
"Ngga! Gue mau pulang sekarang!" tukas Rea malam itu. "Gue laper, bau, keringetan, aah udah bete banget, deh! Kalo lo ngga mau nganterin, gue balik naik taksi!"
Rain menahan Rea untuk tetap berada di sana. "Ya udah, gue minta tolong Abs untuk pesenin makanan buat lo, ya. Lo mau apa?"
Rea menghentakkan kakinya dengan kesal. Wajahnya sudah terlihat lelah dan bosan. "Kenapa sih gue ngga boleh balik?"
"Gue masih mau di sini. Kalo lo balik sendiri, bokap gue bisa ngamuk, Re. Please," jawab Rain berbohong.
"Ya udah, lo anter gue dulu abis itu suka-suka lo deh mau nginep di sini juga gue ngga peduli! Udah deh ah, gue mau balik!" tuntut Rea.
Kawan-kawan Rain menatap Rain dengan pandangan tajam. Mereka tau alasan mengapa pria berambut gondrong itu memaksa Rea untuk tetap tinggal. Bahkan, Max yang selalu mendukung setiap keputusan sahabatnya itu, kali ini dengan sangat terpaksa menentangnya.
"Lo gila, Rain! Astaga! Lo ngga cuma ngerusak kepercayaan bokap lo, tapi lo juga ngerusak anak orang!" tukas Max saat dia mengetahui Rain menjadikan Rea bahan taruhan.
Rain mengacak-acak rambutnya. "Gue terpaksa. Lagian juga tuh cewek pake ngintip segala! Tapi tenang aja, gue pasti menang,"
Max mengerutkan keningnya. "Awas aja sampe lo kalah! Kita ngga akan nganggep lo lagi, Rain! Cewek kok dibuat mainan? Parah lo!"
Perasaan bersalah menghantui Rain. Setelah apa yang telah dia lakukan terhadap Rea sebelumnya dan kini dia mengulangi kesalahan yang hampir sama. Bahkan lebih parah.
Malam pun semakin larut. Rea akhirnya tertidur di sofa dengan memakai berlembar-lembar jaket untuk menutupi kedua kakinya.
"Cantiknya kita udah tidur. Tega banget sih yang bikin cewek cantik kayak gitu buat taruhan!" sindir Abs, matanya melirik tajam ke arah Rain.
Tak hanya Abs yang kesal pada Rain, hampir semua temannya tidak menyetujui keputusan Rain yang tidak bijaksana itu.
"Lo tega Rain, ngeliat Hunter *****-***** Rea?" tanya Fin tajam. Dia bahkan rela mengipasi Rea.
Gadis itu tertidur cukup nyenyak bak seorang putri dengan pelayan-pelayannya. Setiap kali Rea bergerak, Max dengan sigap membenarkan letak jaketnya.
"Udah sih! Gue tau gue salah! Gue berani jamin, gue akan menang dan ngga akan ngebiarin dia dalam bahaya!" tukas Rain kesal. Dia merasa terpojokkan dan sendiri karena tidak ada yang berdiri di pihaknya.
"Haruslah!" seru Abs, Max, dan Finn bersamaan.
Tak beberapa lama kemudian, ponsel markas mereka berdering. Mereka saling memandang dan mengangguk. "Lo jalan sama siapa?"
"Max," jawab Rain.
Max memberengutkan bibirnya. "Kenapa gue? Gue ngga mau! Ini urusan lo!"
Rain meninju dinding markas itu dan membuat buku jarinya terluka. "Gue sendiri dan gue butuh lo! Jagain aja tuh cewek! Jadiin dia cewek atau istri lo sekalian! Gue ngga akan marah!"
"Rasa setia kawan lo cuma sebatas cewek! Brengsek!" sambung Rain panas.
"Bro, kita solid banget dan dukung semua gebrakan lo. But, not for this! Kali ini, sorry, lo keterlaluan!" ucap Abs, mengungkapkan kekecewaannya pada pria yang saat itu diliputi emosi.
Mereka pun menjauh dari dan berdiri di sisi Rea, seolah melindungi gadis cantik yang sedang berada di alam mimpi itu.
"Fine!" Rain mengambil helm dan menyalakan motornya untuk datang ke tempat yang sudah ditentukan oleh Hunter.
Setibanya di sana, Hunter beserta kawanannya sudah menunggu. Wajah mereka tampak puas dan senyum kemenangan tersungging di bibir Hunter.
"Sendirian? Mana temen-temen lo? Takut?" ejek Hunter.
Rain mengacungkan jari tengahnya. "As you wish! Gue mau ngajuin penawaran,"
Hunter yang bernama asli Archie Warren itu melenyapkan senyum yang tadi sempat merekah di wajahnya. "Tentang taruhan kita? No, it's the deal, Speed! Apa yang udah keluar dari mulut kita, ngga bisa ditarik lagi! Inget itu?"
Rain menundukkan kepalanya, suara gemuruh petir memecah keheningan di antara mereka dan seolah menyadarkan Rain dari kebodohannya. Dia berjalan dan bersimpuh di hadapan Hunter. "I beg you, please. Lo boleh minta apa pun ke gue, asal jangan gadis itu,"
"Hahaha! Speed jatuh cinta dan melemah! Hahaha! Hmmm, gue semakin pengen ngedapetin cewek itu. Gimana, dong? Mau lo berlutut sampe sendi lutut lo lepas, gue ngga peduli dan gue ngga akan ngerubah keputusan gue! Paham?" ejek Hunter lagi dengan tertawa mencemooh.
Rain tak bergeming dan dia masih dalam posisi bersimpuh, lawannya untuk dapat mengganti taruhan yang telah mereka sepakati.
Mau tidak mau, Rain harus memenangkan pertandingan kali ini atau Rea akan berada dalam bahaya. Dia tidak akan membiarkan gadis itu tersentuh satu ujung kuku pun oleh Hunter.
Pria itu segera bersiap di atas motornya dan begitu bunyi peluit dikumandangkan Rain segera menancap gas dan melajukan motornya dengan sangat cepat.
Namun sayangnya, Rain tidak memperhitungkan obstacle atau rintangan yang telah disusun oleh geng yang beranggotakan 7 orang dan menamakan diri mereka sebagai The Monster Hunters itu.
Beberapa kali, Rain hampir terjatuh karena rintangan-rintangan itu. Belum lagi, lampu-lampu sorot yang menghalangi jalannya. Biasanya, Max yang selalu memeriksa kondisi sirkuit balapan sebelum mereka memulai adu balap.
Hatinya sakit saat mengingat Max dan teman-temannya. "Argghh! Sialan!"
Rain nyaris terjatuh lagi, tetapi dia selalu bisa menjaga keseimbangannya dan menyusul Hunter yang sudah jauh di depan. "Brengsek! Kotor banget cara main lo!"
"Gue pengen cewek lo, Speed! Hahahaha!" tukas Hunter tertawa dan melaju dengan cepat meninggalkan Rain di belakang.
Tak mau kalah, Rain menarik gas pada motor besarnya dan berusaha menyusul Hunter. Dia harus fokus dan harus memenangkan pertandingan malam ini.
Kini, kedudukan Hunter dan Rain seimbang. Mereka saling susul menyusul, jarak mereka pun tak terlalu jauh. Suara deru motor yang bising menambah ramai suasana malam itu. Pendukung Hunter terus memberikan dukungan mereka kepada sang kapten tim yang sedang berada di sirkuit kosong itu.
Karena terlalu fokus dengan kecepatan motornya, Rain tidak melihat ada sebuah papan bidang miring yang dijadikan rintangan. Rain menabrak bidang miring itu dan terjatuh. Motornya terpental jauh ke depan.
"Shitt!" Pria itu tak memiliki waktu untuk merintih kesakitan, tetapi dia punya waktu untuk mengutuk kebodohan yang telah dia buat malam ini.
Saat dia berjalan mengambil motornya, suara sorak sorai membelah harapannya untuk menang. Hunter telah sampai di garis finish dan memenangkan pertandingan malam itu.
Dengan langkah gontai, Rain duduk di atas motornya dan menyelesaikannya hingga garis finish. Hunter merangkul pundak Rain dan berbisik, "Psst, gue tunggu gadis lo! Alamatnya udah gue kirim, jangan mangkir!"
Rain mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Hunter. Alamat sebuah hotel. Tanpa memperdulikan buku jarinya yang terluka karena meninju dinding markas tadi, Rain kembali memukul sebuah kursi kayu hingga kursi kayu itu patah terbelah dua.
Nasi sudah menjadi bubur, kalian pun kembali ke markas dan selama di perjalanan dia memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Rea dari jerat Hunter. Paling tidak dia harus menyerahkan Rea dulu kepada Hunter, sisanya nanti akan dia pikirkan.
"Re, bangun! Balik, yuk," bisik Rain lembut pada Rea.
"Lo mau ngasih dia ke Hunter? Lo kalah atau menang?" tuntut Abs, dia menahan tangan Rain yang akan menggendong Rea.
"Menanglah! Gue mau balik, kasian anak orang tidur di sofa sempit begitu!" tukas Rain berbohong.
Rea pun membuka matanya. "Lo udah selesai? Mau balik? Gue masih ngantuk banget, Rain. Besok pagi aja, deh,"
"Balik sekarang, nanti gue dimarahin bokap. Yuk ah, Re!" kata Rain lagi.
Dengan memberengutkan bibirnya, Rea berjalan terseok-seok mengikuti Rain. Max meminjami Rea jaket bertudungnya.
Tanpa sepengetahuan Rea dan kawan-kawannya, Rain membawa gadis yanh tertidur di pundaknya itu ke alamat hotel yang sudah diberikan oleh Hunter.
"Re, maafin gue, yah. Tapi, gue pasti bakal nyelametin Lo sebelum lo diapa-apain sama tikus bau itu! Gue janji, Re," bisik Rain. Dia tau, Rea tidak akan menjawabnya karena masih terlelap. Rain menggenggam kedua tangan gadis itu yang melingkar di pinggangnya.
Sesampainya di hotel, Hunter sudah menunggu di depan kamar nomor 1501. Pria berwajah seram itu tersenyum puas dan bersiul. "Fuuh, gue pikir lo kabur. Taro di ranjang,"
Seolah diperdaya, Rain menuruti perintah Hunter. Dengan hati-hati, dia membaringkan Rea di ranjang hotel tersebut. "Awas lo kalo nyentuh dia! Lo ngga akan pernah bisa buang air kecil pake pe*is lo sendiri!"
Hunter mendorong Rain untuk keluar kamar. "Dah! Dah! Gue capek, gue mau tidur mumpung ada yang nemenin, hehehe!"
Setelah Rain keluar, Hunter berbaring di sisi Rea dan mengusap lembut wajah cantiknya. "Ckckck, Speedy selalu pinter kalo beginian. Tapi, malam ini lo milik gue," katanya berbicara pada Rea.
Seolah mendengar ucapan Hunter, Rea pun terbangun dan terkejut saat melihat pria asing yang berada di sampingnya. "S-, siapa lo? Mana Rain? Kita di mana?"
Gadis itu melihat ke sekeliling kamar hotel dan kemudian dia beranjak dari ranjangnya dan meringkuk ketakutan di sudut kamar. "Mana Rain? Lo siapa?"
Suaranya mulai bergetar, begitu pula dengan tubuhnya. Dia tidak tau ada di mana dan siapa yang saat ini sedang bersamanya. Pria itu terus menatap Rea dengan tatapan liar dan menakutkan. "Jangan takut, gue temen Rain. Dia yang bawa lo ke sini, katanya malam ini, gue boleh main sama lo, hahahaha!"
...----------------...