
"Tuan, ada temannya yang nyari," kata salah seorang pelayan Jacob pada keesokan paginya.
Rain yang sedang duduk di meja makan dan hendak sarapan bersama, mengerenyitkan keningnya. "Temen? Cewek apa cowok?"
"Cowok, Tuan. Yang dicari Tuan Rain katanya," jawab si pelayan wanita itu lagi.
Jacob mengedikan kepalanya pada Rain, meminta putra bungsunya itu untuk menemui tamunya terlebih dahulu. Dengan enggan, Rain meletakkan sendok nasi gorengnya dan beranjak dari tempat duduk untuk menemui seorang pria yang mencarinya.
Namun begitu sampai di depan pintu dan melihat siapa yang datang, emosinya segera saja meluap. "Ngapain lo ke sini? Tau darimana alamat rumah gue? Sini lo!"
Dengan kasar, Rain menarik tamu prianya itu untuk menjauh dari rumahnya. "Jelasin!"
Si pria tersenyum penuh arti. "Santai, Bro. Gue cuma mau kasih hadiah buat calon istri lo. Mana dia?"
Rain mencengkeram leher pria itu. "Brengsek! Jangan pernah lo punya niat untuk nemuin Rea atau keluarga gue yang lain, Hunter! Gue ngga pernah ngusik keluarga lo dan gue harap, lo ngelakuin hal yang sama kayak gue! Paham, lo?"
Hunter tertawa sambil berusaha melepaskan tangan Rain dari lehernya. "Easy! Easy, Bro. Gue bawa misi damai. Kayaknya, kita udah ngga pantes untuk main pukul-pukulan lagi. Jadi, kita silahturahmi aja. Biar nanti anak-anak kita yang nerusin tradisi kita. Betul?"
"Gue ngga bodoh! Ngga akan gue biarin, anak gue bergaul sama anak lo!" bisik Rain, tetapi dia sudah melepaskan cengkeraman lehernya pada Hunter.
Hunter terhuyung dan terbatuk-batuk. "Hahahaha! Janganlah benci sama anak-anak! Belum tentu anak gue mirip banget sama gue, 'kan? Kali aja dia mirip sama mamanya,"
Kening di wajah Rain berkerut-kerut, apakah Hunter sudah memiliki calon pendamping? Ah, tetapi siapa peduli dengan itu? "Gue ngga peduli, asal lo ngga ganggu hidup gue, lo aman, Bro!"
Hunter mengangkat kedua tangannya, tampak sekali dia kerepotan dengan kado yang dibawanya. Setelah memastikan Rain tidak mencengkeramnya, dia memberikan kado itu kepada Rain. "Kapan-kapan gue ke sini lagi, Bro. Inget, misi damai,"
Pria itu pun tertawa sambil berlalu dan melambaikan tangannya. Sementara Rain membaca pesan yang tersemat pada hadiah yang diberikan oleh Hunter.
"Rea? Kenapa cuma Rea? Dan nama pengirimnya Archie? Jarang-jarang dia mau pake nama Archie. Apaan, niy, maksudnya?" tanya Rain bertanya-tanya sambil masuk ke dalam lagi.
Setibanya di dalam, dia memberikan kado itu kepada Rea. Namun, gadis itu hanya meletakkannya begitu saja di kursi kosong yang ada di sebelahnya. Lalu, dia melanjutkan sarapannya.
Tidak ada yang aneh semenjak kedatangan Archie Warren ke kediaman Jacob. Rain berpikir, mungkin akan ada teror atau apa yang akan membuat keselamatan Rea terancam, tetapi tidak ada yang terjadi. Semua berlalu dengan tenang.
Hadiah pemberian Archie memang sedikit aneh menurut Rain. Sebuah kotak musik berbentuk merry go round serta sebuah pajangan berbentuk sepasang laki-laki dan perempuan sedang duduk dengan membawa balon hati berwarna merah. Dia hanya mengkhususkan hadiah itu untuk Rea dan hal ini belum berhasil dia pecahkan. Mengapa hanya Rea? Dan hadiah itu, biasanya identik diberikan kepada seorang kekasih bukan seorang teman. Apa pula maksud Archie ini?
Namun setelah ditunggu beberapa hari, Archie tidak datang lagi. Hanya saja, Rea menceritakan sesuatu terkait Archie. "Rain, lo pernah ngga, sih, ngasih tau nomor gue ke temen-temen motor lo? Selain anak-anak Dead Vagabonds maksud gue?"
Rain menggelengkan kepalanya. "Nope, why?"
Tanpa bicara, Rea memperlihatkan ponselnya pada Rain. Pria itu pun mengambil ponsel kekasihnya dan membaca pesan yang ada di sana. "Archie? Dan lo ngeladenin dia, Re?"
"Kan, lo bisa liat foto profilnya! Masa lo lupa kalo dia orang yang nyaris memperkosa lo! Ayolah, Re!" tukas Rain kesal sambil mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. "Dia cuma nanya gitu doang? Ngga aneh-aneh, 'kan?"
Rea menggelengkan kepalanya. "Gue tau dia yang nyaris perkosa gue waktu itu, tapi dia bilang, dia minta maaf dan dia begitu karena emang lagi mabuk aja. Sejauh ini, sih, ngga aneh-aneh. Kalo aneh, gue pasti ngomong sama lo-lah! Ngga mungkin gue ngadepin cowok kayak gitu sendirian,"
"Ya udah, hati-hati. Gue juga ngga bisa ngelarang lo untuk ngejauh atau apa. Yang jelas lo tetap harus waspada ya, Re," pinta Rain.
Rea mengangguk. Sikap manisnya itu mendapatkan hadiah dari Rain berupa pagutan panas yang sanggup melelehkan hati Rea siang itu.
Sulit sekali melepaskan pagutan mereka itu, sampai Lizzy mengetuk pintu ruangan mereka. "Woi! Bapak Ibu!"
Rain dan Rea berdeham bersamaan dan merapikan pakaian mereka yang sempat teracak sedikit. "Ngagetin aja lo, Zy!"
"Yee! Sekantor pada liat! Tutup tirainya baru deh lo berdua ehem ehem! Tuh, liat muka Kak Ken, udah kayak ngeliat apaan sampe pucat kayak gitu," kata Lizzy, kemudian dia menutup tirai ruangan Rea sehingga orang luar tidak dapat melihat ke dalam. "Maap ganggu, gue minta tanda tangan,"
Rea merapikan duduknya dan kembali bersikap profesional di hadapan sahabatnya itu. Dia mengambil pena dan menandatangani beberapa dokumen yang diberikan oleh Lizzy.
Tak lama, Lizzy pun keluar dengan membawa karangan bunga super besar. "Marea Johnson, lo bener-bener primadona. Dari Archie Warren,"
"Archie?" tanya Rain, dia nyaris melompat dari kursinya hanya untuk melihat siapa nama pengirim buket bunga untuk kekasihnya itu.
Dia mengepalkan kedua tangannya dan menghancurkan beberapa tangkai bunga mawar merah yang terangkai rapi pada buket tersebut. "Makhluk satu itu, apa maunya, sih? Buang aja! Buang! Ini namanya ngajak ribut! Udah tau lo punya gue, bisa-bisanya dia deketin lo! Orang gila!"
Rea dan Lizzy saling berpandangan dan Rea pun mengangguk, memberikan tanda pada Lizzy untuk cepat-cepat menyingkirkan buket bunga itu dari hadapan Rain.
Namun terlambat, karena Rain sudah menyambarnya dan membawa buket bunga itu pergi bersamanya. Rea sudah tau ke mana tujuan Rain, tempat Archie, sudah pasti!
Benar saja, begitu tiba di kediaman mewah Warren, Rain segera melemparkan buket bunga itu ke wajah Archie. "Jangan deketin cewek gue lagi atau lo ngga akan pernah bisa jalan seumur hidup lo!"
"Apaan, sih! Lepas!" tukas Archie. "Gue ngga mau main pukul, tapi kalo lo maksa, tangan gue ngga akan gue rem lagi!"
Rain melepaskan Archie begitu saja, tetapi pandangan matanya masih menatap tajam pada pria berjas kotak-kotak berwarna cokelat itu. "Apa maksud lo deketin Rea? Dia calon istri gue!"
"Calon! Biar aja dia milih, toh selama ini cuma ada lo, 'kan? Sekarang, ada gue. Jadi, kita tanding secara fair," jawab Archie santai.
Sebuah tinju melayang di wajah tampan Archie dan melenyapkan senyumnya. "Dari dulu sampe kapan pun, cuma boleh ada gue! Paham, lo!"
...----------------...