
Aku menyeringit menyadarai bahwa sudah cukup waktuku untuk tertidur. Kubuka kedua kelopak mataku, lalu ku sapa atap-atap langit kamar dengan perasaan plong yang tak dapat ku deskripsikan. Rasanya seperti lepas, dan nyaman, karena ada seseorang yang masih setia memelukku dari samping.
Abang menaruh sisi wajahnya di atas dadaku, sesuai naluriah, ku usap saja rambutnya yang acak-acakan tak menentu. Lalu ku usap juga cambangnya yang sudah tercukur rapih pada malam setelah kita bercinta.
“Bangun abang.” ucapku berusaha menyadarkannya, hari ini bukan hari libur, dan abang harus bekerja.
“Enghh.” lenguh abang merasa terusik. Tak kubiarkan dia tidur lebih lama lagi, ku tarik saja pipinya kuat, dia meringis sakit, dan langsung memunggungi ku.
Aku menghela nafas, abang susah sekali di bangunkan sih, berbeda sekali dengan awal-awal kita baru menikah. Ia masih bangun tidur dengan sendirinya, lalu mandi tanpa harus aku suruh-suruh seperti ini.
“Abaang!” seruku sambil mengguncang kan pundaknya, aku beringsut mendekat, lalu kususupkan wajahku pada lehernya.
“Bangun abang ih!” rutukku merasa gemas, akan abang yang tidak bangun-bangun juga.
Abang menjauhkan wajahku dari pundaknya, dia kembali tertidur lagi. Mengabaikan protesan yang keluar dari bibirku. Ku lihat terdapat kantung mata di matanya, sontak aku mengingat kejadian semalam, saat ia terjaga memelukku.
Pantas saja abang menjadi kebo banget begini. Ini karena ia begadang menjagaku semalam. Otomatis mimpi buruk itu tampil lagi dalam otakku, namun hanya sepenggal-sepenggal saja, karena selebihnya aku lupa.
“Bangun abang..” kali aku aku mencoba lembut, dia membalikkan tubuhnya, lalu tangannya menarik tubuhku kembali jatuh kedalam pelukannya.
“Abang mengantuk Leaa, diam!” sentak abang menyusupkan wajahnya di atas pucuk kepalaku.
“Tapi kan abang harus bekerja.” ucapku mengingatkannya, dia masih terdiam tanpa peduli sama sekali.
“Abang bos nya. Bebas dong mau masuk kapan saja.” ucapnya santai, benar-benar santai, hingga aku ingin sekali mencubit bibirnya itu.
Akhirnya aku memilih diam saja, yang dikatakan abang memang benar kok, tapi jika yang mengatakannya abang, terdengar aneh di telingaku. Secara ia sangat di kenal dengan kedisiplinannya. Selama aku bekerja dengannya, abang selalu bersikap profesional.
Kami pun tertidur lagi, aku merasa abang memang butuh istirahat, karena ia pulang larut malam, semalam. Juga karena abang yang harus terjaga, karena mimpi burukku yang sangatlah seram. Aku menjadi bergidik ngeri mengingatnya.
...★★★...
...Author point of view....
Seorang pria paruh baya, tampak sangat marah melihat isi koran yang ia pegang. Ber kali-kali juga sang asisten memberikannya koran baru yang lain, namun isinya masih saja sama walau berbeda halaman. Tercetak jelas wajah anak pertamanya sedang beredar di mana-mana.
Pantas saja di sepanjang jalan ia menyusuri komplek untuk ber olahraga tadi pagi, banyak yang tampak sungkan dan terlihat tak biasa menatapnya. Namun ternyata itu semua karena koran yang sedang hangat-hangatnya di bicarakan pagi hari ini.
Pak Kusumo memegang dadanya yang terasa perih, ia memejamkan matanya erat, asistennya langsung mengambil aba-aba untuk segera membantu. Namun hadangan dari telapak tangan Pak Kusumo, langsung menghentikannya.
“Biarkan seperti ini.”
“Cepat antarkan saya pulang, batalkan seluruh pertemuan yang ada.”
“Baik Pak.”
Perjalanan di mobil hanya di hiasi oleh keheningan. Pak Kusumo sudah menelfon istrinya tentang kabar yang beredar, ia langsung segera melapor pada sang istri, karena tak ingin membuat Bu Kusumo terkejut secara tiba-tiba nantinya.
Disisi Lain,
Aleaa dan Angga sibuk tertawa di dalam kamar mandi, keduanya terlihat asik berada di bawah guyuran shower dengan Angga yang memeluk tubuh Aleaa dari belakang.
Ritual pagi seperti ini memang sering mereka lakukan, namun hanya sesekali saja jika Angga sedang tidak terburu-buru. Aleaa terus berbicara akan barang-barang yang ia ambil, sedangkan Angga hanya mendengarkan sambil sesekali menjahili istrinya.
“Abang. Ini namanya sabun! S a b u n. Sabun!” ujar Aleaa layaknya guru sambil menunjuk sabun cair yang sudah berada di atas telapak tangannya.
Angga terkekeh geli, “Semua orang pun tau kalau itu adalah sabun, Aleaa.” balas Angga sambil mengambil sabun cair itu.
“Fungsi sabun cair ini untuk membersihkan tubuh kita, agar terhindar dari kuman-kuman!” lanjut Aleaa lagi, seakan tidak peduli dengan rutukkan Angga tadi.
Selesai membersihkan diri, keduanya langsung turun untuk memulai sarapan, Angga sudah lengkap dengan pakaian formalnya, sedangkan Aleaa hanya memakai dress santai rumahan.
“Abang ini cepat sekali sih jalannya.” gerutu Aleaa saat Angga melangkahkan kakinya turun dari tangga melebihi dirinya.
“Tadi Leaa marah karena abang telat, sekarang Leaa marah juga karena abang cepat. Mau istri abang ini sebenarnya apa sih? ” ujar Angga sambil meraih pinggang istrinya. Menuntun istrinya untuk berjalan beriringan menuruni tangga bersamanya. Aleaa tersenyum senang.
...★★★...
Aleaa tersenyum pada Bu Kusumo yang hanya terdiam, Aleaa menyeringitkan dahinya bingung, ia melirik Nenek Kusumo yang juga hanya diam, tidak seperti biasanya. Pandangannya mengitar, melihat beberapa maid bagian dapur hanya menunduk, seperti biasanya. Namun entah kenapa Aleaa merasakan firasat tak enak, ia melirik Angga yang sedang menatapnya bingung.
“Leaa, ada yang salah?” tanya Angga menarik satu kursi makan, untuk di duduki Aleaa.
Aleaa segera terduduk, Bu Kusumo berada di hadapannya, jarak mereka terhalangi oleh meja, tentunya. Sedangkan nenek Kusumo berada di samping ibu mertuanya.
“Tidak ada abang.” jawab Aleaa menggeleng kecil sambil tersenyum. Angga mengangguk santai, ia fokus terhadap makanannya, namun melihat Aleaa yang hanya terdiam langsung membuat Angga menoleh seketika.
“Ada apa denganmu?” tanya Angga cemas, ia menjepit dagu Aleaa ringan, membawa tatapan mereka bertemu.
Aleaa tak kunjung menjawab, entah kenapa rasa khawatir tiba-tiba saja memenuhi hatinya. Belum sempat Angga ingin kembali bertanya, namun seruan dari luar membuat mereka tersentak kaget.
“ANGGA.”
Otomatis semuanya menoleh, apa lagi Angga yang namanya di panggil, langsung saja bangun dari duduknya. Menatap sang ayah, yang baru saja datang dari luar, dengan tatapan tajamnya. Aleaa meremas ujung jas Angga tanpa sadar, ia juga berdiri di samping suaminya.
...Author point of view off....