My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Rencana Konyol



Derai tawa Rea terdengar renyah tak berkesudahan kala Rain memberikan seutas pita kabel (cabble ties) berwarna putihdan dengan bangganya dia lingkarkan di jari manis sebelah kanan Rea.


"Hahahaha! Astaga, lo pikir gue busi!" tukas Rea sembari mengusap air mata tawanya.


Rain tersenyum puas dan mengecup jari manis Rea yang telah dilingkari pita kabel putih itu. "Kalo kali ini lo buang lagi, gue ngga akan rugi, Re. Tapi, gue berharap lo ngga buang even itu cuma seutas kabel dan kalo kita udah nikah, gue akan ganti pake yang benerannya. Lo mau, 'kan, nikah sama gue?"


Saat Rain memutuskan untuk mengambil kunci motor dari tangan Rea di malam hari itu, keesokan paginya, Rea membuang begitu saja cincin tunangan mereka ke dalam kloset. Saat itu dia berpikiran untuk tidak akan lagi berhubungan dengan makhluk yang bernama Rainhard Luther.


Rea menatap manik biru yang sedang menatap lurus kepadanya. "Gue ngga tau mau nikah atau ngga sama lo, Rain. Kayak yang udah gue bilang tadi, begitu gue kasih kepercayaan gue ke lo, lo tuh bisa langsung kayak ngebuang gitu aja tanpa perasaan,"


"Begitu?" tanya Rain. "To be honest, gue ngga pernah ngebuang perasaan atau kepercayaan yang udah lo kasih. Terakhir itu, gue cuma mau memastikan Hunter ngga deketin lo lagi dan itu harus gue pastiin dengan mata gue sendiri,"


"Apa pun alasan lo, Rain. Gue jadi kayak trauma gitu mau mengiyakan komitmen lo," kata Rea lagi.


Rain melompat turun dari kursi tamu dan mengajak gadis itu untuk makan. "Ngga usah dipikirin. Makan dulu, yuk! Gue laper,"


Sementara itu, Ken masih bersama Lizzy. Gadis itu masih mengira-ngira ke mana Rea dan Rain pergi. Apalagi Rea meninggalkan ponselnya di kamar.


"Ada dua kemungkinan, pertama dia di culik! Yang ke dua, dia bodoh!" tukas Lizzy dengan ekspresi wajah serius.


Ken mendengus tertawa. "Hahaha! Teori darimana bisa begitu? Di rumah cuma ada mereka berdua sama pelayan, adek gue gitu yang nyulik?"


Lizzy mengangguk mantap. "Bisa jadi! Rain biasa main asal tarik, angkat, gendong, seret. Gitu, 'kan?"


Ken mengingat-ingat dan mengangguk. Apa yang dikatakan Lizzy ada benarnya. Bisa saja mereka berdua malah sudah menikah tanpa sepengetahuan mereka. Atau bahkan mereka terjebak hujan di bawah atap rumah kosong dan bla bla bla! Pikiran Ken sudah tidak dapat dikontrol lagi hingga pada akhirnya, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Pria berusia 25-an tahun itu memang belum merestui hubungan yang terjalin antara adiknya serta gadis yang dia cintai itu. Apalagi kalau mereka sampai menikah, entah apa yang akan dia lakukan andai ayahnya benar-benar menikahkan mereka.


"Move on, Kak. Biarin mereka bahagia. Toh lo juga udah ngeliat sendiri kisah perjuangan cinta mereka," ucap Lizzy santai.


Ken menggelengkan kepalanya. "Belum. Masih ada rasa yang ganjel di gue kalo mereka nikah,"


Sayangnya harapan Ken untuk membatalkan rencana pernikahan Rain dan Rea yang akan digelar oleh Jacob, menemui jalan buntu. Pasalnya, Jacob sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan vendor-vendor pernikahan terbaik di seluruh negeri itu untuk membantunya dalam menyiapkan pernikahan putra bungsunya itu.


Sepanjang hari itu, ponsel asisten pribadi Jacob terus berdering dan menerima semua proposal melalui email atau pun ponsel tentang penawaran harga yang vendor-vendor itu tawarkan kepada Jacob.


"Ini akan menjadi berita besar," kata Andrew. "Pengumuman pernikahan tanpa ada mempelainya,"


Jacob tersenyum lebar. "Aku sudah tidak tau lagi bagaimana cara menghadapi anakku yang satu itu, Andrew. Hanya ini satu-satunya cara untuk menariknya pulang,"


"Tapi, 'kan, belum tentu Tuan Rain pergi jauh dan lama," kata Andrew lagi. "Apa pengumuman melalui konferensi pers, tidak terlalu terburu-buru?"


"Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" tanya Jacob lagi.


Andrew terdiam. Memang hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Rain jera dan tidak selalu mengajak kabur anak gadis orang. "Menjaga seorang anak memang sulit, Tuan, hehehe,"


Tak lama, Jacob sudah memutuskan vendor mana saja yang akan dia pakai. Dia pun menjelaskan kepada para vendor terpilih, bahwa gaun, ketring, bunga, kue pengantin, serta dekorasi, dan make up serta hair-do, hanya akan memakai nama mereka saja. Untuk dekorasi, mungkin akan dipakai pada saat konferensi pers sore nanti.


Setelah semuanya jelas dan setuju, Jacob pun bersiap-siap untuk konferensi pers. "Siapkan pers pukul 5 sore ini. Undang semua wartawan dan berikan sajian kepada mereka selayaknya sebuah undangan,"


Menjelang sore, gedung AJ Entertainment, yang merupakan anak perusahaan dari AJ Company sudah dipenuhi oleh beberapa wartawan yang datang. Prasmanan pun mulai dipersiapkan, begitu pula dekorasi pesta.


Jacob memang tidak main-main saat ini. Dia pun meminta Ken untuk segera pulang. "Temani Papa konferensi pers sore ini, Ken,"


("Konferensi pers? Tentang apa? Di mana? Aku sedang bersama Lizzy, mengurus pekerjaan,") tanya Ken kepada ayahnya. Keningnya berkerut-kerut dan memikirkan apa yang membuat ayahnya melakukan konferensi pers mendadak seperti ini?


"Pergilah ke gedung entertainment, ajak Lizzy bersamamu. Papa tunggu!" titah Jacob dan dia segera menutup teleponnya.


Lizzy menatap Ken yang tampak gusar setelah ayahnya mengakhiri panggilan telepon dengannya. "Kenapa, Kak?"


"Temenin gue, yuk, ke gedung entertainment," ajak Ken sambil beranjak berdiri dsri kursinya.


Lizzy mengangguk patuh dan mengikuti Ken dari belakang. Tak lama, mereka pun sudah sampai di gedung AJ Entertainment, tempat berlangsungnya konferensi pers. Betapa terkejutnya Lizzy dan Ken karena di sana tertulis Happy Wedding dengan diikuti inisial nama Rea dan Rain.


"Apa-apaan, niy, Kak?" tanya Lizzy.


Ken mengangkat kedua bahunya. Dia mencari ayahnya sambil menyapa para wartawan yang segera datang mengerumuninya.


"Tuan Luther, apakah akhirnya Anda akan dilangkahi oleh adik Anda?"


"Tuan Luther, apa kira-kira pesan untuk Tuan Rainhard Luther setelah menikah nanti?"


"Tuan Luther, bisa jelaskan tema yang diusung dalam pernikahan adik Anda ini, Tuan?"


Ken hanya mengangkat tangannya sambil tersenyum. Kemudian, beberapa pengawal datang dan membantu Ken serta Lizzy keluar dari kerumunan para wartawan tersebut.


Di lain tempat, Rain sedang menikmati permainan piano Rea. Tak disangka, ternyata gadis itu pandai memainkan piano.


Pria itu memberikan tepuk tangan meriah saat Rea mengakhiri permainannya. "Bravo! Gue pikir lo ngga punya sisi feminim. Tenryata, lo bisa juga kelihatan cewek, Re, hahaha!"


"Sialan, lo!" tukas Rea. Dia baru saja memainkan Minuet in G Mayor karya Johan Sebastian Bach dengan sempurna dan itu sudah cukup membuat Rain terpesona kepadanya.


Menjelang sore, Rea mengajak Rain untuk kembali. Namun, baru saja mereka akan pergi, Bibi berlari dan berbisik kepada Rain.


"Tuan! Tuan! Saya dapat kabar," kata Bibi, dia oun berjinjit dan berbisik di telinga Rain.


Wajah Rain tampak terkejut. "Heh! Aku nikah sore ini? Dapat kabar darimana?"


Bibi pun menyalakan televisi yang berada di ruang keluarga villa itu dan benar saja, di layar televisi tersebut Jacob serta Ken sedang melakukan konferensi pers dan seolah mereka baru saja melakukan perayaan pesta sesuatu.


"Wah, kacau!" tukas Rain.


Rea menghampiri mereka berdua dan ikut melihat apa yang terjadi di televisi. "Heh? Kita nikah?"


...----------------...