
“Kamu salah paham, Aleaa!”
“Abang tidak akan menikah lagi.”
“Apakah abang se bejat itu di matamu Aleaa?” tanya abang lirih. Wajahnya meredup, air mukanya menggelap. Walau nadanya mulai melunak. Aku meneguk ludahku kasar, dengan gemetar ku jawab pertanyaannya.
“Abang berbicara dengan wanita itu, saat aku sedang di sekap. Aku menunggu abang menolongku. Aku sangat senang saat tahu abang sudah menjemputku, tapi ternyata abang menghampiriku karena ingin bertemu wanita itu kan. Wanita yang gagal abang nikahi kemarin. ”
Ujarku lirih, penuh kesesakan. Abang menghela nafas, aku meremang saat ia mengecup keningku dalam, aku tidak tahu mengapa abang melakukan itu, padahal abang mencintai wanita lain,
dan berniat untuk menikahinya juga.
“Kamu salah paham, Sayangku. ”
Abang menghentikkan ucapannya, setelah melontarkan kalimat manis dengan nada yang sangat lembut.
“Abang tidak akan menikahinya. Karena abang telah terikat denganmu. Abang tidak mencintainya, karena abang hanya mencintaimu.”
Aku terdiam karena merasa aneh, aku belum siap mendengar kalimat itu keluar dari bibir abang. Antara percaya dan tidak percaya, abang memang benar mengatakan cintanya padaku. Aku seolah bermimpi di malam hari, aku benar-benar takjub mendengar hal itu.
“Benarkah?” aku memastikan lagi ucapannya, tubuhku terangkat saat ia mengambil posisi duduk bersila di atas kasur, otomatis membuatku sekarang berada diatas pangkuannya.
“Kenapa kau sangat tidak peka, Aleaa? kamu pikir sikap abang terlihat biasa di matamu? Abang memang tidak bisa romantis atau melakukan hal-hal manis. Maafkan abang Aleaa,” ucapannya terpotong saat aku menaruh jari telunjukku di atas bibirnya.
“Sstt.... Abang seperti ini saja, sudah membuatku klepek-klepek dengan abang! Bagaimana jika nanti abang romantis? Mungkin Aleaa akan dibuat pingsan. Apa abang tidak sadar kalau sikap abang selama ini telah membuat Aleaa jatuh cinta pada, Abang.”
Ujarku di akhiri gerutuan kesal padanya, abang sempat shock, namun akhirnya ia tersenyum lebar.
“Kenapa kau mengatakan bahwa abang akan menikah lagi?” tanya abang langsung membuatku menunduk dengan pipi yang bersemu merah, kurasakan cubitan kecil pada pipiku.
“Abang bilang saat itu. Aleaa tidak sabar ingin bertemu dengan abang, hingga akhirnya Aleaa keluar terlebih dahulu dari dalam gudang, lalu akhirnya Aleaa menemukan abang, tapi abang sedang bersama wanita itu. Abang bilang abang akan menikahinya, awalnya Aleaa tidak percaya, tapi Aleaa menemukan jejak kemerahan di leher abang. ”
Ujarku berupa cerocosan panjang lebar tanpa celah sedikitpun, aku tidak ingin keganjalan itu menghiasi perasaan ku terus, hingga akhirnya aku memilih jujur pada abang, atas hal yang aku lihat saat itu. Aku merasakan helaan nafas abang, mengenai keningku.
“Benarkah bang? Pasti benar ya. ” aku menunduk dalam, kedua mataku terpejam berusaha mencerna, walau abang memang tidak menjawabku, tapi melihat reaksi abang, membuat jawaban itu, seolah berkata iya.
Tangannya melingkar pada punggungku, ia mendekapku begitu erat, aku menyeruakkan wajahku dalam dada bidangnya yang terlapisi kaus hitam.
“Abang kenapa selalu membuat keputusan sendiri sih?” lirihku merasa kesal dan sedih disaat yang bersamaan.
“Abang sudah bilang, kamu salah paham sayang. Coline sudah tiada, mana mungkin abang menikahi wanita yang sudah tiada.”
Aku menegang. Tiada? Maksudnya apa?!
“Abang...” aku merinding seketika, abang mengangguk, ia menguraikan pelukan di antara kita, kurasakan telapak tangannya yang kasar mengusap pipiku lembut.
“Abang menembaknya. Tepat sebelum abang menemukanmu pingsan di dalam gudang. Maafkan abang, Aleaa. Abang takut kamu akan membenci abang setelah tahu bahwa abang telah membunuhnya. ”
“Aleaa, abang tidak ingin mencari pembelaan. Ini memang sudah seharusnya abang lakukan. Katakanlah abang kejam, tapi abang tidak akan pernah meloloskan orang yang telah menyakitimu, Sayang. ”
Aku terpatung begitu saja, namun seperkian detik kemudian, ku tarik tubuhnya kedalam pelukanku. Aku sangat memeluk erat abang.
“Mengapa abang melakukan hal itu hanya untuk Aleaa?” bisikku merasa haru sambil menatapnya dalam, serta merta kedua tanganku merengkuh rahangnya yang ditumbuhi cambang kasar.
“Karena abang mencintaimu. Abang sangat kalut saat tahu kau diculik, abang merasa bersalah atas kehilanganmu. Abang sangat takut jika kamu pergi meninggalkan abang.”
“Tapi kenapa abang menciumnya? kenapa ada tanda kemerahan di leher abang? ” tanyaku masih menyimpan rasa cemas yang berlebih, ia menghela nafas, kedua belah bibirnya kembali terbuka, namun sebelum ia berkata, ia sempat mencium pipiku.
“Untuk mengelabuinya sayang, masa seperti itu saja kau tidak tahu? Coline adalah wanita yang berbahaya. Ia bisa melakukan kejahatan apapun untuk meraih apa yang ingin ia miliki. Saat itu Coline memang mencumbu abang. Tapi abang bersumpah kalau abang tidak menyentuhnya duluan. Coline yang melakukannya, abang tidak menolak karena tahu Coline tidak waras kejiwaannya ” Jelas abang panjang lebar. Aku terkejut saat tahu bahwa Coline benar-benar gila.
“Maafkan Aleaa jika telah salah paham. Seharusnya Aleaa tidak menuduh abang yang tidak-tidak. Tapi bagaimana Aleaa tidak cemas jika memiliki suami seperti abang.” gerutuku tanpa sadar.
“Model Victoria Secret pun akan kalah dengan dirimu, Aleaa. Walau badanmu ini rata tapi tetap saja terlihat sexy di mata abang.” jawabnya enteng dengan wajah mesumnya.
“Tapi Aleaa takut abang, ”
“Ssstt. Abang hanya milikmu, dan kamu hanya milik abang.” bisiknya lirih dengan penuh tekanan, aku mengangguk cepat dengan semangat, hingga akhirnya aku menubruk tubuhnya hingga terlentang di bawahku.
“Aleaa sangat mencintai abang.” pekik ku girang karena merasa senang. Ia menggulingkan tubuh kami. Lalu setelah itu, ia kembali mencium pipiku, namun kali ini bertubi-tubi hingga membuatku kegelian.
“Sekarang waktunya tidur oke? ” ujar abang sambil mengusap pucuk kepalaku, aku mengangguk walau terasa berat, karena rasanya aku masih ingin bermanja ria bersamanya.
Abang beralih tidur di sampingku, kini tangannya menjadi bantalan kepalaku untuk tertidur. Sedangkan tangannya yang lain terlentang. Aku memiringkan tubuhku, lalu kupeluk perutnya yang kekar dengan ringan.
“Abang.”
Panggilku memecahkan keheningan, “Apa, Sayang?” wajahku kian tersipu lagi. Dia sangat hebat membuatku merasa senang.
Aku mengingat insiden lingerie malam itu, kain tipis yang kutemukan di dalam tas kerja abang, aku ingin bertanya hal itu, tapi aku takut kalau abang merasa terganggu akan pertanyaanku.
“Abang marah tidak? kalau Aleaa bertanya lagi?” cicitku berusaha merayunya walau diriku dilanda perasaan takut sekarang.
“Abang akan marah jika Aleaa tidak ingin berbagi perasaan dengan abang.” jawab abang sambil mencubit hidungku.
Aku terlonjak senang hingga memeluknya semakin erat, akhirnya kuberanikan diriku untuk bertanya.
“Mengapa abang membeli lingerie? Padahal saat itu abang menolak untuk melakukannya bersama, Leaa...” ujarku lesu, mengingat kejadian malam hari itu. Membuatku merasa sedih.
Aku mendongak menatapnya, namun aku hanya bisa melihat jakunnya saja, karena abang menatap atap-atap kamar.
“Kalau saat itu kamu tidak di culik, malam itu juga abang akan bercinta denganmu, Leaa. Abang ingin menggodamu saat tahu kau menyembunyikan lingerie yang abang beli, di dalam perutmu. Tapi pagi itu kau masih terlelap tidur. Dan abang harus cepat-cepat turun ke bawah.”
Jelasnya menghela nafas, pasrah?
Jadi, abang membeli lingerie itu untukku?! Oh astaga Leaa, bagaimana mungkin kau berburuk sangka pada abang sejauh ini...
Aku langsung beranjak naik ke atas tubuhnya, saat setelah abang ingin mematikan lampu tidur yang berada di atas nakas. Aku menahan kedua tangannya yang terlentang di atas seprai di kedua sisi tubuhnya. Lalu, kuterbitkan senyum nakal sambil menatap kedua bola matanya yang tampak terkejut.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Lakukanlah abang. ”
“Lakukan..” bisikku lirih sambil menciumi bagian dadanya yang bidang dan juga keras karena otot-ototnya.
...★★★...