My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Perkara Hamil



Seminggu setelah resminya hubungan Rain dengan Rea, suasana kantor menjadi lebih ramai. Begitu pula dengan suasana di kediaman Luther. Dengan diresmikannya hubungan mereka, Jacob mulai berani bermimpi untuk melangsungkan pernikahan mereka berdua.


"Senang rasanya kalian bisa bersama. Papa udah ngga sabar menimang cucu, hehehe," ucap Jacob tersenyum.


"Papa!" sahut Rea dan Rain bersamaan.


Senyum Jacob semakin melebar saat melihat kedua pasangan itu merona merah. Bagaimana dia tidak selalu tersenyum, saat dia menyerah karena tidak dapat menunaikan amanah dan janji dari sahabatnya, Tuhan membukakan jalan untuknya. Rea dan Rain mendekat dengan sendirinya dan mereka alami, tanpa perjodohan.


"Hahaha, Papa, 'kan udah tua, wajarlah kalo Papa minta cucu," kata Jacob lagi.


Rea tertawa kering membayangkan dia menikah, memiliki anak, dan mengurus anak seharian di rumah di usianya yang masih terbilang muda. Gadis itu merasa mulas tiba-tiba karena mengingat apa yang sudah dia lakukan di pantai bersama Rain. "Rain, bagaimana kalo gue hamil? Astaga, kita bahkan ngga pake pengaman!"


Saat itu, Rea mengatakan ketakutannya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Dia belum ingin menikah, apalagi punya anak. "Bodoh banget gue, bisa-bisanya gue begituan sama lo! Aargghh!"


"Lah, kita udah sah dari kita masih zigot, Re! Ngga cuma orang tua kita aja yang ngerestuin, semesta pun merestuin, Re. Santuy," jawab Rain tenang.


Rain bisa saja tenang, tetapi tidak begitu dengan Rea. Saat ini dia dilanda kepanikan yang luar biasa. Dua minggu! Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian itu! Setibanya di kantor, dia segera meminta Lizzy masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa? Kenapa? Why? Why?" tanya Lizzy saat Rea tiba-tiba menyeretnya dan menariknya masuk.


"Gue terduga hamil!" kata Rea histeris, tetapi dia masih sanggup menahan suara histerisnya.


Namun tidak dengan Lizzy. "Hamil, Re? Kapan biki-, ... Mmmpphh!"


"Ssst! Ssst! Jangan kenceng-kenceng, Lizzy!" sahut Rea sambil menutup mulut sahabatnya itu. "Itu baru dugaan!"


Rea bersandar pada kursi kerjanya dan menutupi wajahnya dengan selimut panjang yang ada di kursi kerjanya. "Lemes gue, Zy! Gue belum dapet lagi, aarrgghh! Gimana, dong!"


"Kita beli testpack! Tenang! Atau lo mau gue anter ke dokter? Eh, tapi tunggu dulu, deh, lo ngerasa ada yang aneh ngga di badan lo? Mual atau pusing atau lo craving something, maybe?" tanya Lizzy.


Rea terdiam sesaat. Pertanyaan Lizzy ini lebih masuk akan dibandingkan dengan rasa panik yang menderanya. Gadis itu merasakan apa yang tadi ditanyakan oleh sahabatnya. "Gue ngga mual. Makan apa aja juga aman dan gue juga ngga ngidam, Zy! Berarti, gue ngga hamil, 'kan?"


Lizzy menjentikkan jarinya. "Ngga! Udah tenang! Kalo lo masih ngga yakin, kita ke dokter kandungan,"


"Lo temenin gue ya, Zy. Janji?" tuntut Rea.


"Janji!" sahut Lizzy semangat. "Tapi, gue seneng-seneng aja, sih, kalo gue punya keponakan sekarang. Hahaha!"


"LIZZY!" tukas Rea kesal dan mendorong sahabatnya itu untuk keluar ruangan.


Siang hari itu, Rain mengetuk pintu ruangan Rea dan mengajaknya makan siang. Saat dia berjalan, para karyawannya menatap ke arahnya dan menyoraki pria itu. Seolah berhasil memasukan bola ke dalam gawang, Rain melambaikan tangan kepada para karyawannya. Sampai akhirnya dia tiba di ruangan Rea.


"Rain!"


"Rea!"


"Dih, apaan, sih! Makan di luar abis itu kita ke dokter," kata Rea sembari menarik lengan kekasihnya untuk keluar. Lagi-lagi sorak sorai para karyawannya mengiringi kepergian mereka.


"Hussh! Hussh!" desis Rea tersipu.


Setelah sampai di mobil, Rain memagut bibir merah menggemaskan milik kekasihnya. "Eh, anyway, ngapain ke dokter? Lo sakit?"


"Ngga! Ngecek gue hamil atau ngga," jawab Rea yang ketakutannya kini muncul kembali.


Rain tersedak dan terbatuk-batuk. "Uhuk! Ha-, hamil, Re? Sama siapa?"


Rea memandang tajam laki-laki yang memegang kendali kemudia dengan wajah santai itu. "Pikir aja sama siapa!"


"Masa, sih? Gue aman, kok! Sumpah! Maksud gue, lo tau, 'kan, maksudnya aman? Ya begitu itu, diluar," jawab Rain, wajahnya memerah sambil berusaha mengingat apakah benih cintanya ada yang berhasil masuk ke dalam liang kewanitaan Rea atau tidak? "Setau gue, sih, aman, Re,"


Hati Rea mencelos. Sekarang, dia menyesali apa yang telah dia perbuat. Akan tetapi, gadis itu membayangkan apa yang akan terjadi seandainya dia hamil anak dari Rain dan mereka menikah? Apakah dia akan bahagia? Apakah dia akan seperti orang tuanya yang bisa memberikan kebahagiaan kepadanya? Apakah sulit membesarkan seorang anak? Lalu, bagaimana kalau nanti Rain selingkuh karena melihat wanita yang lebih muda darinya? Rea menggeleng-gelengkan kepalanya! "Ngga! Ngga! Gue ngga mau nikah dulu!"


"Hei, ngga ada yang ngajak lo nikah!" sahut Rain.


"Kalo gue hamil, gue terpaksa nikah, 'kan sama lo!" tukas Rea lagi kesal. Suaranya tercekat dan hampir menangis.


Rain menyadari perubahan suara Rea dan dia mendekap gadis itu. "Nikah juga ngga apa-apa, kok. Gue udah siap! Papa apalagi, hahaha!"


"Ngaco!" timpal Rea.


Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit (Rea meminta Rain untuk periksa ke dokter kandungan dulu. Setelah itu, dia merasa dia akan sanggup menelan makanannya,). Mereka segera masuk ke ruangan dokter kandungan dan dokter tersebut meminta Rea untuk duduk.


Dokter pria itu menanyakan kapan Rea terakhir datang bulan, apa yang dia rasakan saat ini. Mulai dari mual, muntah, sakit pinggang, perubahan bentuk tubuh terutama di area dada, atau merasakan sesuatu yang aneh lainnya.


Untuk semua pertanyaan itu, Rea menjawab dengan gelengan kepala. Kemudian, dokter meminta Rea untuk melakukan test urine. Tak beberapa lama kemudian, hasil test urine menunjukan hanya ada satu garis di alat pengecekan kehamilan tersebut.


"Beneran ini, Dok? Saya ngga hamil?" tanya Rea sambil terus menatap alat testpack tersebut dan mengusap-usap perutnya. Rain menahan tawa melihat tingkah polah kekasihnya.


"Tunggu sampai tanggal datang bulan, kalau terlambat dua minggu, Anda boleh datang lagi ke sini," kata dokter itu menjelaskan.


Rea masih tak percaya. Dia tidak tau apakah harus senang atau sedih. "Jadi? Untuk sementara saya ngga hamil, 'kan, Dok?"


"Memang tidak hamil, Nona. Tapi kalau Anda masih ragu, datang lagi ke sini setelah dua minggu dan Anda belum datang bulan. Begitu saja," jawab dokter itu dengan sabar.


"Makasih, Dok. Doakan saya ngga hamil dulu ya, Dok. Kemarin itu saya khilaf," ucap Rea. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rea tanpa dia sadari.


Dokter dan Rain tersenyum mendengar pengakuan Rea. Setelah selesai, mereka keluar dari ruangan dokter dengan lega.


"Huufftt, syukurlah Rain. Gue ngga jadi nikah sama lo," ucap Rea penuh syukur.


"Kenapa lo ngga mau banget nikah sama gue, sih?" tanya Rain. Setiap kali mereka membicarakan soal pernikahan, kekasihnya itu selalu berharap mereka tidak menikah.


Rea menggandeng lengan kekar Rain. "Bukannya ngga mau, tapi ngga dulu. Gue belum siap. Lo pikir nikah gampang? Kalo untuk cowok mungkin gampang, tapi kalo cewek, pasti akan susah. Ruang gerak akan terbatas, ngga bisa sebebas dulu, dan tanggung jawabnya lebih besar di cewek dibandingkan cowok. Makanya, gue belum siap untuk ngambil tanggung jawab segede itu. Kalo udah saatnya, gue juga mau nikah, kok,"


Rain mengecup kening Rea dengan sayang. "Gue tungguin sampe lo siap, Re,"


...----------------...