My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
ONS Dadakan



Kedua mata Rea menatap pria yang sedang menatapnya dengan bersungguh-sungguh. Mereka saling berpandangan dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya tetesan hujan jatuh menimpa mereka.


"Hujan! Cepet abisin makanan lo!" titah Rain, sedikit terkejut dengan apa yang dia katakan tadi.


Mereka pun menghabiskan makanan dengan cepat, padahal si pelayan restoran mengajak mereka untuk masuk ke dalam restorannya. Entah apakah mereka tidak mendengar atau memang sengaja untuk tidak mendengar.


Begitu selesai makan, mereka berlari menuju mobil. Namun, tubuh mereka sudah basah karena terkena hujan. "Ya, gue kuyup! Tanggung jawab! Mana gue ngga bawa baju ganti! Arrgghh, kesel jadinya! Lo, sih, pake sok ide ke pantai!"


"Ya, gue pengen! Cari penginapan aja, yuk!" kata Rain. Wajahnya memanas begitu melihat perubahan wajah Rea. "Maksud gue, malam balik. Lo ngga usah ngantor seharian ini. Sekalian beli baju, mandi air hangat, makan siang, 'kan enak, tuh. Mau ngga? Gue ngga akan ngapa-ngapain lo, kok. Tenang aja,"


Rea mengecilkan pendingin mobil, padahal pakaian dan rambutnya basah kuyup, tetapi tidak tau kenapa dia merasa kepanasan di pagi itu. "Pesen dua kamar, ayo!"


Membayangkan mandi air hangat dan makan siang membuat Rea tergoda. Gadis itu segera mengiyakan ajakan Rain untuk mencari penginapan sementara.


Rain tersenyum. Kemudian, dia melajukan mobilnya menuju tempat penginapan di sekitar pantai itu.


"Ini weekend, Sayang. Pasti penuh. Kami tersisa 1 kamar dengan 1 tempat tidur tipe queen bed. Mau ambil?" tanya gadis resepsionis.


"Tidak," tolak Rea.


"Ya, kami ambil!" jawab Rain di saat yang bersamaan.


Si gadis resepsionis itu mengangkat kedua bahunya. "Terserah kalian. Hotel ini hotel keluarga, kami tidak menjual kamar untuk transit atau bersenang-senang seperti yang kalian pikirkan,"


"Dia calon istriku. Jika kami ingin melakukan sesuatu, itu juga tidak masalah karena tanggal pernikahan kami sudah direncanakan. Kami ambil!" ucap Rain berbohong.


"Oke. Namamu?" tanya si gadis berambut pirang itu.


"Rainhard Luther," jawab Rain singkat, dia mengeluarkan kartu saktinya dan memberikannya pada resepsionis yang bernama Carla tersebut.


Carla tertegun. "Luther dari AJ Company? Wah, maafkan sikap saya yang sedikit tidak sopan. Kami punya kamar VVIP atau Presiden Suite. Kami akan memberikan potongan harga sebesar 50% jika Anda berkenan memberikan testimoni untuk hotel ini,"


Rain menyeringai lebar. "Wowh, oke. Oh, sekalian saja, bawakan kami beberapa pakaian dari pusat perbelanjaan sekitar sini. Aku tunggu dalam sepuluh menit,"


"Baik, Tuan Luther. Ini kunci kamar Anda. Selamat beristirahat dan semoga Anda nyaman berada di sini," ucap Carla sambil membungkuk serendah mungkin.


Rain merangkul pinggang Rea dan menuntutnya untuk segera masuk ke dalam lift. Hotel itu memiliki pemandangan laut yang terhampar luas di depannya dan di kamar paling atas, mereka mendapatkan fasilitas balkon serta dua buah sofa dan meja kopi kecil di sana.


Rea dapat melihat hujan dari balkon tersebut. Tiba-tiba saja, Rain datang dan menyelimuti tubuh Rea dengan selimut tebal. "Lo ngga mau mandi dulu? Gue udah, dong. Harum ngga?"


"K-, kenapa tiba-tiba begitu? Kaget, tau! Ish! Gue mandi dulu, panggil gue kalo bajunya udah dateng!" titah Rea dengan wajah merona merah.


Rain terkikik geli dan dia membungkuk hormat pada gadis itu. "Baik, Nyonya Luther,"


Sehelai handuk berwarna putih melayang dan mendarat tepat di wajah Rain diikuti dengan pekikan Rea dari kamar kecil itu "Jangan ngaco!"


Menjelang siang, Rea yang sedari mandi memakai bathrobe menyambut gembira layanan pembelanja pribadinya. Gadis itu memilih beberapa pakaian. "Rain, kita nginep ngga? Piyama ini kenapa goda gue banget, sih! Pengen pake!"


"Ambil aja, kita pake untuk makan siang. Nanti gue minta layanan restonan untuk ke sini," ucap Rain tersenyum senang.


Dia memandang Rea yang mulai menikmati liburan mendadak mereka ini dan tertawa kecil saat Rea sibuk memilih pakaian-pakaian.


Jam makan siang tiba, dengan memakai piyama bergambar kartun anime, Rea pun mengajak Rain untuk turun ke restoran hotel dan makan siang di sana.


"Pake begituan?" tanya Rain tak yakin.


Rea memutar-mutar tubuhnya. "Kenapa emang? Lucu, 'kan? Abis ini gue tidur dulu, baru balik,"


Rain berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Suka-suka lo-lah, Re,"


Seusai makan siang, Rea benar-benar mewujudkan apa yang diimpikannya, yakni, tidur. Sebuah pesan masuk di ponsel Rea dan tertulis nama Lizzy di layar ponselnya.


("Re, jadi dateng ngga? Sevilla Group ngajuin kesepakatan. Gue suruh tunggu sampe lo dateng atau gimana? Gue nanya Ken, kata doi, biar lo yang handle. Reply soon, yes,") tulis Lizzy dalam pesannya.


Rain berusaha membangunkan Rea, tetapi gadis itu tak kunjung bangun. "Kayaknya lo capek banget ya, Re,"


Sebuah ide iseng terlintas begitu saja di benak Rain, dia mengambil foto Rea yang sedang tidur dan mengirimkannya pada Lizzy. "Cewek gue capek, jangan ganggu dulu. Sevilla Group postpone aja dulu,"


("AAAAAAAAAAAAAAA! Lo lagi sama Rea? Lo berdua ngga ngapa-ngapain, 'kan? Astaga, tega banget gue ngga di ajak!") balas Lizzy dengan menambahkan emoticon terkejut serta emoticon menangis.


"Nyusul aja. Gue shareloc," balas Rain lagi. "Jangan, deh! Gue lagi ngga mau diganggu. See you, Zy," kemudian, Rain mematikan ponsel Rea dan ponsel dirinya.


Setelah menunggu satu jam, Rea tak kunjung bangun. Akhirnya Rain menghubungi resepsionis kembali melalui panggilan telepon di kamar hotel mereka. "Nona, kupikir aku akan menginap satu malam. Tunanganku ketiduran dan belum bangun sampai saat ini. Mungkin dia lelah, hahaha! Oh, tolong bawakan kami makan malam terbaik yang kalian punya karena aku hendak melamarnya malam ini,"


"Baik, Tuan Luther," jawab resepsionis itu.


Pukul 3 sore, Rea baru bangun dan dia segera mengajak Rain untuk check out.


"Ngga bisalah! Rugi dong gue, udah kehitung sehari, Re! Besok aja baliknya. Gantian gue yang tidur di kasur! Lo minggir!" ucap Rain berpura-pura mengantuk dan dia melompat ke atas tempat tidur.


Rea mencebik. "Sana tidur!"


Tak lama, Rea sudah menikmati angin sore dari balkon. Dia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda untuk mencegah rambut itu berkeliaran di wajahnya. Selagi dia asik memandangi laut, sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang.


Tidak hanya memeluk, bibir pria itu mendarat di ceruk lehernya dan menciuminya dan membuat kulitnya meremang.


"R-, Rain, lo ngapain?" tanya Rea, dia berusaha memberontak, tetapi bibir Rain yang menggelitik di lehernya membuat gadis itu jatuh dalam pesona seorang Rainhard Luther.


Rain memutar tubuh Rea sehingga mereka berhadapan dan memagutnya dengan dalam. Mereka berhenti hanya untuk mengambil napas dan kembali melanjutkan pagutan panas itu.


"Re, i love you," bisik Rain.


Alih-alih menjawab, Rea memejamkan matanya dan tanpa diperintah dia sudah mengalungkan kedua lengannya di leher pria tampan yang ada di hadapannya itu.


Mendapatkan respon positif dari gadis yang dia cintai itu, membuat Rain semakin berani untuk bergerak. Dia mengangkat tubuh mungil Rea dan menggendongnya dengan mudah. Ranpa melepaskan pagutan mereka, Rain melepaskan satu per satu kancing piyama gadis itu.


Senja perlahan menghilang berganti dengan Sang Penguasa Malam, permainan panas sepasang sejoli yang dimabuk cinta itu pun semakin memanas.


Sudah tidak ada lagi benang yang menutupi tubuh mereka. Dessahan, lenguhan, dan erangan memenuhi kamar hotel bertipe Presiden Suite itu.


Satu hujaman pertama berhasil masuk menerobos pertahanan Rea dan mengalirkan sebuah sensasi aneh yang menyenangkan bagi gadis itu. Rain semakin bergerak cepat dalam alunan napas yang seirama. Sampai pada akhirnya, mereka berdua mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.


"Harusnya ngga boleh, Rain! Aarrrgghhh!" sesal Rea menutupi wajahnya dengan selimut.


Rain tersenyum dan mengecup bibir gadis itu. "Ngga apa-apa, sebentar lagi kita merried,"


Rea memukul wajah pria itu dengan bantal besar. "Ngaco, ah! Aarrgghh, pokoknya gue kesel!"


Rain berbaring di samping Rea dan memeluk tubuh gadis itu. "Berarti, kita udah resmi pacaran, 'kan ,ya? Hehehe!"


"Bodo!" tukas Rea, tetapi dia menyembunyikan senyum dan debaran jantungnya dari Rain.


...----------------...