MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
50 : episode lima puluh ajaaa!



...Author point of view....


Angga memasuki rumah sakit dengan begitu cepat, ia terlebih dulu menghempaskan tubuhnya di depan resepsionis dengan begitu gagah. Walau diserang rasa takut dan cemas yang menggebu-gebu, Angga tetap pada sikapnya yang tetap tenang.


Namun saat mendengar jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan, Angga langsung terhenyak kaget. Ia segera berlari menuju ruangan yang paling mematikan di rumah sakit ini. Di sepanjang langkah lebarnya, ucapan suster tersebut terngiang-ngiang dalam otaknya.


“Pasien yang baru saja dilarikan ke rumah sakit, tidak dapat tertolong Pak. Sebentar lagi tubuhnya akan di pindahkan.”


Nafas Angga tersenggal-senggal, hatinya sangat sakit dan juga kelu. Angga bingung ingin berucap apa, antara percaya dan tidak percaya, kini tatapan matanya sudah jatuh pada sesosok manusia, yang tertidur lemah di atas brankar putih. Tangan Angga gemetar, melihat tubuh itu sudah tertutupi kain putih di sekujur tubuh.


Tidak ada seorang pun di sini, hanya ada dirinya, sendirian. Angga lunglai ke belakang, kepalanya menjadi pusing seketika, ini terlalu tiba-tiba untuknya. Semuanya bagaikan mimpi untuk Angga.


Aleaa yang baru beberapa jam lalu meminta dompet serta isinya, lalu meminta banyak permintaan pada dirinya, memaafkan kesalahan fatal yang sudah ia lakukan, lalu mengunci dirinya sendirian di dalam kamar. Kini sudah terbaring lemah dengan kain putih yang menutupi keseluruhan tubuhnya.


Detak jantung Angga seolah berhenti, tubuh besarnya terhuyung ke belakang, hingga bersandar pada pintu yang masih terbuka dan menempel pada dinding. Angga pusing, Angga sangat pusing.


Tangannya terulur memijat keningnya yang sakit, perlahan namun pasti, tubuhnya terhempas pelan dalam kondisi duduk pada senderan pintu. Tubuh Angga melemah, bersamaan dengan hatinya yang lemas tak berdaya.


“Bahkan abang belum melihat wajahmu Leaa, wajah anak kita.” isakan keluar dari bibir Angga, Angga menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, frustasi.


“Apa yang akan abang lakukan selanjutnya. Abang tidak bisa hidup tanpa dirimu, Leaa.” isakan kedua lolos dari bibir Angga, entah kapan terakhir ia menangis, bisa di hitung belasan tahun yang lalu, saat dirinya merayakan ulang tahun yang ke sepuluh.


“Kau sangat jahat Leaa. Meninggalkan abang sendirian. Bisa gila abang kalau seperti ini.” geram Angga lirih, begitu frustasi. Perlahan pantatnya terhempas di atas lantai rumah sakit, di ikuti oleh tubuh gagahnya yang enggan untuk berdiri.


“Permisi? Pak? Dengan keluarga pasien?” Angga mendongak, hidungnya yang mancung, kini kempas-kempis menahan isakan laki yang akan keluar.


Dokter itu tampak bingung, di depan bilang kalau nenek yang sudah tua ini tidak memiliki keluarga, namun kenapa tiba-tiba saja ada seorang pria muda yang menangis di depan pintu kamar tersebut.


“Saya suaminya Pak!” balas Angga kesal, tanpa sadar ia sudah memincingkan matanya tajam, membangkitkan lagi tubuhnya untuk berdiri.


Dokter itu terkejut bukan main, “H-hah?! O-oohh.. Begitu ya... ” gumam dokter itu tidak percaya, namun harus kembali memaklumi, mungkin zaman memamg sudah berubah, pikirnya.


“Baiklah, Bapak bisa mengisi formulir ini, yang berarti setuju jika korban di pindahkan dengan segera.” ujar Dokter itu, sambil mengulurkan lembaran kertas beralaskan papan jala.


Angga menerimanya dengan berat hati, tangannya terulur menerima papan itu, dengan perasaan yang berkecamuk, matanya mulai berani untuk menjelajah isi dari lembaran tersebut.


“Dewi?! Sejak kapan nama istri saya berubah?! Lalu mengapa yang tertera umurnya se-tua ini? Tujuh puluh tahun?!” tanya Angga berseru tak terima, Dokter itu menggaruk rambutnya yang tak gatal.


“Bapak ini salah! Jelas-jelas namanya memang Ibu Dewi. Silahkan di cek jika tidak percaya.” sentak Dokter itu cepat, Angga langsung menggeleng tegas, ia segera berlari melenggang pergi melewati Dokter tersebut yang menurutnya sangat aneh.


Angga berlari kembali, ia menuju meja resepsionis. Wajahnya merah padam, karena merasa panik lagi dan lagi. Keberadaan istrinya belum di temukan, dan kejadian yang baru saja terjadi, membuat Angga shock bukan main.


“Sus, saya mencari istri saya. Aleaa Kusumo!” ujar Angga cepat, sedikit berseru, akibat rasa panik yang menderu.


Suster itu langsung mengangguk, buru-buru ia mengecek ruang rawat yang beratas namakan Aleaa. “Ohh, Bapak ini Pak Angga Kusumo. Istrinya lagi di ruang vip 207, Pak.” seru suster itu sopan, sambil tersenyum ramah.


Angga menghembuskan nafasnya lega, jantungnya sudah tak karuan sejak tadi. Dan baru sekarang ia bisa menghembuskan nafas secara normal. Berbeda dengan tadi yang tak karuan.


 


Nafas Angga tercekat, ia sudah berdiri di ambang pintu yang tadinya ia buka secara cepat. Matanya berbinar melihat istrinya yang ternyata masih lah sehat. Tidak seperti apa yang ia bayangkan tadi. Angga berjalan begitu pelan, suasana yang sedang terjadi bagaikan melanklonis.


“Leaa..” desah Angga tak percaya, tangannya terulur membelai pipi pucat istrinya yang masih terpejam.


Merasakan belaian lembut pada kulitnya, Aleaa yang mulanya terpejam, kini mulai membuka matanya. Bibirnya yang kering, berusaha sebisa mungkin untuk tersenyum, walau yang tercetak hanyalah sebuah senyum tipis.


Tepat saat itu juga Angga langsung membungkukkan tubuhnya. Ia memeluk Aleaa begitu erat, tangannya melingkar penuh hingga melewati punggung Aleaa. Tubuh Aleaa yang terbaring pun kini sedikit terangkat, akibat sanggahan tangan kekar Angga di punggungnya.


“Abaangg..” panggil Aleaa merajuk manja, menyipitkan matanya gemas, karena rasa rindu tidak bertemu sang suami ber jam-jam lamanya.


“Sshh sakit abang. ” rengek Aleaa manja, lagi-lagi dengan pembawaan nadanya yang dibuat se-manis mungkin.


“Mana?! Abang panggil Dokter ya!” seru Angga panik, menguraikan pelukan di antara mereka, “Abang mau panggil Dokter, Leaa.” tegas Angga tajam, saat Aleaa menahan tangannya yang ingin memencet bel di samping kasur rumah sakit.


“Iiisshh abang nih! Leaa kan hanya ingin bersama abang! Bukan bersama Dokter! Dasar suami jahat! Suami tidak peka! Akh!” geram Aleaa melengoskan wajahnya sebal.


Angga menahan decakannya yang ingin keluar, pada akhirnya Angga memilih duduk di pinggir ranjang rumah sakit dengan tubuh Aleaa yang ia dekap begitu hangat. Aleaa memeluk pinggang Angga nyenyak, merasa nyaman akan tubuh proposional Angga, yang peluk able.


...Author point of view....