MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
09 : dia terus memelukku!



Aku menghampiri abang yang sedang berdiri beberapa meter dari bibir pantai, ternyata ada banyak lampu yang mengisi kegelapan malam. Jika aku melangkah semakin dekat, ternyata sepi pun tidak kerasa, karena ada beberapa pasangan dan juga keluarga yang sepertinya tengah berpiknik malam disini.


Ia mengibaskan tangannya, memberikanku instruksi untuk mendekat kearahnya, ia tampak berbicara dengan seseorang, dan ternyata orang itulah yang menyewakan tikar pantai untuk digunakan pengunjung.


“Abang, bekal nya hanya ada satu.” rutukku lirih, ia mengendikkan bahu acuh, lalu segera mengambil posisi duduk. Aku duduk disebelahnya dengan kesal, sudah pasti setelah ini ia akan membiarkanku untuk menjadi penonton saja, diacara nya memakan bekalku.


“Jangan sering marah-marah Aleaa, sekarang kau yang lebih sering mengaturku, padahal aku ini bos mu!” gertaknya meledekku, dengan raut wajah yang menyebalkan. Ku tendang kakiku asal, walau tak menimbulkan apa-apa.


“Jingin siring mirih-mirih, iki ini biss mii! ” bibirku bergoyang membalas ledekkan nya, kulihat matanya melotot karena aksi bibirku yang kurang sopan ini telah meniru ucapan nya.


Ia menatapku tajam, kedua kakiku berselonjor lurus dengan nyaman, tanganku dengan kesal menaruh box itu dengan sedikit keras. Ia menggerutu pelan, ia miringkan posisi duduknya menjadi sedikit menyerong.


“Apa?!” seru ku bertanya mendapati dirinya yang menatapku dan bekal secara bergantian.


Abang mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa senti meter, ingin rasanya kucubit bibir itu dengan gemas, bibir yang selalu mengeluarkan segala perintah tanpa bisa dibantah, mataku membulat saat ia mendekatiku bersamaan dengan bekal diatas tikar.


“Suapin.” pintanya menaik turunkan kedua alisnya menggodaku, aku mencelos malas, sudah tidak akan mendapatkan makanan, disuruh menyuapi bayi besar seperti ini juga lagi.


Aku meraih bekal itu greget, bibirku bergumam banyak sekali keluh kesah, akhirnya kusuapkan nasi beserta potongan sosis yang sudah kupotong kecil-kecil ke mulutnya, ia menerima suapan ku dengan lahap.


“Tadi aja enggak mau dibawain bekel, sekarang malah kamu kan yang makan bekal nya.” cercah ku sebal didalam hati, ia masih menikmati suapan demi suapan, hingga tanpa ku sadari, jarak kami sangat dekat, jika aku meleyangkan suapan, wajahnya akan mencodong maju menerima.


Saat setelah lima suapan sudah masuk, ia menjadi berhenti mengunyah, sekarang tangannya beralih memegang bekal ku, ku alihkan wajahku ingin menikmati pandangan tepi pantai saja, mungkin ia tidak menikmati suapan ku, hingga akhinya memilih untuk makan dengan tangannya sendiri.


Aku terpatung, saat bibirnya terbuka layaknya seorang ayah yang memberikan anaknya makanan, walau aku diam, aku tetap membuka bibirku menerima suapan nya, awalnya aku canggung, sampai akhirnya aku mulai terbiasa menerima suapan demi suapan.


“Aaaa.” bibirnya kembali terbuka lagi, aku mengangguk sambil menerima suapan nya. Wajahnya yang tampan, menjadi nilai tambahan untuk kekuasaan yang dimiliki pria dihadapanku kini.


“Kau mulai mencintai ku kan?” tanya nya dengan wajah mengejek. Merasa terganggu, tenggorokkan ku seolah tak terima, hingga aku tersedak.


Uhukk.


Uhukk.


Kulihat abang panik, ia segera memanggil pria yang tadi menyewa tikar, ia menepuk-nepuk punggungku dengan panik, siapa suruh ia bertanya hal segamblang itu, mataku memerah mengeluarkan cairan bening, hingga saatnya minuman berisi air putih itu datang.


“Cepat minum Aleaa! habiskan! habiskan!” seru nya cepat, sambil membantuku untuk meminum dengan tangannya yang memegang badan gelas.


Bibirku merenggut kesal, saat aku sudah melewati tahap tersedak ku itu. Gelas sudah berada diatas tikar, kupukul pundak nya sebal, ia tampak tak meringis sedikitpun, justru ia terkekeh geli.


“Hahahaha, hanya pertanyaan seperti itu, bisa membuatmu keselek, Alea?” tanya nya menggoda, membuat perasaanku jengkel setengah mati.


Aku tidak suka kalau dia menyepelekan hal itu, hal itu sangat sensitif dan berharga menurutku. Menyadari keterdiamanku, dia menjadi meringis. Tangannya tiba-tiba saja menyentuh pundakku, ia merangkul pundakku, lalu menariknya hingga kepalaku bersender di dadanya.


Aku tidak berusaha menepis, aku masih diam berusaha mencerna, lagipula aku masih kesal dengan dirinya. Hingga larutnya malam mulai menemani kami, ia tidak berbicara apapun, namun kepalanya mulai bersender diatas pucuk kepalaku yang bersender di dada nya.