My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Pacaran, Yuk!



Pernyataan cinta dadakan itu membuat Rea mematung sesaat dan menghentikan langkahnya. Ken menyatakan cintanya dengan suara keras, sehingga tak hanya Rea yang dapat mendengar kejujuran hati pria itu. Rain pun sontak menoleh ke arah Ken dan melihat kakaknya itu dengan pandangan bingung. Begitu pula dengan Jacob yang saat itu hendak mengantar mereka keluar rumah.


Ken adalah tipe pria yang selalu terarah, teratur, dan penuh rencana dalam hidupnya. Begitu Ken mendadak menyatakan cinta, rasa-rasanya itu seperti bukan Ken.


"Kennard, kamu baik-baik aja, Nak?" tanya Jacob sesaat setelah mendengar ungkapan Ken yang tiba-tiba itu.


Sejurus kemudian, wajah Ken memerah. Dia sadar dia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, tetapi kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa dia kontrol. "A-, aku baik, Pa,"


"Re, sa-, sampai ketemu di kantor! Bye!" kata Ken lagi pada Rea dan dia cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya.


Tak lama setelah Ken pergi, Jacob meminta Rea untuk berbicara dengannya sebentar. "Apa yang terjadi dengan Ken tadi?"


"Aku juga kurang tau, Pa. Mungkin Kak Ken cuma bercanda," kata Rea sambil memaksakan tawanya yang terdengar garing.


Jacob mengangguk-angguk dan berpikir. "Ken itu ngga pernah grasak-grusuk. Beda banget dengan Rain. Andaikan itu benar-benar pernyataan cinta, apa kamu akan menjawabnya?"


Rea merasa tersudutkan. Dia tak pernah menyangka kalau kehidupan cintanya sama beratnya dengan kehidupan dirinya. Lagipula, pernyataan cinta itu terlalu mendadak bagi gadis yang kini berusia 22 tahun itu. "Pa, Rea ngga tau harus jawab apa kalo Kak Ken sungguh-sungguh karena di mata Rea, Kak Ken udah Rea anggap sebagai kakak Rea sendiri. Rea ngga melihat Kak Ken sebagai seorang laki-laki,"


"Kalo begitu, Ken akan patah hati," ucap Jacob. Entah mengapa di dalam suaranya terkandung harapan kalau Rea akan menerima cintanya.


"Maafin Rea, Pa," jawab Rea tertunduk.


Tak disangka, Jacob tertawa. "Hahaha! Menikahi salah satu putraku sudah bukan kawajibanmu lagi, Rea. Santai aja, toh Papa juga ngga mengharuskan kamu untuk menikah. Menikahlah dengan seseorang yang emang kamu cintai bukan karena paksaan atau rasa kasihan,"


"Terima kasih untuk pengertiannya, Pa," balas Rea. Gadis itu sangat bersyukur karena Jacob tidak memaksanya untuk menikah. Saat ini, memang tidak ada siapapun di hatinya. Rea belum memikirkan atau memiliki keinginan untuk menikah.


Setelah selesai, Rea berpamitan kepada Jacob sekaligus dia meminta izin akan datang terlambat hari ini. Tuan Luther mengerti dan lagi-lagi dia tersenyum. "Santai, Rea. Laporan yang masuk ke Papa terkait dengan kinerjamu itu, jauh di atas ekspektasi Papa. Papa rasa ngga cuma Papa yang bangga, tapi Alex Johnson pun akan bangga sekali denganmu, Rea,"


Memang itu tujuan dia mengerahkan segenap waktu dan pikirannya selama ini, hanya untuk menjaga nama baik kedua orang tuanya yang telah tiada.


"Sekali lagi, terima kasih Pa, untuk segala pengertiannya," ucap Rea lagi, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil.


Rain mengajak Rea ke pantai. Dia membelikan gadis itu sepasang sandal jepit. Pagi hari di pantai itu masih tampak sepi. Sehingga Rain dapat leluasa berbicara dengan Rea.


"Ngapain ke sini, deh?" tanya Rea.


"Main air," jawab Rain singkat.


Rea mencebik dan duduk di bebatuan pinggir laut. "Tau gitu, gue bawa baju ganti,"


"Nanti beli aja," kata Rain lagi dengan santai. "Tapi, aneh juga yah, ke pantai pake blazer. Hahaha!"


"Ya lo yang bikin gue jadi aneh. Lagian mau ngapain, sih, ngajakin gue ke sini?" tanya Rea.


Rain menatap gadis itu dengan tajam. "Ngelepas rindu,"


Sontak saja, wajah Rea kembali memerah. Bahkan rasanya ingin sekali dia menyembunyikan wajahnya entah di mana saat itu. "K-, kenapa selalu blak-blakan, sih? Gue cewek tau, punya perasaan juga!"


"Gimana hari-hari lo selama 2 tahun ini? Lancar, Re?" tanya Rain. Dia mengajak Rea untuk duduk dan memesan makanan yang berada di restoran dekat pantai itu.


"Bokap treatment gue kayak bocah TK! Sumpah!" kata Rain meyakinkan. Dia melihat wajah Rea yang menyangsingkan ucapannya saat ini dan begitu dia bersumpah, Rea pun tertawa.


"Hahaha! Lo, sih, bandel banget jadi anak!" kata Rea menyeka air matanya yang keluar.


Rain tertunduk dan tersipu. Dia mengakui kalau sebelum ini dia memang bertingkah layaknya seorang anak TK. Namun, dia berpikir semua yang dia lakukan itu mempunyai alasan. Rain kesepian. Kakak dan ayahnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sedangkan dia hanya butuh teman untuk bicara dan memperhatikannya.


Bergabung dengan klub motor juga hanya untuk menghabiskan waktu luang. Tidak ada keinginan untuk berkuasa atau bertindak layaknya seorang jagoan atau pemimpin. Entah sejak kapan persaingan antara dirinya dan Archie di mulai. Dia pun tak tau dan tak ingat apa yang menyebabkan mereka berdua menjadi seperti seorang musuh.


Dua tahun lalu, Rain sudah bertekad untuk menjauh dari dunia motor dan dia ingin menjadi pria yang lebih baik, terutama untuk Rea. Itu sebabnya, dia menuruti segala hal yang diminta oleh ayahnya.


"Oh, lo ngambil jurusan yang di mau-in sama bokap? Kalo lo sendiri maunya apa?" tanya Rea. Dalam hati dia mengagumi pria yang kini tampak lebih rapi itu. Biasanya Rain berpenampilan berantakan dengan celana robek-robek dan rambut gondrongnya yang selalu acak-acakan.


Sejak mereka bertemu kemarin, Rea merasakan Rain jauh lebih tenang dan dia tampak dewasa. Karena itulah jantung Rea dalam kondisi tidak aman sejak semalam. Bayang-bayang Rain seakan menghantui dirinya seiring dengan bunyi detak jantungnya yang tak kunjung melambat.


Rain mengangkat kedua bahunya. "Gue ngga tau minat gue ke mana. Yang gue mau cuma satu, sih,"


"Apa itu?" tanya Rea lagi.


Jawaban Rain tertunda karena makanan yang mereka pesan sudah tiba. "Makan dulu, deh. Gue laper! Daripada gue salah ngomong, ya, 'kan? Hehehe! Met makan, Re,"


Rea memberengutkan bibirnya kecewa. "Hmmm, met makan juga!"


Mereka makan sambil membicarakan bermacam-macam hal dan Rain masih menghindari pertanyaan Rea yang terus menuntut jawaban darinya.


"Hahaha, lo kepo banget, sih, Re?" goda Rain tertawa.


Rea mengalihkan wajahnya dengan kesal. "Ya, 'kan gue udah terlanjur pengen tau! Lagian lo pake ngomong, 'kan jadi penasaran!"


"Pengen tau atau pengen tau banget?" tanya Rain. "Tapi, lo emang ngga peka banget, ya!"


"Apaan, sih?" tanya Rea semakin kesal.


Yang ada di benak Rain saat ini hanya satu. "Jawaban lo untuk kakak gue apa? Gue boleh tau ngga?"


"Kenapa? Tanya aja bokap! Bokap lo juga tadi nanyain gue. Terus, jawaban lo apa yang tadi gue tanyain?" desak Rea ganti bertanya.


Rain berdeham kencang sampai dia terbatuk-batuk. "Ehem! Uhuk! Uhuk! Berarti lo pengen tau banget, ya? Hehehe,"


"Iya! Makanya apaan?" tanya Rea kesal.


Rain menatap kedua manik gadis itu dan menguncinya. "Pacaran sama gue yuk, Re! Mau ngga?"


...----------------...