My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Lagi-Lagi Rencana Rain



"Turun!" ucap Rain sambil membuka pintu mobil sebelah kiri, tempat Rea duduk.


"Lo bawa gue ke mana? Tempat apaan niy? Sepi begini!" tanya Rea. Gadis itu ragu untuk melangkah.


Rain menghentikan kendaraannya di sebuah rumah kecil yang berada di atas pegunungan yang dikelilingi oleh kebuh bunga cantik berwarna-warni di sekitarnya. Tempat itu sepi dan tenang sekali.


Seorang pelayan wanita datang begitu Rain mendengar suara pintu mobil tertutup. "Tuan,"


"Jangan bilang Papa, saya ke sini ya, Bi," pinta Rain memohon.


Bibi itu mengangguk, kemudian dia ternganga saat melihat wajah Rea. "Oh, maaf Tuan. Saya pikir Nyonya Vivian. Non pasti putri Nyonya Vivian. Ya ampun, mirip sekali dengan ibunya. Cantik. Maaf, Nona,"


Rea mengembangkan senyumnya. "Ngga apa-apa, Bi. Saya memang anaknya Nyonya Johnson, jadi pasti mirip,"


Mendengar hal itu, si Bibi pun tergopoh-gopoh masuk ke dalam dan menceritakan apa yang dia lihat kepada temannya, yang bertugas menjadi pelayan juga di rumah itu. Sontak saja, pelayan lainnya menjulurkan kepala untuk melihat Rea dari dekat.


"Cantiknya, ya. Itu putri Nyonya Vivian? Andaikan Nyonya Vivian masih hidup, mereka bisa dikira kakak adik ya, Bi?" tanya pelayan itu kepada si Bibi dalam bisikan.


Bibi itu mengangguk. "Ya, 'kan? Mereka mirip sekali,"


Rain mempersilahkan Rea untuk duduk. Gadis itu pun menurut sambil mengingat-ingat, apakah dia pernah ke tempat ini sebelumnya? Karena rasa-rasanya tempat ini bukan tempat asing baginya.


"Eh, kita di mana? Kenapa pada kenal nyokap gue, deh?" tanya Rea pada Rain yang kembali dari dapur sambil membawa dua gelas mug berisi cokelat hangat dan makanan kecil.


"Ini kayak tempat liburan nyokap bokap kita gitu loh, Re. Gue selalu ke sini sendirian, hehehe. Bokap ngga pernah tau kalo gue ke sini. Udah gitu kata Bibi, semenjak nyokap gue ngga ada, bokap ngga pernah ke sini lagi. Jadi, ya udah gue aja yang ke sini. Tempatnya adem, sepi, tenang, pas buat healing," jawab Rain. Dia menyesap cokelat hangatnya dan meniup perlahan kedua tangan yang menggenggam mug besar tersebut.


Rea terdiam dan tampak sekali dia menikmati pemandangan serta suasana nyaman saat berada di sana. Pikirannya tenang dan gadis itu terlihat damai saat menatap bunga-bungaan yang terhampar di hadapannya.


"Pantes mereka kenal nyokap. Takut aja gue kalo ternyata lo punya komplotan penculik, hahaha!" ucap Rea sambil tertawa.


"Gue? Nyulik lo? Ngga banget!" bantah Rain menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Lo udah sering nyulik gue kali, Rain. Akui aja kalo gue cantik dan lo masih terobsesi sama gue. Ya, 'kan?" tanya Rea menggoda. Dia menyibakan rambut panjangnya dengan penuh gaya.


Rain mendengus. "Apa kabar sama lo yang bela-belain ikut balap motor demi banget biar gue ngeliat lo? Hahaha! Lo lebih parah,"


Perang adu mulut pun dengan cepat terjadi. Mereka saling mengumpat dan saling menjatuhkan satu sama lain. Tidak ada yang melarang mereka untuk berhenti sampai pada akhirnya, mereka berhenti dengan sendirinya.


"Capek ribut sama lo, ngga ada kelarnya. Gue ngga bisa bayangin kalo kita nikah gimana?" tanya Rea lagi, dia menatap manik biru Rain yang gemerlapan bagai air laut yang tertimpa sinar mentari.


Rea melengos dan berdecih. "Cih! Ngga ada yang memperhitungkan lo! Kita udah gagal nikah berapa kali coba? Itu tandanya kita ngga jodoh, Rain. Gue sama lo tuh kayak magnet dengan kutub sama, saling tolak,"


"Menurut gue ngga, sih. Lo sama gue malah kayak cocok banget, Re. Ribut itu menandakan adanya chemistry, toh kita ribut bukan ribut yang toxic. Gue rasa kalo kita nikah, kita akan jadi The Couple Of The Year," kata Rain tersenyum.


Suara dengkur terdengar dari sebelah Rain. Rea pura-pura tidur dan mendengkur sangat kencang. Karena kesal dan merasa diabaikan, Rain melemparkan bantal ke wajah gadis itu. Sontak saja Rea tertawa dan balas melemparkan bantal lain ke wajah Rain.


Perang bantal pun di mulai. Tanpa mereka sadari, dua pelayan yang sedari tadi mendengar pembicaraan serta pertengkaran kecil mereka saling memandang dan mengulum senyum mereka.


"Kalo udah dijodohin dari bayi emang akrab gitu ya, Bi? Gemes liatnya. Kadang ribut, kadang baikan, nanti ribut lagi, gitu aja terus," kata pelayan wanita muda sambil tersenyum dan sesekali memandang iri kepada Rea dan Rain.


Si Bibi yang yang kedua tangannya sibuk menyiapkan makan siang untuk majikan mudanya itu tersenyum. "Ngga ada hubungannya dijodohin atau ngga. Kalo mereka berdua ngga nyambung, ya ngga akan bisa. Ya, 'kan? Udah niy, bantu Bibi taro ini di meja makan. Terserah mereka mau makan jam berapa. Abis itu kita jangan nguping terus, dosa!"


Wajah pelayan muda itu bersemu dan dia pun cepat-cepat mengambil nampan berisi makanan dan menatanya di meja makan dengan rapi. Setelah menyiapkan segalanya, dia berjalan ke depan menghampiri Rea dan Rain yang sekarang sedang sibuk berdebat mengenai arti bunga matahari. "Permisi, Tuan dan Nona. Maaf menganggu, makan siangnya sudah siap. Kalau seumpama ada yang mau dihangatkan panggil saya atau bibi di belakang,"


Mereka berdua dengan kompak menoleh ke pelayan wanita muda itu. "Wah, makasih, yah. Tadinya kita ngga ada rencana makan. Tapi nanti kita pasti makan. Makasih sekali lagi,"


Rain dan juga Rea yang sudah lelah perang bantal akhirnya berdiam diri sambil menarik napas dalam dan mengembuskannya secara kasar untuk meredakan rasa lelah akibat perang bantal yang terjadi di antara mereka.


Sesekali Rain melihat ke arah Rea yang masih berusaha untuk mengatur nafasnya dan seketika dia tertawa dengan begitu kencangnya sehingga membuat Rea menatap tajam ke arah Rain.


"Apa? Lo ngeledek? Mau ribut lagi? Mau gue udah makan atau belum, tenaga gue selalu siap untuk ngelawan lo!" kata Rea yang memang tidak pernah ingin kalah dari Rain, karena menurutnya kalah dari lelaki yang satu itu sama saja dengan membuatnya menjadi seseorang yang benar-benar menyedihkan.


"Dih! Ngapain gue ngajak lo ribut lagi? Kepedean lo, Re! Gue tuh ngajak lo ke sini biar lo tenang, healinglah! Daripada di kamar seharian, ya, 'kan? Udah baik banget gue, tuh!" kata Rain menolak apa yang dikatakan oleh Rea.


Rea tentu saja tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Rain karena menurutnya lelaki yang satu itu adalah seseorang yang paling tidak bisa dipercaya di dalam hidupnya. Rain selalu berusaha untuk mencari gara-gara dengan dirinya sehingga pada akhirnya mereka terlibat dalam pertengkaran yang begitu hebat dan bahkan bisa sampai adu fisik.


"Kenapa mata lo? Masih ngga percaya sama gue? Ayolah, kita udah mau makan, jangan ribut mulu!" bujuk Rain dan dia benar-benar berharap agar Rea peraya dengan apa yang dikatakan olehnya.


"Gue? Percaya sama lo? Sampe bunga matahari berubah bentuk jadi love, juga ngga akan pernah itu terjadi! Gue udah cukup trauma untuk percaya sama lo, Rain. Lo kayak ngerusak kepercayaan yang udah gue kasih buat lo," jawab Rea bersungguh-sungguh.


Rain terdiam. Tiba-tiba saja tercetus sebuah ide di kepalanya. Seketika itu, wajahnya menjadi ceria. "Gue ngga pernah bohong sama lo soal perasaan yang gue kasih ke lo dan kali ini, gue akan buat lo ngga akan ngelupain apa yang gue lakuin di sini hari ini,"


Rea menaikkan alisnya tanda dia benar-benar tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh lelaki yang ada di hadapannya itu. Dia tahu Rain memang berusaha untuk membuatnya percaya dengan apa yang dikatakannya barusan, tetapi tetap saja hal tersebut tidak bisa membuatnya mempercayai lelaki yang ada di hadapannya itu.


Tiba-tiba saja, Rain melompat dari tempat dia duduk dan berlari menuju mobilnya. "Tunggu di sini, gue punya sesuatu buat lo! Gue rasa, lo akan cinta mati sama gue setelah lo tau apa yang akan gue kasih buat lo!" kata laki-laki muda itu sambil menyeringai lebar.


...----------------...