MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
23 : abang marah mulu!



Abang membawaku ke sebuah restoran. Sambil memasuki rumah makan yang terlihat expemsive ini, ia terus merengkuh pinggangku dari samping. Aku tidak tahu mengapa ia melakukan hal se manis ini, mengingat bahwa bukan aku yang ia cintai.


“Aleaa hanya ingin ayam saja, Abang.” ujarku sambil menatapnya yang sedang memilah-milih menu.


“Ganti yang lain, Sayang. Masa kita pergi seperti ini, kau hanya menginginkan ayam.” balasnya masih tetap memilah-milih menu. Aku mengangguk saja, lalu mulai menentukan makanan yang terlihat menarik tanpa melihat harga di restoran ini.


“Baik, permisi.” ucap pelayan itu sopan. Setelah ia pergi, abang langsung menjatuhkan wajahnya di atas pundak ku tanpa malu sedikit pun. Aku mencebikkan bibir kesal.


“Abang, ini di tempat umum! ” gertakku membuatnya semakin menyeruakkan masuk hidungnya di atas pundak ku.


“Kita suami istri sayang. Lagipula juga sepi pengunjung. Lihatlah, tidak ada yang memperdulikannya. ” jelasnya sambil menarik pinggangku mendekat ke sampingnya.


Aku terdiam saja, tidak memperdulikan tubuhku yang direngkungnya erat dalam pelukan tangannya. Oh ya, aku dan abang duduk di atas sofa tanpa terpisahkan, jadi tidak ada pembatas ataupun penghalang jarak di antara kita. Sedangkan meja panjang berada di depan, tanpa ada kursi tambahan seperti biasanya.


“Abang sayang tidak sama Aleaa?” tanyaku gamblang mencoba menyingkirkan keraguan dalam hatiku yang mendalam.


Kulihat gerakan wajahnya yang bersender diatas dadaku menjadi terhenti. Tangannya yang tadi memeluk erat pinggangku juga mulai kaku dan melonggar. Kulihat keadaan sekitar yang sangat sepi, tidak ada yang menatap ke arah kami samasekali.


Aku menunggu jawaban abang, sayangnya ia tetap terdiam. Bahkan melepaskan pelukannya padaku, dan beralih mengangkat ponselnya yang baru saja berdering. Aku menghembuskan nafas pasrah. Kutumpukkan kedua tanganku di atas meja makan, lalu ku alihkan pandanganku agar tak menatapnya, mencoba menyibukkan diri sendiri.


“Ehm. ” deheman itu sontak membuatku tetap diam, aku tidak peduli ia akan memarahiku setelah ini, hingga akhirnya aku terus terdiam selama makan malam yang berakhir sunyi ini.


Aku merasa tersinggung dengan keterdiamannya. Lagi-lagi aku merasa merendah dan jatuh saat ia tidak membalas perasaanku, seolah menegaskan bahwa aku ini tidak pantas besanding bersamanya.


“Aleaa, ini sangat enak. Ingin abang suapi tidak? ” tanya nya dengan nada yang penuh perhatian. Aku tetap tak bergeming, hanya menggeleng ringan, lalu memasukkan suapan demi suapan kedalam mulutku.


Tak terasa waktu sudah berlalu, hari semakin larut. Kulihat hujan tiba-tiba saja turun dari luar kaca restoran, sontak aku memeluk lengan abang takut, abang yang mengerti pun mengusap punggungku, mencoba menenangkan rasa cemasku.


“Kau ini cemen sekali Aleaa. Baru saja tadi cemberut, sekarang sudah ciut seperti marmut. ”


Ku majukan bibirku beberapa senti, tanda kesal akan ledekannya barusan. Aku sembunyikan saja wajahku pada dadanya, dan sekarang posisi tanganku sudah melingkar di pinggangnya.


Abang tetap makan, tangan kirinya yang melingkar di pundakku, sedangkan tangan kanannya yang selalu menyuapkan sup di mulutku juga mulutnya sendiri. Aku tidak tahu, mengapa kita bisa hangat lagi. Apalagi sekarang tanpa sengaja kita saling ber sentuhan bibir, lewat satu sendok yang di pergunakan oleh bibirku dan bibirnya.


...★★★...


Pukul 23:56 di kediaman Kusumo.


Aku berada di dalam mobil dengan kantuk yang sudah mendera. Mobil abang masuk kedalam kediaman keluarga Kusumo. Aku salah fokus akan penjaga rumah yang sepertinya baru. Jauh lebih muda, dan sepertinya se-umuran dengan diriku.


Saat setelah pagar terbuka, otomatis dari dalam kaca aku dapat melihatnya, jiwa penasaranku langsung meronta-ronta ingin bertanya.


“Abang! Dia siapa sih? Tampan sekali.. ” ujarku kagum melihatnya. Aku mendengar abang menggeram lirih, namun aku pikir abang sedang mengantuk.


“Kau tertarik dengannya, Leaa? ” tanya abang yang langsung ku angguki cepat.


Tapi, tentu saja beda dengan abang. Abang jauh lebih tampan, lebih besar, dan juga lebih tinggi. Dia yang ter-tampan di hatiku intinya. Titik.


Aku tersenyum mendapati kata hatiku berucap demikian, namun sepertinya abang salah paham. Buktinya ia sudah mencekal dan membopong ku keluar dari mobil untuk masuk kedalam rumah, tanpa perduli akan kehadiran para penjaga yang memang hanya tinggal beberapa dimalam hari.


“Abang...” bujukku mencoba merayunya, ia tampak acuh dan diam saja, tapi tangannya masih mencekal pergelangan tanganku.


“Abang kenapasih. Marah-marah mulu. Sudah tua juga! Makin tua aja nanti. Emang enggak kasian sama Lea kalau semisal nanti abang udah peyot, enggak bisa jalan, terus nanti enggak bisa muasin aku- Oppss.”


Aku refleks menutup mulutku kaget atas ucapanku sendiri yang terdengar ngawur. Tapi itu ada benarnya kan. Kalau sering marah-marah, orang akan cepat tua.


“Tau apa kamu tentang muasin Aleaa? Kamu sendiri selalu nolak keinginan suami.” bentaknya membuatku tambah terkejut, aku tidak berharap abang akan bereaksi seperti ini. Ku hempaskan tanganku untuk terlepas dari cekalannya.


Ia bilang tadi apa? Tidak pernah mau?? Hei!! Aku pernah menawarkannya tubuhku saat itu, namun ia menolak, dan malah pergi entah kemana, lalu pulang-pulang membawa paper bag berisi lingerie. Suami macam apa itu?!


“Abang ini amnesia atau apasih?! Sudah ah! Aleaa kesal sama abang!” gertakku beranjak dari ambang pintu, untuk masuk kedalam balkon kamar.


“Aleaa.”


“Aleaa!”


Kudengan ia memanggilku terus, namun tak kuperdulikkan itu, aku kesal sekali dengan abang yang lupa akan apa yang sudah terjadi. Apakah ia tidak ingin berusaha samasekali untuk memulai hidup baru bersamaku?


“Aleaa! Kita perlu bicara!” serunya kasar, sambil merenggut pundakku agar menghadapnya.


Aku langsung bersender pada railing balkon, abang benar-benar memepet tubuhku dengan badannya yang besar dan tinggi. Cambangnya yang cukup lebat dan kasar bersentuhan langsung dengan daguku.


Kami sama-sama terdiam, aku tidak tahu siapa yang akan memulai berbicara habis ini. Aku memutuskan untuk tidak ingin memulainya tapi. Aku tidak mau. Biarkan saja dia yang berbicara terus menerus.


“Kau menyesal menikah denganku?”


Pertanyaan itu, pertanyaan yang membuatku merasa panas, aku tidak suka saat ada yang meragukan cintaku pada seseorang, apalagi saat ia bertanya tentang penyesalan.


Ku dorong tubuhnya kuat, seolah ada tenaga dalam diriku, abang langsung mundur beberapa langkah. Hingga kita sudah tidak menempel erat seperti tadi. Jari telunjukku ku acungkan ke arahnya. Ia menatapku gusar dengan mata elangnya.


“Abang yang menyesal menikahi aku. Apakah abang tidak sadar perasaan Aleaa terhadap abang? Apakah abang tidak tahu perasaan Aleaa yang sangat mencintai abang ini?! Ohh tentu tidak. Hhh, yang abang pikirkan hanya mantan abang! Bahkan abang berniat ingin menikah dengannya kan! Dan menjadikan wanita itu istri kedua!”


Ujarku menggebu-gebu. Aku sungguh sudah tidak sanggup menahannya lagi, aku butuh kepastian dan jawaban dari abang. Degup jantungku berdebar dua kali lebih cepat, aku malu karena sudah mengatakan perasaanku duluan.


Kulihat dia hanya terdiam, wajahku menunduk seketika, aku sudah salah mengambil jalan. Seharusnya jika aku tidak ingin sakit hati, aku lebih baik diam. Bukan seperti ini. Yang malah semakin menekankan bahwa yang kukatakkan semuanya benar. Abang akan menikah lagi. Abang tidak mencintaiku. Abang tidak menganggapku.


“Lea!”


bahuku tersentak kaget, aku meringis ngeri saat tangannya mencengkram kedua pundakku erat, sangatlah sakit dan juga perih. Sebisa mungkin kucoba untuk lepas dari kukungannya, namun abang seolah tak mendengar rintihanku.


“Lepaskan!”


“Aw!”


Aku menjerit tertahan saat abang menggendong tubuhku dengan begitu mudahnya. Ia melemparkan tubuhku asal ke atas ranjang. Aku mencoba melarikan diri, namun abang langsung mengurungku dibawah tubuhnya yang berada diatas ku.