My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Lo Cintanya Gue!



Hari ulang tahun Rea tinggal menghitung hari saja dan sepertinya, dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Sejak Rain mengambil ciuman pertamanya, Rea akan menambatkan hatinya kepada pria itu.


Jacob pun merasa senang melihat perubahan keduanya. Biasanya, mereka berdua akan saling mengumpat dan adu mulut setiap kali bertemu, tetapi akhir-akhir ini tidak lagi terdengar umpatan dan cacian dari mulut keduanya.


Namun begitu, Rea masih sedikit ragu terhadap perasaan Rain kepadanya. Karena pria itu tidak pernah mengungkapkan cintanya kepadanya.


"Lo yakin dia cinta sama lo?" tanya Lizzy suatu hari.


Rea mencibir dan memainkan mulutnya. "Entahlah, Zy. Tapi, kita tuh kayak ngedate. Ngerti ngga, sih? Dia jadi manis banget. Ah, pokoknya begitulah,"


"Ngerti. Tapi, cewek tuh butuh kepastian. Kalo kayak gini lo masih ada di friend zone, Re," sahut Lizzy lagi.


Namun Rea menggelengkan kepalanya. "Bentar lagi gue, 'kan married. Gue rasa, gue udah tau siapa yang akan jadi suami gue nanti,"


Wajah Lizzy seketika berbinar-binar ceria seperti lampu kelap-kelip yang ada di pohon natal. "Astaga, gue lupa! Berarti, sebentar lagi lo berdua suami istri, dong! Kyaaa, Rea! Lo jadi Nyonya Luther. Ih, congratulations ya, Re,"


Membayangkan dirinya akan menikah dengan Rain membuat wajahnya memerah. Apa yang kira-kira akan mereka lakukan setelah menikah nanti?


Lizzy yang melihat perubahan wajah sahabatnya itu, kembali menggodanya. "Mikirin apa, hayo? Hihihi,"


"Gue mikirin kalo orang udah nikah ngapain aja ya, Zy? Nikah, honeymoon, terus ada begini dan begitu, 'kan? Astaga! Otak gue traveling! Ih, Lizzy! Udah, ah!" seru Rea.


Lizzy memeluk sahabat baiknya itu dengan gemas. Dalam hati, Lizzy mendoakan yang terbaik untuk Rea. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan ini saatnya Rea untuk bahagia.


Berbeda dengan Stella Brown. Dia akan mengekor ke manapun Rain pergi. Walaupun ada Rea di samping pria itu, Stella akan dengan setia mengikuti pasangan itu.


Hari itu, Stella memberanikan diri untuk menemui Rea setelah jam mata kuliah mereka selesai. "Hai, Re. Bisa ngomong sebentar?"


Rea yang duduk berdampingan dengan Lizzy, menganggukkan kepalanya. "Ngomong aja,"


"Berdua aja, please," pinta Stella dan matanya menunjuk kepada Lizzy sepintas.


"Lizzy sahabat gue dan kita berdua punya prinsip untuk tidak merahasiakan apa pun di antara kita. Jadi, dia tetap di sini!" tegas Rea tajam.


Stella memutar kedua bola matanya ke atas. "Terserah! Jadi, ada hubungan apa lo sama Rain?"


"Astaga! Gue pikir mau ngomongin apaan. Gue sama Rain ngga ada hubungan apa-apa," jawab Rea ketus. Dia sedikit kesal dengan pertanyaan Stella itu. "Lagian, kenapa lo ngga tanya langsung aja sama orangnya?"


"Gue suka dia, jadi gue harap lo bisa jaga jarak sama dia dan biarin gue masuk!" titah Stella dengan gayanya yang bossy.


Akhirnya, Rea sadar apa yang dimaksud Lizzy dengan seorang wanita butuh pengakuan cinta. Rain memang sudah menciumnya, tetapi bukan berarti hubungan mereka naik ke tingkat lebih lanjut.


Dengan malas, dia menanggapi Stella dan bergegas untuk keluar kelas. "Lo tanya sendiri sama orangnya aja deh, yah. Gue males kalo urusan beginian. Sumpah! Nah tuh, dia dateng,"


Benar saja, Rain datang menjemput Rea di kelas. Dengan wajah cengengesan dan gaya berjalannya yang sombong, dia memukul pucuk kepala Rea dengan buku handout-nya. "Cari makan, yuk!"


"Lo sama Nona Brown aja. Gue mau sama Lizzy," kata Rea dan dia mencari tangan Lizzy lalu menyeret gadis itu keluar kelas.


Saat ini, ada dua jantung yang berdegup kencang, ada dua hati yang memiliki harapan sama, dan ada dua gadis yang menunggu pernyataan cinta dari Rain.


"Nona Brown, mulai dari ngga tau kapan sampe detik ini, yang jadi cintanya gue cuma dia!" ucap Rain sungguh-sungguh sambil menunjuk ke arah Rea yang tercengang melihatnya.


Mendengar keributan kecil di kelas, mahasiswa lain pun mendekati dan melihat apa yang terjadi. Pada saat Rain menegaskan kalau Rea adalah cintanya, seketika itu juga suara tepuk tangan dan riuh rendah sorak-sorai terdengar di depan kelas itu.


Rain berjalan mendekati Rea yang tampak shock. "Lo denger ngga?"


Rea menatap kedua manik pria yang ada di hadapannya kini dengan mimik muka serius. Gadis itu berusaha menenangkan laju jantungnya, supaya tidak menerobos keluar. "Eh? Apa? Lo ngomong apa?"


Wajah Rain memerah dan dia menghela napas. "Karena hari ini gue lagi mood banget, jadi gue rela buang napas gue buat lo doang. Dengerin! Lo itu cintanya gue!"


Rona merah di wajah keduanya yang belum hilang, kini semakin memerah. Seperti merayakan kemenangan, Rain mengangkat kedua tangannya dan berlari di sepanjang selasar kampus.


"Rain bodoh!" tukas Rea kesal.


Di antara sorak sorai kemenangan Rain yang berhasil menyatakan cinta dengan gaya santai tanpa mengurangi gayanya yang cool, Stella terjatuh dalam lubang sakit hati yang cukup dalam.


Dia pun segera mencari tau segala informasi tentang Rainhard Luther dan Marea Johnson. Dia bertanya ke sana ke mari dan bahkan menyewa seseorang yang handal dalam bidangnya hanya untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.


Pencariannya itu pada akhirnya berbuah manis. Dia menemukan fakta bahwa ternyata Rain adalah salah satu pewaris dari perusahaan yang masuk ke dalam Big 4 di kota tersebut, AJ Company.


Dari fakta itu pula, Stella mengetahui kalau salah satu dari putra Luther akan menikah dengan Rea. Orang tua Rea adalah sahabat Jacob Luther, salah satu pemilik AJ Company.


"Pantesan deket. Cintanya jalur orang dalam. Apa gue nyerah aja? No, Stella! Jangan nyerah sebelum undangan tersebar!" ucap Stella bermonolog.


Hanya itu saja yang Stella dapatkan dari pencariannya di internet. Tinggal menunggu kabar dari orang suruhannya. Keesokan harinya, pria yang disewa oleh gadis cantik bermata biru itu datang dengan membawa temuan mengejutkan.


"Apa! Jadi, Rain itu tergabung di salah satu klub motor dan dia ketuanya? Wah, ngga nyangka banget!" ucap Stella pada pria itu.


Melihat respon Stella, pria itu semakin bersemangat. "Benar, Nona. Yang saya dengar, baru-baru ini Rainhard Luther baru keluar dari masa kurungan karena balapan liar dan aksi kekerasan,"


"Wah, ckckckck! Benar-benar ngga nyangka. Ah tapi gue suka, gimana, dong?" Stella bertanya pada dirinya sendiri dan hatinya pun galau sendiri.


Mata gadis itu kembali membulat. "Apa lagi? Ada yang berhubungan dengan keluarga Johnson?"


Pria itu mendekatkan wajahnya pada Stella dan sedikit membungkuk. Suaranya berbisik seolah takut ada yang mendengar. Dia membisiki Stella sesuatu yang membuat gadis itu membuka mulutnya lebar. "Benarkah? Dari mana informasi ini kau dapatkan?"


"Ada salah seorang polisi yang mengatakan seperti itu, Nona," jawab si pria.


Senyum licik terukir di wajah Stella Brown. "Oke, gue udah dapetin umpannya. Kalo rahasia ini gue bongkar, apakah cinta Rea masih akan menjadi milik Rain? Hahaha!"


...----------------...