
Ia masih memeluk punggungku dengan rangkulan tangannya, perlahan mataku mulai sayup terpejam karena semilir angin pantai yang menerpa. Aku mulai memejamkan mata setelah dirasa kantuk mulai menyerang, walau aku tahu ini akan salah jika aku tertidur masih dalam dekapan abang. Aku tetap saja tertidur, karena merasakan rasa nyaman dan aman jika berada di dekatnya.
“Kita akan saling mencintai Alea..”
Aku merasakan bisikkan kalimat dalam telingaku, namun aku tak menyadarinya, aku pikir itu adalah bayang dalam mimpiku. Kesadaranku mulai menghilang, dan akupun semakin rapat memejamkan mata didalam dekapannya. Hingga hingar bingar suara pantai telah redup bersamaan pulasnya tidurku.
Aku tidak tahu apa yang dia lakukan saat ini, namun kesadaranku mulai sedikit bangun, karena dekapannya yang bergerak semakin erat, itu hanya terjadi sebentar saja, karena pulasnya tidurku kembali hadir, mengantarkanku pada kehangatan tubuhnya.
...•••...
Mataku menyeringit pelan, sinar matahari langsung menyambut lewat celah hordeng yang menjulang tinggi. Tubuhku pegal sekali, merasakan berat disekujur tubuh. Aku ingin beranjak bangun untuk mencari suamiku yang pasti sudah menghilang lagi dipagi hari, namun saat ingin beranjak, rasanya berat sekali.
Mataku membeku saat melirik kebawah, mendapati tangan yang melingkar erat di perut ku, kakiku juga tak bisa di gerakkan, karena di kurung oleh kakinya yang berada diatas pahaku, jadilah badanku benar-benar terkurung oleh badannya yang besar.
Aku mendongak, mendapati dirinya yang masih tertidur pulas diatas pucuk kepalaku. Dagu nya yang berada diatas ubun-ubun, membuatku benar-benar tak bisa bergerak samasekali.
Dengan geram aku menggerakan tubuhkuh agar terlepas. Namun semakin aku bergerak, semakin dirinya mengeratkan pelukannya. Aku masih berusaha untuk keluar dari kukungan abang, namun yang terjadi hanyalah sia-sia. Kucoba untuk berdiam sejenak, lalu aku mulai nikmati dekapannya. Tanganku mengusap lengannya yang berbulu.
“Abang... lepas!” tekan ku sebal. Kali ini ia benar melepaskannya, akupun dengan kesal berdiri dari kasur, namun baru saja aku berdiri, tubuhku kembali terjatuh diatas kasur, dengan posisi menghadapnya.
Ku dorong dadanya, yang ada abang malah semakin mengurungku dengan mudah, aku menghembuskan nafas pasrah, percuma juga menyerang badan besarnya ini.
“Enggak enak sama mama kalo aku masih di kamar aja, Abang. Ini udah jam berapa coba.” seruku sebal, ia mencubit bibirku yang maju dengan jempol dan jari telunjuknya.
“Mamah pasti mengerti pengantin baru. Enggak usah ribet, Leaa.” balasnya acuh, walaupun aku tak terima dengan jawabannya, aku tetap mengangguk.
“Nyaman kan. ” tuturnya seolah membuktikan, aku mengangguk meng iya kan saja, memang benar nyaman kok. “Sepanjang malam kau yang memeluk ku Aleaa.. ” lanjutnya lagi dengan nada mengejek.
Sontak wajahku terangkat, namun aku tidak dapat melihat wajahnya, justru mataku hanya bisa melihat jakun nya yang naik turun, aku menggeleng keras sebagai jawaban, walau sebenarnya aku tidak tahu benar atau tidaknya.
“Tidak usah bohong deh, paling kau saja yang memelukku sepanjang malam!” bantahku sebal, tanpa sadar masih mempertahankan wajahku untuk tenggelam di dada nya.
“Bagaimana bisa aku memelukmu? tadi malam kau yang memaksaku untuk memelukmu!” lawan nya tak terima, aku pun mencubit perutnya.
“Enggak! Kalaupun aku yang memelukmu, pasti kau yang memaksaku agar memelukmu! Aku tahu abang, pasti kau malu mengakui nya!” cercah ku tertawa sumbang mengejeknya, ia menggeram pelan. Pasti ia kesal, aku yakin itu.
“Kau pikir tubuhmu yang seperti kurcaci ini enak dipeluk?! Tidak!” tekannya merenggangkan pelukan diantara kami agar wajahnya dan wajahku berhadapan, namun tangannya masih menekan pinggangku merapat.
“Badanku tidak seperti kurcaci tahu! Badan mu saja yang seperti raksaksa!” aku menjulurkan lidahku meledeknya.
“Oohhh jadi aku ini raksaksa di matamu?? Baikalah! Raksaksa ini akan menghabisi kurcaci kecil sepeti dirimu.” cercah nya mulai menggelitiki pinggangku, aku sontak terlonjak duduk, berusaha menghindarinya.
Ia semakin brutal saja menggelitiku, hingga nafasku mulai tersenggal-senggal karena kelelahan, aku terhempas masih diatas kasur, ia yang mulai mengerti aku kelelahan pun membiarkan aku mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Aku memejamkan mataku lelah, aku merasakan pergerakan diatas ranjang, kukira ia akan beranjak pergi untuk segera mandi, “Abang, aku dulu yang mandi..” pintaku tersenggal-senggal, masih menutup mata lelah.
Ia tak menjawab samasekali, justru hanya terdengar decitan ranjang, entah kenapa aku merasa gelap menutupi tubuhku, hingga akhirnya aku membuka mataku, dan terkejut mendapati wajahnya yang berhadapan tepat diatas wajahku.
“Mandi nya setelah kita basah saja, Aleaa. ” ujar nya sontak membuat mataku membulat. Basah? maksudnya apa? Dia akan menyiramku gitu?!