
Rea segera masuk ke dalam kamarnya tanpa berpamitan dengan Ken. Kemudian, dia melompat ke atas kasur dan berteriak di dalam bantalnya. "Rea bodoh! Bodoh banget, sih lo, Re!"
Tak lama, gadis itu mendengar suara motor dan dia segera berlari menuju jendela untuk memastikan apakah Rain yang mengendarai motor malam-malam? Hatinya mencelos saat tau, Rain pergi dengan motornya.
Semalaman itu, Rea tidak dapat tidur. Matanya terus terjaga dan rasa kantuknya hilang. Dia mengambil ponselnya, hendak menghubungi Lizzy. Namun, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Rea, ini gue. Boleh masuk, ngga?" tanya orang itu.
Rea membukakan pintu, "Kak Ken, masuk, Kak,"
"Kok belum tidur?" tanya Ken sambil menutup pintu dengan perlahan.
Rea mengambil bantal sofa dan duduk di bean bag yang terdapat di sisi sofa tempat Ken duduk. "Belum, Kak. Lagi online tadi sama Lizzy eh Lizzy-nya ketiduran. Lo sendiri kenapa belum tidur?"
Ken nampak salah tingkah. Dia mengusap-usap kedua tangannya untuk melepaskan rasa gugup yang sedari tadi menghantuinya. "Ehm, mau nanya sesuatu, sih,"
"Apa?" tanya Rea. Gadis itu sudah dapat menduga apa yang akan Ken tanyakan kepadanya. Tentang apa yang tadi dibicarakan oleh dirinya dan Rain.
"Lo ada hubungan apa sama Rain? Maksud gue, emang lo berdua udah ngapain? Eh, maksudnya, apa, ... Gimana ya ngomongnya, ... Maaf kalo lo tersinggung," tanya Ken dengan wajah merona.
Bingo!
Tebakan Rea benar. Walaupun sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Ken, tetapi Rea tidak mempersiapkan jawaban atas pertanyaan Ken itu.
"Kalo lo ngga mau jawab juga ngga apa-apa kok, Re. Setiap orang pasti punya privasi, 'kan?" ucap Ken lagi.
Tujuan Ken malam itu tak hanya bertanya perihal hubungan Rea dengan Rain, dia juga ingin bertanya bagaimana perasaan Rea kepadanya. Pemuda itu ingat betul kalau Rain juga tadi meminta jawaban yang sama atas pernyataan cinta yang mungkin sudah dia ungkapkan kepada Rea.
Rea menghembuskan napasnya. "Sesuatu yang terjadi di antara gue sama Rain. Dan maaf banget, gue nggak bisa ceritain ini ke lo, Kak. Kayak yang tadi lo bilang, ini ranah pribadi gue,"
"Oke, gue hargai itu. Yang kedua, ini sedikit agak berat. Lo masih inget gue nembak lo pagi-pagi? Sehari setelah Rain balik?" tanya Ken.
Hati Rea mencelos, dia lupa! Dengan wajah penuh permohonan maaf, Rea menggelengkan kepalanya. "Sorry banget, Kak. Gue lupa,"
Ken tersenyum pahit dan mencoba mengerti. Setelah dia mengungkapkan cintanya pada Rea, gadis itu kemudian pergi bersama adiknya. Mungkin mereka melakukan sesuatu yang asik, sehingga lupa dengan pernyataan cinta dari Ken.
"Kalo sekarang gue minta jawaban, lo bisa jawab?" tanya Ken. "Udah lama banget gue suka sama lo, Re. Gue udah ngerencanain berbagai macam cara untuk nembak lo, tapi ada aja gangguannya sampe akhirnya, lo mutusin untuk ngelepas perjanjian nikah itu. Gue kacau, tapi gue bangkit lagi sampe kita kerja bareng dan gue nyusun keberanian gue lagi untuk nembak lo. Tapi malah kayak gitu. Wajarlah kalo lo lupa," kata Ken dengan getir.
"Ngga gitu, Kak. Aduuh, gue lupa bukan karena itu. Gue sangat sangat menghargai semua rasa yang lo kasih untuk gue. Tapi, gue belum ada kepikiran untuk jalin sebuah komitmen sama siapapun," jawab Rea.
Patah sudah hati Ken mendengar jawaban Rea. "Termasuk Rain?"
Rea terdiam. Mungkin Rain pengecualian baginya atau mungkin, dia menunggu hatinya terbuka lebar untuk pria itu. "Kalo Rain, gue juga ngga tau akan gimana ke depannya. Gue bingung, Kak. Sumpah!"
Ken hanya bisa menganggukkan kepalanya dan karena hatinya kacau dan berantakan malam itu, Ken pun berpamitan. Dia mengecup pucuk kepala Rea saat dia beranjak dari sofa. "Tidur sana lo, udah malam. Maap ganggu. Met istirahat, Re,"
Setelah Ken menutup pintu, Rea kembali membenamkan wajahnya di bantal dan mengutuk dirinya sendiri. "Rea Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kesel banget gue sama lo, Re!"
Menjelang pagi, Rea baru tertidur dan kembali bangun karena mendengar telepon genggamnya berdering. Dia melihat nama Lizzy di layar ponselnya.
("Tadi malam gue udah tidur, sorry. Kenapa?") tanya Lizzy balik bertanya.
"Main, yuk! Kosongin dulu semua jadwal gue hari ini, bisa ngga?" tanya Rea lagi.
("Ngga ada apa-apaan juga , sih, hari ini. Lo mau izin sakit atau gimana?") tanya Lizzy, suaranya terdengar khawatir.
"Apa aja. Gue lagi pengen sendiri," jawab Rea, tak lama dia mengakhiri pembicaraannya dengan Lizzy.
Setelah menguatkan hati, Rea keluar dari kamarnya dan anehnya, pagi itu tidak ada siapa pun di meja makan selain Jacob.
"Pagi, Pa. Pada ke mana?" tanya Rea. Dia menuang susu cokelat hangat di mug-nya.
Jacob tampak kesal sekaligus bingung. "Pagi, Rea. Entahlah! Rain ngga balik dan Ken udah jalan pagi-pagi sekali dengan sepedanya. Mobilnya penyok, Papa ngga tau kenapa,"
Rea menunduk dan tiba-tiba saja air matanya mengalir. "Itu karena Rea, Pa. Maaf,"
Kedua alis Jacob saling bertautan. "Kamu? Emang kuat bikin mobil penyok gitu?"
"Itu Rain dan Kak Ken, mereka ribut tadi malam, Pa, ...." kata-kata yang sudah lama telah ditahannya kini mengalir dengan deras dari mulur gadis itu. Tidak ada yang ditutupi, tidak ada lagi yang dia sembunyikan, kecuali malam saat dia melakukan hal terlarang itu bersama Rain. Rea seperti anak kecil yang meminta maaf karena ketahuan melakukan kesalahan.
"Maaf," jawab Rea terisak-isak. Dia merasa sedikit lega sekarang.
Jacob tersenyum sambil membelai punggung tangan Rea dengan sayang. "Papa jadi kayak punya anak gadis. Ternyata begini rasanya, hehehe. Terima kasih udah curhat sama Papa. Tapi balik lagi, semua keputusan ada di tanganmu, Rea. Papa akan dukung apa pun itu. Anak-anak Papa sudah beranjak dewasa, jadi Papa yakin, mereka akan menerima dengan besar hati apa pun keputusanmu,"
Rea menyeka air matanya dan mengangguk. "Makasih ya, Pa. Rea jadi lega sekarang,"
Sementara itu, Rain sudah dalam perjalanannya kembali. Dia akan memaksa Rea untuk menjawab apa alasan dia menjauh darinya.
Begitu dia memasuki komplek perumahannya, dia bertemu dengan Ken yang sedang bersepeda. Rain memblokir jalan kakaknya dan segera turun dari mobilnya. "Turun lo!"
"Lo apa-apaan, sih! Harusnya gue yang marah ke lo, ini kok kebalik! Mobil gue penyok, ganti!" tukas Ken dengan tatapan tajam. Saat ini, pemuda itu pun sedang ingin melampiaskan rasa kesalnya pada adiknya yang selalu bertingkah menyebalkan itu.
Tanpa peringatan dan tanpa aba-aba, Rain melayangkan tinjunya ke wajah tampan Ken. Hantaman pertama membuat Ken jatuh terjerembab. "Lo yang bikin Rea bingung! Lo ngapain pake deket-deketin dia? Jawab!"
Ken tak diam saja, dia membalas tinju adiknya dan mendaratkan tinju itu ke wajah Rain. "Lo yang harusnya mikir! Lo ngapain sama dia, Brengsek! Lo ngerusak anak orang!"
"Dia juga mau, Brengsek! Kalo dia ngga mau, gue juga akan berhenti! Dia yang narik gue untuk nerusin! Aarrgghh, Sialan!" tukas Rain menghantamkan tinjunya kembali ke wajah Ken..
Seketika itu juga, jalanan itu menjadi ring tinju dengan mereka berdua menjadi atlitnya. Seorang pelayan Luther yang melihat kejadian itu, segera berlari memberitahukan kepada tuannya. "Tuan! Gawat, Tuan! Gawat!"
"Gawat apa, Bibi? Tenang dulu!" tanya Jacob, wajahnya ikut panik melihat pelayannya panik.
"Tuan Rain dan Tuan Ken, berantem di jalan! Mereka pukul-pukulan! Ayo Tuan, cepet tolongin!" tukas pelayan itu.
...----------------...