My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Kita Putus!



Sejak kemunculan Archie di pesta pertunangan Rea dan Rain, hampir setiap malam Rain menemui teman-temannya di markas besar Dead Vagabonds. Tujuan pemuda itu hanya satu, mengawasi gerak-gerik Archie alias Hunter.


Berdasarkan pengamatan dari anggota klub motornya, Archie tidak melakukan gerakan yang mencurigakan. Bahkan dia sering berada di rumah dan malam hari akan berada di klub malam. Ada dua klub malam yang biasa dia datangi dan kedua klub tersebut berada di pusat kota.


Namun walau seperti itu, Rain tetap saja menaruh curiga kalau Archie akan melakukan sesuatu yang jahat kepada Rea. Karena terlalu sibuk mengawasi Archie aka Hunter, Rain perlahan mengurangi waktunya bersama Rea dan sedikit berbohong pada gadis itu.


"Lo dari kemarin ngapain sih, Rain? Gue jadi curiga," kata Rea suatu malam saat dia mengajak tunangannya itu untuk makan malam bersama dan Rain menolaknya.


Rain mengecup bibir Rea lembut. "Lo percaya sama gue, 'kan? Gue ngga ngapa-ngapain,"


Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Rea tentang tamu yang tak diundang yang datang ke pesta pertunangan mereka. Saat pria itu datang, Rea langsung mengenalinya. Bagaimana tidak? Pria itu yang nyaris mengambil kehormatannya sebagai seorang wanita. "Hunter! Lo nyari dia! Yes, you did! Am I right, Babe?"


"Yes! Gue nyari dia bukan untuk cari ribut, Re! Gue cuma pengen mastiin ke dia supaya ngga nyentuh lo!" jawab Rain.


"Rain, stop untuk berbuat bodoh! Dia sengaja mancing lo yang bodoh ini untuk ribut dan lo terpancing, dia sukses besar! Don't be stupid, please," pinta Rea dengan suara lelah. "Lo sadar ngga, sih? Dengan lo berbuat gini, lo malah nempatin kita berada di dalam bahaya itu sendiri!"


"Anggap aja dia udah mati, Rain! Ayo, kita maju ke depan dan ngga usah nengok ke belakang lagi. Lo udah ninggalin dia, so, ya udah! Tinggalin dia dan jangan lo cari-cari lagi," kata Rea memohon.


Gadis itu tidak pernah melarang Rain untuk tetap bergabung atau bertemu dengan teman-teman klub motornya. Akan tetapi, kalau untuk mencari Hunter, Rea akan berada di garis terdepan untuk melarangnya.


Kata-kata Rea terasa seperti air dingin seember yang disiramkan ke wajah Rain saat itu dan seketika membuat pria muda itu membuka matanya dan melihat apa yang di depannya kini. Dia memeluk kekasihnya erat-erat.


"Gue cuma takut dia dateng lagi, Re," kata Rain. Suaranya terdengar ketakutan seperti seorang anak kecil yang takut melihat badut di pesta ulang tahun.


"Ngga usah takut, lo cuma harus tinggalin dia di belakang dan fokus sama gue yang sekarang ada di depan lo," sambil berbicara Rea memegang wajah Rain dan mengambil alih bibir kekasihnya itu. Dia memagutnya perlahan dan membuat suasana di ruangan kerja Rea menjadi panas seketika.


Dengan sigap, Rain mengangkat Rea ke dalam pelukannya dan gadis itu melingkarkan kedua tungkainya di panggul Rain. Tak lama, Rain sudah membuang semua barang yang ada di atas meja. Suara gemuruh barang yang terjatuh membuat beberapa karyawan menjulurkan kepala mereka ke arah ruangan kerja tersebut. Sontak saja mereka yang melihat adegan panas yang dipertontonkan oleh dua petinggi mereka di kantor segera berbalik dan meninggalkan kantor saat itu juga.


Sementara itu, Rain melanjutkan aksi panasnya di atas tubuh Rea. Dia membuka kancing kemeja kekasihnya dan mulai melarikan bibirnya ke sepanjang leher dan tulang dada Rea.


Dessahan demi dessahan keluar dari bibir mungil itu dan Rain memberikan jari telunjuknya kepada gadis cantik itu. Serangan Rain tidak sampai situ, bibirnya kembali beraksi seaktif tangannya yang dengan cepat menemukan sesuatu yang membuatnya sulit untuk berpaling.


Permainan tangan dan bibir Rain membuat Rea tidak berkutik. Sebagai gantinya, Rea menggigit dan menghissap kuat jari telunjuk Rain yang tadi diberikan kepadanya.


Pemuda bertubuh kekar itu semakin menjelajah ke bawah, cepat-cepat Rea mengangkat wajah Rain. "Jangan, Rain!"


Rain mengecup kening Rea dengan lembut dan tersenyum manis kepadanya, "Emang ngga!"


Satu per satu kancing kemeja Rea sidah terpasang kembali dan Rain melakukannya dengan sangat manis sampai-sampai Rea tidak ingin mengakhiri permainan mereka itu.


"Udah yuk!" kata Rain menyeringai lebar.


Wajah Rea memerah. Monster di dalam dirinya ingin sekali merobak kemeja dan menarik Rain untuk melahap habis dirinya. Namun, logikanya bekerja dengan baik. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menarik napas panjang. "Ayo!"


"Lo kenapa?" tanya Rain.


Lagi-lagi Rea menggelengkan kepalanya. "I'm fine,"


Beberapa hari kemudian, Rain mendapatkan laporan dari Max. "Hunter ke The Monster Hunters siang ini. Gue lagi ada di deket markasnya,"


Namun sialnya, Rea ternyata sudah berada diparkiran mobil dengan memakai sweater rajut bertudung berwarna pink lembut dan sandal tidur dengan warna senada. "Mau ke mana? Gue ikut!"


"No! Gue ngga ke mana-mana!" jawab Rain menyembunyikan kunci motornya. Malang baginya, Rea sudah memasang gantungan kunci bergambar motor dengan bel yang bergemerincing saat kunci itu bergerak.


Tangan gadis itu terulur di depan wajah kekasihnya. "Kasih gue kunci motornya,"


"Re, please! Sekali ini aja, Re! Gue cuma pengen tau Hunter ke mana," pinta Rain memohonkan.


Tiba-tiba saja dada Rea terasa sesak seolah-olah ada sesuatu yang berat menghimpitnya. "Lo pilih dia atau gue? Ngga layak banget sebenarnya gue ngasih lo pilihan kayak gini, tapi gue ngga bisa kehilangan lo, Rain. Tapi, kalo lo lebih milih sama mereka, lo harus ngelepasin gue,"


Rain memejamkan matanya sesaat dan dia memberikan kunci motornya pada Rea. Gadis itu menerimanya dengan senang hati dan dia menggandeng lengan Rain mengajaknya masuk ke dalam.


Seperti seekor anak kucing yang lucu, Rea mengekori kekasihnya sampai di depan kamar. "Mau ngapain ngikutin gue? Tidur sana!"


"Oke! Kunci motor lo, gue bawa!" kata Rea kemudian berlari kecil ke kamarnya.


"Terserah!" balas Rain.


Rea berbalik dan menatap Rain. "Lo marah? Gue cuma ngga mau lo mati, tau! Tahun kemarin, lo udah nyaris mati dan sekarang, gue yang akan jaga lo biar lo ngga kenapa-kenapa kayak kemarin lagi! Ngerti di sayang ngga, sih?"


Dengan membanting pintu, Rea masuk ke dalam kamarnya. Begitu pula dengan Rain. Beberapa waktu kemudian, Max kembali mengabarinya tentang pergerakan Hunter. "Rain, dia arena balap. Sumpah, rame banget!"


"Yakin lo, Max?" tanya Rain yang sudah dalam posisi duduk.


Begitu mendengar jawaban Max, Rain melihat ke arah jam. Apakah Rea sudah tertidur? Itu yang ada di pikirannya. Dia harus menghalangi Hunter apa pun yang terjadi. Dia akan memastikan Hunter menyerah dengan tangannya sendiri.


Rain membuka pintu kamarnya perlahan dan berjalan dengan berjingkat-jingkat ke kamar Rea. Pemuda itu menempelkan telinganya ke pintu kamar kekasihnya. Setelah memastikan Rea sudah tidur, Rain membuka pintu kamar itu.


Sepelan mungkin, dia mencari di mana Rea menyimpan kunci motornya dan dia terkesiap saat melihat kunci motornya berada di genggaman tangan Rea.


"Haish! Gimana cara ngambilnya?" tanya Rain berbisik kepada dirinya sendiri.


Pria berwajah tampan itu merendahkan tubuhnya dan merangkak mendekati ranjang Rea. Sambil memejamkan matanya, dia menarik kunci motornya pelan-pelan tanpa menimbulkan bunyi gemerincing.


Rea menggenggamnya. "Lo masih mau pergi, Rain? Kalo lo tetep pergi, dengan amat sangat berat hati gue harus bilang, kita putus!"


"Re, lo ngga paham dan tolong jangan sangkut pautin ke hubungan kita. Gue sayang banget sama lo, Rea. Please, ngertiin gue," kata Rain.


Kedua mata Rea kini sudah terbuka sepenuhnya. "Gue juga sayang sama lo, Rain. Tapi, gue ngga mau ngeliat lo luka atau kesakitan lagi dan kalo lo tetep ambil kunci ini terus pergi, gue terpaksa ngelepasin lo. Kalo lo sakit, gue juga akan terasa sakit, Rain. Kalo lo memohon, gue juga akan memohon. Please, jangan pergi,"


Ponsel Rain bergetar. Rea dapat melihat nama Max di layar ponsel lipat kekasihnya itu. Gadis itu memejamkan matanya dan menelan salivanya kasar. "Anggap aja gue tidur dan pilihannya ada di tangan lo,"


Rain bimbang, tetapi kemudian dia mengambil kunci dari tangan Rea. "Sorry but I have to do this, Re. Besok gue akan jelasin semua,"


"Pergi, Rain!" tukas Rea menahan tangisnya.


...----------------...