MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
14 : abang jahat sama aku!



Abang berdecak kesal, aku balikkan saja tubuhku ingin pergi ke kamar untuk menaruh tas kerja Abang yang ada di genggaman ku. Aku melirik kearah nya yang berjalan di belakang ku sambil bermain hp. Hufts, pasti sedang chattingan dengan wanita lain.


“Panas banget sih! ” rutukku berbohong, padahal udara nya sedang dingin, ditambah lagi ac yang menyala di setiap ruangan.


“Uuuhh tambah panas!” ujarku kesal, sambil melemparkan asal tas kerja itu diatas sofa, dia tidak menggubris samasekali rutukkan ku itu, yang ada ia semakin serius dengan ponsel nya.


“Auah! Kesel!” aku menghempaskan pantat ku diatas sofa, dia terlihat cekikikan dengan ponsel nya. saat aku membuang pandangan kebelakang, melihat pemandangan luar dari dalam kamar, dia mendekatiku dengan duduk di sampingku.


“Aleaa, bagusan yang mana? ” tanya nya menyodorkan layar ponsel yang menyala kearah ku.


Mataku membulat, ku pastikan detak jantungku sedang berdetak dengan sangat keras sekarang. Wajahku merah padam dengan bibir yang terkatup rapat, kedua tanganku mengepal marah, saat melihat layar ponsel yang menampakkan lingerie dengan berbagai macam gaya.


“ABAANG!!” Aku mendorong hingga ia terjangkit, dan berakhir terlentang diatas sofa besar.


Aku memukuli dada nya sebal, dengan kedua kakiku yang tanpa ku sadari sudah naik dan berada diantara celah kakinya yang terbuka lebar.


“Apaansih Alea!” geram nya berusaha menangkap tanganku yang masih memukuli dadanya bertubi-tubi.


“Abang jahat! Eggak tahu diri! Kalau mau selingkuh enggak usah ngasih unjuk! Ini pake pamer segala! Dasar bujang tua!” rengekku marah, sambil menarik-narik kemejanya geram.


Aku melihat nya tersenyum miring. Aku tahu, pasti habis ini ia akan menyeret ku keluar, namun baru saja aku ingin bangkit dari sisi nya, dia menarik pinggangku hingga tubuhku terhimpit diatas tubuhnya.


“Lepasinn! ” Seru ku kencang, aku terus menggerutu kesal dengan sikap nya yang selalu semena-mena terhadapku.


“Oh, jadi ceritanya Nyonya Aleaa Kusumo cemburu? ” tanya nya selalu dengan nada ejekan, wajahku langsung merah seketika, pertanyaan yang baru ia lemparkan membuatku menjadi berpikir dan malu secara bersamaan.


“Enggak.” Aku mengalihkan pandanganku, aku tarik tubuhku dengan keras, hingga akhirnya aku berhasil untuk bangun dari kukungan tubuhnya.


“Dasar playboy cap kadal! Bujang tidak laku! Kalau selingkuh kok di pamerin. Emang dia pikir keren? Bukannya keren, justru membuatku ingin muntah sekarang!” teriak ku dalam batin. Menggerutui Abang habis-habisan.


...★★★...


Makan malam sudah dimulai, aku duduk bersama Abang di sampingku, makan malam tidak se tegang sarapan pagi kemarin yang hanya terdiam saja, tapi sekarang dipenuhi dengan canda tawa.


Abang sangat sering menerima godaan-godaan dari Kakek Kusumo yang masih terlihat sangat sehat walau umurnya sudah menginjak angka enam puluh tahun. Aku dan para kaum perempuan seperti Nenek dan Ibu mertuaku, hanya tertawa menanggapi nya.


Sejenak aku melupakan fakta bahwa Abang sangatlah kaku, judes, galak, dan segala hal yang tidak baik. Selama tiga hari aku tinggal bersamanya, sudah banyak sekali hal yang terjadi.


“Ehm! ” deheman keras itu menghantam telingaku, aku langsung menoleh dan mendapati semuanya yang sedang menatapku serius.


“Kau kenapa sayang?” tanya ibu mertuaku khawatir, wajahku merona menahan malu karena ke-gep telah melamun diantara mereka.


“Enggak apa-apa, Bu. Aleaa cuman kelelahan aja..” jawabku dengan senyuman. Aku tidak sadar dengan ucapan yang ku lontarkan barusan dapat membuat semuanya menatap ku dengan senyuman menggoda.


Aku menyeringit bingung, apa ada yang salah dengan ucapanku? Aku melirik kearah Abang yang masih sibuk dengan makanan nya. Aku menggeram kesal dalam hati, karena ia yang selalu bersikap cuek terhadapku jika dihadapan keluarga.


“Abang!” rengek ku tanpa sadar, melupakan kehadiran mereka yang tengah menatapku dan Abang secara bergantian.


“Apa Adinda ku sayang?” mataku hampir saja melotot saat tiba-tiba ia memanggilku dengan manis seperti itu, aku langsung terhenyak mengingat keberadaanku yang sedang berada diantara anggota keluarga.


“Astaga Angga, kamu baru menikah tiga hari tapi sudah ganti panggilan aja. Dulu ayah sama ibu kamu aja enggak pernah ganti nama panggilan, kalau kamu engga lahir. Hahaha. ”