
Hubungan Rea dan Rain sepertinya tanpa harapan. Di manapun mereka bertemu, mereka akan beradu pandang, dan saling mengumpat satu sama lain. Berbeda saat Rea bersama dengan Ken. Pria yang pembawaannya dewasa itu akan merangkul pundak Rea untuk menjauhi Rain kalau saat itu, dia ada di tempat kejadian.
Suatu pagi, Rea akan mengikuti kelas pagi untuk bimbingan skripsi dengan salah satu dosennya. Saat gadis itu sarapan dan hendak mengambil segelas susu, dia bertabrakan dengan Rain. Seluruh pakaian Rea yang berwarna putih, kini berwarna cokelat. Emosinya cepat sekali menggelegak. "Mata lo ke mana? Gue jadi mandi susu!"
"Di mana-mana, kalo jalan itu pake kaki, bukan pake mata! Salah lo-lah, jalan pake mata bukan kaki!" balas Rain tak kalah panas. Namun, wajahnya senang saat melihat Rea basah kuyup seperti anak tikus.
"Aaarrghhh! Mood pagi gue hancur gara-gara manusia unfaedah kayak lo!" tukas Rea lagi.
Rain tertawa puas. "Hahaha! Apalagi gue! Sejak lo di sini, hari-hari gue udah berantakan! Makanya, gue ngga mau nikah sama cewek kayak lo! Udah kasar, barbar, ngga tau aturan, makan mulu, cengeng, centil, d-,"
Kata-kata Rain terputus saat Rea menyiramkan secangkir kopi ke wajah tampannya. "Makan tuh ampas kopi!"
"Cewek Sialan! Sini, lo!" ucap Rain panas, dia meraih tangan Rea. Akan tetapi, karena lantai itu licin terkena tumpahan susu dan kopi, Rain pun terpeleset dan jatuh. "Aarrghh! Shiit!"
Rea tertawa melihat Rain terjatuh. "Hahaha! Karma selalu datang tepat waktu. Enjoy your floortime, Honey,"
Ken dan Jacob datang dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Rain yang sudah tidak berbentuk dan Rea yang sudah seperti tikus tanah.
"Apa yang kalian lakukan? Aduuhh, kepala Papa! Ken, tolong bawa Rea ke kamar. Pakaiannya menerawang," ucap Jacob.
"Badan kayak papan gitu, mana ada yang nafsu liatnya! Gue aja ngga bisa ngeliat ada tonjolan atau lekukan! Cewek Jadi-Jadian!" cerca Rain, seolah belum puas membalas Rea.
Rea menoleh ke arahnya dan mengacungkan kedua jari tengahnya pada Rain. Mulutnya berbicara tanpa mengeluarkan suara. "Fuuck you,"
Jacob memanggil pelayan dan meminta mereka untuk membersihkan lantai. Sedangkan pelayan yang lain, diperintah untuk menyiapkan pakaian Rain.
Setelah semuanya rapi, Jacob duduk di meja makan sambil memijat keningnya. Dia memandangi foto dirinya dan Alex yang sedang tersenyum berpelukan. "Ini sulit, Alex,"
Dia membayangkan akan seperti apa Rea dan Rain ke depannya. Andaikan Rea mau meneruskan hubungannya dengan Ken, itu tidak jadi masalah. Namun beberapa hari yang lalu, dia pernah mendengar Rea berbicara dengan temannya dan mengatakan kalau antara dirinya dengan Ken belum ada chemistry dan Rea menganggap Ken seperti seorang teman, tidak lebih.
Sedangkan Rea akan berulang tahun kurang dari 2 minggu lagi. Selagi Jacob memikirkan hal itu, Ken dan Rea yang sudah berganti pakaian bergabung bersamanya, disusul oleh Rain yang juga sudah terlihat lebih berbentuk.
Mereka pun sarapan dalam diam. Setelah selesai, Rea berpamitan pada Jacob. Pria dewasa yang masih tersisa jejak ketampanannya itu mengangguk. "Hati-hati, Rea dan kabarin Papa kalau kamu sudah sampai di kampus,"
"Iya, Pa," jawab Rea. Gadis itu mulai terbiasa memanggil Jacob dengan sebutan papa. Awalnya dia menolak, tetapi lama kelamaan, dia mulai terbiasa. Terkadang dia memanggilnya dengan Papa Jacob.
Setelah Rea berangkat, Jacob mulai berbicara dengan Rain. "Rain, permintaan Papa kemarin belum kamu kabulkan. Papa cuma minta kamu bersikap ramah pada Rea. Apa itu sulit?"
"Banget! Ngga tau kenapa kalo deket dia, bawaannya pengen ribut. Papa ngga bisa salahin aku," jawab Rain santai.
"Kamu loh yang membuat dia ngga punya orang tua, Rain! Tunjukin sedikit simpati kamu. Bisa, 'kan? Apalagi, dia seorang gadis. Perasaannya lebih halus. Mungkin kamu menganggap dia baik-baik saja, tapi kamu ngga tau di belakang kita, dia bagaimana, 'kan?" tuntut Jacob lagi.
Rain terdiam, tetapi mencibir. Dia paling kesal kalau ayahnya sudah membahas soal kecelakaan itu. Rain mengakui kalau itu kesalahannya, tetapi bukan berarti harus diungkit setiap saat. "Aku terima dia di sini juga udah syukur," gerutu Rain.
"Apa yang kamu katakan! Rea sudah menjadi tanggung jawab kita! Kau tau? Lagipula, dia calon istrimu!" tukas Jacob, suaranya mulai meninggi.
"Ya. Aku harus apa?" tanya Rain yang akhirnya memutuskan untuk mengalah.
Jacob berdeham, ada rasa tidak enak hati terhadap putra bungsunya untuk mengatakan apa yang dia minta kepada Rain. "Sebelumnya, Papa minta kepada Ken. Papa hanya mau Rain bisa akur dengan Rea. Sampai ulang tahun Rea, kamu harus ajak Rea ke manapun kamu pergi. Bisa, Rain?"
"Kalau begitu, serahkan kunci motormu!" ancam Jacobz tangannya terulur untuk meminta barang yang bisa dikatakan sudah menjadi setengah nyawa putra bungsunya itu.
Rain berkilah. "Aarghh, Sial! Ya, aku ajak Rea! Cuma sampe hari ulang tahunnya, 'kan? Kapan?"
"Tanggal 25 bulan ini," jawab Jacob. "Kalau mau ajak anak gadis Papa berkencan dengan motor, pakailah semua alat perlindungan diri. Terima kasih,"
Ken memandang tajam pada adiknya yang sedang mengikat rambut gondrongnya itu. "Rapihin rambut lo! Awas aja sampe Cantiknya gue nangis, motor lo taruhannya!"
"Ambil aja tuh cewek barbar itu! Gue ngga butuh! Malah gue punya niat untuk nangisin dia sampe dia angkat kaki dari rumah ini!" balas Rain tak kalah sengit.
Sore hari itu, Rain berniat mengunjungi markas besar Dead Vagabonds, nama geng motornya. Kemudian, dia teringat pesan ayahnya untuk mengajak Rea ke manapun dia pergi. Akhirnya, dia meminta pada Jacob nomor kontak Rea.
"Cewek! Jangan geer duluan! Jangan ke mana-mana sampe gue dateng! Inget, ngga usah sok kecakepan! -Rain-") tulis Rain dalam pesannya.
Balasan Rea pun datang dengan cepat. ("Ogah!")
"Ck! Si Sialan satu ini!" umpat Rain pada dirinya sendiri. Dia segera mengambil kunci motornya dan dengan cepat menuju ke kampus Rea.
Setibanya di sana, ternyata kelas Rea belum bubar. Rain yang saat itu memakai kacamata hitam dengan rambut tergerai dan jaket kulit yang menambah nilai kejantanannya, membuat setiap gadis yang lewat di hadapannya menoleh ke arahnya sambil tersenyum atau berbisik-bisik senang.
Tak lama, dia melihat sosok gadis yang dikenalnya dan seorang gadis lain yang berteriak histeris saat melihat Rain.
"Re, sumpah demi apa pun, dia ganteng banget! Astaga! Kalo gue jadi lo, gue bakal iya-in perjodohannya. Nasib lo beruntung banget sih, Re," sahut Lizzy menatap Rea dengan cemburu.
Tiba-tiba muncul sebuah ide iseng di kepala Rain. Pria itu berjalan dengan penuh gaya dan menghampiri Rea yang menatapnya tak tertarik.
"Re! Re! Dia ke sini! Gue mati deh, Re! Ngga bisa! Gue ngga bisa! Dia terlalu keren! Kyaaa, Rea!" bisik Lizzy sambil berlompatan kecil.
"Sst, diem. Kita jalan santai aja, anggep aja dia ngga ada!" balas Rea.
Gadis itu menyeret lengan Lizzy dan berjalan ke arah gerbang kampus, entah bagaimana Rain berhasil menciptakan debaran di hati yang tidak diinginkan oleh Rea.
Begitu Rain dan Rea berhadapan, pria bertubuh kekar dan bertato itu memeluk pinggang ramping Rea dan mengecup keningnya lembut.
Tepat saat itu, suara seorang pria memanggil Rea. "Rea! Tunggu!"
"Zayn?" Rea menoleh ke arah sumber suara yang mendekat. "Hei,"
Zayn melihat ke arah Rain yang masih merangkul pinggang Rea dengan mesra. "Siapa ini, Re?"
"Gue? Gue calon suami Rea dan Rea, calon istri gue. Duluan ya, guys," jawab Rain sambil tersenyum manis, membuat Lizzy dan beberapa gadis memekik histeris kepadanya.
...----------------...
Penampilan Rain waktu jemput Rea