
Kabar Rea mengikuti balapan motor merebak ke mana-mana. Saat di kantor, dia di elu-elukan oleh para karyawannya, tidak saat dia di rumah.
Sarapan pagi hari itu, Jacob terus memandangi Rea dan Rain. Tatapannya dingin dan terlihat kecewa. "Papa ngga ngerti apa yang ada di pikiran kalian! Bisa-bisanya seorang anak gadis ikut balapan liar seperti itu! Untuk apa! Lagipula, siapa yang ngajarin kamu naik motor sport? Astaga!"
"Rain pasti! Siapa lagi kalo bukan dia!" jawab Ken sengit. Kakak dari Rain itu juga ikut-ikutan memojokkan adik dan calon adik iparnya.
Rain memberikan tatapan tajam pada Ken dan bersungut-sungut tanpa bersuara. Tak lama, Jacob kembali mengambil alih pembicaraan pagi hari itu. "Siapa pun! Mau itu Rain atau bahkan keinginan Rea sendiri, Papa tidak mau mendengar alasan apa pun! Kalian berdua Papa hukum, dilarang keluar selama satu minggu penuh dan dilarang saling menemui satu sama lain! Sekarang, berikan pada Papa kunci mobil dan motor kalian!"
"Pa! Rapat gimana, Pa?" tanya Rea berusaha mencari celah. Dia merasa hukuman ini tidak adil untuknya, karena dia hanya berusaha untuk membawa Rain kembali.
Jacob menghela napasnya. Pria tua itu sangat paham, Rea dan Ken sedang menjalankan beberapa proyek, tetapi kali ini, Rea harus membayar konsekuensi yang sudah dia tetapkan. "Papa alihkan ke Ken. Seharusnya sebelum kamu memulai balapan liar itu, kamu berpikir. Apakah nantinya akan ada yang kamu korbankan? Papa cuma ngga mau kamu celaka. Rain anak laki-laki, tapi kamu anak perempuan! Balap liar lebih bahaya untuk perempuan daripada laki-laki, apa pun alasanmu, tetap saja salah."
Rea tertunduk. "Maaf, Pa. Rea salah,"
"Cuma Ken yang nanti boleh ketemu Rea, itu pun untuk membahasa pekerjaan. Selebihnya, no!" tukas Jacob tegas.
Setelah itu, Jacob pun berangkat kerja dan Ken meminta izin kepada ayahnya untuk meminta file yang berada di flashdisk Rea.
"Re, lo ngga apa-apa, 'kan? Padahal proyek ini gagasan lo. Mana hari ini pula rapatnya," kata Ken bersimpati.
Rea terdiam sambil melihat ke sekeliling kamarnya. Paling tidak dia tidak akan mati bosan di dalam kamar. Kamar tersebut memiliki televisi dan Rea yang memang hobi menonton film, sudah mendownload aplikasi berbayar di televisi pintarnya tersebut.
Kemudian, ada sofa dan lemari pendingin kecil berisi segala macam jenis cokelat dan es krim miliknya. Rea berjalan dengan lulai ke meja rias dan mengambil tas selempang kecilnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dengan gantungan kunci bergemerincing yang sama persis dengan gantungan kunci di motor Rain.
"Niy. Di folder 'Punya Rea' nanti disitu ada banyak nama-nama perusahaan, lo cari aja PT. Permata." kata Rea sambil menyerahkan flashdisk kecil itu pada Ken.
Ken menerimanya dan menggantungkan flashdisk itu di pinggir tas kerjanya. "Re, lo putus sama Rain?"
Rea menatap Ken dan duduk di sisi putera sulung Luther itu. "Lo mau tau banget alasan gue ikut balapan, yah?"
"Kalo lo berkenan jawab sih, Re. Semua perbuatan pasti ada alasannya, 'kan? Ngga mungkin lo tiba-tiba ikut balapan kayak gitu, beli motor, dan lain-lainlah," desak Ken.
Entah mengapa, sulit sekali bagi Rea untuk bercerita kepada Ken. Ada sesuatu di dalam hatinya yang melarang gadis itu untuk bercerita kepadanya. Apa mungkin karena Ken masih menyimpan rasa kepadanya? Mungkin itu!
"Udah sana lo kerja! Nanti di marahin Papa, loh! Malah kita berdua dapet masalah dan gue kena hukuman dobel. Sana! Sana! Kerja dulu!" ucap Rea sambil menarik tangan Ken.
Ken mengambil tangan Rea dan menariknya kembali. Dengan sigal, laki-laki muda itu menangkap tubuh gadis kecil yang sulit sekali dia lupakan dari hatinya. "Re, gue berharap kalo lo ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue,"
"Kak, jangan kayak gini! Ngga enak kalo ada yang buka pintu," ujar Rea sambil berusaha melonggarkan pelukan lengan Ken.
"M-, maaf!" jawab Ken dan segera melepaskan lengan yang menahan pinggang Rea. Wajah pria itu memerah dan dia segera meninggalkan kamar Rea dengan salah tingkah.
Selepas kepergian Ken, Rea pun dudk termenung. Dia mengingat percakapan terakhirnya dengan Rain sebelum mereka dihukum. Apakah hubungan mereka sekarang sudah kembali atau masih menggantung?
Rea mengambil napas panjang, ingin rasanya dia berbicara kepada Rain hari ini dan menyelesaikan segalanya dengan cepat. Namun, kondisi mereka saat ini tidak memungkinkan untuk berbicara.
Senyum di wajah gadis cantik itu merekah begitu saja dan begitu sadar, Rea cepat-cepat menghapus senyumnya. "Lagi mikir, kenapa gue bisa bego banget sampe harus ikut balapan demi lo doang!"
("Dih, lo marah? Itu kemauan lo sendiri dan gue ngga pernah nyuruh!") jawab Rain. Dia membubuhkan emoticon kesal pada pesannya.
Rea berdecak. "Cowok ngga peka! Jawab apa gitu buat hibur gue! Ck!"
Jari-jarinya kini sibuk berlarian di atas ponsel pintarnya dan raut wajahnya tampak kesal saat mengetik. "Gue cuma pengen memperjelas perasaan lo ke gue! Kita, 'kan udah putus!"
Rea memakai kalimat pancingan dengan harapan, Rain akan membantahnya. Namun sayangnya, balasan Rain membuat gadis itu kecewa dan bertambah kesal.
("Lah, lo yang mutusin, kok! Kenapa jadi salahin gue?") balas Rain.
Rea melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan mengomel-ngomel. "Dasar ngga peka! Bilang kek ngga mau putus atau ucapin makasih, gitu! Rain Jelek! Aarrgghh! Kesel banget gue sama lo!"
Sementara itu, Rain yang berada di depan kamar Rea mendengar suara berisik dari kamar gadis itu. Karena rumah besar itu sedang sepi dan nyaris tidak ada kehidupan, suara Rea samar-samar dapat terdengar dari kamar Rain.
Rain terkikik geli dan tiba-tiba saja timbul ide untuk menghampiri gadis yang sedang marah-marah itu. Jendela kamar anak-anak Luther, semua berhadapan langsung dengan taman. Sehingga jika mereka keluar melalui jendela, maka mereka akan masuk ke dalam taman dan dapat menghampiri kamar lainnya.
Dulu Rain sering kabur lewat jendela itu dan mengajak kakaknya untuk bermain saat mereka sedang dihukum atau pun menolak tidur siang.
Kali ini, Rain berniat melakukan hal yang sama dan mengulangi masa kecilnya. Dia melompat dari jendela kamar dan berjalan menuju kamar Rea. Setibanya di depan kamar, Rain mengetuk jendela kaca itu dan dia dapat melihat Rea sedang asik bermain game.
"Rain! Ngapain?" tanya Rea segera berlari menghampiri jendela.
"Buka, dong! Gue mau masuk!" pinta Rain. Namun, Rea menggelengkan kepalanya. Dia bahkan menjauh dari kaca jendela tersebut dan melanjutkan aktivitasnya.
Lagi-lagi Rain mengetuk. "Re! Ih, sumpah, gue dicuekin! Woy, Rea!"
Rea menoleh sedikit dan berbicara dari jarak yang cukup jauh. Dia tidak membalas dan hanya melambaikan tangan ke arah pria yang tak lelah mengetuk itu.
Rain terus mengetuk dan memanggil namanya. Rea khawatir dan akhirnya membuka kaca jendela itu. "Berisik banget! Ada apaan?"
Begitu jendela terbuka lebar, Rain mengangkat tubuh Rea dan menggendongnya. Pemuda itu tidak peduli dengan pukulan kecil Rea di kepala dan lengannya. Dia juga tidak peduli dengan teriakan Rea.
Rain yang sudah mengantungi kunci mobil, segera memasukan Rea ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan yang tinggi.
Beberapa pelayan yang bertugas menjaga dua anak muda itu pun berteriak-teriak begitu melihat mobil Jeep Rain melaju cepat. Salah seorang pelayan menghubungi Jacob, "Tuan, Nona Rea dan Tuan Luther kabur,"
"Apa! Kenapa bisa? Baiklah, aku ke sana!" tukas Jacob. Dia mengumpat di ruangan kerjanya dan beberapa kolega bisnisnya menoleh ke arah pria botak di tengah itu sambil mengulum senyum mereka.
"Kurasa mereka sudah siap di nikahkan, Luther," kata salah satu dari mereka.
...----------------...