
"Rea, ini gue! Buka mata lo!" Rain melihat pakaian Rea yang berantakan dan jaketnya yang turun setengah serta beberapa kancing jaketnya hilang. Belum lagi, gadis itu tidak memakai sepatu bootnya dan resleting rok bermotif kotak-kotaknya sedikit terbuka. Apa yang terjadi pada Rea? Ketakutan menyergap Rain detik itu juga.
Dia memeluk tubuh Rea dan menenangkannya. "Re, lo baik-baik aja, 'kan? Lo belum diapa-apain sama Hunter, 'kan, Re? Maaf! Gue bego banget emang! Gue bener-bener minta maaf,"
Rea menghempaskan tubuh Rain yang memeluknya dan memukul tubuh Rain tanpa henti. "Lepas! Lo jahat, Rain! Jahat banget! Salah gue apa sih sama lo, sampe lo tega jadiin gue taruhan! Brengsek lo, Rain!"
Rain menangkap tangan Rea dan memeluknya kembali. "I said sorry! Lo belum di apa-apain sama dia, 'kan?"
"Udah!" Rea kembali menangis kencang. Dia mengeluarkan semua emosi dan rasa takutnya di dalam pelukan Rain. Tangannya masih memukul-mukul kecil lengan Rain.
Kali ini, Rain membiarkan gadis itu memukulinya. Dia layak mendapatkan lebih dari sekedar pelukan, selama Rea tidak membenci dirinya.
Selagi Rea menangis, Rain dapat mendengar deru suara motor mendekat. "Shiit! Re, lo masih punya tenaga, 'kan?"
Belum sempat Rea menyeka air matanya, Rain sudah menarik tangan gadis itu untuk berdiri. "K-, kenapa? Kenapa lagi?"
Tubuh gadis cantik yang wajahnya sudah berantakan itu bergetar hebat. "Rain? Kenapa?"
"Hunter ngejar kita! Pake jaket gue!" dengan cekatan, Rain memakaikan jaketnya pada Rea. "Pegangan yang kuat dan jangan nengok-nengok ke belakang!"
Rea mengangguk. "I-, iya,"
Setelah Rea naik dan merangkulnya, Rain pun memacu laju motornya dengan sangat cepat, walaupun tidak secepat biasanya. Karena saat ini dia sedang membawa seorang gadis yang mungkin mengalami trauma parah karena ulahnya. Dia tau motor Hunter akan dengan cepat menyusulnya.
Benar saja, dari kaca spion Rain dapat melihat motor hitam Hunter. "Re, pegangan yang kuat! Gue ngebut banget!"
Rea mendengar ucapan Rain dan gadis itu semakin mengeratkan pegangannya pada pinggang Rain. Untuk mengurangi rasa takut, Rea memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
Rain pun memacu kecepatan motornya lebih cepat. Segera saja, Hunter tertinggal jauh di belakang. Saat itu, sudah lewat tengah malam dan Rain tidak mungkin membawa Rea pulang ke rumahnya. Dia akan dihukum oleh kakak dan ayahnya.
Maka setelah memastikan Hunter tak terlihat lagi, Rain berbelok dan membawa Rea ke tempat persembunyiannya jika dia tidak pulang ke rumah.
"Re, udah sampe. Kita di sini dulu sementara sampe pagi," ucap Rain.
Tangan Rea masih gemetar karena menahan rasa takut yang sedari tadi datang bertubi-tubi. Rain semakin merasa bersalah dan akhirnya membantu Rea untuk turun dari motornya. Dia menuntun gadis itu duduk di halaman depan rumah sederhana itu.
Rain mengambil ponselnya dengan satu tangan karena tangan yang lain dipegangi erat oleh Rea dan menghubungi seseorang. "Pak, tolong buka pintu. Aku ngga bawa kunci,"
Seorang pria paruh baya membuka pintu depan itu dan mempersilahkan Rain untuk masuk. "Den Rain, i-, itu siapa?"
"Tolong siapin air hangat dan cokelat hangat. Satu lagi, kamar aku udah dibersihin belum?" tanya Rain sekaligus memerintah pria paruh baya itu.
Pria itu mengangguk. "Baru tadi pagi saya rapihkan, Den. Saya bikin cokelat hangat dulu, Den,"
Rain mengucapkan terima kasih dan menuntun Rea ke kamar. "Lo istirahat dulu di sini. Gue siapin baju ganti. Lo ngga bawa baju ganti, 'kan?"
Rea menggeleng lemah. Dia memperhatikan sekelilingnya dan kemudian gadis itu memeluk kedua lututnya, seolah-olah takut seseorang akan menyerangnya.
"Re, lo belum, ...." tanya Rain hati-hati.
Air mata Rea terjatuh kembali dan gadis itu menyekanya. "Gue cuma bingung, gue salah apa sama lo, Rain? Kok bisa-bisanya lo tega jadiin gue taruhan dan ngasih gue gitu ke cowok asing yang which is rival abadi lo! Apa lo ngga mikir kalo cowok itu bisa ngapain aja? Bisa aja gue dibunuh terus mayat gue di potong-potong buat ngilangin barang bukti! Gue cuma heran, kok lo sejahat itu sama gue!"
Suaranya tercekat saat dia bertanya kepada Rain. Kini tak hanya butiran air mata yang menetes membasahi pipinya. Rain membelakangi Rea, dia tidak berusaha untuk membela diri atau membenarkan keputusannya. Tak henti-hentinya dia meminta maaf sepanjang malam itu.
"Re, I'm truly sorry," ucapnya. Dia berlutut dan memegangi kedua tangan Rea yang terlipat mengikat kedua lututnya.
Rain mengusap kening dan wajahnya. Dia duduk di samping Rea, berniat untuk memeluknya. Namun, Rea menolak pelukan dari pria itu.
Kamar berukuran sedang itu berubah menjadi hening seketika. Tak lama, ketukan di pintu memecah keheningan mereka. "Den, ini cokelatnya. Air hangatnya sudah siap juga, Den. Handuk bersih dan pakaian Den Rain juga sudah siap,"
"Makasih ya, Pak," ucap Rain, dia mengambil dua gelas cokelat hangat dan kembali menutup pintunya. Dia memberikan gelas itu pada Rea. "Minum dulu, biar relax. Gue pernah baca di internet, katanya cewek kalo lagi emosi, kasih cokelat aja,"
Rea mengambil gelas berisi cokelat hangat itu dan menyesapnya. Dia merasa sedikit relax dan lega. "Thank's,"
"Mandi dulu, besok pagi gue anter balik," kata Rain lagi.
Setelah mereka berdua membersihkan diri, Rain menawarkan Rea untuk makan. Namun, Rea menggelengkan kepalanya. "Ngga, gue mau tidur aja,"
Rain mengangguk. "Re, sekali lagi gue minta maaf,"
Rea tidak menjawab dan menutupi dirinya dengan selimut. Gadis itu memejamkan matanya dan berusaha melupakan kejadian malam itu.
Keesokan paginya, Rea bangun sebelum Rain terbangun. Dia keluar dari kamar dan melihat Rain tertidur di sofa. Gadis itu mencium harum wangi masakan. Hidungnya mengendus dan memaksanya untuk mencari sumber harum itu.
"Siang, Non," sapa pria yang Rea lihat tadi malam.
"Siang, Pak," balas Rea sopan.
"Sarapannya, Non. Silahkan dimakan. Saya bangunin Den Rain dulu. Non boleh makan duluan," kata pria paruh baya itu, dia membukakan kursi untuk Rea.
Rea terpaksa duduk dan memakan makanan yang sudah disiapkan oleh pria yang dipekerjakan oleh Rain itu. "Terima kasih. Bapak ngga ikut makan?"
Pria itu tersenyum, "Ngga, Non,"
Beberapa menit kemudian, Rain sudah bergabung bersamanya di meja makan. Mereka menyantap makanan itu dalam diam dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.
"Gue anter lo balik," ucap Rain setelah mereka selesai makan.
Rea menggeleng. "Ngga usah. Gue rasa, gue ngga akan naik motor lagi seumur hidup gue!"
Rain berdecak. "Ayolah, Re! Lo mau naik apa?"
"Taksi kek, becak kek, atau apa punlah selain motor!" tukas Rea dan dia meninggalkan ruangan makan itu untuk mengambil tasnya di kamar.
Selagi dia bersiap-siap, Rain mencengkeram tangannya. "Lo harus balik sama gue! Ayo kita pulang!"
"Ngga mau! Dan lo nyakitin gue!" Rea mengambil tangan Rain dan menghempaskannya.
Rea pun bergegas pergi hanya dengan mengenakan kaus kebesaran milik Rain serta tas kecil yang dia bawa. Rain mengejarnya. "Jangan konyol! Lo ngga bisa balik pake baju begitu! Gue anter!"
"Ngga!" tolak Rea, kedua matanya menatap Rain dengan tajam.
"Gue udah nyelametin lo, anggep aja lunas!" seru Rain.
Rea mendengus kesal dan mengarahakan jari telunjuknya ke dada Rain. "Sejak kapan lo nyelametin gue? Asal lo tau, lo bukan penyelamat gue! Lo cuma cowok brengsek yang pengecut! Paham!"
...----------------...