My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Penyesalan



Dua manik mata saling bertemu dan bertumpu. Ada dua hati yang sempat terikat, tetapi kini myaris terlepas. Rea terus memandangi laki-laki yang hampir saja menjadi suaminya. Ada lubang menganga yang cukup besar di dalam hatinya saat memandang pria itu.


"Ngapain lo ke sini? Tau darimana gue ada di sini?" tanya Rea ketus.


Rain berlutut dan bersimpuh dihadapan gadis yang dia cintai itu. "Gue minta maaf untuk semua yang udah gue lakuin ke lo. Gue sadar, permintaan maaf gue emang ngga akan bikin bokap nyokap lo hidup lagi. Tapi, izinin gue untuk ngomong sama lo. Gue mohon, Re,"


Hembusan angin lembut menyapa wajah gadis itu dan dia mengalihkan pandangannya sambil merapikan beberapa helai rambutnya yang berlarian ke depan. Lama dia terdiam tanpa menanggapi ucapan Rain.


Pria itu memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. "Gue ngga pernah punya niat untuk ninggalin dunia motor gue karena di sanalah keluarga gue. Tapi, begitu gue deket sama lo, gue ngerasa gue nemuin tempat baru. Gue cuma butuh tempat untuk singgah dan menetap dan gue nemuin itu di lo. Gue mau singgah dan menetap di hati lo, Re! Kasih gue satu kesempatan, gue akan ngebuktiin ke lo kalo gue berubah! Gue bukan Rain yang seneng cari ribut dan balapan liar lagi. Please,"


Rea kembali menatap Rain dalam-dalam. Gadis itu dapat melihat kesungguhan dari mata Rain. Akan tetapi, kesungguhan Rain itu tidak mengubah apa pun. Lagipula, Rea tetap menginginkan proses hukum berjalan dengan semestinya.


"Gue ngga tau, Rain. Gue ngga bisa janjiin lo apa-apa. Bener kata lo, maaf lo itu ngga bisa balikan bokap nyokap gue. Saat ini, gue ngerasa kosong aja. Gue kecewa banget sama keluarga lo. Ngga ada satupun dari kalian yang ngasih tau gue tentang kasus ini. Andai saat pertama kalian ngomong lebih awal, mungkin gue bisa lebih nerima dan ngga gitu kaget," kata Rea datar. Semua emosinya sudah dia keluarkan sampai tidak ada rasa yang tersisa, selain kosong, hampa, dan sepi.


Gadis itu menghela napasnya lagi. "Soal hubungan kita, gue juga ngga tau jadinya gimana. Gue ngga benci sama lo tapi kayak ngga ada rasa apa-apa aja. Numb,"


"Lo maunya gimana? Gue akan ikutin semua kemauan lo, selain menjauh dari lo. Kalo itu ngga bisa. Gue ngga bisa jauh dari lo, Re. Lo udah jadi udara di hidup gue, kalo lo ngga ada, gue ngga akan bisa napas," tanya Rain. Hal yang dia takutkan saat ini adalah kehilangan Rea. Bahkan, jika hasil sidang nanti memutuskan dia bersalah dan dipenjara, itu tidak jadi masalah untuknya, selama Rea masih ada di hidupnya.


"Gue ngga mau apa-apa, Rain," jawab Rea, suaranya terdengar getir.


Saat menatap mata Rain, ada kerinduan yang membuat dia ingin memeluk pria itu. Bagaimana pun, rasa cinta itu masih tersisa di hatinya untuk Rain.


Rain berdiri dan berjalan menuju mobilnya, tak lama dia kembali lagi dengan bunga dan hadiah untuk Rea. Dia mencabut beberapa tangkai bunga mawar merah dari ikatan cantiknya dan dia letakan di pusara kedua orang tua Rea.


Pria berparas tampan itu berlutut di sisi pusara dan berdeham sebentar. "Ehem! Ha-, halo Tuan dan Nyonya Johnson. Saya Rain Luther. Saya di sini karena saya ingin meminta maaf atas apa yang telah saya perbuat. Karena perbuatan saya, putri Anda harus kehilangan kedua orang tuanya. Maafkan saya,"


Kemudian, Rain mengambil sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. "Saya berencana ingin melamar putri Anda, tapi ternyata saya ketahuan, hehehe. Saya hanya minta dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya. Saya berjanji, saya akan selalu melindungi Rea dan selalu ada 24 jam untuk dia. Anggap saja saya sedang menebus kesalahan saya,"


Selagi Rain berbicara dengan kedua orang tuanya, air mata Rea terjatuh dan menetes dengan cepat. Tak hanya Rea saja yang menangis, Rain pun terlihat mengusap air matanya beberapa kali.


Setelah selesai, pria itu memberikan bunga dan hadiah itu untuk Rea. "Happy birthday, Rea. Semoga lo selalu bahagia. Maafin gue udah jadiin hari ulang tahun lo basi dan kering kayak gini,"


Rea menerima semua hadiah dari Rain tanpa mengucapkan terima kasih. Dia tau, dia akan menangis jika dia tetap memaksakan untuk mengeluarkan satu huruf dari mulutnya.


Rain menarik Rea ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala gadis itu dengan lembut. Jauh di dalam hatinya dia berharap supaya waktu berhenti dan mengangkat semua kepahitan di hidup mereka.


"Gue balik dulu. Kalo ada apa-apa, lo tau ke mana nyari gue, 'kan? Gue sayang sama lo, Re," ucap Rain lagi.


Rea tidak menjawab, dia memutar tubuhnya dan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Di sanalah dia menumpahkan kembali semua air matanya.


Keesokan harinya, Jacob memberikan mandat kepada putra sulungnya untuk membuka RUPS hari itu. Ken yang mendapatkan mandat itu sedikit khawatir dengan kondisi ayahnya dan lagi, dia belum memiliki kemampuan serta wibawa untuk membuka rapat sebesar itu.


Kerutan di dahi Ken menunjukan kalau pria itu masih ragu dan sedikit takut. "Kalo ada yang nanya soal pengadilan, aku harus jawab apa?"


"Minta mereka untuk menghubungi Tuan Andrew, kuasa hukum kita," jawab Jacob cepat. "Kali ini, Papa percaya sama kamu, Ken. Papa harus pergi ke suatu tempat,"


"Ke mana? Dan di mana Rain? Dari kemarin dia tidak ada di rumah," tanya Ken lagi.


Jacob menghela napasnya. "Biarkan dia memperbaiki kesalahannya, Ken. Untuk kali ini, Papa ngga akan bantu dia. Papa mau dia bertobat dan benar-benar ninggalin motor-motorannya itu,"


Ken mengangguk. Jacob pun berpamitan kepada anak laki-lakinya yang berparas tampan itu. Tak lama, dia sudah melaju di dalam kendaraannya menuju ke suatu tempat. Pria berwajah ramah itu sempat turun di toko bunga dan membeli beberapa tangkai bunga lily putih dan mawar biru.


Setelah itu, dia kembali melanjutkan perjalanannya. Sekitar satu jam dia memarkirkan kendaraan roda empatnya di sebuah tempat. Dengan berjalan kaki, dia membawa bunga-bunga yang tadi dia beli.


Jacob tersenyum saat dia tiba di tempat yang dia cari. "Hai, sobat!"


Pria itu meletakkan bunga-bunga yang dibawanya di atas sebuah nisan. "Aku datang, Lex,"


Jacob melihat bunga segar yang sudah diletakkan di sana. Dia juga melihat dua buah kaleng bir yang belum terbuka di sisi makam. "Rea abis dari sini ya, Lex? Kemarin dia ulang tahun, tapi aku malah ngga berani ngucapin ulang tahun untuk anakmu. Aku bukan ayah yang baik, aku juga bukan ayah mertua yang baik. Semua yang buruk tersemat di namaku, Lex,"


"Andai kalian masih ada, kita bisa rayain ulang tahun Rea bersama-sama sambil ngumumin pertunangan mereka. Tapi karena anakku, kalian pergi lebih cepat. Salahku banyak banget, Lex," sambung Jacob. Dia terus berbicara pada kedua temannya yang kini berbaring di rumah terakhir mereka.


Jacob terus mengucapkan permintaan maaf atas kesalahannya dan kesalahan Rain. Atas kegagalannya mendidik Rain dan sikap pengecutnya yang tidak berani bertemu dengan Rea. Siang itu, Jacob seperti seorang anak muda yang sedang mencurahkan rasa hatinya kepada sahabatnya.


Malam hari itu di markas Dead Vagabonds, Rain memasuki pekarangan markas itu dengan menggunakan mobilnya. Dia segera turun dan menemui Max serta Abs yang tadi menghubunginya.


"Kata lo ada siapa yang nyari gue?" tanya Rain saat dia bertemu dengan Abs.


Max dan Abs menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang duduk dengan manis sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya seolah-olah berada di sebuah taman.


"Ngakunya temen lo. Dari pagi udah nongkrong di sini, maunya balik sama lo," kata Max lelah. "Kayak ratu banget gayanya, capek gue! Lo nemu dia di mana, sih?"


Rain mengangkat kedua bahunya. "Gue aja ngga kenal. Aarrggh, ada-ada aja, deh! Ya udah, gue ajak balik deh tuh makhluknya!"


"Woi, Stella! Ngapain lo di sini? Menuh-menuhin bengel aja! Balik, gih!" tukas Rain kesal.


Stella tersenyum lebar kepada pria itu. Dia berlari kecil dan merangkul lengan kekar Rain dengan erat. "Nungguin lo. Anterin gue balik, yuk!"


...----------------...