
Pagi itu di kediaman Luther tampak damai dan tenang. Tidak ada suara cacian atau makian yang keluar dari salah satu mulut anak-anaknya atau suara pukulan atau suara-suara lainnya. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berdenting mengenai dasar piring, sambil sesekali penghuni rumah itu mengobrol singkat.
"Kak, tolong susu," ucap Rea pada Ken. Begitu Ken mengoper kotak susu cokelat yang sudah berembun kepadanya, gadis itu mengucapkan terima kasih dan menuang susu itu ke dalam gelas.
"Re, sereal di kulkas, dong, tolong ambilin," pinta Rain dengan sopan. Sama seperti Rea, setelah dia menerima kotak sereal, dia mengucapkan terima kasih dan melanjutkan sarapan pagi itu dengan tenang.
Jacob merasakan ada sesuatu yang aneh dari tenangnya keadaan rumah itu. Bahkan dia dapat mendengar suara dengung nyamuk di atas kepalanya. "Kalian ngga lagi sakit gigi atau sariawan, 'kan?"
Ketiga anaknya memandangnya dan menggelengkan kepala mereka, lalu dengan kompak melanjutkan sarapan mereka kembali sambil fokus dengan ponsel masing-masing.
Tak beberapa lama kemudian, Rea sudah menyelesaikan makannya dan dia segera beranjak dari kursi makan. "Pa, Rea jalan duluan, yah,"
Sontak saja, kedua putra Luther mengikuti jejak Rea itu. Mereka berdiri dan berpamitan kepada Jacob. "Kalian ini pada kenapa, sih? Kemarin pukul-pukulan, sekarang diem-dieman. Padahal Papa pikir, kalian udah baikan,"
"Emang udah baikan kok, Pa. Cuma, 'kan ngga bisa langsung kayak biasa lagi. Aku jalan," ucap Ken. Setelah berpamitan, dia berjalan keluar tanpa mengejar Rea. Tidak seperti biasanya, dia selalu mengejar gadis itu dan menawarinya untuk berangkat bersama.
Begitu pula dengan Rain, dia mendahului kakaknya, tetapi tidak berusaha untuk menyusul Rea. Bahkan, dia memberikan tumpangan kepada Ken karena mobil Ken masih di bengkel.
Jacob mengerenyitkan keningnya dan berusaha mencari tau apa yang terjadi dengan ketiga anaknya tersebut. Namun, setelah tiga puluh menit, dia tampak menyerah dan menghembuskan napasnya lelah. "Sudahlah, mereka sudah dewasa,"
Di kantor, pagi Rea berlalu dengan damai. Begitu pula dengan siang hari. Setelah pagi, dia harus menandatangani beberapa dokumen dan berbicara dengan petinggi dari perusahaan lain, selebihnya waktu Rea cukup santai untuk berbicara dengan Lizzy.
"Jadi, mereka berdua niy lagi kayak masa tenang?" tanya Lizzy.
Rea mengangguk. "Yup. Mungkin udah maaf-maafan. Kemarin gue juga jalan sama lo, jadi ngga paham apa yang terjadi,"
"So? Lo kesepian sekarang?" tanya Lizzy menahan tawa.
"Nggalah! Gue berharap mereka baik-baik aja, Zy. Udah, ah, males banget gue ngomong sama lo!" ucap Rea sambil melengos pergi.
Gadis itu ingin tau apa yang terjadi di antara Rain dan Ken setelah mereka nyaris saling membunuh di pagi sebelumnya. Dia pun ingin meminta maaf kepada mereka berdua karena telah membuat suasana tidak kondusif karena dia tidak kunjung menjawab pernyataan cinta mereka.
Maka siang itu, sebelum istirahat siang selesai, Rea pergi ke ruangan Ken untuk meluruskan segalanya. Setelah menghela napas panjang, Rea mengetuk pintu ruangan kerja Ken. "Kak,"
Ken mendongakkan wajah ke arahnya. "Hei, masuklah,"
Dengan langkah ragu, Rea pun masuk ke dalam. "Gimana kabar lo, Kak?"
"Hahaha! Kenapa nanya kabar? Udah kayak orang jauh aja. 'Kan ketemu tiap hari di rumah," jawab Ken sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Rea semakin sungkan, dia ikut tersenyum untuk gurauan Ken. "Maksud gue setelah kemarin itu. Luka lo udah baikan belum?"
Ken mengarahkan tangan Rea ke luka lebam di wajahnya, kemudian dia menggenggam tangan itu dan mengecupnya lembut. "Gue udah baik-baik aja, tapi hati gue belum baik-baik aja, Re. Gimana, dong?"
Rea menarik tangannya dari genggaman Ken dan tersenyum kembali. Inilah yang dia takutkan, keharusan untuk menjawab pernyataan cinta!
"Ehem! Masalah itu, gue mau minta maaf. Beribu-ribu maaf, gue ngga bisa nerima cinta lo, Kak. Makasih banget atas cinta yang udah lo kasih, tapi gue belum bisa," jawab Rea tertunduk. Entah kenapa ingin sekali rasanya dia menangis saat itu.
"Ngga bisa atau belum bisa? Itu dua makna yang artinya beda loh, Re," ujar Ken serius. "Kalo lo bilang lo ngga bisa nerima gue, gue akan mundur. Tapi, kalo lo bilang lo belum bisa terima gue, gue akan terus maju sampe lo bilang iya,"
Rea memainkan jari jemarinya menjadi satu tautan rumit. "Mmm, ngga bisa maksud gue,"
Ken melepaskan kacamatanya dan memandang tajam Rea dengan kedua manik birunya. "Jadi, sama sekali ngga ada kesempatan buat gue untuk masuk ke dalam hidup lo?"
"Ini loh yang bikin gue kesel! Gue tuh ngga suka dipojokin gini, Kak. Gimana ya ngomongnya biar lo ngga sakit hati tapi paham? Ah, serba salah jadinya!" tukas Rea yang segera saja meluapkan kekesalannya yang telah dia pendam beberapa hari kemarin.
Melihat reaksi Rea, Ken pun tak bisa lagi menahan tawanya. Walaupun saat ini hatinya sakit karena gadis itu tidak menerima cintanya, tetapi dia ingin menikmati waktu bersama dengan Rea. Kapan pun itu.
"Gue paham dan gue ngga akan maksa lo, kok. As long as you happy, I feel happy too," ucap Ken bijaksana.
Tanpa menunggu, Ken menghampiri Rea dan memeluk gadis itu. Dia teringat cerita Rain yang mengatakan tentang respon Rea saat adiknya itu memulai kejadian dewasa di pantai dan Ken tersenyum saat membayangkan adegan itu.
Setelah selesai dengan Ken, Rea merasa cukup lega. Dia masih merasa ingin menangis karena ada ketakutan sendiri di hatinya. Dia takut kalau hubungan persaudaraan mereka akan berubah begitu Rea menolak pernyataan cinta Ken.
"Semoga ngga!" hibur Lizzy saat sahabatnya itu menceritakan tentang kegalauan hatinya.
"Tapi, gue egois banget ngga sih, Zy? Gue yang nolak, gue juga yang ngga mau jauh," tanya Rea.
Lizzy mengerutkan keningnya. "Hmmm, wajar aja, sih. Selama ini lo sendirian, siapa lagi coba yang bisa lo anggep sebagai keluarga kalo bukan mereka,"
Jawaban Lizzy saat itu sanggup menenangkan hati Rea. Gadis itu pun mengangguk dan mencoba untuk mengerti lebih dalam lagi tentang apa yang dia inginkan saat ini. "Sekarang si Hujan. Doain gue,"
Lizzy mengacungkan kedua ibu jarinya dan memberikan semangat kepada Rea. Dia memperhatikan sahabatnya itu masuk ke dalam ruangan Rain yang memang tidak begitu jauh dari ruangan kerja Ken dan Rea.
"Rain, ini gue," kata Rea dari balik pintu.
Timbul niat iseng pada Rain sekaligus dia ingin membalas rasa kesalnya kepada Rea karena gadis itu telah menggantungnya selama beberapa minggu. "Gue siapa?"
"Ck! Rea!" jawab Rea tak sabar.
"Rea siapa, yah? Rea Martin? Mirea? Rea siapa?" tanya Rain lagi tanpa membukakan pintu untuk gadis yang wajahnya sudah merona merah itu.
Rea menghela napas kesal. "Iih, Rain! Ini gue!"
"Ya lo siapa? Gue ngga bukain pintu untuk orang yang ngga gue kenal! Nama Rea banyak tau! Rea mana, niy?" tanya Rain, kini dia sudah berada di belakang pintu sambil sesekali mengintip dari celah kaca yang ada di pintu itu.
"Marea Skylar Johnson! Puas lo?" jawab Rea ketus.
Rain kembali tersenyum. "Oh, Rea yang gantungin gue? Padahal habis enak-enak, eh, malah kabur. Mau ngapain ke sini Rea Johnson?"
"Minta maap!" jawab Rea singkat. Dia menatap tajam ke arah Lizzy yang melihatnya sambil terkikik dari kejauhan.
Jatuh sudah harga diri dan wibawa seorang Rea hari itu. Sekarang, hampir seluruh isi kantor menyaksikan dia mengemis di depan pintu ruangan Rain.
"Ngga ngasih jawaban?" desak Rain, hatinya mulai sedikit iba saat melihat wajah memelas gadis itu. "Ya udah, mana maafnya,"
Rain kembali mengintip Rea dari celah kaca pintu. "Mana minta maafnya, Re?"
"Maaf, gue udah bikin lo bingung. Gue malu karena kejadian itu. Sorry," jawab Rea lagi.
"So?" desak Rain. "Pertanyaan gue, apa jawabannya?"
Rea terdiam sesaat. Kali ini, dia membiarkan hatinya yang bersuara. "Ya udah, gue terima,"
Rain membuka pintu ruangannya dan menatap gadis yang wajahnya sudah sangat merah itu. Di sekitar mereka, para karyawan saling berpegangan tangan dan menyaksikan kejadian tersebut. "Terima apa? Suara lo kecil banget, gue ngga denger,"
"Gue terima lo jadi cowok gue! Udah, ah!" kata Rea berbalik pergi.
Namun Rain menahan tangannya, mengangkat tubuh kecil Rea, dan memagut bibir gadis itu sambil tersenyum. "Butuh waktu lama banget buat bikin lo sadar sama perasaan lo sendiri! Apa besok kalo gue ngajak lo nikah, lo nunggu gue lompat dulu dari gedung baru lo percaya, kalo gue sungguh-sungguh sayang sama lo?"
Rea menggelengkan kepalanya dan semakin membenamkan dirinya dalam pagutan dan dekapan pemuda yang dia cintai itu.
...----------------...