My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Tamu Tak Diundang



Beberapa bulan setelah insiden hamil bayangannya Rea, hubungan mereka pun semakin dekat. Tidak ada yang pernah menyangka kalau mereka berdua akan sanggup menjalin hubungan yang cukup lama, karena sifat temperamental serta tipisnya kesabaran mereka, membuat orang-orang yang mengenal Rea dan Rain menyangsikan hubungan mereka.


"Ngga terasa ya, hubungan kita udah tiga bulan," sahut Rea sambil menggenggam erat tangan Rain.


Rain mengecup tangan mungil yang menggenggamnya. "Iya, tapi lo masih ngga ada romantis-romantisnya sama gue, Re. Sad banget jadi gue,"


Rea tertawa. "Hahaha! Harusnya gue yang ngomong kayak gitu! Aneh lo!"


"Happy three month anniversary, Re," kata Rain sambil mengecup bibir kekasihnya itu dengan lembut. Segala sesuatu yang ada pada Rea membuat Rain semakin mencintai gadis itu dari hari ke hari.


"Mana ada anniversary setiap bulan. Lucu banget, sih," sahut Rea, tetapi dia sangat menikmati waktu dan hari-harinya bersama dengan Rain.


Tak hanya itu saja, Jacob pun bersukacita dengan hubungan mereka. Dia segera saja merencakan untuk mengikat kedua putra dan putrinya itu dalam sebuah hubungan yang lebih serius, yaitu, pernikahan.


Namun ide Jacob tentang pernikahan itu ditentang oleh ketiga anaknya. "No way, Pa! Rea belum mau nikah!"


Begitu pula dengan Rain dan bahkan Ken yang ternyata masih belum ikhlas menerima hubungan mereka. Ken sempat bertaruh kalau hubungan Rea dengan sang adik akan segera berakhir dalam bulan pertama. Namun ternyata, Rea dan Rain dapat melewati waktu tiga bulan mereka.


Malam itu, Jacob meminta Rain dan Rea menemuinya di ruang keluarga. Di sana sudah ada Ken yang menunggu kedatangan mereka. "Halo, anak-anak Papa yang sedang berbahagia,"


Ken memberengut kesal. "Terus? Aku apa dong, Pa? Anak orang?"


"Hush! Duduk sini, ada yang ingin Papa omongin sama kalian. Udah makan? Rea mau susu cokelat, Nak?" tanya Jacob dengan antusias.


Rea mengangguk sekaligus menggelengkan kepalanya. "Udah makan tadi, Pa. Ngga usah bikin susu, Rea masih full tank,"


"Hahaha! Oke. Rain, gimana?" tanya Jacob tak sabar. Ingin sekali mulutnya berbicara langsung ke inti pembicaraan malam itu.


"Gimana apanya, Pa? Ngga gimana-gimana, kok. Papa mau ngomong apaan, sih?" tanya Rain yang sudah tidak betah duduk di sana padahal mereka baru saja sampai.


Ken yang juga sudah tidak sabar, akhirnya menjawab pertanyaan Rain. "Papa nyuruh lo berdua tunangan,"


"Ken!" tukas Jacob.


"Apa? Kapan? Kenapa?" desak Rea yang cukup terkejut dengan ucapan Ken.


Gadis itu tak pernah membayangkan dia akan bertunangan dalam waktu sesingkat ini. Baru tiga bulan mereka menjalin hubungan dan menurutnya, Jacob terlalu cepat untuk mengambil keputusan menikah atau pun bertunangan.


"Apa ngga terlalu cepat, Pa?" tanya Rea lagi, wajah cantiknya kini terlihat panik dan khawatir.


Jacob tertunduk. Menurut pria berkepala lima itu, tiga bulan sudah saatnya hubungan mereka dibawa ke level yang lebih lanjut, mengingat mereka sudah mengenal cukup lama. "Papa pikir daripada kalian terlalu lama berpacaran, lebih baik kita resmikan aja. Tunangan belum tentu menikah, 'kan? Kalian bisa menikah taun depan atau bulan depan, terserah kalian,"


Rain dan Rea saling berpandangan, belum ada di benak mereka untuk bertunangan atau menikah. Akan tetapi, mungkin jika hanya bertunangan, mereka dapat menerima tawaran Jacob itu.


"Kapan, Pa?" tanya Rain.


Ken segera menatapnya tajam. "Lo mau tunangan, Rain? Ngga kecepatan?"


"Kalo kata Papa nikahnya boleh tahun depan, kenapa ngga? Toh ini kayak cuma lebih ngejalin komitmen aja, 'kan?" jawab Rain dengan pertanyaan lagi.


Jauh di lubuk hatinya, Ken menolak acara pertunangan ini. Karena semakin sulit baginya untuk mendapatkan Rea. Laki-laki itu belum sanggup melupakan gadis yang menjadi kekasih adiknya itu. Tetapi, saat dia melihat wajah Rea yang tersipu dan bersemangat membuat Ken tersenyum pahit dan mengikhlaskan pertunangan ini.


"Bokap lo niat banget sampe bawain gaun malam untuk gue pilih. The best, sih," ucap Rea kagum sambil melihat beberapa pakaian yang sudah dibawakan oleh Jacob.


Ken yang saat itu menemani Rea, ikut memilih pakaian untuk gadis muda itu. Dia mengambil sebuah gaun hitam dan merah maroon. "Coba yang ini, Re. Warnanya lo banget,"


Rea pun mengambil gaun yang dipilih oleh Ken dan memakainya bergantian. Dia memutar tubuhnya di depan kakak kekasihnya itu dan mematut dirinya di depan cermin.


"Lo cantik, Re. Lo selalu cantik. Gimana caranya gue ngelupain lo kalo lo cantik begini?" tanya Ken. Sulit sekali memindahkan pandangannya dari gadis cantik bermanik cokelat itu.


"Jangan gitu," ucap Rea.


Ken mengambil tangan gadis itu dan menariknya ke dalam dekapannya. "Semoga lo bahagia ya, Re. Kalo misalkan si Rain itu bikin lo nangis atau sedih, lo boleh kok lapor ke gue,"


Rea tertawa dan memeluk pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri itu dengan lembut. Dia mengangguk. "Oke, makasih ya, Kak,"


Acara pertunangan Rain dan Rea dengan cepat menyebar ke seluruh perusahaan AJ Company. Lizzy mulai menyusun ulang jadwal yang sudah dia susun. "Kenapa mendadak? Gue udah susun sebulan, Re!"


"Kan ngga ngaruh. Gue tunangan pas weekend, besoknya masih kerja. Inget, gue baru tunangan bukan nikah so ngga ada honeymoon," kata Rea sedikit kesal.


Lizzy terdiam. "Oh iya, ya. Yaaah, tapi ada beberapa yang udah gua ubah jadwalnya. Gimana dong, Re?"


Karena kejujurannya itu, Rea menghadiahi Lizzy tatapan mematikan. "Gue ngga mau tau, ubah lagi sesuai jadwal!"


Tak hanya di AJ Company kabar tentang pertunangan Rain dan Rea tersiar, klub motor Dead Vagabonds juga mendengar hembusan kabar pertunangan itu.


Rain masih menyempatkan waktu untuk bersilahturahmi ke markas besar klub motornya tersebut dan kali ini, begitu dia datang, dia sudah dihujani dengan tepukan di pundak dan ucapan selamat yang tiada henti dari kawan-kawannya.


"Kapan, Bro?" tanya Max.


"Lusa, dateng ya lo semua," ucap Rain sambil membagi-bagikan undangan pertunangan dirinya dengan Rea.


Mereka semua berjanji akan datang dan karena Rain juga harus menyiapkan segala yang harus dia persiapkan, laki-laki itu pun berpamitan dan memastikan kawan-kawannya akan datang di hari bersejarahnya.


Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Acara yang dilangsungkan malam hari itu berlangsung dengan khidmat dan ditutup dengan acara makan malam serta ramah tamah.


Sebagian besar tamu undangan adalah kerabat dan teman bisnis Jacob serta Alex Johnson, ayah Rea. Mereka menyapa dan memuji Rea. Selain teman orang tua mereka, tamu undangan itu juga dihadiri oleh anggota klub motor Dead Vagabonds. Max dan Abs yang paling dekat dengan Rea, mengobrol cukup lama dengan gadis itu setelah mereka menyalami dan mengucapkan selamat atas pertunangannya.


Sebagian kecil tamu merupakan teman Rea, yakni, Lizzy dan Zayn. Rea hanya memiliki segelintir teman, tetapi rasanya sudah seperti memiliki anggota keluarga tambahan.


Malam pun semakin bergulir. Tamu-tamu itu belum ada yang beranjak dari tempat pesta. Mereka masih asik makan dan mengobrol satu sama lain, begitu pula dengan Jacob. Dia menggandeng Rea dan Rain untuk dikenalkan dengan kolega bisnisnya dari negara lain.


Di tengah kegembiraan yang ada, seorang pria masuk dan memanggil nama Rain. Suaranya yang dingin dan berat mengalihkan perhatian tamu-tamu yang datang. Pemuda itu berjalan mendekat dan menghampiri Rain. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rea. Namun, Rain menampiknya kasar.


"Rain, gue cuma mau mengucapkan selamat," jawab pria itu sambil menyeringai lebar.


"Jangan pake tangan kotor lo!" ucap Rain sengit. "Siapa yang ngasih tau lo tentang acara ini? Lo bukan kekuari, Man!"


Pria itu mendekat ke wajah Rain. "Selama dia masih bisa gue pegang, gue akan pegang dia terus. Kita ngga pernah tau, 'kan, apa yang terjadi dengan hari esok? Ingat, Rain, gue masih ada dendam sama lo," bisik pria itu dan suaranya terdengar seperti mendesis yang bergaung hingga sudut dinding tempat pesta tersebut.


...----------------...