My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Rahasia Yang Terbongkar



Rain adalah pria paling bahagia sedunia saat ini. Setiap bangun tidur, dia akan berkunjung ke kamar Rea dan mengucapkan selamat pagi kepada gadis itu. Begitu pula dengan malam hari, dia akan mengantarkan Rea hingga kamarnya dan mengucapkan selamat malam, sebelum dia kembali ke kamarnya.


Seperti pagi itu, Rain sudah mengetuk pintu kamar kekasihnya itu. Dengan senyum malu-malu, Rea membuka pintu kamarnya. "Hai, selamat pagi,"


"Selamat pagi, Rea. Sarapan, yuk," ucap Rain, dia mengulurkan tangannya dan masuk ke ruang makan dengan bergandengan tangan.


Melihat tingkah laku putra dan calon menantunya, Jacob tersenyum bahagia. "Kayaknya, kita bisa sebar undangan lebih cepet, nih,"


Rain dan Rea saling berpandangan. Ulang tahun Rea yang ke 20 tahun, akan diadakan empat hari lagi. Satu hari sebelum hari ulang tahunnya, Rea harus menentukan dengan siapa dia akan menikah. Hari pernikahannya akan jatuh bersamaan dengan hari ulang tahunnya yang ke 20. Itu akan menjadi hari besar dan bersejarah untuk Rea.


"Dipercepat juga ngga apa-apa, Pa," sahut Rain tersipu.


Ken mencibir. "Cih, nanti berantem lagi, ribut lagi! Gitu aja terus sampe kucing meringkik!"


"Iri tanda cemburu!" balas Rain sengit.


Jacob mengetuk sendok teh ke gelas susu. "Bisa kita mulai kegiatan hari ini? Kalian ini ribut terus, malu sama Rea!" Jacob pun mengalihkan pandangannya ke arah Rea sambil tersenyum. "Maaf ya, Rea. Kamu boleh makan duluan, kok. Silahkan,"


Rea mengangguk dan menuang serealnya ke dalam mangkuk, tak lupa dia menambahkan susu gandum rasa cokelat di atas serealnya.


Setelah makan, Jacob mengajak Rea dan Rain ke ruang kerjanya serta meminta Ken untuk menggantikannya mempersiapkan RUPS, yang akan dilakukan minggu depan.


"Jadi?" tanya Jacob.


Rea dan Rain tersenyum dan saling memandang. Wajah keduanya tersipu malu, tetapi ada sinar kebahagiaan yang memancar dari sana.


"Jadi apa, Pa?" Rain balik bertanya.


Jacob mengatupkan kedua tangannya di dada. "Papa rasa kalian sudah siap dan Rea sudah menentukan pilihannya. Kamu benar-benar yakin ingin bersama Rain?"


Rea memandang Rain sekali lagi dan kemudian dia mengangguk. Masih ada rasa ragu di dalam hatinya, tetapi Rainlah yang dia inginkan saat ini, bukan siapapun.


"Rasa-rasanya Rain tidak perlu Papa tanyain lagi, ya. Papa udah tau jawaban kamu hanya dari wajah dan perubahan sikap kamu. Papa harap, hubungan kalian akan selamanya. Bukan hanya manis di awal-awal saja. Walaupun kalian menikah muda, bukan berarti tidak membangun komitmen. Tetap harus ada komitmen, sehingga kalian akan tetap rukun. Ingat saat-saat seperti ini, kalau kalian bosan atau jenuh," tutur Jacob panjang lebar.


Rain dan Rea mengangguk. "Baik, Pa,"


"Udah fix ini, 'kan berarti? Empat hari lagi, kalian akan menikah dan menjadi bagian dari AJ Company sebagai anggota direksi sambil tetap melanjutkan kuliah kalian. Sudah siap?" tanya Jacob. Kedua matanya kini menatap tajam putra bungsunya. "Terutama kamu, Rain. Sudah tidak ada lagi waktu untuk bermain motor-motoran. Simpan motormu dan kamu boleh memainkan motormu saat luang. Kamu sudah punya tanggung jawab sekarang,"


"Siap, Pa! Aku ngga akan ngecewain Papa atau istriku nanti," sahut Rain bersungguh-sungguh.


Jacob mengangguk-angguk. "Papa anggap, hari ini menjadi titik balik dari kehidupanmu,"


Setelah meneruskan perbincangan hangat mereka pagi itu, Rea dan Rain pun berpamitan untuk pergi ke kampus. Seperti biasa, Rain mengantar Rea dengan mobil pemberian ayahnya sebagai kompensasi karena motor kesayangannya disita Jacob.


Rasanya sudah lama sekali, Rain tidak berhubungan dengan teman-teman satu geng-nya dan berkat Rea, dia seperti mendapatkan sebuah cahaya yang dapat mengeluarkannya dari kegelapan. Rea-lah penyelamat hidup Rain saat itu. Andai Rea tidak datang, dia tidak akan pernah membuka pintu kamarnya dan akan terus berkubang dalam kemarahan dan kekecewaan. Namun sekarang, Rain merasa menemukan sosok pribadi yang baru dalam dirinya.


"Rain, gue nanti ada bimbingan skripsi sama dosen. Lo kalo mau balik, duluan aja, ngga apa-apa," ucap Rea setelah mereka sampai di kampus.


Rain mencebik. "Kok gue ngga bimbingan?"


Rea menghela napas panjang, seakan-akan lelah. " Lo ngga ngajuin skripsi, apa yang mau dibimbing coba? Lagian juga lo belum ada nilainya, gimana mau skripsi. Astaga!"


Rea membusungkan dada dengan sombong. "Lo boleh tanya sama Lizzy atau temen-temen yang lain, gimana nilai gue? Tertinggi di satu angkatan. Gue ngga pernah ngga cum laude, udah gitu kalo gue lulus nanti, gue jadi lulusan terbaik kampus ini, hahaha! Lagian, kalo gue bodoh, gue ngga akan diwarisin saham sebanyak itu,"


Senyum terkembang di wajah cantiknya. Rain mengakui kalau kekasihnya itu memang memiliki wajah yang pintar, kedua mata Rea selalu bulat jika ingin tau tentang sesuatu.


"Gue juga pinter, sayang aja gue telat," sahut Rain mencibir.


Rea berjinjit dan mengecup pipi kekasihnya. "Ngga apa-apa, dikejar aja dan jangan sampe ketinggalan lagi. Gue juga ngga mau punya suami oon, makanya lo harus pinter! Biar ngga malu-maluin gue!"


Mendengar namanya disebut sebagai suami, Rain tersenyum dan tersipu malu. "Iya, Istriku,"


"Dih!" tukas Rea galak. "Gue kelas dulu, nanti kabarin, yah. Bye,"


Jam kuliah Rea dan Rain hari itu berbeda, sehingga mereka harus pisah kelas. Namun, Rea masih sekelas dengan Lizzy, Zayn, dan Stella.


Begitu melihat Rea memasuki kelas yang sama dengannya, Stella segera menuruni tangga dan menghampiri gadis itu. "Rea Johnson, kita satu kelas. Mana calon suami lo?"


Rea yang sedang asik mengobrol dengan Zayn dan Lizzy pun menoleh dengan malas. "Harus banget, ya, gue ngasih tau lo ke mana ca-, ...! Siapa yang bilang Rain calon suami gue?"


Stella menggelengkan kepalanya dan tersenyum sombong. "Lo baca berita bisnis ngga, sih? Berita tentang lo tuh jadi headline dan gambar lo selalu nampang di halaman pertama website itu. Hadeuuuh, calon penerus AJ Company, ngga tau ada website begituan. Please,"


"Ya, so? Lo mau minta tanda tangan, foto bareng, atau foto bertanda tangan? Sampe segitunya nyari tau tentang gue. Waktu luang lo banyak banget kayaknya," balas Rea ketus.


Stella menggeser Lizzy dan mendorong Zayn untuk menjauh, membuat ketiganya memandangnya tajam. Hampir saja keributan terjadi, kalau Rea tidak mengangkat tangannya untuk menengahi mereka.


Gadis berambut rumit itu mendekatkan wajahnya ke arah Rea dan berbisik, "Gue punya berita menarik buat lo,"


"Apa sih maksud lo, Stell!" seru Rea marah.


Stella mengeluarkan ponselnya dan meminta nomor ponsel Rea. Setelah itu, dia tampak mengirimkan sesuatu yang cukup banyak karena ponsel Rea terus berdenting selama beberapa kali.


"Buka aja. Semoga suka, yah. Kita harus tau bibit, bebet, bobot, calon pendamping kita, 'kan? Oh, terima kasih kembali," kata Stella dengan senyum licik di wajahnya.


Rea membuka pesan dari Stella dan betapa terkejutnya dia saat melihat gambar serta potongan berita yang dikirimkan Stella kepadanya. Kepalanya seakan berputar, oksigen di sekitarnya seolah menguap dan lenyap, menyisakan kesesakan. Tubuhnya terasa lemas dan tak sanggup lagi untuk berbicara atau pun melakukan sesuatu.


Lizzy dan Zayn mengambil ponsel Rea dan melihat pesan Stella. Mereka sama terkejutnya dengan Rea. Gadis itu memejamkan matanya sesaat, untuk mengumpulkan tenaga.


"Zy, absenin gue, yah. Gue harus ketemu Jacob Luther!" tukas Rea.


"Mau gue temenin?" tanya Lizzy dan Zayn bersamaan.


Rea seperti menahan tangis dan emosi. Dia menggelengkan kepalanya. "Ngga usah, doain aja biar gue tetep waras. Thank's ya,"


Dengan setengah berlari, Rea meninggalkan kampus dan memanggil taksi. Jacob Luther, itulah tujuan Rea. Dadanya terasa sangat sesak dan pedih. Ada berapa banyak kebenaran lagi yang harus dia hadapi?


...----------------...