
Beberapa bulan kemudian, banyak hal terjadi dalam kehidupan Rea. Gadis itu sudah menyelesaikan kuliahnya dan berhasil menjadi lulusan terbaik tahun itu. Jacob menepati janjinya dengan hadis di pesta kelulusan Rea bersama Ken dan Rain yang saat itu masih tampak pucat dan perban di mana-mana.
Seminggu setelah hari kelulusannya, Rea mulai bekerja di AJ Company. Dia segera saja menduduki posisi sebagai direktur perusahaan tersebut. Sesuai dengan yang sudah dia rencanakan, Lizzy menjadi sekretaris pribadinya sementara Zayn dia jadikan sebagai manager yang berhubungan langsung dengannya.
Tak di sangka, Jacob menempatkan Kennard Luther bersama dengan Rea. Entah apa tujuannya, tetapi Rea tidak ingin ambil pusing dengan keputusan itu. Dengan susunan seperti itu, tim kerja Rea cukup solid hingga saat ini.
Selama Rea bekerja, belum sekali pun dia bertemu dengan Rain. Lagipula, dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan seorang Rain. Walaupun terkadang ada secuil rasa rindu masuk ke dalam hatinya.
Berbeda dengan Ken. Hubungan Rea dan Ken menjadi semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, mulai dari makan siang bersama, menyiapkan rapat di luar, atau pun rapat tim yang berakhir dengan makan malam.
Hari itu karena mereka ada rapat di luar, Ken memakai kesempatan itu untuk jalan berdua dengan Rea. "Lizzy, ke ruangan gue sebentar,"
"Siap, Pak. Lizzy meluncur," jawab Lizzy melalui intercom. Dia segera memulas pemerah bibirnya dan merapikan pakaiannya. Setelah itu, dia berjalan centil ke ruangan Ken. Alih-alih mengetuk, dia melambaikan tangannya ke arah Ken dengan ceria. "Siang, Pak. Ada apa, Pak?"
"Bapak? Gue belum tua, tau! Panggil biasa ajalah, Zy. Jangan pake bapak," pinta Ken. Pria muda itu baru berusia 25-an tahun dan dia sangat tidak suka jika dipanggil bapak oleh para karyawannya. Menurut Ken, nanti dia akan lebih tua dari seharusnya. Jadi, para karyawannya selalu memanggil Ken dengan sebutan Kakak atau terkadang dia meminta mereka memanggilnya dengan Ken saja.
Lizzy tersenyum menggoda. "Siap, Om. Hahaha! Ngapain manggil?"
"Sial lo! Eh, gue liat jadwal Rea siang ini, dong. Abis rapat dia ada acara apaan?" tanya Ken meminta catatan jadwal harian Rea dari Lizzy.
Lizzy memberikan catatan itu kepada Ken. "Kosong, sih. Belum ada jadwal lagi sampe kelar. Emang kenapa?"
"Cariin resto kece, dong. Gue mau ngajak makan siang sa-, ...."
"Kita? Asiiikkk! Lo emang best banget," ucap Lizzy kegirangan.
Wajah Ken tertekuk dan dia melemparkan kertas kecil ke wajah Lizzy. "Bukan kita! Cuma gue sama Rea doang!"
"Kirain. Ya udah gue cariin. Tapi abis itu kasih bonus, ya. Hahaha!" tuntut Lizzy sambil tertawa renyah.
Ken mengibaskan tangannya meminta gadis itu untuk keluar ruangan. Dia ingin menjalin kembali hubungannya dengan Rea. Walaupun pengadilan memutuskan kalau Rea dibebaskan dari kewajibannya menikah salah satu Luther, tetapi tidak ada salahnya mengharapkan cinta Rea kembali.
Sementara itu, Jacob memaksa Rain untuk meneruskan kuliahnya serta mengikuti bimbingan konseling untuk menghilangkan ketergantungannya pada geng motor.
"Aku ngga gila, Pah," keluh Rain kala itu.
"Gila sama motor! Papa ngga mau kamu terjerumus lagi sama aktivitas membahayakan seperti klub motormu! Dua kali masuk catatan polisi dan dua kali pula kamu celaka karena ulang geng motor! Cukup, Rain. Cukup!" ucap Jacob bersikeras. Menurutnya, dengan mengikuti bimbingan konseling, dia berharap Rain akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan mengisi waktu luangnya dengan hal yang lebih berguna.
Dengan berat hati dan di bawah pengawasan Jacob 24 jam, Rain pun terpaksa melanjutkan kuliahnya dan bimbingan konseling dengan psikiater seminggu dua kali.
Jacob juga mengajarkan Rain untuk masuk ke dunia bisnis sedikit demi sedikit. Dia ingin Rain mendapatkan hak saham yang sudah berada di AJ Company.
Suatu hari, Jacob menyarankan Rain untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri setelah dia menamatkan kuliahnya di kampusnya yang sekarang.
"Kenapa harus ke sana?" tanya Rain.
"Papa mau kamu matang dan siap untuk jadi dewasa," jawab Jacob. Dia memberikan beberapa pilihan universitas terbaik kepada Rain. "Pilih saja kamu ingin kuliah di mana?"
Rain mengambil beberapa lembar pamflet dan membolak-balikan pamflet itu tanpa minat. "Kenapa ngga di sini aja? Aku udah ngikutin semua kemauan Papa, loh,"
"Oke! Oke! Ini aja!" kata Rain sambil memberikan pamflet sebuah universitas di salah satu negara terbesar di dunia.
Dengan wajah berseri-seri, Jacob mengambil pamflet itu dan memeluk tubuh kekar putranya. "Pilihan yang bagus, Rain! Papa akan urus segalanya supaya minggu depan kamu sudah bisa berangkat ke sana,"
"Tunggu! Minggu depan? Kok, cepet banget? Kuliah, 'kan September, Pa," protes Rain. Dia belum siap berada jauh dari Rea. Bahkan sudah beberapa bulan ini, dia belum bertemu dengan gadis itu.
Jadwal Rea yang padat serta aktivitasnya yang meningkat semenjak dia bekerja, membuat Rain sulit berkomunikasi dengannya.
"Kamu harus ikut kelas persamaan dulu, 'kan? Dan itu selama 1 hingga 3 bulan. Papa ngga mau kamu gagal," ucap Jacob mengemukakan alasan kenapa mereka harus berangkat lebih cepat.
Rasa cemburu dan iri hati membuat Rain membandingkan dirinya dengan Ken, kakaknya. "Bagaimana dengan anak Papa yang satu lagi? Dia bersenang-senang di sini, sedangkan aku harus bekerja keras di sana! Ngga fair, dong!"
Jacob menggelengkan kepalanya. "Dia mengurusi perusahaan kita, Rain! Ayolah berpikir, Rain!"
Rain menghela napas panjang. "Okelah, aku minta satu hari untuk bertemu dengan Rea,"
"Silahkan," jawab Jacob.
Sayangnya, minggu-minggu itu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa, waktu yang Rain miliki hanya tersisa tiga hari. Maka sore itu, Rain menjemput Rea di AJ Company.
Rea tersenyum saat Rain menjemputnya. Gadis itu berusaha tetap tenang dan bersikap seperti biasa. "Hei, apa kabar?"
Ken yang berada di sisi Rea memberengutkan bibirnya saat melihat adiknya menjemput gadis kesayangannya itu. "Mau ke mana lo? Rea, inget besok ada rapat pagi! Jangan telat!"
"Iya, Kak," kata Rea, dia pun segera meminta Lizzy untuk menyusun jadwal hingga seminggu ke depan.
Tak lama, dia sudah duduk manis di samping kursi kemudi. Sepanjang perjalanan itu, mereka tidak membahas apa pun yang berhubungan dengan hubungan mereka.
Mereka berbicara tentang pekerjaan, tentang orang-orang yang lewat yang dianggap lucu dan aneh untuk mereka, dan mereka juga membicarakan tentang restoran atau kafe yang enak untuk mereka datangi sore itu.
Akhirnya tibalah mereka di sebuah restoran fancy yang cukup mewah. Rain mengajak Rea untuk segera masuk ke dalam.
Setelah mereka memesan makanan dan menikmati makan malam itu. Rain pun mengemukakan maksud dan tujuannya mengajak Rea malam itu.
"Gue bakal pergi jauh, Re," ucap Rain.
Rea meletakkan sendok garpunya di piring dan menyelesaikan proses menelannya. "Ke mana? Berapa lama?"
Rain tersenyum. "Lo masih cinta sama gue, hehehe. I'm happy,"
"Ngga! Udah ilang cinta gue buat lo! Jawab dulu, lo mau ke mana? Balik kapan?" tanya Rea.
Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Rea dengan manis. "Dua tahun, gue mau kuliah. Bokap yang nyuruh. Lo mau nunggu gue?"
...----------------...