
"Hei, Nona," sapa seorang pria dengan tindik di hidung dan bawah bibirnya kepada gadis berambut cokelat yang sudah menunggunya.
Gadis itu tersenyum lebar. "Hei, Tuan,"
Rona merah memenuhi wajah sang pria. "Ngga usah panggil Tuan-lah,"
"Ngga usah panggil Nona-lah, hehehe. Apa kabar Abs?" tanya gadis cantik itu memberikan seringai lebarnya pada Abs.
Abs membalas senyuman si gadis dengan seringai yang sama. "Pagi ini mendadak baik. Ngga kerja lo, Re?"
Gadis cantik bernama Rea itu menghela napasnya. Tujuan dia bertemu dengan Abs adalah untuk meminta bantuan pada laki-laki muda itu. Ada yang harus dia lakukan menjelang adu balap antara Rain dengan Hunter.
"Gue izin sampe siang. Makanya gue ngga bisa lama-lama," jawab Rea.
"Lo mau minta tolong apa, Re? Kaget banget gue, lo telepon dan minta tolong. Maksud gue, gue cowok dan ya, lo tau-lah, hehehe. Bukannya ngga mau, tapi gue akan bantu sebisa gue," tanya Abs.
Rea menceritakan tentang hubungan Rain dan dirinya kepada Abs. "Beberapa hari yang lalu, dia nyulik gue pas lagi rapat terus dia bawa gue ke arena balap,"
Gadis itu bercerita tentang Rain yang berusaha untuk menaklukkan rasa takut dan trauma Rea terhadap motor. Selama beberapa hari itu juga Rain mengajarkan Rea untuk mengendarai motor.
"Gimana-gimana? Rain ngajarin lo naik motor? Motor bebek?" tanya Abs. Pemuda itu cukup shock dan terkejut mendengar pengakuan Rea tentang Rain yang mengajarinya mengendarai motor. Mungkin motor bebek atau skuter atau bahkan Vespa.
Namun Rea menggelengkan kepalanya. "Gue ngga paham motor bebek itu motor apa. Motor yang diajarin Rain itu motor kayak punya lo. Yang biasa buat balapan,"
"Sumpah lo?" tanya Abs memastikan. "Maksud gue, untuk apa dia ngajarin lo naik motor besar? Emang kaki lo nyampe?"
"Sialan! Nyampelah! Gue ngga kerdil kali!" tukas Rea kesal. "Nah, di sinilah gue minta tolong sama lo. Gue berharap lo mau bantu gue,"
Rea menceritakan tentang ide dan rencananya kepada Abs. Rencana itu sudah lama ada semenjak Rea sudah sanggup mengendarai motor sport, bahkan dia sudah membeli satu buah unit motor untuk dia pakai sendiri.
Abs? Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar rencana dan kenekatan Rea itu. Pria itu hanya bisa berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Lo gila!"
Kata itu saja yang terucap terus dari mulut Abs. Berbeda dengan Abs, Rea sangat menikmati reaksi terkejut Abs dan umpatan yang laki-laki itu berikan kepadanya.
"Gue ngga akan nyia-nyiain pelajaran yang udah gue dapet, Abs. Gue jadi kayak naik level dan new skill unlock gitu rasanya, hahaha!" sahut Rea tertawa lepas.
Abs masih menggelengkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkan oleh Rea, tetapi menurut Abs, Rea terlalu menggampangkan masalah ini. Saat ini, acara tanding balap itu sudah bukan sekedar hobi semata, melainkan sudah mempertaruhkan harga diri dan kehormatan seseorang.
"Lo ngga mikirin bahayanya? Kalo lo mau gabung, lo harus kotor, Re! Lo harus sedikit curang, ngga bisa polosan," ucap Abs.
"That's why, gue minta tolong sama lo, Abs. Gue mau lo ajarin gue untuk bisa manuver, split, atau apalah itu. Motor gue juga gue serahin ke tangan lo. Lo apain dah suka-suka lo," jawab Rea pasrah.
Lagi-lagi Abs menghela napasnya. Dia benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan untuk kekasih sahabatnya itu. "Lo bener-bener yakin, Re? Ngga mau lo pikir-pikir lagi?"
Rea mengangguk mantap. "Gue yakin, seyakin-yakinnya!"
"Tujuan lo apa sebenarnya?" tanya Abs lagi. "Kalo lo gabung dan turun, yang bisa ngelindungin lo ya cuma lo sendiri, Re. Gue dan tim udah lepas tangan,"
Mau tak mau, Abs tertawa mendengar penjelasan dari gadis cantik itu. "Hahaha! Okelah, mulai nanti malam, lo oke?"
Rea mengangguk. "Oke, ganti markas! Gue udah siapin segalanya dan jangan sampe Rain curiga,"
"Siap! Kalo gitu, sampe ketemu nanti malam," kata Abs.
Keputusan sudah diambil dan mulai siang itu, Rea mengasah mental dan keberaniannya untuk dapat menghadapi segalanya di hari yang telah ditentukan nanti.
Sepanjang siang itu, Rea sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Sering kali dia melirik jam tangannya atau melihat ke arah luar. Ken yang sedari kemarin memperhatikan tingkah aneh gadis itu pun, berencana mengajak Rea untuk berbicara setelah rapat.
Namun, rapat baru selesai di sore hari dan Rea segera menyelinap keluar dan menghilang dari pandangan Ken. Sehari sebelumnya, rea meminta bantuan lizi untuk mencari sebuah gudang atau gedung kosong yang sudah tidak terpakai dan dia juga meminta kepada sahabatnya itu untuk menyewa gedung kosong yang dia inginkan selama beberapa waktu.
Hari itu, begitu selesai rapat, Rea menyambar lengan Lizzy untuk segera menuju ke gudang kosong yang sudah mereka sewa. Rea menceritakan kepada Lizzy tentang Abs yang akan datang bersama dengan beberapa mekanik yang akan memodifikasi motornya.
Lizzy pun tak dapat berkata apa-apa lagi Satria menceritakan tentang rencana gilanya. Sebagai seorang sahabat yang baik, Lizzy akan tetap mendukung apapun keputusan Rea selama keputusan itu baik untuk sahabatnya tersebut.
Malam pun tiba, Abs datang bersama Max dan beberapa pria yang pernah dilihat Rea di markas Dead Vagabonds. Max merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Marea Johnson, apa nama tengah lo udah ganti jadi Marea Berani Mati Johnson? Hahaha! Lo gila banget, Rea!"
Rea menyeringai lebar dan masuk ke dalam pelukan Max. "Hahaha, demi cinta judulnya niy,"
"Eh, lo pada ke sini, Rain ngga curiga, 'kan?" tanya Rea.
Max dan Abs menggeleng. Rea mengangguk puas, kemudian dia memperkenalkan Lizzy pada Abs, Max, dan teman-teman pria yang lain. "Ini mereka satu geng, Zy. Kayak kita aja gitu, hahaha!"
Lizzy tersipu malu saat bersalaman dengan Max. Dia segera berbisik pada Rea. "Dia tampan,"
Rea hanya mendengus mendengar bisikan dari sahabatnya itu. Tak lama, gudang kosong yang biasa terbengkalai itu, kini dipenuhi dengan suara las dan deru suara motor. Beberapa dari mereka membantu proses modifikasi motor Rea, motor hitam dove dengan ukuran body cukup besar dan tinggi.
Sementara Abs, mengajari Rea untuk bermanuver dan berkelok-kelok guna menghindari halangan atau rintangan yang terkadang dilemparkan oleh tim musuh.
"Ngga buruk. Lo udah oke, Re. Tapi, lo inget kita ngga ada di arena untuk nyelametin lo. Yang bisa nyelametin lo ya cuma lo sendiri. Lo bener-bener harus waspada dan kuasai lapangannya," pesan Abs pada Rea yang kini mengangguk berusaha mengingat satu demi satu pelajaran yang diberikan oleh Abs. "Sisa satu hari lagi dan besok kita latihan pake motor lo,"
"Siap!" jawab Rea ,lalu dia melanjutkan latihannya bersama Abs.
Keesokan malamnya, mereka melakukan hal yang sama. Namun kali ini, Abs dan Max menemani Rea sebagai lawan. Mereka membuat tiga kali putaran yang memutari gudang tersebut.
"Lo udah siap, Re! Good luck buat besok," kata Max memeluk Rea dengan sayang. Begitu pula dengan Abs. Mereka berdua sudah menganggap Rea sebagai adik mereka sendiri.
Malam pertandingan balap pun tiba, Rain dan Hunter sudah bersiap di arena balap. Suara gas motor mereka saling berpacu untuk mengintimidasi satu sama lain. Suara sorak sorai para pendukung tak kalah ramainya dengan deru motor.
Seorang gadis dengan pakaian minim yang menonjolkan lekuk tubuh indahnya berdiri di tengah sambil membawa bendera.
Namun begitu peluit hendak berbunyi, satu buah motor menyelinap di barisan tengah di antara Rain dan Hunter. Kedua pria itu saling memandang dengan tatapan menuduh. Siapa tamu tak diundang itu? Peluit pun berbunyi dan ketiga motor itu segera melaju dengan kecepatan tinggi diiringi oleh sorak sorai dan tepukan pendukung mereka.
...----------------...