
Abang membuatku malu di depan keluarga, namun malu yang satu ini dapat membuat hatiku sangat berbunga-bunga sekarang. Abang sungguh manis, berbeda sekali dengan sosok nya yang dulu selalu membuat isi kepalaku pecah.
Saat ini aku sudah melupak kejadian beberapa saat lalu, saat ia meminta saranku untuk memilih lingerie yang cocok dilayar ponsel nya. Aku tidak peduli akan hal itu, seharusnya aku sebagai seorang istri harus bisa lebih giat lagi menarik suami kedalam pesonaku.
“Abang.” bisikku sambil bercermin mempermainkan rambut yang kupelintir layaknya gadis sexy yang ingin menghadapi malam pertama.
Malam pertama?! Huh, sudah basi.
Aku melirik pintu kamar mandi yang tertutup, abang baru membersihakn badannya setelah makan malam usai, dan sekarang aku bingung ingin melakukan apa. Aku bangkit dari dudukku, ada yang membuat rasa penasaranku menjadi muncul, saat melihat dua paper bag tipis yang terselip di tas kerjanya yang terbuka.
Aku melirik arah pintu kamar mandi. Masih tertutup rapat seperti semula. Aku mulai berani untuk membuka paper bag itu, aku selalu penasaran dengan apa yang dilakukan abang akhir-akhir ini, tanganku mulai mengambil tali paper bag, lalu kutarik keluar dari tas kerja.
“Semoga abang masih mandi... ” ujarku tanpa sadar mulai menaruh paper bag itu ke atas ranjang. Aku memastikan keadaan sekitar tertutup, aku juga kembali memastikan kondisi pintu kamar mandi.
Hingga...
Mataku membulat pasti, tanganku gemetar setelah habis melebarkan kain yang berbahan jaring-jaring untuk dibuka lebar. Bibirku sontak terbuka kaget, kedua tanganku sudah mengetatkan barang sensitif itu menjadi semakin lebar.
“Abaangg!!! ”
Aku menjerit tak terima, aku lempar lingerie itu ke atas ranjang dengan kesal, kakiku melangkah dengan begitu cepat, ku pukul-pukul asal pintu kamar mandi itu cukup keras dengan menggunakan tenaga.
“Abaanggg!!!”
“buka pintunya!”
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka, tanpa instruksi apapun, aku langsung menerobos masuk dengan cara mendorong dadanya yang basah karena air, aku mendongakkan wajahku kesal, melihat wajahnya yang kebingungan.
“Ada apa Aleaa?! biarkan aku memakai baju dulu!” titahnya berusaha melepaskan cengkramanku yang sudah berpindah di lengannya yang sangat keras.
“Enggak mau!” tolakku mentah-mentah, aku menggerutu kesal dengan penuh rasa kegemasan atas sikapnya yang seolah tidak mengerti apa-apa.
Aku mendorong tubuh abang, hingga terpepet jelas pada dinding kamar mandi, aku terus memukuli dada nya asal, hingga ia menggeram lirih, aku terus meracau kesal padanya yang justeru malah terkekeh menghadapi celotehanku.
“Abang jahat! Abang tidak peka. Dirumah sudah ada istri yang menunggu! Malah main-main diluar sana! Istri sendiri sudah menyodorkan tubuhnya untuk suami! Tapi suami malah memilih bermain dengan perempuan lain! Dasar lelaki buaya!”
Setelah itu, aku langsung menarik tubuhku dari tubuhnya. Aku keluar dari kamar mandi dengan rasa kesal yang lumayan sudah kutumpahkan padanya. Aku mengepalkan kedua tanganku gemas saat ia malah menutup pintu kamar mandi itu dengan santainya.
Aku berlari menuju ranjang, kuambil lingerie itu, lalu kubawa masuk kedalam kaus yang sedang ku kenakkan. Aku taruh paper bag itu dengan tanganku yang sedang tidak menahan kaus pada bagian perut, agar lingerienya tidak terjatuh.
Paperbag itu kembali aku taruh di dalam tas kerja abang, tanpa kusletingi lagi. Lalu kutempatkan di atas sofa dengan posisi tengkurap.
“Dasar suami buaya! Tidak akan aku biarkan baju jahannam ini dipakai oleh siapapun! Malam ini kau tidak boleh keluar! Akan ku kunci kamar sampai pagi. Hingga hanya aku yang bisa kau lihat!”
Batinku berteriak. Aku melangkah mendekati pintu kamar. Aku putar kunci yang menggantung pada engsel pintu, lalu kutarik kunci itu untuk kumasukkan kedalam kantong hotpants yang kukenakan. Mendengar aba-aba abang yang sepertinya ingin keluar, langsung saja kurebahkan tubuhku kedalam selimut. Aku membalikkan tubuhku agar tidak bisa dilihat oleh nya. Kupeluk guling dengan erat agar abang tidak melihat barangnya yang aku sembunyikan.