My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Archie Warren Dan Penelepon Misterius



Di sebuah rumah megah yang mewah, beberapa orang berkumpul di gazebo depan rumah tersebut. Beberapa dari mereka tampak menghissap vape dan membuat lingkaran asap dari rokok elektrik tersebut.


"Bro, lo jadi nantang Speed?" tanya salah satu dari pria itu kepada seorang pria lain yang bergaya parlente dengan banyak tato di sepanjang lengan kanan dan kirinya.


Pria dengan paras tidak terlalu tampan itu mengangguk sambil tertawa. "Hahaha, yes! Gue pengen liat sampe sejauh mana nyali Speed! Udah berubah banyak tapi ternyata dia belum bisa move on dari gue,"


Suaranya terdengar puas. Archie Warren atau biasa dikenal dengan Hunter, adalah seorang pria muda berusia tak lebih dari 30 tahun. Di usianya yang masih terbilang muda itu, Archie sudah dipercaya untuk memegang beberapa perusahaan milik ayah kandung dan ibu kandungnya.


Orang tua Archie sudah lama bercerai dan masing-masing mereka sudah memiliki keluarga baru. Archie memutuskan untuk ikut keduanya secara bergantian hanya untuk mendapatkan keuntungan.


Ayah kandungnya yang bernama Robbie Warren mempunyai sebuah perusahaan ternama di ibu kota sedangka ayah tiri Archie seorang duda yang memiliki satu anak gadis dan menurut ayah tirinya, seorang gadis tidak dapat memimpin dengan baik. Jadilah, Archie yang diberikan kepercayaan untuk memimpin sekaligus mengelola perusahaan ayah tirinya itu.


Masing-masing ayahnya akan senantiasa membayar jaminan hukum untuk Archie jika dia melakukan sesuatu yang berhubungan dengan dunia gelapnya. Tujuan Archie membentuk klub motor hanya untuk mencari teman dan mengalihkan rasa kesepiannya. Namun ternyata, dia semakin rakus karena banyaknya klub motor yang terbentuk di kota itu.


Satu per satu klub motor itu dijatuhkan dan dikuasai oleh Archie. Mereka yang berbakat akan direkrut oehnya untuk bergabung dalam klub motor miliknya yang bernama The Monster Hunters.


Akan tetapi ada satu klub motor yang tidak dapat dikalahkan begitu saja. Pemimpin klub itu pun seakan terus membuat Archie penasaran. Dead Vagabonds, satu-satunya klub motor yang belum bisa ditaklukkan oleh Archie. Klub itu digawangi oleh seorang pria yang hidupnya sungguh membuat Archie iri setengah mati. Rainhard Luther.


Betapa bencinya Archie pada nama itu. Pemuda itu memiliki semua yang tidak Archie miliki. Archie tau sekali bahwa jika nanti dia jatuh miskin, maka teman-temannya akan meninggalkannya. Tetapi tidak dengan Luther. Dia memiliki tim yang solid dengan suasana kekeluargaan yang sangat kental.


Setiap kali mendengar nama Luther atau biasa dipanggil dengan Speed, darah Archie seakan menggelegak mendidih. Dia dipenuhi oleh kecemburuan yang luar biasa.


"Bos, kalo Speed menang lagi, gimana , Bos?" tanya salah satu kawanannya dan membuyarkan lamunan Archie.


Archie mengepalkan kedua tangannya. "Gue ngga akan ngebiarin dia menang, Bodoh! Segala cara akan gue lakukan supaya Pria Sialan itu bilang nyerah ke gue,"


Beberapa orang yang mendengarkan jawaban Archie mengerutkan kening mereka. "Kali ini, apa taruhannya, Bos? Ceweknya Speed?"


"Semuanya! Gue ngga akan ngebiarin Speed hidup tenang, hahaha!" jawab Archie keji diiringi tawa kering yang membuat wajah seramnya semakin terlihat seram.


Archie sudah merencanakan balapan ini sejak dua tahun lalu. Sejak Rain menyerah kalah dan tidak melakukan perlawanan sama sekali saat dia menyerang markas mereka. Ditambah lagi, dia mendengar kalau Rain sedang melanjutkan studinya di luar negeri.


Rasa cemburunya semakin menjadi saat dia mendengar hal itu, dan saat Rain kembali, Archie berpikir penantiannya sudah selesai. Tetapi lagi-lagi dia harus terpaksa menelan rasa kecewanya begitu mendengar Rain bekerja, memiliki kekasih, dan bertunangan.


Maka, Archie bertekad untuk datang ke pesta pertunangan Rain dan mengacaukan hidup Rain. Hatinya bersorak gembira, karena Rain menggigit umpan darinya.


"Gue akan bikin hidup lo menderita, Rain! Lo ditinggalin keluarga lo, cewek lo, dan temen-temen yang lo bangga-banggain! Gue akan bikin lo ngerasain sendirian, Rain, sama kayak gue!" desis Archie, dia menggenggam erat tepian balkon rumahnya dengan kencang.


Keesokan harinya, Archie meminta salah satu anak buahnya untuk menyelidiki dan memata-matai apa yang dilakukan oleh Rain di markas besar Dead Vagabonds.


Seharian itu, Archie menunggu dengan tenang. Berusaha untuk tenang lebih tepatnya. Bagaimana pun juga dia tidak akan meremehkan lawannya yang satu ini.


Tepat di malam hari, anak buahnya datang dengan tergopoh-gopoh dan memberikan laporan kepadanya. "Mereka sedang bersenang-senang? Ngga ada yang megang motor atau modif motor gitu?"


"Ya, Bos," jawab anak buahnya ketakutan.


Namun Archie tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Mereka ngeremehin gue ternyata! Hahaha! Kalo gitu kita bisa santai, mereka ngga nyiapin apa pun, so jalankan sesuai rencana!"


Malam hari itu juga Archie bertandang ke markas besar Dead Vagabonds dan dengan angkuh dia menendang pagar rumah bengkel itu "Halo, Guys! Ada pesta rupanya di sini,"


Rain segera beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri berhadapan dengan Archie dengan tatapan mengintimidasi. "Kita ngga sempet bikin undangan. Toh dua kali lo dateng tanpa undangan,"


"Santai, Bos! Gue cuma mau ngeliat reaksi lo yang menggemaskan kayak gini, niy. Hehehe! Anyway, mana tunangan lo yang super cantik itu? Oho, ngga diundang juga rupanya, yah? Atau ini bachelor party?" tanya Archie dengan senyumnya yang mengejek dan menyebalkan.


"Bukan urusan lo, Bos! Kalo mau makan bareng, masuk! Oh, tapi gue lupa, lo bukan manusia pasti ngga doyan makanan kita, 'kan?" balas Rain pedas.


Senyum di wajah Archie lenyap seketika. Pria itu berbisik di telinga Rain, "Lo puas-puasin ketawa lo, besok semua yang lo punya akan hilang dalam sekejap dan lo akan mengemis ke gue supaya gue bunuh lo! Nikmatin malam terakhir lo, Bos!"


Rain sama sekali tak bergeming dengan gertakan sambal dari Archie. Dia hanya tersenyum dan membalas ucapan Archie dengan bisikan juga. "Gue rasa udah waktunya lo bangun. Mimpi lo ketinggian, Bro!"


"Huh! Kita liat aja dua hari lagi, siapa yang mimpinya ketinggian! Enjoy your night, Luther," balas Archie. Dia berbicara tanpa membuka mulutnya dan itu menandakan emosi pria itu sudah terpancing oleh kata-kata dari Rain.


Dan Rain sudah memenangkan babak pertama malam itu dengan skor 1-0. Begitu Archie dan kawan-kawannya pergi, Rain kembali ke dalam bengkel. "Ide kita sukses besar! Thanks, Max,"


"Tipe Archie akan mengerahkan segala cara untuk menang, Bro! Lo fokus aja sama tanding nanti, kita yang akan ngamanin semuanya," kata Max sambil memeluk lengan Rain yang kekar.


Tak lama setelah itu, salah satu ponsel mereka berdering. Rain mengambil ponsel miliknya dan menggeleng, begitu pula dengan Max. Dering itu berasal dari ponsel Abs, dia melihat nama yang tidak dia sangka akan meneleponnya di layar ponsel tersebut. Abs pun menjauh dari Max dan Rain. "Halo,"


("Hei, ini gue. Gue butuh bantuan lo, Abs. Lo harus nolongin gue, hukumnya wajib!") kata si penelepon.


"Bantuan apa?" tanya Abs lagi.


("Besok pagi temuin gue di kedai kopi di pusat kota. Nanti gue shareloc dan pastiin lo dateng sendiri, oke? Thank's,") kata suara dari seberang, kemudian tanpa menunggu respon Abs, dia mengakhiri panggilannya.


Beberapa detik kemudian, Abs menerima pesan dari si penelepon misterius itu. Pesan itu berisi peta kedai kopi dan permintaan supaya Abs datang sendiri.


...----------------...