My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Side To Side



Beberapa hari kemudian, Jacob menemukan suasana hening di meja makannya kembali. Percakapan yang ada hanyalah permintaan tolong untuk mengambilkan ini dan itu. Jacob memperhatikan ketiga anaknya itu, terutama Rea dan Rain. Bahkan mereka duduk berjauhan!


"Kalian bertiga bertengkar? Atau kalian berdua yang bertengkar?" tanya Jacob.


Mereka bertiga menggelengkan kepala mereka, lalu fokus kembali pada sarapan masing-masing. Tak hanya Jacob yang memperhatikan Rea dan Rain. Ken pun memperhatikan kejanggalan yang terjadi pada adiknya.


Biasanya mereka akan saling mengobrol mesra atau kalau mereka bertengkar, maka seisi ruangan akan dipenuhi dengan caci maki dan umpatan. Namun kali ini, hening.


Setelah selesai sarapan, Rea berpamitan kepada Jacob. "Kamu baik-baik aja, Sayang?" tanya Jacob.


Rea mengangguk. "Ya, Pa,"


Saat Rea hendak mengambil kunci mobil, Ken menyambar tangan gadis itu dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menghubungi Lizzy dan meminta sekretaris pribadi Rea untuk menggeser semua jadwal atasannya.


"Loh, kita ada rapat loh, Kak!" ucap Rea.


"Bisa siangan! Ikut gue dulu, ada yang mau gue omongin sama lo!" kata Ken dan menambah kecepatan laju kendaraannya.


Ken membawa Rea ke sebuah kedai kopi dan sepertinya kedai itu sudah menjadi langganan Ken. Beberapa barista menyapanya dan menawarkan apa yang ingin dia pesan.


Tak lama, seorang barista pria sudah mengantarkan satu cokelat tiramisu frappuccino dan mocha latte. Ken menyesap mocha latte-nya dengan santai.


"Lo ribut sama Rain?" tanya Ken, pertanyaannya bersifat mendesak sehingga Rea pun agak sungkan menjawabnya.


Alih-alih mengangguk, Rea menggelengkan kepalanya. "Ngga! Cuma lagi ada beda pendapat aja,"


Entah kenapa Rea tidak ingin mengatakan putus pada Ken. Dia tidak mau memutuskan hubungannya dengan Rain dan malam itu, dia berharap Rain mengerti bahwa dia hanya mengancamnya.


"Biasanya sehari kelar," tukas Ken lagi. Pria itu hanya ingin Rea jujur padanya dan mengatakan apa yang terjadi. Ken masih berharap pada Rea supaya gadis itu dapat melihat kesungguhan hatinya.


"Kali ini, konfliknya berat, Kak. Kayak novel," jawab Rea singkat.


Kekesalan serta kesedihan di wajah Rea terpetakan dengan sangat jelas dan Ken dapat membacanya. "Tapi ngga putus, 'kan?"


Rea menggelengkan kepalanya. "Ngga,"


Walaupun belum puas dengan jawaban yang dikemukakan oleh gadis yang sedang sibuk memainkan whip cream di gelas kopinya itu, Ken berusaha menerima dan mengerti.


Siang hari itu, Rea dan Ken sudah berada di kantor untuk rapat bersama dengan beberapa tamu perusahaan. Sesekali Rea melirik ke arah ruangan Rain yang masih kosong. Ke mana Rain? Apa dia baik-baik saja? Raga Rea boleh saja berada di tempat rapat, tetapi tidak dengan jiwa dan hatinya.


Sementara itu di markas besar Dead Vagabonds, Rain sedang disibukkan dengan aktivitasnya. Dengan satu tangan membawa las dan tangan yang lain membawa tool kit.


"Mau di modif kayak apa lagi, Bos?" tanya Abs.


"Gue mau nambahin turbo di sini sama gue butuh ngecek listriknya," jawab Rain.


Abs memperhatikan kawannya yang memakai kemeja rapi dan sepatu pantofel itu. Dia menjulurkan tangannya. "Mana sini, nanti baju lo kotor. Kalo lo mau ke sini, ngapain pake baju formal? Arah hidup lo mau ke mana sih, Bos?"


Rain yang sedang memegang kunci pas, melemparkan kunci itu begitu saja ke depan dan dia menundukkan kepalanya. "Gue cuma mau Hunter ngga ngusik hidup gue lagi, Abs. Selama gue belum liat dia down, gue akan terus memburu dia,"


Abs kembali menepuk pundak Rain dan mengingatkan pemuda itu untuk tidak melakukan hal bodoh. Setelah itu, dia mengambil kunci pas yang dilemparkan oleh Rain dan menyelesaikan tugasnya.


Sore harinya, rombongan The Monster Hunters datang ke markas besar Dead Vagabonds. Dengan angkuh, Hunter berjalan menghampiri Rain. Dia mengejek pemuda itu dan seolah membersihkan kemeja putih yang dipakai oleh Rain.


"Wah, selamat sore, Bos! Rapat udah kelar kayaknya, niy, sampe bisa main-main ke tempat kumuh kayak gini," ucap Hunter dan diiringi tawa kawanannya.


Rain tak ambil pusing dengan ejekan Hunter, dia terus berdiri berhadapan dengan laki-laki yang penuh dengan tato itu. "Udah? Ke sini cuma mau ngomong itu doang? Waktu gue ngga banyak, Bos. To the point aja mau gimana?"


Hunter aka Archie Warren tersenyum mengerikan. Dia mendekati wajahnya ke arah telinga Rain dan berbisik, "Serius banget kayaknya, ya? Taruhannya apa kali ini? Cewek yang kemarin lagi? Gue ngga nolak, kok,"


Kemarahan Rain memuncak begitu mendengar Rea akan dijadikan taruhan kembali. Dia mendorong Hunter dan meninju wajahnya. "Sekali lagi lo ngomong sembarangan ke cewek gue, lo habis di tangan gue!"


Hunter tertawa dan memperlihatkan gigi depannya yang berdarah. "Hahaha! Uuuh, takut banget! Buktiin aja, Speed! Kalo lo menang, gue akan menghilang dari hidup lo dan ngga akan nongol-nongol lagi di hidup lo. Tapi kalo gue yang menang, ...."


Hunter menarik kemeja Rain dan kembali berbisik, "Gue ngga akan ngebiarin lo hidup tenang, Speed! Hahahahaha!"


Setelah itu, Hunter dan teman-temannya pergi meninggalkan markas besar Dead Vagabonds. "Sampai ketemu lusa di arena biasa. Dadah Speed, hahaha!"


"Dia ngajak taruhan? Apa taruhannya?" tanya Abs.


Rain menggertakan giginya. "Hidup gue!"


Maka, dia kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju ke kantor. Yang ada di otaknya saat itu hanyalah Rea. Dia akan membawa gadis itu ke tempat yang aman sampai orang lain tidak dapat menemukannya. Ditambah lagi, dia akan memberikan beberapa kemampuan bermotornya untuk Rea.


Setibanya di kantor, dia segera pergi ke ruangan Rea. Rain tidak peduli pada Lizzy yang mengatakan kalau Rea sedang rapat.


"Rain, dia rapat! Ini tender besar! Plee, ...." tukas Lizzy sambil mengejar Rain. Namun sayangnya, Rain sudah membuka pintu ruang rapat.


"Sorry ganggu!" Rain membopong Rea di pundaknya seperti membawa sekarung beras.


"Hei! Hei! Rain!" tukas Ken yang segera bangkit berdiri begitu melihat Rain menggendong Rea.


"Rain, lepas! Lepasin! Turunin gue!" ucap Rea.


Namun Rain tidak mendengarnya, dia berpamitan dan mengucapkan permintaan maaf kembali dan membawa Rea sampai ke tempat parkiran motor. Dia menurunkan Rea dan memintanya duduk.


"Mau ke mana? Lo mau bawa gue ke mana? Gue takut, Rain!" ucap Rea.


"Lo ngga boleh takut! Lo harus berani, Re! Gue ngga mau kehilangan lo, gitu juga sama lo, 'kan? Jalan satu-satunya adalah lo harus kenalan sama dunia gue dan lo harus punya skill yang sama kayak gue!" ucap Rain dan dia segera memasukan kunci motor dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Rain Bodoh! Gue takut! Lo egois! Berhenti! Gue mau turun!" pekik Rea, dia berteriak sekencang mungkin supaya si pengemudi mendengarnya.


"Pegangan, Re! Tutup mulut lo nanti lo masuk angin! Siap, ya, gue ngebut!" Rain menambah kecepatan motornya dan dia dapat mendengar sayup-sayup suara umpatan Rea di belakang dan dia tidak peduli dengan itu. Dia harus menyelematkan Rea dan juga hidupnya.


...----------------...