My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Ken Dan Rain



Pagi itu di sebuah komplek perumahan mewah nan asri, suasana tenang yang biasa menggelayuti komplek itu, berubah menjadi ramai dan dipenuhi dengan pekik histeris para penonton yang menyaksikan pertarungan antara kakak adik Luther yang berlangsung di tengah jalan.


"Ini di mana Tuan Luthernya? Anak-anaknya pada ribut di depan rumah orang? Aduuh! Itu mukanya udah berdarah-darah!" ujar salah satu tetangga tanpa berniat menghentikan pertikaian mereka.


Pelayan, Rea, serta Jacob pun segera keluar dan tak jauh dari rumah mereka, di sanalah kedua putra Luther saling bergelut. Wajah Jacob memerah menahan kesal, dia berjalan menghampiri anak-anaknya.


"Kennard! Rain! STOP!" titah Jacob dengan suara menggelegar.


Kedua putra Luther segera berhenti begitu mereka mendengar suara ayahnya. Mereka berdiri dan tidak berani memandang Jacob.


"Bi, tolong ambilkan ember kecil di rumah kita dan tolong taro ember itu di depan rumah!" perintah Jacob pada pelayannya. Kemudian, dia kembali berbicara pada kedua anaknya. "Ikut Papa!"


Dengan patuh, Ken dan Rain mengekori ayahnya sampai di depan rumah. Jacob melihat pelayan rumahnya sudah membawa ember kecil. "Taro sini aja, Bi!"


Setelah pelayan itu meletakkan ember, Jacob memanggil tetangga-tetangganya. "Hei, kalian! Anak-anakku berantemnya pindah dan bagi kalian yang masih ingin menonton, masukan uang kalian ke ember ini! Silahkan bertaruh untuk kedua anakku!"


"Dan kalian berdua, silahkan, lanjutkan pergelutan kalian!" kata Jacob lagi pada kedua anaknya yang sudah banyak memiliki luka memar serta darah di sekujur tubuh mereka. Setelah berbicara seperti itu kepada kedua putranya, Jacob bergegas masuk ke dalam rumah.


"Papa!" tukas Rea setengah menangis, mengikuti Jacob. "Papa! Kenapa Papa ngga minta mereka berhenti?"


Jacob melepaskan kacamatanya dan memijat tulang hidung yang berada di antara kedua matanya. "Apa mereka akan mendengar Papa? Mereka sudah bukan anak usia 5 tahun atau 10 tahun yang bisa Papa tarik dan Papa pisahkan, Rea! Mereka harus bisa pakai ini!" tukas Jacob sambil menunjuk pelipisnya.


Terlihat sekali kalau Jacob menahan kesal dan emosi terhadap kedua putranya. Rea pun merasa tidak enak, karena dia tau apa penyebab pertengkaran mereka.


"Pa, maafin Rea. Ini pasti karena Rea," sebutir air mata gadis cantik itu terjatuh dari pelupuk matanya.


Jacob menepuk punggung tangan gadis putri sahabatnya itu. "Ngga ada hubungannya denganmu, Sayang. Mereka harus punya yang namanya pengendalian diri dan hati yang besar untuk menerima kekalahan. Di dunia ini, ngga semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan. Perlu usaha dan kerja keras. Satu lagi, kalo memang sesuatu itu bukan jodohmu, mau kamu usaha sampe tulangmu kering pun, ngga akan bisa kamu dapatkan. Hanya buang-buang waktu. Maka itu tadi Papa bilang, kalian harus punya hati yang besar untuk menerima kekalahan,"


"Jadi, Papa harap kamu ngga perlu merasa bersalah atau menyesali pertengkaran mereka," sambung Jacob lagi.


Tak beberapa lama, Ken dan Rain masuk ke dalam. Wajah mereka sudah tidak berbentuk. Siku serta lutut mereka penuh dengan darah. Memar dan bengkak memenuhi wajah mereka.


Jacob memandang mereka. "Udah capek atau udah sadar?"


Rain melengos pergi tanpa menjawab pertanyaan Jacob, begitu pula dengan Ken. Melihat kelakuan kedua putranya, Jacob hanya menggelengkan kepalanya.


Hari pun beranjak siang, Lizzy sudah menjemput Rea dan gadis itu berpamitan kepada Jacob sekaligus dia meminta izin untuk tidak masuk kerja hari ini karena kondisi dan suasana hatinya sedang sangat kacau dan dia tidak akan bisa fokus bekerja.


"Kembalilah saat kamu sudah lebih tenang, Rea," kata Jacob dan Rea memeluk ayah angkatnya itu dengan sayang. Hanya Jacob yang dia miliki saat ini, karena itu dia sangat menyayangi Jacob selayaknya ayah Rea sendiri.


Sementara itu, Ken mendatangi Rain di kamarnya. "Ikut gue keluar! Di sini ngga enak ada bokap,"


"Ngapain? Bokap juga lagi kerja, kok. Lagian mau ngapaian ngajak-ngajak gue? Lo ngga liat udah bikin adik lo nyaris mati?" tukas Rain sambil menunjuk dan memperlihatkan luka-lukanya.


"Lo ngeselin!" tukas Rain.


Ken segera menutup pintu dan mengunci pintu kamar adiknya itu. "Gue ngeselin kenapa, sih? Apa salah gue coba? Gue lagi sepedaan terus lo dateng dan tiba-tiba mukulin gue. Harusnya gue yang marah karena lo ngerusah mobil gue! Iya, dong!"


"Banyak!" jawab Rain ketus.


"Ya, apa? Lo mau kita begini terus sampe tua? Lo mau kita hidup satu atap tapi saling benci. Gue, sih, ngga mau, Rain! Kalo lo ngga ngomong, gue ngga akan ngerti salah gue di mana!" tanya Ken lagi.


Rain memainkan lampu strobo motornya yang akhir-akhir ini baru saja dia servis. "Lo sama Rea. Gue ngga suka lo deket-deket sama dia! Gue ngga tau hubungan lo apa sama dia, tapi yang jelas, gue ngga suka!"


"Cih! Dasar Bontot! Lo pikir gue senang gitu ngeliat mukanya Rea berubah gitu ngeliat lo? Gue juga ngga suka! Tapi, kita ngga bisa maksa dia untuk milih salah satu dari kita, secara perjanjian pernikahan itu udah dibatalkan!" kata Ken bijak. "Jujur sama gue, lo abis ngapain sama dia?"


Wajah Rain yang memerah sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Ken.


"Lo begituan?" tanya Ken, dia berharap adiknya itu akan menggelengkan kepalanya. Namun semua harapannya musnah, Rain mengangguk.


"Itu ngga sengaja! Sumpah! Oke, gue yang mulai tapi dia ngerespon dengan amat sangat baik! I'm a man," jawab Rain berkilah. "Tapi, kita main aman. Maksud gue, ya you knowlah, Kak!"


Ken berusaha keras untuk menetralkan suaranya dan mengangguk kecil. Bagaimana pun dia tidak dapat membayangkan bagaimana respon Rea saat Rain memulainya.


"Dia udah jawab lo?" tanya Ken datar.


Rain menggelengkan kepalanya. "Belum. Dia justru menghindar dari gue dan deketin lo. Wajar kalo gue kesel sama lo, 'kan?"


Senyum kecil terlukis di wajah Rain. Pria itu berpikir, Rea sudah menjawab pernyataan cinta adiknya karena ternyata mereka telah melakukan hubungan yang cukup dalam. "Sama berarti. Dia juga belum jawab gue dan dia bilang, dia belum siap untuk berkomitmen. Gue ngga tau apa itu cuma alasan atau dia mau milih lo tapi dia ragu sama lo,"


"Sialan! Kenapa dia harus ragu sama gue?" tanya Rain sedikit tersinggung.


"Hahaha! Lo begitu, sih! Masih suka asik sama dunia lo sendiri, suka bahaya, emosi meluap-luap. Wajarlah dia ragu." jawab Ken tertawa, dia bergegas berdiri dan keluar dari kamar Rain.


"Hei, pepet terus kalo lo ngga mau kehilangan dia. Bikin dja yakin sama lo! Kalo lo nangisin dia, gue ngga akan ragu untuk nikung lo. Gue ngga peduli kita adik kakak," sambung Ken lagi, kemudian dia menutup pintu kamar itu dengan perlahan.


Dia kalah! Kali ini, Ken memutuskan untuk mundur teratur dari hidup Rea dan berhenti untuk mengharapkan cinta gadis itu.


Sementara itu, Jacob memperhatikan tingkah kedua putranya dari ruang kerjanya sambil menggelengkan kepala. "Anak laki-laki akan tetap menjadi anak laki-laki, hehehe!"


...----------------...