
Bukan Rea namanya jika bergerak tanpa bukti. Saat itu, dia memang pulang ke tempat Luther. Namun menurut para pelayan, Jacob sedang pergi untuk mempersiapkan RUPS di kantornya.
"RUPS sialan itu!" ucap Rea dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Tak lama, dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Tuan Fergie selaku kuasa hukum keluarga Johnson.
Gadis itu meminta kepada Ferguson untuk mencari kebenaran dari kabar yang dia dapatkan dari Stella pagi ini. Rea juga meminta pada Ferguson untuk menemuinya setelah mendapatkan bukti yang akurat dan sebenar-benarnya.
Sambil menunggu bukti yang dibawakan dari Ferguson, area memikirkan apa yang dia lakukan jika kabar itu benar adanya. Begitu tadi dia melihat pesan yang dikirimkan oleh Stella, dengan cepat emosinya menguasai dirinya dan kemudian selama dia berada dalam taksi, Rea berusaha untuk tenang dan berpikir jernih dengan kepala dingin.
Setelah menunggu beberapa jam, Ferguson memberikan kabar kaau dia sudah berada di tempat yang dijanjikan oleh Rea.
"Oke, tunggu di sana. Saya akan segera datang," ucap Rea cepat dan dia segera menyambar kunci mobilnya lalu, melajukan kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Tak lama, sampailah Rea di sebuah hotel berbintang lima yang berada jauh dari pusat kota. Gadis itu menginginkan pertemuannya dengan Fergie tidak diketahui oleh orang lain yang mengenal mereka.
"Selamat siang, Tuan Fergie," sapa Rea sambil menarik kursinya untuk duduk.
Fergie cepat-cepat berdiri, tetapi kemudian dia duduk kembali saat melihat klien kecilnya itu duduk. "Ehm! Selamat siang, Nona Rea. Apa mau makan siang dulu? Mengingat ini sudah jam makan siang,"
Rea menggeleng. "Aku memerlukan klarifikasi cepat untuk masalah ini, supaya aku tau jalan mana yang harus aku ambil,"
Wajah Fergie yang berubah dengan cepat membuat Rea menyimpulkan kalau kabar dari Stella itu benar. Pria itu mengeluarkan amplop cokelat yang besar dan memberikan amplop itu pada Rea.
"Apa ini?" tanya Rea.
Fergie tidak menjawab, dia hanya mengulurkan tangannya dan mempersilahkan gadis itu untuk membuka amplop cokelat yang dibawanya.
Rea menghembuskan napasnya panjang sambil membuka amplop itu. Debar jantungnya berdetak kian cepat. Begitu amplop itu terbuka, dia terdiam menatap potongan berita yang diambil dari berbagai macam media.
"Kenapa aku tidak pernah melihat atau mendengar berita ini?" tanya Rea.
Jika berita tentang kecelakaan maut yang dialami oleh kedua orang tuanya itu termasuk berita yang cukup besar, mengapa Rea tidak pernah melihat berita itu di manapun? Selama ini dia beranggapan, kalau kecelakaan yang menimpa orang tuanya hanyalah kecelakaan biasa bukan kecelakaan besar seperti ini.
"Ada beberapa mobil yang menjadi korban juga! Bayangkan saja dan berita ini seakan lenyap! Ada apa ini, Tuan Fergie?" tuntut Rea.
Fergie mengambil gelas di depannya dan meminumnya. "Dari kabar yang saya dapatkan, Tuan Luther sudah membayar sejumlah media untuk men-take down berita-berita ini serta membayar polisi untuk tidak melanjutkan kasus kecelakaan yang menimpa Tuan dan Nyonya Johnson serta Rainhard Luther,"
Kemarahan Rea kembali menggelegak. "Wah! Ini gila, sih! Maksud saya-, ... Aku speechless, Tuan Fergie dan aku tidak tau harus memulai ini darimana! Astaga, hahaha!"
Air mata gadis itu kembali mengalir seiring dengan suara tawa kering yang dia keluarkan. Rea marah, kesal, sedih, semua emosi menjadi satu di dalam hatinya dan berebut untuk dikeluarkan.
Fergie aka Ferguson hanya bisa memberikan sehelai tissue makan atau napkin pada gadis itu. "Maaf, Nona. Saya juga tidak tau ada kejadian seperti ini,"
Pria itu berdiri dan meninggalkan Rea yang sedang menangis. Orang-orang di sekitar meja itu melihat ke arah mereka dan mencari tau apa yang terjadi dengan berbisik-bisik kepada yang lain.
Tak lama, Fergie datang dengan membawa sebuah kunci kamar. "Saya akan menunggu di sini dan saya tau, Nona butuh waktu untuk sendiri. Ambillah, saya sudah membayarnya,"
Sambil mengusap air matanya, Rea mengambil kunci itu dan mengucapkan terima kasih. Dia berjalan menuju kamar hotelnya dan setelah sampai, dia benar-benar menumpahkan semua tangisnya di kamar itu.
Setelah puas, dia pergi ke kamar mandi dan berendam di dalam bathtub. Rea memejamkan matanya, bahkan sesekali dia menenggelamkan diri dalam bathtub tersebut.
Setelah tangannya keriput, Rea keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai bathrobe. Dia mengirimkan pesan kepada Ferguson untuk tidak menunggunya dan dia juga meminta kepada kuasa hukumnya itu untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang pertemuan mereka.
Rea mengecek beberapa panggilan di ponselnya. Rain, Lizzy, dan Ken. Enggan mendengar suara ponsel, dia mematikan ponselnya. Tak lama, dia menghubungi operator untuk disambungkan dengan AJ Company.
Setelah tersambung, seorang wanita yang mengaku sebagai sekretaris perusahaan tersebut menjawab panggilannya dan Rea pun meminta kepada sekretaris tersebut untuk menyampaikan pesan kepada Jacob Luther agar menemuinya di hotel itu, malam ini.
Rasa pedih masih menggelayut di hati Rea. Terkadang air matanya mengalir begitu saja kala dia sadar kalau ornag tuanya merupakan korban dari calon suaminya.
Padahal, cinta itu baru saja mekar dan kini, cinta itu harus dia cabut dan dia buang jauh-jauh. Rasa cinta itu berubah cepat menjadi rasa benci yang membuatnya mual.
Siang berganti malam dan dia sudah menunggu Jacob di kamarnya malam itu. Tak lama, suara bel pintu berdentang. Rea segera membukakan pintu untuk seorang pria yang nyaris menjadi calon mertuanya itu.
"Rea? Ngapain di sini? Sama Rain?" tanya Jacob.
Rea menggeleng. Tiada senyum di wajahnya saat menyambut Jacob. "Aku sendiri,"
Setelah mempersilahkan Jacon untuk masuk, Rea segera saja memberikan amplop cokelat yang siang tadi diberikan oleh Fergie kepadanya. "Ini apa, Pa? Bisa Anda jelaskan apa itu, Tuan Luther?"
Jacob mengeluarkan isi amplop cokelat itu dan terkesiap kaget. "Rea-, jangan salah paham! I-, ini, ...."
"Anak Anda seorang pembunuh! Anak Anda membunuh kedua orang tua saya dan Anda membayar semua media untuk menurunkan berita itu dan membayar pihak berwajib untuk tidak melanjutkan kasus hukum atas putra Anda! Apa yang ingin Anda ambil dari saya, Tuan?" tanya Rea, suaranya bergetar hebat dan air matanya sudah mengalir kembali di pipinya.
"Rea, beritanya ngga seperti itu. Dengarkan Papa, Sayang. Papa mohon," ucap Jacob.
Wajah Rea sudah memerah dan napasnya memburu. "Anda bukan ayah saya! Jangan memaksa saya untuk memanggil Anda, Papa!"
Jacob memberanikan diri untuk memegang tangan Rea, tetapi Rea menepiskan tangan Jacob dengan kasar. "Pembunuh! Jangan sentuh saya! Mulai detik ini, saya tidak ingin menjadi bagian apa pun dari hidup Anda ataupun anak Anda! Yang manapun itu!"
"Rea, dengark-, ...."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Siapkan pengacara putra Anda, saya akan buka kembali kasus ini dan sampai bertemu di pengadilan, Tuan Luther Yang Terhormat!" tukas Rea, setelah itu dia keluar dari kamar hotel itu dengan air mata berlinang.
Di dalam mobil, dia menyalakan kembali ponselnya dan memblokir semua kontak Rain, atau pun Ken. Dia menghubungi Ferguson kembali, "Tuan Fergie, siapkan semua berkas dan buka kembali kasus kecelakaan orang tua saya. Kita akan maju di pengadilan!"
Tanpa menunggu balasan Ferguson, Rea sudah mengakhiri panggilannya. Tak lama, dia menghubungi Lizzy. "Halo, Zy. Gue sewa apartemen lo setahun, ya. Gue on the way ke sana sekarang,"
("Re, lo baik-baik aja?") tanya Lizzy, suaranya terdengar khawatir.
"Ngga! Gue ngga baik-baik aja, Zy!" Rea kembali menangis saat mendengar suara sahabatnya. "Ketemu di apartemen lo. Dua jam lagi gue sampe sana,"
("Oke! Gue jalan sekarang! Lo wajib cerita ya, Re! Gue maksa, niy!") desak Lizzy lagi.
Rea mengangguk. "Iya, see you," ucap Rea, dia pun melajukan mobilnya menuju apartemen sahabatnya itu. Sepanjang jalan, air matanya terus mengalir dan tidak mau berhenti. Ini lebih sakit dibandingkan saat dia menjadi bahan taruhan oleh Rain.
...----------------...