My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Ken Dan Lizzy



"Lo lebay! Lo ngga suka kalo gue pada akhirnya nikah sama Rea! Yang janggal itu adalah perasaan lo ke Rea yang seharusnya udah lo hapus dari kapan tau, Kak!" tukas Rain melahap teori tentang firasat buruk Ken.


Setelah putra sulung Jacob Luther itu bertemu dengan Lizzy dan mengungkapkan apa yang dia rasakan terhadap rencana pernikahan adiknya, Ken pun memberitahukan kepada Rain perihal firasatnya itu. Setelah sebelumnya dia ditolak mentah-mentah oleh ayahnya sendiri.


"Gue serius, Rain! Gue rasa firasat gue bukan cuma sekedar ketakutan atau kekhawatiran gue doang," sanggah Ken lagi bersikeras.


Namun, tidak hanya Rain yang berpendapat demikian. Ayahnya serta Lizzy pun mengatakan hal yang sama. Bahwa, dia hanya takut karena Rea akan segera menikah dan dia akan patah hati tanpa lagi ada sisa harapan.


Rain menunjuk pelipisnya dan kedua maniknya menatap kakaknya itu dengan tatapan kesal dan tajam. "Cari cewek biar lo bisa lupain Rea, Kak!"


Mengingat hari pernikahannya yang semakin dekat dan dia tidak ingin kakaknya terlihat patah hati atau bahkan terlihat tidak waras, maka Rain menemui Lizzy untuk meminta bantuan pada gadis cantik itu.


"Lo minta gue untuk apa?" tanya Lizzy yang tidak mempercayai indera pendengarannya.


"Deketin kakak gue," jawab Rain. "Bayangin aja, lusa gue merried, lah dia dateng-dateng pake bilang punya firasat buruk tentang pernikahan gue! Bisa stress gue, Zy!"


Lizzy menarik napas dan menghembuskannya panjang. "Kakak lo susah banget dideketin, Rain. Hatinya dia udah ketutup,"


Rain sedikit menepuk telapak tangannya. "At least, dia ngga parno, Zy. Ayolah bantu gue,"


Lizzy pun mengangguk. Dia hanya memiliki waktu satu hari sebelum pernikahan Rain dan Rea berlangsung dan dalam waktu satu hari itu pula, dia harus bisa membuat hati Ken berpaling kepadanya. Maka, sepanjang sisa hari itu, dia habis-habisan mengingat bagaimana gerak-gerik Rea dan berakhir dengan putus asa.


"Sudahlah, Lizzy. Jadi diri sendiri jauh lebih nyaman. Rea tetaplah Rea," kata gadis itu bermonolog.


Keesokan paginya, Lizzy sudah bertamu di kediaman Luther. Tentu saja, Jacob senang sekali dan menyambut kedatangan Lizzy dengan sukacita. Tak lupa, pria dengan botak ditengah itu, mengajaknya untuk sarapan bersamanya.


Lizzy pun masuk dengan senyum lebar di wajahnya dan gadis itu juga mengungkapkan tujuannya datang pagi-pagi sekali ke rumah Luther.


"Oh, kamu mau mengajak Ken untuk menemanimu mencari hiasan rambut? Silahkan, silahkan! Ajak dia pergi yang jauh kalau perlu, hahaha!" ucap Jacob sambil tertawa.


Karena sudah mengantongi izin dari sang empunya rumah, akhirnya Ken pun pergi bersama Lizzy pagi itu walaupun dengan sedikit menggerutu dsn mengatakan sesuatu tentang rapat yang akan dia lewatkan jika dia menemani Lizzy pagi itu.


"Lo mau ke mana, sih, sebenarnya?" tanya Ken.


Lizzy menghentikan mobilnya. Dia sudah memikirkan langkah ini sejak semalaman sampai dia tidak bisa tidur. Lizzy memandang kedua manik biru Ken dan dia mendekati wajah pria itu, perlahan tapi pasti, Lizzy mendaratkan kecupannya tepat di bibir Ken.


"Shitt! Lo ngapain, sih!" Ken gelagapan dan berusaha mengusap-usap bibirnya.


Lizzy tersenyum dan kembali mengendarai kendaraannya. "Biar lo inget gue,"


"Aarrgghh! Aneh banget lo, Zy!" tukas Ken masih terus mengusap bibirnya yang kini sidah berubah menjadi merah karena terlalu banyak diusap.


Mau tak mau, Lizzy tertawa melihat tingkah laku pewaris utama keluarga Luther tersebut. "Ngga akan ada yang tau kalo putra sulung Luther ternyata cowok super manja,"


"Emang gue manja? Nggalah!" protes Ken lagi.


"Secara ngga langsung, lo manja, Kak. Sebelum lo kenal sama gue dan sebelum kita deket, gue ngeliat lo bukan sebagai cowok manja tapi, cowok yang bisa diandalkan, cowok yang keren, dan cowok yang berwibawa. Tapi, makin lama gue kenal lo, lo manja banget, Kak," jawab Lizzy tersenyum.


Tetapi, itulah kesan yang dia dapatkan saat dia pertama kali mengenal Ken. Berbeda dengan Rain, Rain sudah terlihat manja saat mereka pertama kali bertemu walaupun Rain jauh lebih keren karena aura bad boy-nya terasa sekali.


"Kak, Rain yang minta gue untuk ngajak lo jalan. Kenapa gue mau? Karena gue pikir, gue lagi jomblo dan ngga ada kerjaan juga, jadi gue ngajak lo, deh," kata Lizzy tiba-tiba dengan mimik wajah serius. "Kalo ditanya, gue suka sama lo atau ngga, gue ngga tau karena selama ini gue ngga pernah mikirin ke situ,"


"Dia ngga mau kakaknya kelihatan menyedihkan dan putus asa di acara pernikahannya besok," jawab Lizzy tanpa basa-basi. "Lo masih belum ikhlas soal Rea, 'kan? Tapi, at least lo harus move on, Kak,"


Ken terdiam dan memikirkan ucapan Lizzy itu. Sulit memang melupakan seorang Rea. Sejak awal pertemuannya dengan Rea, Ken sudah jatuh cinta kepadanya walaupun saat itu, dia baru mengenalnya lewat foto yang dikirimkan ayahnya kepadanya.


Begitu Jacob memberitahu Ken dan Rain tentang perjodohan yang telah dilakukan oleh kedua orang tua Rea dan Jacob, Ken sudah berharap akan menikah dengan Rea. Mau dia dijodohkan atau tidak.


Sejak saat itu pulalah, wajah cantik Rea yang sedang tersenyum selalu hadir dan tanpa terasa, Rea sudah menjajah hati Ken dan duduk menguasai hati pria itu. Saat ini, dia harus membuang gadis yang sudah lama menggenggam erat hatinya itu hanya karena gadis itu memilih adiknya sebagai pendamping hidup.


Rasa-rasanya dia tidak akan bisa semudah itu melepaskan bayang-bayang Rea dari benaknya. Namun, ucapan Lizzy ada benarnya juga. Dia harus bergerak maju, dengan atau tanpa Rea, ini hanya tinggal perkara waktu. "Gue harus apa?"


"Lo lupain dia dan liat gue," kata Lizzy, entah keberanian darimana yang mendorong gadis itu untuk berkata demikian.


Ken tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Rain yang ngajarin lo ngomong gitu?"


Wajah Lizzy sontak saja memerah, dia berdeham dan berusaha tetap fokus dengan kemudi mobil yang sedang dia pegang. "Ngga. Gue mikir aja sendiri. Biasanya orang kalo udah maksa begitu, 'kan?"


"Hahaha! Emang lo mau sama gue, Zy?" tanya Ken tertawa.


Pertanyaan Ken yang spontan itu membuat Lizzy melakukan pengereman mendadak dan mobil sport miliknya mendadak berhenti. Dia menatap tajam ke arah Ken yang masih tertawa.


"Kennard Luther, lo sadar ngga sama apa yang barusan lo ucapin?" tanya Lizzy. Gadis itu sudah tidak peduli dengan klakson mobil milik pengendara lain yang mengklakson mobil mereka.


"Ke pinggir dulu," kata Ken.


Tangan Lizzy bergetar. "Ngga bisa, lo udah bikin gue shock! Hati gue tuh rapuh banget, Kak,"


Sambil tertawa, Ken keluar dari mobil dan mengatupkan kedua tangannya pada pengendara lain, meminta maaf. Kemudian, dia menggeser Lizzy dan mengambil alih kemudi mobil. "Sambil jalan, ya. Dari sini, gue yang nyetir,"


"Kak, jawab dulu! Lo mainin gue namanya!" kata Lizzy merajuk.


Tepat di lampu merah, Ken mendekatkan wajahnya pada wajah Lizzy dan mengecup lembut bibir gadis itu. "Nah, itu yang lo harapkan, 'kan? Hahahaha!"


Wajah Lizzy kembali memerah, tetapi kali ini, dia tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja. Dia melingkarkan kedua lengannya pada leher Ken dan memagut bibir yang telah memancing permainan manis hari ini dengan panas.


Tak mereka pedulikan lampu merah yang sudah berganti menjadi hijau. Yang ada hanyalah kedua hati mereka yang saat ini bergemuruh dan berdentang ramai sekali di dalam sana.


Ketika akhirnya pagutan mereka terlepas, wajah mereka berdua sama-sama merona merah.


"Itu ciuman apa?" tanya Lizzy.


"Ciuman karena lo berhasil buka hati gue sedikit, hehehe. Tapi abis ini, lo harus tanggung jawab ya, Zy," kata Ken sambil tersenyum manis sekali.


"Tanggung jawab apa?" tanya Lizzy yang masih bergetar hebat. Dia tidak menyangka bahwa dia dan Ken akan berciuman seperti tadi.


"Kalo gue udah jatuh cinta sama orang, gue ngga akan mudah ngelepasin orang itu. Jadi, lo harus tanggung jawab untuk tetep ada di samping gue, karena gue ngga akan ngelepasin lo mulai detik ini," jawab Ken tersenyum.


...----------------...