My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
PDKT



Setelah 24 jam, Rain dan kawan-kawannya pun dibebaskan dengan syarat. Tindak tanduk mereka akan di awasi oleh polisi setempat sampai 3 bulan ke depan. Mereka pun diberikan sanksi sosial, yaitu membantu polisi patroli di waktu-waktu tertentu.


Setelah mereka menandatangani kesepakatan itu, mereka diizinkan keluar dari kurungan. Rain dan Hunter saling berpandangan tajam, polisi yang melihat mereka segera memisahkan kedua pria muda itu.


"Archie Warren, aku tidak peduli seberapa banyak uang yang ayahmu berikan. Ini sudah kesekian kalinya kau membuat keributan. Jika ini terulang lagi, aku terpaksa akan memberikanmu hukuman berat," kata polisi itu tegas.


Kemudian polisi itu menoleh ke arah Rain dan menuliskan beberapa catatan untuknya. "Rainhard Luther, ini kedua kalinya. Kasus pertamamu aku simpan, tapi aku mohon, jaga sikapmu,"


Petugas polisi itu memberikan catatan kecil kepada Rain dan Hunter. "Bawa itu saat kalian mengerjakan sanksi kalian, aku akan memberikan stempel begitu kalian selesai mengerjakan tugas tersebut,"


Rain dan Hunter aka Archie mengangguk lemah. Dengan dikawal oleh masing-masing dua petugas sipir, Rain dan Archie berpisah jalan.


Di depan rumah tahanan itu, Jacob sudah menunggu Rain dengan wajah garang. Dia mengangguk kepada petugas sipir dan menemani sang putra berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Di sepanjang perjalanan, Jacob hampir tidak berbicara sama sekali. Namun begitu mereka sampai di rumah, Jacob melayangkan tangannya untuk menampar Rain. "Kamu! Memalukan sekali! Nama baik Papa dipertaruhkan di sana! Bisa-bisanya kamu ulang kesalahan yang sama! Balapan liar dan pukul-pukulan! Astaga, Rain! Kamu bikin umur Papa berkurang sepuluh tahun setiap harinya!"


Rain memegangi pipinya dan menunduk. Kali ini, dia tidak akan membela diri. Akan tetapi harga dirinya mendorong Rain untuk memberikan alasan mengapa dia melakukan itu. "Dia memukulku lebih dulu, Pa. Kalo aku ngga bales, aku mati. Papa mau aku mati?"


"Ada alasan kenapa dia mukul kamu duluan, 'kan?" tanya Jacob. Suaranya mulai meninggi.


"Tap-, ...."


"Ngga usah alasan lagi! Mulai detik ini, motor kamu, Papa sita! Kuncinya udah Papa pegang dan kamu harus lanjut kuliah!" tegas Jacob lagi sambil menunjukkan kunci motor kesayangan putranya.


Rain seperti tersambar petir di siang yang terik. Dia mematung sementara dan kemudian, kedua matanya menatap tajam ayahnya. "Papa pilih motor itu aku? Kalo Papa pilih aku, motor itu tetap ada di aku. Aku janji, aku kuliah, Pa. Aku mohon,"


Namun Jacob menggelengkan kepalanya. "Ini demi kebaikan dan masa depanmu, Rain. Papa harus begini karena Papa sayang sama kamu. Pernikahan kamu atau Ken sudah tinggal hitungan minggu. Jadilah pria sejati, Rain. Yang tidak hanya memikirkan dirimu sendiri,"


Setelah mengucapkan itu, Jacob mengantungi kunci motor Rain dan duduk di ruang keluarga. Sementara, Rain masuk ke dalam kamarnya. Dia berteriak-teriak dengan lantang. Jacob juga dapat mendengar suara barang dilempar dan dibanting. Pria itu hanya mengusap dadanya, berharap apa yang telah dia lakukan merupakan jalan terbaik untuk Rain.


Setelah beberapa hari mengurung diri di kamar, Rain akhirnya keluar di suatu pagi. Itu pun karena dia mendengar suara Rea.


Awalnya dia pikir dia hanya bermimpi, tetapi begitu dia membuka pintu kamar, ayah dan kakaknya serta Rea menoleh ke arahnya.


"Pagi, Rain? Udah kangen peradaban kah?" sindir Ken.


Rain mencebik dan mengacungkan jari tengahnya kepada Ken. Alih-alih masuk kembali ke dalam kamarnya, dia berjalan ke meja makan dan duduk di samping Rea. Pria muda itu hanya menatap pada gadis cantik yang sedang asik mengoles selai pada rotinya itu.


"Woy, ngapain lo di sini?" tanya Rain.


Rea menoleh kepada Rain dan memberikan senyum manisnya pada pria itu. "Makan, abis itu kuliah. Gue denger dari Papa Jacob, lo juga mau kuliah. Otak lo udah siap diisi belum?"


Rain menggebrak meja dengan kepalan tangannya. "Ngga usah ngeledek! Gue masih marah!"


"Marah aja! Kalo menurut gue, omongan Papa bener, kok. Daripada lo motoran ngga jelas, mending lo kuliah. Bentar lagi ada RUPS juga, 'kan? Siap ngga siap lo harus siap! Dewasa dikit, Rain," ucap Rea sambil menggigit rotinya.


Ucapan Rea itu seperti segelas air dingin dan segar yang membasahi kepalanya. "Pa, aku mau kuliah tapi sekelas sama Rea,"


"Beda jurusan kali," sanggah Rea lagi sambil menggelengkan kepalanya.


"Bodo amat, gue ngga peduli! Kalo ngga bareng Rea, aku ngga mau!" ancam Rain dengan gayanya yang manja.


Ken sudah siap melahap adiknya itu dengan kata-katanya yang tajam, tetapi Jacob menyuruhnya diam. "Kamu mau kuliah aja, Papa udah seneng banget, Rain. Ya udah, siap-siap, nanti Papa urus ke kampus kamu,"


"Tapi, Pa, ...." Ken yang tak puas terpaksa harus menelan kembali kata-katanya karena Jacob sekali lagi memintanya untuk diam.


Rea belajar menerima Rain dan menerima permintaan maafnya atas permintaan Jacob. Maka, dia tidak menolak saat Rain mengantar jemputnya dan menempel kepadanya.


Selama beberapa hariz hubungan mereka pun menjadi semakin dekat. Bahkan Rain sudah berjanji akan memberikan kejutan pada Rea.


"Gue suka apa aja. Lo mau ngasih gue apaan?" tanya Rea tersipu.


Rain tertawa. "Oon lo ngga abis-abis, ya. Namanya juga kejutan, ngga mungkin gue kasih tau ke lo, 'kan? Hahaha!"


"Dih, 'kan lo yang nanya duluan! Kalo lo mau ngasih kejutan, lo cari tau sendirilah kesukaan gue apaan! Payah lo!" balas Rea tajam.


Rain pun tetap menjalankan sanksi sosial yang diberikan kepadanya dengan cukup baik. Terkadang Rea menjemputnya atau menunggunya saat mereka membuat janji untuk berjalan-jalan atau sekedar menonton film bersama.


Perasaan Rea pun kini berubah. Pelan-pelan dia mulai mengenal Rain dan rasa yang sempat dia rasakan saat pertama kali Rain menjemputnya di kampus, muncul kembali. Debaran itu ternyata masih ada dan Rea membiarkan perasaan itu begitu saja, entah akan berkembang atau tidak, dia hanya akan mengikutinya saja.


Seminggu sudah berlalu, hubungan Rain dan Rea semakin dekat. Orang pertama mendengar kabar ini, tentu saja Jacob. Pancingannya untuk membawa Rea ke rumahnya saat itu, ide yang cukup bagus.


Tak semua senang dengan hubungan Rea dan Rain. Ken sedang dikuasai oleh rasa cemburu dengan kedekatan mereka, tetapi dia menuruti kata-kata ayahnya untuk memberikan kesempatan kepada Rea mengenal dan memilih.


Selain Ken, ada seorang gadis yang tidak suka dengan kedekatan Rain dan Rea. Stella Brown, mahasiswi pindahan yang kebetulan satu angkatan dengan Rea dan Rain. Dia menyukai Rain dan jatuh cinta pada pria itu pada pandangan pertama.


Ada beberapa mata kuliah yang mempertemukan mereka dalam satu kelas. Hari itu, Stella memilih Rain untuk satu kelompok dengannya. Tentu saja hal itu membuat Rea sedikit cemburu.


Setelah selesai jam kuliah, Rea berjalan lebih dulu dengan Lizzy. Dia tidak ingin melihat Rain bersama dengan gadis lain.


"Lo jealous ya, Re?" tanya Lizzy.


Rea menggeleng. "Gue? Jealous? Amit-amit! Nggalah!"


Dari belakang terdengar suara Rain memanggil namanya. "Rea! Kok lo duluan, sih?"


Rea pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan sambil menggandeng lengan Lizzy erat-erat. Rain terus memanggilnya dan tiba-tiba saja, dia sudah menarik tangan Rea dari lengan Lizzy. "Woi, lo kenapa, sih?"


"Pikir aja sendiri!" tukas Rea kesal dan dia tidak tau mengapa dia kesal.


"Lo marah sama gue? Jelasinlah ke gue kenapa lo marah! Gue ngga ngapa-ngapain lo, kenapa lo kesel sama gue?" tanya Rain tak paham.


Rea berhenti dan menatap Rain seolah lelah dengan perdebatan tanpa henti ini. "Lo punya hati ngga, sih? Udahlah, gue pengen sendiri!"


"Gue ngga akan ngelepasin lo sampe lo ngasih tau kesalahan gue! Gue bukan ahli telepati yang bisa baca pikiran lo, Re!" tukas Rain panas. Tangannya mencengkram pergelangan tangan Rea.


"Gue capek sama lo! Gitu aja!" jawab Rea tak kalah panas.


Sementara itu, Stella Brown menyusul Rain dan berhenti di sisi pria itu dengan tatapan bingung. Rea melihat ke arah gadis itu melalui sudut matanya. "Udah disamperin, tuh! Gue mau balik, lepasin tangan gue!"


"Ngga!" balas Rain.


"Gue mau balik! Ngga usah nempel-nempel ke gue lagi atau ngikutin gue lagi! Gue ngga mau!" seru Rea, suaranya mulai tercekat. Logikanya dia paksakan untuk mengambil alih hatinya saat ini, tetapi sepertinya gagal. Hatinya kini terasa sakit dan pedih melihat Stella di samping Rain.


Rain menyudutkan Rea di sebuah pilar besar. "Gue maunya nempel sama lo dan ngikutin ke manapun lo pergi, Re! Gue mau sama lo!"


Kedua netra mereka saling bertemu. Stella dan Lizzy mengatupkan mulut mereka, takut kalau Rain akan melakukan sesuatu pada Rea.


"Apa maksud lo?" tanya Rea lagi.


Alih-alih menjawab pertanyaan Rea, Rain justru menyapu benda kenyal kemerahan bibir gadis itu dengan lembut. "Itu maksud gue,"


Tanpa menunggu respon Rea, Rain kembali memagut bibir Rea dan memejamkan matanya saat pagutan itu berbalas.


...----------------...