My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Dead Vagabonds



"Lo ngapain sih, pake acara jempat-jemput gini? Mana sok iya banget lagi gaya lo!" tukas Rea sambil berjalan dalam dekapan Rain. Ingin rasanya dia memberontak dan melepaskan diri dari rangkulan pria itu, tetapi entah kenapa Rea merasa nyaman.


Begitu sampai di pintu gerbang kampus, Rain melepaskan pelukannya pada Rea. "Lo ngga mau lepas? Jangan lama-lama, nanti lo jadi suka sama gue. Repot!"


"Ish! Siapa juga yang betah nempel sama lo kelamaan?" balas Rea sambil membersihkan pakaiannya seolah-olah ada debu yang menempel di sana.


Rain memberikan helmnya pada Rea. "Nih,"


"Buat apaan?" tanya Rea polos.


Dengan menghela napas panjang dan mengetukkan jarinya pada stang motor, Rain berbalik ke arah gadis yang tampaknya tidak paham benda apa yang sedang dipegangny itu. Rain pun mengambil helm itu dari tangan Rea dan memakaikannya ke kepala Rea. "Ini tuh namanya helm. Fungsinya adalah untuk melindungi kepala kita. Cara pake-,"


Rea memberontak dan hendak melepas helm yang baru saja dipakaikan oleh Rain. "Gue tau! Maksud gue, ngapain lo kasih ke gue ginian?"


"Buat dipakelah! Lo tuh, astaga! Untung gue sabar, Re! Kalo lo punya cowok, tuh cowok pasti kabur duluan! Pantes lo masih jomblo sampe sekarang, sad," ujar Rain, kemudian dia mengunci kancing helm sampai terdengar suara klik.


Tak mau kalah, Rea mencubit pinggang Rain dengan kencang. "Jaga mulut lo!"


"Aw! Sakit! Cepetan naik sebelum gue tinggal!" titah Rain lagi.


"Ngga mungkin gue naik motor segede gini pake rok begini! Konyol lo, ah!" tukas Rea, wajahnya memerah.


Rain baru menyadari kalau sore itu, Rea memakai kaus crop top yang ditutupi dengan jaket berbahan jeans berwarna hitam, serta rok motif kotak-kotak seatas lutut dan sepatu boot hitam.


Pria itu menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata dan berdecak. "Ckck! Naik sajalah!"


Rain mengangakat tubuh kecil Rea dan mendudukannya di kursi belakang, tak lama dia pun naik dan duduk di kursi depan. "Pegangan yang kenceng! Badan lo kecil tapi berat. Gue rasa, berat di dosa itu!"


"Sialan!" ujar Rea sambil melayangkan sebuah tinju di punggung lebar milik Rain.


Pria itu pun melajukan motornya dengan kencang. Hembusan angin menerpa wajah mereka berdua. Beruntunglah saat itu, Rea memakai jaket tebal sehingga dia tidak merasa kedinginan.


Begitu memasuki jalanan besar, Rain semakin menambah kecepatannya. Pria berambut gondrong itu menarik tangan Rea supaya berpegangan padanya lebih kencang. Rea pun menurut dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Rain.


Sekitar dua puluh menitan, mereka sampai di sebuah rumah sederhana dan di sebelah rumah itu, terdapat seperti bengkel dengan berbagai macam peralatan pertukangan dan macam-macam kabel yang menjuntai dari atap.


Rain mengajak Rea untuk turun dan membantu gadis itu untuk melepaskan helm.


"Rambut gue lepek," gerutu Rea.


"Ngga apa-apa, abis ini juga bau lagi! Ayo, masuk! Atau mau nunggu di luar?" tanya Rain menyeringai lebar.


Sore itu, Rea mengenal sisi Rain yang berbeda. Bukan Rain yang muram dan pemarah seperti yang sering ditunjukkannya di rumah.


Rea mengikuti Rain dan duduk di sebuah kursi kayu panjang. Rain mengambil minuman untuknya. Namun, gadis itu menolak. Rea tidak dapat minum soda atau alkohol dan pria yang di sapa Speedy itu memberikannya minuman berkarbonasi.


"Ngga ada minuman diet. Minum aja," ucap Rain lagi.


Seorang pria datang menghampiri Rain dan mereka seperti melakukan sebuah ritual. Saling berjabat tangan dan saling membenturkan lengan atas mereka. "Bos Speedy, udah sehat, Bos?"


"Weitz, udah bisa ngeride tandanya udah sehat, Bro. Anak-anak mana? Kabarin deh, bilang aja gue dateng," ucap Rain.


"Siap!" balas si pria. "Eh ngomong-ngomong, sekarang udah ada yang nemenin?" tanya pria itu lagi, kedua matanya menunjuk pada Rea yang sedang menyalakan hand fan di wajahnya.


Rain menggelengkan kepalanya. "Oh, itu pengawas gue, hahaha!"


Setelah berbincang sebentar, Rain duduk di samping Rea dan merebut begitu saja kipas angin kecil berwarna merah muda yang sedang dipakai oleh gadis itu. Dia juga mengambil jepitan yang menjepit rambut Rea untuk menjepit rambut gondrongnya.


"Iihh! Asal ambil aja!" tukas Rea, tangannya dia ulurkan untuk merebut kembali jepitan dan kipas kecil miliknya.


Namun Rain menahan tangan gadis itu. "Pinjem! Pelit amat! Lo punya dua jepitan, satu nyangkut di tas lo! Pakelah!"


"Nih buat cadangan tau. Ya udah ambillah, ngga usah dibalikin udah kena bau lo!" ucap Rea galak.


Rain tersenyum menggoda Rea. "Bener? Ngga kangen sama wangi gue? Nanti curhat, 'eh, tau ngga, ternyata gue kangen Luther', hahahaha!"


Berbeda sekali saat dia bersama Ken. Anak sulung Luther itu memberinya kenyamanan dan tenang, tidak seperti Rain yang selalu mengajaknya bertarung dan bertengkar. Tempat tujuan mereka berdua pun sangat berbeda. Ken tipe pria klasik dan penikmat kopi serta ketenangan, berbeda dengan Rain yang sepertinya senang tempat yang liar dan menantang.


Tak lama, Rea dikejutkan dengan suara deru mesin motor. Mereka saling membunyikan klakson serta sirene dengan berbagai macam bunyi. Ditambah lagi lampu besar yang menyilaukan yang langsung disorotkan ke arah motor besar Rain.


Sekitar 7 motor besar memasuki pekarangan rumah kecil itu dan mereka semua berpakaian serba hitam. Pria-pria itu tak semuanya berambut seperti Rain dan bertato. Beberapa dari mereka berpotongan rambut seperti seorang militer, lainnya potongan pria pada umumnya.


Satu orang di antara mereka memakai tindik di mana-mana serta tato dan wajah menyeramkan. Rain berdiri untuk menyambut mereka. "Bro, udah lama ngga kopdar kita,"


Semua yang ada di sana tidak tertarik pada Rain, tetapi pada gadis cantik dengan rok pendek yang dibawa oleh Rain yang saat itu sedang mengipasi wajahnya dengan kipas kecil. Rambut panjangnya yang tergerai berkibar-kibar dan menambah nilai estetik pada wajah gadis itu.


"Wah Bro Speed, jantung gue nyaris berenti. Gue pikir gue udah ada di surga, soalnya gue nemu malaikat cantik lagi duduk disitu untuk jemput gue pulang," ujar si pemilik tindik banyak.


Rain tertawa. "Berlebihan lo, Bro. Di-,"


"Hei, papa kamu tukang lampu, yah? Abisnya kamu sanggup menerangi hatiku yang gelap. Kenalin nama gue, Abs," ucap pria berambut gondrong mengulurkan tangannya kepada Rea dan dengan cepat mengambil tempat duduk di samping Rea.


Rea tersenyum kecut sambil membalas uluran tangan Abs. Namun, Rain menahan tangan Rea. Dia melepaskan jaketnya dan menutupi kedua kaki Rea dengan jaketnya. "Gombal, lo! Kayak ngga pernah liat cewek. Dia aslinya bukan cewek! Makhluk jadi-jadian! Ngga usah di deketin!"


Sontak saja, semua yang ada disana mengejek dan menertawakan Rain. Suara tawa mereka, mau tak mau membuat Rea ikut tersenyum. Walaupun dia cukup tersinggung dengan ucapan Rain, tetapi dia merasa takut untuk membalas ejekan Rain tersebut.


Rea pun dengan mudah beradaptasi dan tidak butuh waktu lama untuk mereka mengenal Rea. Gadis itu bahkan sudah bertukar nomor dengan Max, Abs, Finn, dan Nick.


"Apa namanya?" tanya Rea pada Max.


"Nama apa? Grup ini?" Max bertanya balik.


Max menjulurkan tangannya untuk mengajak Rea ke pintu masuk rumah itu. Rea berdiri dan mengikuti ke mana tangan Max mengarah. "Dead Vagabonds, cool,"


"Thank's," balas Max.


Hari mulai malam, mereka menikmati waktu bertemu mereka. Rea pun terlihat nyaman di antara para pria yang mengerumuninya. Tak lama, rombongan motor yang lain datang dan masuk ke dalam pekarangan markas besar Dead Vagabonds. Suara sirine mereka terdengar nyaring. Rain menghampiri Rea dan menarikny untuk masuk ke dalam. "Lo di sini, apa pun yang lo liat ngga ada hubungannya sama lo dan forget it! Oke?"


Sebuah motor besar masuk dan Rea hanya bisa mengintip dari balik jendela rumah kecil itu. Seorang pria turun dari motor itu dengan langkahnya yang sombong. Pria itu menghissap vape dan mengeluarkan asap berbentuk lingkaran dari mulutnya.


"Udah sehat?" tanya pria itu pada Rain.


Wajah Rain tampak garang, Rea dapat melihat kalau putra bungsu Luther itu mengepalkan kedua tangannya. Satu demi satu, teman-teman Rain berdiri di belakang Rain. Max dan Abs mengapit Rain. Entah apa yang terjadi, tetapi suasana malam itu menjadi cukup menegangkan.


Ruangan itu menjadi kosong dan Rea mulai takut. Dia memberanikan diri untuk keluar. Mata pria berwajah seram menangkap tatapannya.


"Gue datang bawa damai, Speed. Suruh anak-anak lo mundur! Gue cuma mau tau gimana kondisi lo, that's all," kata pria itu.


Rain menganggukkan kepalanya ke arah teman-temannya dan mereka pun membubarkan diri sesuai perintah Rain. "Lo udah liat gue. So?"


"Bego lo ngga abis-abis, Rain. Itulah gunanya sekolah tinggi, biar pinter! Gue liat lo punya barang bagus," kata pria itu lagi.


Rain mengerenyitkan keningnya. "Apa maksud lo, Hunter?"


"Balapan kemarin belum kelar. Kita lanjutin malam ini, sesuai mau lo. Kali ini, gue mau ada hadiahnya," ucap pria yang memiliki nama samaran Hunter itu.


"Gue ngga ngerti!" tukas Rain kesal.


"Kita adain balapan ulang dengan taruhan!" jawab Hunter, seringai di wajahnya semakin lebar dan menakutkan.


"Apa taruhannya?" tanya Rain masih belum paham.


"Cewek jaket hitam yang ngintip di jendela. Siapa yang menang dapat kesempatan untuk nyobain dia. Hahaha! Gimana?" Hunter tertawa, kedua tangannya dia gerakan ke atas dan ke bawah membentuk sebuah gitar.


Rain memejamkan matanya sesaat, menyesali keputusannya untuk mengajak Rea bersamanya ke markas besar ini. "Shiit! Oke!"


Tidak ada jalan lain, selain menerima tantangan Hunter dan memastikan Rain mendapatkan kemenangannya untuk menyelamatkan Rea dari tangan kotor Hunter.


...----------------...