ke telinga Archie Warren. Archie yang baru saja kembali dari luar negeri untuk menemani ibu serta keluarga barunya, cukup terkejut mendengar berita pernikahan itu.
"Weh, nikah macam apa itu? Hmmm, apa gue juga harus cari pendamping hidup? Ngeliat Speed kayaknya udah punya seseorang, kenapa gue juga pengen?" tanya Archie pada salah satu anak buahnya.
Anak buahnya itu tersenyum. "Gue setuju, Bos. Kita harus lebih dewasa dan jangan sampe kita ngga punya regenerasi,"
Archie menjentikkan jarinya. "Analisa cerdas! Gue suka pola pikir lo. Tapi, gue nyari cewek di mana?"
"Cewek Luther aja. Nikahnya belum resmi, mana ada nikah pake baju begituan. Belum lagi cincin yang dipake ceweknya, ya kali pake kabel," kata anak buah kepercayaannya itu.
Archie mengangguk-angguk dan memikirkan ucapan dari tangan kanannya itu. Rea? Itukah namanya? Archie mengingat-ingat wanita yang pernah dihadiahinya ciuman pertamanya. Secara tak sadar, Archie meraba bibirnya dan mengingat rasa manis bibir Rea. "Sakit!"
Sambil memberengutkan bibirnya, dia kembali mengingat tentang Rea. Cara dia menyelesaikan masalah di arena balap, sangat sekssi menurut Archie. Cara dia membuka helmnya dan menenangkan balapan itu, benar-benar membuat Archie tergila-gila pada Rea.
"Lo bener, gue harus sama cewek Luther itu! Udah gatel bibir gue buat nyium dia lagi," kata Archie sambil mematut dirinya di depan cermin.
"Temuin aja di rumah Luther, Bos. Speak-speak mau ngasih hadiah pernikahan," usul pria bertindik dan bertampang mengerikan itu.
"Bener juga. Gue juga harus kelihatan lebih ganteng dari Speed, dong? Udah jelaslah, gantengan gue! Cewek itu belum terlalu kenal sama gue, nanti kalo dia udah kenal juga dia bakalan naksir sama gue, hahahaha! Yuk, ah, temenin gue. Lo juga mesti cakep, masa calon pengiring pengantin gue kumel dekil begini? Hahaha!" sambil merangkul pria dekil itu, Archie pun membawa mereka ke sebuah pusat perbelanjaan ternama di negeri itu.
Sementara itu, setelah acara tanya jawab dengan wartawan, Rea bersin-bersin sebanyak tiga kali dan membuat orang-orang di sekitarnya menoleh khawatir. "Lo ngga apa-apa, Re?"
"I'm oke," jawabnya santai. "Tiba-tiba gue merinding, ngeri banget. Ada apaan, ya?"
Rain memberikan jaketnya pada Rea dan memakaikannya. "Capek, bukan ada apa-apaan. Kalo ada apa-apaan pun, gue akan ngelindungin lo, Re,"
Rea mengangguk dan berharap semoga segalanya akan baik-baik saja dan mereka semua dijauhkan dari hal buruk. "Semoga,"
...----------------...