
Selama beberapa hari, Rain terus mengejar-ngejar Rea dan meminta gadis itu untuk mau berbicara dengannya. Rain seperti seorang stalker yang terus menunggu Rea dan mengirimi Rea pesan serta meneleponnya setiap beberapa jam sekali.
Sementara Rea sama sekali tidak mengindahkannya. Dia berkata kepada Lizzy secara jelas dan lantang pada suatu hari di dalam kelas yang diikuti juga oleh Rain kala itu. "Gue lagi sibuk sama skripsi gue, Zy! Belum lagi gue harus nyiapin sidang dan dateng ke kantor untuk belajar ini itu. Sumpah, capek banget! Anehnya, ada cowok yang ngga ngertiin itu!"
Lizzy tersenyum kecil sambil melirik ke arah Rain yang sedang mencebik di atas mereka. Sahabat Rea itu tau persis mengapa Rea menghindari Rain. Bukan benci, tetapi kesal. Kekesalan Rea sudah mencapai puncaknya dan dia menyayangkan sikap Rain yang terus mendesak Rea untuk berbicara.
Pada akhirnya, Lizzy yang merasa kasihan pada Rea meminta waktu Rain untuk berbicara dengannya. Dengan mengendarai motor, Rain mengajak Lizzy ke tempat yang biasa dia kunjungi bersama teman-teman motornya.
"Ayo!" ajak Rain setelah mereka turun dari motor.
Namun, Lizzy tidak merespon panggilannya. Dia berpegangan pada kursi motor sambil memegangi dadanya. Wajahnya tampak kusut dan pucat, seolah-olah habis diterpa badai yang sangat kencang.
"Sebentar! Gue jetlag," kata Lizzy.
Sontak saja Rain tertawa terbahak-bahak. "Mana ada motoran kena jetlag, woi! Ada-ada aja, lo! Hahaha!"
"Sumpah, beneran, gue jetlag!" ucap Lizzy lagi meyakinkan.
Rain mengulurkan tangannya. "Ngga perlu gue gendong, 'kan?"
Lizzy mencebik kesal. Sekarang dia paham bagaimana rasanya menjadi Rea. "Ish! Ngga usah lebay!"
Dengan sabar, Rain menggandeng tangan Lizzy dan menuntutnya untuk masuk ke dalam restoran kecil itu. Di sana banyak yang menyapa dan tersenyum kepada Rain.
Lizzy merasakan suasana hangat menyambut mereka saat mereka melangkah masuk. Para pelayan pun sangat ramah pada pria berjaket kulit dan rambut berkuncir satu itu, seolah-olah menyambut seorang sahabat lama. Apa Rea tau tentang tempat ini? Kini Lizzy dapat melihat Rain dari sisi yang sangat berkebalikan dengan Rain yang berada di kampus.
"Kenapa lo ngeliatin gue gitu? Ganteng, yah? Hahaha!" goda Rain dengan bergaya.
"Dih!" tukas Lizzy sambil memalingkan wajahnya. "Tapi, lo beda banget sama di kampus, Rain,"
Rain membusungkan dadanya dengan bangga. "Emang idol Kpop doang yang punya duality? I have too, Lizzy!" Pria yang sedari tadi berdiri itu, mengambil kursi dan duduk di hadapan Lizzy. "So?"
"Apa yang lo harapkan dari Rea? Lo tau dia lagi sibuk, 'kan?" tanya Lizzy dengan wajah serius. Kali ini dia tidak ingin bercanda atau bergurau. Apa pun yang menyangkut Rea, dia sebagai sahabatnya akan selalu menyikapinya dengan serius.
Rain terdiam sesaat karena pelayanan restoran itu datang dan mengantarkan pesanan mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, Rain mempersilahkan Lizzy untuk makan lebih dulu.
Kemudian, dia mencoba menjawab pertanyaan dari sahabat gadis yang dia cintai itu. "Gua cuma pengen ngejelasin tentang foto-foto itu, Zy. Lo udah liat, 'kan?"
Lizzy mengangguk dan Rain pun kembali menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Tentang Stella yang datang ke markasnya dan merepotkan Abs yang saat itu sedang berjaga di markas.
"Dia nangis, Zy! Tuh cewek maksa gue untuk nganterin dia balik! Karena gue juga ngga mau ganggu Abs, ya udah akhirnya gue anterin balik. Udah sampe rumahnya ,niy, dia nangis lagi, dong. Tetangganya jadi pada ngeliatin ke gue semua, mau ngga mau gue masuk ke dalam. Nah, gue rasa, dia ngasih sesuatu ke minuman gue. Karena abis itu gue ngantuk parah dan ngga inget apa-apa lagi," kata Rain mengakhiri ceritanya.
Saat itu memang Rea cukup terkejut melihat foto-foto yang dikirim oleh Stella kepadanya. Gadis itu merasa marah, kesal, kecewa, dan semua pikiran buruk tentang Rain dan Stella berkecamuk di benaknya. Apa yang mereka lakukan malam itu? Mengapa Rain bisa berpindah ke lain hati dengan cepat, sedangkan Rea masih berkutat dalam usahanya untuk melupakan Rain? Kecewa yang mendalam membuat gadis itu merasa sangat lelah dan memilih untuk menjauh dari Rain, pria yang membuat hidupnya seperti naik rollercoaster.
"Maka itu, gue pengen ngomong sama dia, Zy. Lo bisa bantuin gue?" tanya Rain lagi dengan memohon.
Kening Lizzy berkerut-kerut. Dia tidak yakin Rea akan luluh hanya karena cerita Rain dan Stella. Gadis itu lebih memilih untuk percaya pada gambar daripada sebuah diskripsi.
"Kayaknya ngga akan segampang itu, Rain. Gue temenan sama Rea udah lumayan lama. Satu hal yang harus lo tau tentang Rea, dia batu," ucap Lizzy.
Ucapan Lizzy tentang Rea itu tidak membuat Rain mundur. Dia justru semakin penasaran dengan gadis yang dianggap batu oleh sahabatnya itu. "Paling ngga, lo coba jelasin apa yang udah gue jelasin ke lo, Zy. Gue makasih banget kalo lo mau bantuin gue,"
Setelah selesai bertemu dengan Rain, Lizzy menjalankan misinya untuk membantu pria itu. Dia menemui Rea dan berbicara kepadanya. Dia menceritakan segalanya tanpa ada yang dia kurangi atau lebihkan.
"Makanya lo ketemu sama dia," pinta Lizzy malam itu.
"Besoklah," jawab Rea malas.
Di malam yang sama, Rea juga meminta Ferguson untuk maju ke sidang pertama yang akan dilangsungkan besok. Dia tau, Jacob juga tidak akan datang dan hanya akan mengirim Andrew untuk datang.
Keesokan harinya, Rea tidak ada kuliah dan dia menyetujui ajakan Rain untuk makan siang bersama siang itu. Rain pun datang untuk menjemput Rea di apartemen Lizzy yang sudah disewanya selama setahun.
"Hai," sapa Rain pada Rea.
Tanpa bicara, Rea segera masuk ke dalam mobil Rain. Sepanjang jalan juga Rea diam. Dia hanya menberikan respon singkat untuk semua pertanyaan dan pernyataan Rain.
Tak mau membuang waktu dan karena tak tahan dengan suasana canggung yang menyelimuti mereka, begitu tiba di restoran, Rain segera meminta ruangan pribadi kepada sang pelayan dan dia juga memerintahkan untuk tidak menawarkan menu kepada mereka, selain minuman.
"Oke, to the point aja, gue mau minta maaf kalo lo salah paham tentang gue dan Stella! Sumpah, gue ngga kayak yang ada di foto itu!" tukas Rain sedikit mengintimidasi. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memberikan penjelasan kepada Rea satu kata pun.
"Lizzy udah cerita semuanya ke gue," jawab Rea tenang. Pembawaannya yang tenang dan santai membuat jarak di antara mereka terlihat semakin lebar.
"Jadi?" tanya Rain berharap.
Rea mengangkat kedua bahunya. "Terserah,"
Mendengar hal itu, Rain terhenyak. Sekali lagi dia tidak menyesal tidak melanjutkan kuliahnya. Sekolah ataupun kuliah, tidak pernah diajarkan tentang makna kata 'terserah' yang keluar dari mulut seorang wanita.
...----------------...