
Beberapa hari setelah kejadian di pantai, Rea sebisa mungkin tidak bertatapan mata dengan Rain. Jacob sudah memperkenalkan Rain dengan kehidupan kantor dan karena Rain memiliki jumlah saham yang sama dengan Ken, jadi mereka berdua menempati posisi yang sama. Hanya saja, Jacob membawahi Rain secara langsung. Itulah sebabnya, Rea hampir selalu bertemu setiap hari dengan Rain.
Terkadang, Rain mencibir saat dia melihat kedekatan Rea dengan Ken. Entah itu saat mereka rapat atau pun saat mereka harus keluar untuk melakukan penawaran atau kerjasama dengan perusahaan lain.
Suatu hari, Rain ke ruangan Rea saat mereka istirahat siang. Namun, Lizzy mengatakan kalau Rea masih rapat bersama dengan perusahaan tamu dari negara lain.
"Kok lama?" tanya Rain. "Abis ini jadwal dia apaan?"
Lizzy mengecek jadwal Rea melalui tabletnya. "Kosong, ada rapat lagi jam 5. Di luar rapatnya. Palingan sekalian balik,"
Rain mengetuk jari-jarinya di atas meja Lizzy. "Sama Ken?"
"Iyalah, emang mau sama siapa lagi? Mereka, 'kan satu divisi," jawab Lizzy. Seolah teringat sesuatu, gadis itu menarik tangan Rain supaya mendekat ke arahnya. "Eh, waktu itu lo nginep berdua sama Rea? Cie! Cie! Ngapain, tuh?"
"Unboxing," balas Rain sambil tersenyum lebar.
Reaksi Lizzy tidak mengecewakan Rain. Kedua mata gadis itu membulat sempurna dan rahangnya terbuka lebar. "Seriusan lo, Rain? Ah, boongan, ah! Eh, beneran?"
"Hahaha! Tebak aja sendiri, kalo cewek sama cowok keujanan berdua di kamar hotel terus tiba-tiba mutusin untuk nginep, berarti ngapain?" jawab Rain semakin menggoda gadis berambut ikal tersebut.
Lizzy melompat-lompat kecil, suara sepatu hak tingginya terdengar kencang di telinga Rain. "Kyaaa! Kyaaa! Gue mau juga ikut, ah, kapan-kapan!"
"Dih, hahaha! Lucu lo! Dah ah, nanti kalo udah kelar telepon gue, yak," kata Rain sambil memeragakan gerakan menelepon.
"Ogah! Lo pelit!" tukas Lizzy mencebik.
Rain kembali mendekati gadis itu dan berbisik, "Nanti gue ceritain detail unboxingnya gimana,"
Pemuda itu pun melangkah pergi dengan mengedipkan satu matanya ke arah Lizzy yang masih tampak shock dan terkejut.
Setelah Rea selesai rapat, Lizzy menyampaikan pesan Rain pada Rea. "Rain nyariin lo, Re. Tadi dia ke sini, tapi lo masih rapat. Mau ngajak makan siang bareng kali,"
Mendengar nama Rain disebut, jantung Rea berdetak cepat. Dia tidak ingin membiarkan perasaan hanyut kembali dan kali ini dia bersumpah untuk benar-benar menghindari Rain. "Bilang aja, gue sama Ken udah makan bareng. Ada sesuatu yang harus diurus,"
"Lo kenapa, sih? Gue liat, Rain udah berubah. Kenapa lo ngga bisa kasih kesempatan sama dia? Lagipula kata Rain, ...." Lizzy menarik tangan Rea untuk mendekat. "Lo udah begituan sama dia?"
Sontak saja wajah Rea memerah. "K-, kata siapa? Suka ngarang tuh orang! Ngga ada! Gue ngga ada gitu-gituan sama dia! Ngaco!"
"But your face tells yes, Re," jawab Lizzy sambil tersenyum geli.
Rea menggerakan tangannya ke kanan dan kiri, tetapi wajahnya masih merah padam dan semua gerak gerik Rea mengatakan hal sebaliknya. Seolah-olah ingin mengatakan kalau gadis itu memang sudah melakukan sesuatu bersama Rain. "Ngga! Ngga! Muka gue biasa aja! Ya udh, gue jalan, ya! Bilangin gitu aja ke Rain,"
"Kenapa sih, Re? Lo bisa bilang sendiri sama dia dan lagian kalo lo emang nggak ngapa-ngapain, kenapa harus menghindar dari dia? Kasian tau anak orang!" tanya Lizzy.
"Gue belum siap. Kemarin itu semua serba mendadak dan gue kayak dihipnotis! Aarrghhh! Kenapa gue jadi cerita sama lo?" tukas Rea sambil menggebrak meja dan dia membelalakkan kedua matanya ke arah Lizzy yang tertawa terbahak-bahak.
Begitulah, dan pada akhirnya Rain dikuasai rasa cemburu yang sangat hebat. Melihat kedekatan antara Ken dan Rea membuatnya semakin panas dari hari ke hari. Hal ini dia sampaikan kepada Jacob, ayahnya. "Pa, kenapa aku harus sama Papa sedangkan Ken sama Rea?"
"Kak Ken. Mereka berdua satu jurusan, wajar Papa tempatin di divisi yang sama. Kamu, 'kan, beda," jawab Jacob santai.
Jacob meletakkan tabletnya dan menatap an bungsunya yang selalu sedikit rewel itu. "Kamu mau pindah? Kuliah dulu, paling ngga kamu tau apa yang harus kamu kerjakan,"
"Ck! Kenapa kemarin Papa yang nentuin jurusan! Harusnya aku yang nentuin jurusan, bukan Papa!" protes Rain kesal, kemudian di keluar dari ruangan kerja ayahnya dan menunggu Ken serta Rea di halaman depan rumahnya.
Sudah hampir tiga bulan, Rea tinggal bersama mereka kembali. Biasanya, Ken akan mengantarkan Rea hingga depan kamar gadis itu.
Sambil bermain games online bersama Max, Rain menunggu mereka dengan sabar. Tak beberapa lama, sebuah mobil berwarna biru metalik memasuki pekarangan rumah itu, Rain segera berdiri dan begitu dia melihat Rea keluar dari mobil itu, dia berjalan cepat dan menarik Rea dengan kasar.
"Rain, lepasin!" tukas Ken dan dia menahan tangan Rea yang satunya lagi.
Rain menatap tajam ke arah kakaknya dan melepaskan tangan Rea. "Gue mau ngomong sama dia! Ngga boleh? Atau mau rapat lagi?"
"Mau ngomong apa? Lo bisa ngomong di sini, Rain," kata Rea, dia tidak berani menatap mata pria yang kini berwajah galak itu.
Akhirnya Rain mengalah dan dia meminta Ken untuk tidak ikut campur urusan mereka. Namun, sang kakak tidak bergeming dan tetap berdiri di tempatnya. "Ngomong aja. Kalo lo mau ngomong sama Rea, artinya lo ngomong sama gue juga!"
"Shiit! Fine!" balas Rain kesal. Kemudian, dia kembali mengunci manik Rea. "Kenapa lo menghindar dari gue sejak kejadian itu? Apa perasaan lo sewaktu kita, ... Lo taulah!"
Rea terdiam sesaat. Ingin sekali dia mengatakan kalau dia sangat menikmati malam di pantai mereka, tetapi kalau dia jujur, Rain akan mengikatnya dan secara tidak langsung, Rea juga akan menyakiti hati Ken. Gadis itu belum siap menghadapi kedua risiko tersebut.
Melihat gadis kesayangannya tersudutkan oleh Rain, Ken mengambil alih pembicaraan. "Bisa ngga sih, lo biarin dia istirahat dulu? Kita capek loh, Rain! Apalagi ini udah malem banget,"
"Lo aja masuk duluan, sana! Sorry Re, gue ngga bisa nunggu sampe pagi! Sejak kejadian itu dan udah dua minggu lebih, lo gantungin gue! At least, kasih tau gue apa yang lo rasain! Bukannya menghindar!" desan Rain gusar.
Alih-alih menjawab, Rea justru membuat Rain semakin geram. "Lo cemburu? Lo ngga suka kalo gue deket sama kakak lo?"
"Iya! Setelah apa yang udah kita lakukan kemarin, Re! Itu berharga banget buat gue makanya gue ngerendahin harga diri gue serendah-rendahnya cuma buat nunggu jawaban lo!" jawab Rain tanpa basa-basi.
Sedangkan Ken, dia tidak tau apa yang adiknya itu bicarakan dan dia juga tidak paham apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua. Sayangnya, Ken juga tidak ingin mencari tau apa yang telah mereka lakukan.
"Anggap aja itu kesalahan," jawab Rea singkat.
Rain yang tidak terima memukul spion mobil Ken hingga patah.
"Woi! Itu mobil gue!" tukas Ken, tetapi Rain memberikan telapak tangannya pada kakaknya sebagai tanda diam.
"Kesalahan kata lo? Kesalahan sampe sedalam itu, Re?" tuntut Rain. "Malam itu, malam paling indah yang pernah terjadi di hidup gue dan lo bilang kesalahan!"
Rea menelan salivanya kasar. Ingin sekali dia memeluk Eain, tetapi ada sesuatu yang masih membuatnya ragu akan kesungguhan pria itu. Rea pun mengangguk. "Ya, itu kesalahan. Anggap aja kita ngga pernah ngelakuin itu! Sorry, gue capek, mau istirahat,"
Selepas Rea dan Ken masuk ke dalam, Rain kembali memukul mobil milik Ken itu. "Aarrgghh! Sialan!" Pria itu mengambil motornya dan melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tinggi.
...----------------...