
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, Rea benar-benar trauma dengan motor. Mendengar deru kendaraan tersebut saja, sudah membuat gadis itu akan menutupi kedua telinganya ketakutan.
Selama beberapa hari itu pula, Rea tidak pulang ke kediaman Jacob Luther. Saat ini, dia tinggal bersama Lizzy di apartemen sahabatnya itu. Dia takut jika dia pulang nanti, Jacob akan menjemput dan memintanya untuk menceritakan apa yang terjadi di hari itu. Sedangkan, Rea ingin menutup kisah kelamnya itu rapat-rapat.
Tak hanya itu, dia pun memute semua akses komunikasi dari keluarga Luther, terutama dari Rain. Setiap hari, pria itu selalu bertanya di mana dirinya. Namun setiap hari itu pula, Rea tidak menanggapi pesan atau telepon dari pria berambut gondrong itu.
"Kenapa, sih Re? Paling ngga dia harus tau lo di apain aja sama temennya! Bikin dia ngerasa bersalah!" ucap Lizzy di suatu malam saat dia melihat ponsel Rea bergetar dan nama Rain Luther tersemat di layar ponsel itu.
"Dia udah ngerasa bersalah kok, Zy! Alasan gue diemin dia karena gue marah! Ngapain juga dia jadiin gue taruhan coba? Biar apa kayak gitu? Waktu itu, gue masih beruntung bisa selamat! Gue udah takut banget, si Brengsek itu jebolin gue," jawab Rea ketus.
Lizzy mengusap punggung Rea, berharap simpati dan empati yang dia berikan tersampaikan kepadanya. Gadis yang sudah mengenal Rea selama duduk di bangku kuliah itu cukup terkejut, saat di pagi hari temannya sudah berada di depan rumahnya sambil menangis dan kondisinya berantakan.
Belum lagi, sikapnya yang mengkhawatirkan. Setiap kali mendengar deru motor dia akan ketakutan dan menutup telinganya rapat-rapat.
"Kalo gue ada di posisi lo, gue juga akan ketakutan setengah mati, Re," ujar Lizzy bersimpati.
Sementara itu di kediaman Luther. Jacob dan Ken menginterogasi Rain setelah pagi itu dia pulang tanpa membawa Rea bersamanya.
"Mana Rea? Kenapa sampe pagi? Tidur di mana? Kenapa handphone Rea ngga aktif?" tuntut Ken begitu Rain baru turun dari motornya.
Pria itu hanya memberikan punggung tangannya dan melewati Ken sebagai jawaban. Tentu saja, Ken tersinggung. Dia segera menarik pakaian adiknya dan mencengkeram tangan Rain dengan kasar. "Jawab pertanyaan gue! Mana Rea?"
Rain melepaskan tangannya dan memandang anak sulung Luther dengan tajam. "Lo bokapnya? Setau gue, bokapnya udah mati!"
Satu tinju melayang di wajah Rain pagi itu. Beberapa pelayan yang melihat kejadian itu, sontak saja berteriak. "Kyaaa, Tuan!"
Satu orang pelayan berlari memanggil Jacob. Sedangkan Ken, kembali mencengkeram kerah leher Rain. "Jaga mulut lo! Lo harus diajarim tanggung jawab, bokap terlalu lembek sama lo! Jawab pertanyaan gue, di mana Rea? JAWAB!"
"Kennard Luther! Apa-apaan kamu! Lepasin adikmu!" Jacob segera menarik tangan Ken dari leher adiknya.
Pria dengan rambut botak di tengah itu memisahkan kedua putranya dan meminta mereka ikut masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ruang kerja Jacob, tidak hanya digunakan sebagai tempat bekerja saja. Terkadang, hal-hal yang berurusan dengan keluarga atau pribadi akan di bahas di dalam ruangan itu
"Jelaskan mengapa kelakuan kalian seperti pria tidak berpendidikan?" tanya Jacob.
Ken menjelaskan apa yang terjadi sehingga mereka berdua nyaris melakukan baku hantam. Setelah mendengar penjelasan dari Ken, Jacob bertanya kepada Rain. "Di mana Rea?"
"Dia ingin pulang. Ada tugas kampus yang harus dia kerjakan," jawab Rain berbohong.
"Papa mau, begitu dia selesai dengan tugasnya. Kamu harus jemput dia lagi. Oke, Rain?" tanya Jacob.
Rain mengangguk lemah dan kemudian dia meninggalkan ruangan kerja ayahnya itu. Sejak saat itu, dia akan selalu berkilah bahwa tugas Rea belum selesai.
Suatu hari, Rea dan Lizzy baru saja kembali dari kampusnya. Rea meminta Lizzy untuk menemaninya di rumah. Dia merasa sungkan jika terlalu lama menginap di apartemen milik sahabatnya itu.
Begitu dia sampai, seorang kurir datang dan memberikan sebuah paket untuknya. "Nona Rea?"
"Dari siapa, Re? Eh, kok ngga ada nama pengirimnya?" tanya Lizzy yang saat itu membawakan paket Rea.
"Masa, sih? Masuk aja dulu, yuk," ucap Rea.
Mereka pun masuk ke dalam. Baru saja mereka hendak melepas lelah, ponsel Rea berdering. Rea melihat layar ponselnya dan segera menekan tombol tolak. Tak lama, ponselnya berdering lagi dari seseorang dengan nomor disembunyikan. Sekali lagi, Rea menekan tombol tolak.
Tak sampai sepuluh menit, ponsel gadis itu kembali berdering. "Siapa sih?"
Lizzy mengambil ponsel Rea dengan cepat dan mengangakat panggilan itu dalam mode pengeras suara. "Halo,"
("Rea Sayang, masih ingat malam itu? Saat gue nyentuh tubuh in-,")
"Gila! Orang gila dia, Re!" tukas Lizzy, segera memutuskan panggilan tersebut. Entah kenapa, dia tiba-tiba merasa jijik dengan pria yang ada di telepon tadi. "Siapa dia?"
Wajah Rea berubah menjadi pucat dan dia bergetar hebat. "I-, itu cowok y-, yang sama gue, Zy. K-, kok dia bisa tau, ...?"
"Rain!" tukas Rea lagi, wajah ketakutannya berubah menjadi marah dalam sekejap. "Pasti dia! Cuma dia yang tau nomor gue, rumah gue, bahkan kampus gue! Ngajak ribut tuh cowok!"
"Re, sorry gue potong. Gue agak parno sama paket lo. Kita buka, yuk," ucap Lizzy.
Rea memandang kotak berwarna cokelat yang sempat dia lupakan. Dia pun merasa takut dengan apa yang akan dia temukan di kotak itu. Mereka membuka kotak itu bersama-sama dan napas mereka tertahan seketika.
"Orang gila yang ngirim! Buang aja, Re!" tukas Lizzy yang kembali memasukan boneka Barbie tanpa pakaian dan boneka Ken. Kedua boneka itu saling bertindihan dan mereka berdua direkatkan bersamaan.
Mereka berdua memutuskan untuk membuang paket itu. Keesokan harinya, kembali telepon dari seseorang dengan nomor disembunyikan mengganggu ketenangan Rea. Ditambah lagi, beberapa paket yang datang bersamaan dalam satu hari dan isi paket-paket itu semakin menyeramkan. Boneka Barbie yang berlumuran saus tomat dengan kepala dan badan terpisah dan di atas boneka cantik itu ada replika motor terkenal yang seolah menggilasnya, tikus mati yang segera mereka buang begitu mereka membukanya, yang terakhir adalah surat berisi kata-kata kotor yang menjijikan disertai dengan alat pelindung untuk berhubungan badan bekas pakai.
"Gue capek. Gue udah matiin handphone gue," ucap Rea keesokan harinya. Teror-teror itu membuatnya ketakutan dan mencurigai setiap orang. Napsu makan Rea pun menurun drastis begitu mengingat tikus mati dan alat pelindung menjijikan itu. "Bisa gila gue lama-lama, Zy,"
"Ngomong sama Rain. Gue temenin! Atau kita minta bantuan Zayn, dia 'kan cowok!" usul Lizzy. Dia juga tidak tega melihat kawannya diancam dan di teror seperti ini.
Ancaman dan teror itu pun datang setiap hari. Pasti sangat melelahkan untuk Rea. Gadis itu menghela napasnya panjang, sebutir air matanya terjatuh. "Kenapa semuanya terjadi di saat gue mau ulang tahun dan bokap nyokap gue ngga ada? Kalo ini surprise untuk gue, sumpah, ngga lucu banget!"
Setelah mengeluarkan keluh kesahnya pada Lizzy, Rea mengambil kunci mobilnya. "Zy, gue mau ketemu sama orang. Lo bisa tolong jaga di sini?"
Tanpa bertanya, Lizzy mengangguk. Rea pun mengucapkan terima kasih lalu bergegas keluar untuk menyalakan kembali mesin mobilnya.
Setibanya dia di tempat tujuan, dia segera menekan bel pintu rumah itu. Ponsel miliknya sudah dia aktifkan kembali, karena di situlah bukti-bukti itu berada.
"Rea?" tanya orang itu.
...----------------...