My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Mencari Perlindungan



Malam itu, Jacob kembali ke rumahnya dan dengan wajah garang dan gusar, Jacob menunggu kedatangan putra bungsunya, Rain.


Tak lama, terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya. Tanpa menunggu perintah masuk, Rain pun masuk ke dalam. Begitu putranya itu masuk, sebuah tinju melayang di wajah Rain dengan kencang.


Saking kencangnya tinju itu, Rain terpelanting dan menabrak sebuah kursi kayu. "Papa! Kenapa?"


Rain kebingungan, karena Jacob tidak pernah memukul siapa pun. Bahkan orang yang dibencinya sekalipun. Dia memegangi pipinya dan sudut bibirnya terlihat berdarah, begitu pula dengan hidung Rain yang mengeluarkan sedikit darah segar.


Jacob mencengkeram leher Rain kuat-kuat. "Karena kamu, semua yang Papa rencanakan gagal! Apa kamu benar-benar anakku, Rain? Apa kamu anakku! JAWAB, RAIN!"


Air mata Jacob berlinangan dan pria dewasa itu menangis sesenggukan. Baru kali ini Rain melihat ayahnya menangis seperti itu. Bahkan, ayahnya tidak pernah menangis saat pria itu merindukan istrinya.


"Papa, ada apa? Kenapa Papa mukul aku?" tanya Rain dengan suara bergetar.


Jacob memukul dinding dengan kencang. "RAIN! Kenapa kamu melakukan ini pada papamu, Rain? Kenapa?"


Mendengar suara pukulan di dinding serta raungan Jacob, Ken dan beberapa pelayan segera menyusul ke ruang kerja Jacob dan berdiri di depan pintunya. Ruangan itu terkunci dari dalam, sehingga mereka tidak dapat segera masuk.


Rain memeluk ayahnya dan mendekapnya erat. "Aku ngga ngerti Papa. Apa yang terjadi? Ngomong, dong!"


Jacob membalas pelukan putranya, mereka berdua sama-sama menangis. "Anakku! Rain, anakku!"


Setelah mereka berdua sedikit tenang, Jacob kembali duduk di kursinya dan meminta Rain untuk duduk di hadapannya. "Maaf, Papa memukulmu. Pikiran Papa sedang kalut, tapi Papa harap itu menjadi pukulan pertama dan terakhir untukmu,"


"Bersiaplah, Rain. Kita akan menghadiri persidangan," sambung Rain lagi.


Rain meluruskan posisi duduknya. "Apa? Persidangan? Siapa yang disidang?"


Jacob menunjuk Rain dengan jari telunjuknya. "Kamu, Nak,"


Pria dengan botak di tengah itu memijat keningnya. "Rea menuntut untuk membuka kembali kasus yang menewaskan kedua orang tuanya. Dia tau kasus itu,"


"Rea? Pantas saja seharian ini aku ngga bisa hubungin dia. Tapi, darimana dia tau kasus itu?" tanya Rain lagi. Seharian ini, dia berusaha untuk menghubungi kekasihnya itu tetapi entah kenapa, tidak ada respon atau pun balasan darinya.


Jacob kembali menghela napas dan kemudian dia menangkupkan kedua tangan di depan wajah sambil memejamkan matanya. "Papa ngga tau, Rain. Rea memberikan Papa foto-foto ini. Sebentar, Papa ambil,"


Pria yang kini menyandang status duda beranak dua itu, berdiri dan mengeluarkan amplop cokelat yang diberikan Rea kepadanya di hotel tadi. "Bukalah!"


Rain memandang ayahnya dari ekor matanya sambil membuka amplop cokelat itu. Setelah melihat isinya, nama Hunter berada di daftar teratas orang yang akan dia mintai klarifikasi mengenai hal ini.


"Tapi, sebenarnya ini salah Papa. Dari awal, ini kesalahan Papa. Papa membiarkanmu terlalu asik dengan duniamu sampai hal itu terjadi. Kesalahan Papa jugalah yang meminta media serta polisi untuk tutup mulut dan melarikanmu dari tanggung jawab. Papa yang harusnya kamu pukul, Rain! Maafkan Papa! Papa salah!" Jacob kembali mengeluarkan derai air matanya. Dia menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukul tubuhnya.


Rain menghampiri ayahnya itu dan memeluknya. "Papa! Jangan! Papa ngga salah! Jangan pukul tubuh Papa sendiri! Aku mohon! Aku akan tanggung jawab, apa pun keputusan di persidangan nanti, aku akan terima, Pa,"


Namun Jacob menggelengkan kepalanya. "Ngga bisa, Rain. Saham kita akan jatuh dan kita akan bangkrut, Rain,"


Rain terpaku. Saat ini mereka seperti dihadapkan pada pilihan mati segan, hidup pun tak mau. Apa pun keputusan yang akan mereka ambil, akan berdampak besar untuk kehidupan mereka.


"L-, lalu? Apa yang harus kita lakukan, Pa?" tanya Rain. "Apa Papa setakut itu kita akan bangkrut, Pa?"


Jacob mengecup kening putranya sambil masih menangis, tubuhnya bergetar saat dia memberikan kecupan itu. "Papa ngga takut, Rain. Papa cuma ngga tega kalau melihat kalian kesusahan,"


"Cuma itu yang Papa pikirkan," sambung Jacob lagi. Dia memeluk Rain dengan erat sambil menepuk-nepuk pundak anak bungsunya itu.


Ulang tahun Rea tersisa satu setengah hari lagi dan dia akan memastikan Rea tidak akan merayakan ulang tahunnya di persidangan.


Maka keesokan harinya, Rain sudah berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Dia akan menemui Lizzy atau Zayn, atau siapa pun yang dekat dengan Rea.


Sesampainya di kampus, Rain tidak turun. Dia mengawasi setiap mahasiswa yang datang. Sambil menunggu, dia meminta Max untuk memata-matai Hunter.


("Lo serius? Gue malah ngga tau ada berita itu, Bro! Yang gue tau, lo kecelakaan dan jatuh dari motor. That's it!") ucap Max.


"Jaga rahasia gue! Gue ngga mau lo bocorin ke mana-mana! Gue cuma cerita ini ke lo, jadi tolong jaga kepercayaan gue!" tukas Rain menegaskan.


("Parah juga ya, lo! Salah gue juga, sih. Gue ngomporin lo untuk racing. Tapi, sumpah gue ngga tau ada kejadian kayak gitu! Terus, Rea di mana?") tanya Max.


"Gue lagi nyari. Gue minta tolong itu aja ke lo, Max. Gue utang budi banyak banget ini," ucap Rain lagi.


("Tenang, Bro! Kita brotherhood, 'kan? Good luck dan nanti gue akan kabarin setiap hari. Hati-hati, lo!") pesan Max pada Rain.


Tak lama setelah menutup ponselnya, Rain melihat Lizzy berjalan melewati gerbang kampus mereka. Rain memincingkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas. Lizzy tidak bersama Rea! Rain kembali memastikan kalau Lizzy seorang diri.


Dia pun segera keluar dari mobil dan membekap Lizzy. Gadis itu memberontak, tetapi Rain lebih kuat. Dia berhasil membawa Lizzy dan memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Sorry, gue cuma mau tanya. Dari mana Rea dapat kabar kecelakaan itu?" tanya Rain.


Lizzy menatap kesal dan mengalihkan pandangannya. "Gue ngga ngobrol sama pembunuh kayak lo!"


Rain mengangguk kesal sambil memukul kemudi mobilnya. "Lo salah paham! Cuma jawab aja sih, Zy! Dari mana dia dapat kabar kayak gitu?"


Namun, gadis itu sama sekali tidak bersuara. Sampai akhirnya, Rain mengeluarkan pisau lipatnya dan berpura-pura meletakkannya di leher Lizzy.


Sontak saja gadis itu berteriak histeris, tetapi Rain tetap tenang dan menekankan pisau itu lebih dalam di leher Lizzy. "Kyaaa! Lo mau ngapain gue? Lo mau nambah korban? Atau jangan-jangan lo ikutan ritual sesat, yah! Jangan bunuh gue, please,"


Rain tertawa di dalam hati. Andaikan ini tidak serius, pasti akan lucu sekali. Dia mempertahankan perannya. "Ehem! Makanya, kasih tau gue, Rea dapat info itu dari mana?"


"Stella," jawab Lizzy ketakutan.


Tanpa menunggu, Rain berlari ke kelas untuk mencari Stella. Setelah dia bertemu dengan gadis itu, dia menyeret tangan Stella kasar dan membawanya ke aula. "Apa mau lo?"


Stella memasang wajah tidak tau mengenai apa pun. "Apa maksud lo?"


"Rea dan kabar tentang kecelakaan gue itu! Gue udah tau, lo pelakunya! Tunggu pembalasan gue! Oh, lo belum kenal gue. Prinsip hidup gue itu mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan nyawa ganti nyawa!" ancam Rain, kemudian dia meninju udara di sisi Stella dan membuat gadis itu ketakutan.


Stella panik, dia kembali mencari tau siapa saja orang yang terlibat dengan Rain dan kemudian dia menemukannya. Gadis itu kembali ke kelas hanya untuk mengambil barang-barangnya, lalu dia melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Setibanya di sana, seorang pria berwajah seram dengan rambut model spike, sudah menyambutnya. "Stella Brown?"


"Archie Warren? Aku butuh perlindungan darimu!" kata Stella cepat.


Seringai di wajah Archie semakin lebar. "Tentu saja, silahkan masuk. Apa pun yang berhubungan dengan Luther, aku akan senang membantumu,"


...----------------...