
...Author point of view....
PUKUL 05:30 PAGI.
Sinar matahari mulai masuk ke celah-celah hordeng yang menjulang tinggi. Kaca kamar yang sangat kuat Masih bisa ia tembus untuk memberitahu sepasang suami istri bahwa pagi sudah tiba, waktunya untuk mereka segera bangun dari atas tempat tidur.
Pasangan yang tak lain adalah Angga dan Aleaa masih tetap tertidur dan sama sekali tidak terganggu, akan sinar matahari yang mengarah pada pada kaki mereka.
Kegelapan kamar masih mendominasi, cahaya kamar yang remang-remang, seolah mengizinkan mereka untuk tetap terlelap dalam nyenyaknya alam mimpi. Namun tidak untuk Angga yang lebih dulu membuka matanya, menatap atap-atap langit kamarnya.
“Arghh.” erangan keluar dari bibirnya, Angga menoleh mendapati tubuh Aleaa yang memunggunginya.
Bibir Angga diam tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya. Senyumannya terbit memandangi punggung sang istri yang bergerak naik turun secara teratur.
“Sayang..” panggil Angga mulai bangun dari tidurnya. Ja beringsut maju, mendekati Aleaa yang berada di pinggir ranjang.
Tangannya melingkar pas pada pinggang ramping Aleaa, lalu Angga meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Aleaa, yang sudah ia cium terlebih dahulu. Lagi-lagi Angga merasa kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya saat setelah menghirup aroma tubuh istrinya.
Saat Angga ingin terpejam kembali, sesuatu yang berhamburan di atas lantai dekat pinggiran ranjang membuat Angga teringat kejadian kemarin. Saat ia menumpahkan isi dari botol obat secara kasar. Obat itu berisi pil-pil kontrasepsi.
Pelukan Angga mengerat pada perut Aleaa, saat merasa takut bahwa Aleaa pasti marah dengannya. Bahkan bisa saja membencinya.
“Aleaa, maafkan abang.” bisik Angga lirih, di atas pucuk kepala Aleaa.
Ia menahan nafasnya cemas, mengingat kejadian semalam saat ia mendatangi pesta bersama Cindy. Masih terekam jelas bagaimana Cindy memapah tubuhnya untuk memasuki mobil.
Dan hal itu lah, yang menjadi alasan untuknya merasa takut bahwa Aleaa akan mengetahuinya. Angga sangat merasa bersalah telah melakukan hal tersebut. Namun apa boleh buat, penyesalan memang selalu datang di akhir.
Angga menurunkan pandangannya, ia dapat merasakan, bahwa tubuh bawah Aleaa polos. Melihat hal itu Angga langsung mengecek keadaannya juga. Yang ternyata masih terbungkus sebuah celana menutupi setengah pahanya.
Perlahan, telapak tangannya ia susupkan ke balik kaus oblong yang Aleaa kenakan. Kedua matanya terpejam, hatinya terenyuh saat berhasil menyentuh permukaan perut Aleaa yang masih datar.
Disini tempat buah hatinya, hasil dari benih cintanya bersama Aleaa. Angga hanya menyentuhnya saja, tanpa berani mengusapnya. Ia takut kalau Aleaa akan terbangun, dan pasti akan marah dengannya.
“Abaang... ” cicitan Aleaa terdengar merintih, sangat kecil namun berhasil membuat Angga tersadar dari keterdiamannya.
“Dingin.. ” sungut Aleaa merasa menggigil, saat semalaman penuh tidur tanpa mengenakkan celana atau pun selimut di bawah dinginnya pendingin ruangan.
Angga langsung saja mengecek suhu tubuh Aleaa, lewat keningnya. Telapak tangan Angga terasa panas, hingga berhasil membuat Angga bangun dari tidurnya. Buru-buru Angga mencari termometer sungguhan.
Betapa terkejutnya Angga ssaat melihat suhu derajat istrinya yang mencapai angka 38. Angga meletakkan termometer itu kembali ke atas nakas, dia langsung menepuk-nepuk pipi istrinya sedikit keras.
“Leaa... Bangun Leaa. Sudah pagi. ” ujar Angga berusaha membangunkan Aleaa dengan perasaan yang cemas.
Aleaa mengerjapkan matanya lemah, tubuhnya bergetar karena menggigil. “Dingiin. ” racau Aleaa dengan bibir yang bergetar.
Angga menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Aleaa. Ia berjalan ke arah lemari, mengambil satu celana beserta **********. Angga kembali terduduk di pinggir ranjang, ia mengangkat tubuh Aleaa untuk berada di tengah ranjang.
Angga mengangkat tubuh Aleaa untuk terduduk, ia memasangkan celana serta dalaman itu dengan telaten. Angga mengusap kening istrinya, lalu ia berikan kecupan dalam pada ubun-ubun Aleaa.
“Dingiin.. ”
“Sabar Leaa, dokter akan segera datang. ” jawab Angga berusaha menenangkan Aleaa yang mulai menghembuskan nafasnya teratur lagi.
Angga ingin meraih obat sakit kepala dan pereda panas, namun ia takut jika obat-obat itu tak bisa di konsumsi oleh ibu hamil. Jadilah Angga langsung menghubungi dokter Riliana, untuk segera datang ke rumahnya.
“Sabar Leaa... Abang mohon untuk bertahan. ” titah Angga khawatir, ia langsung membuka ponselnya mencari langkah-langkah untuk meredakan panas Aleaa.
Pilihannya jatuh pada salah satu metode, yang cukup ampuh menurutnya. Angga kembali melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuh Aleaa, lalu ia mematikan pendingin ruangan.
Angga mengambil posisi tidur, di samping Aleaa. Lalu tangannya menarik tubuh polos Aleaa, untuk ia dekap, dan Angga pun juga kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Cara ini ia ambil, untuk membuat tubuh Aleaa berkeringat dan kembali normal. Setidaknya dapat membuat istrinya tidak menggigil, dan malah kegerahan.
...★★★...
Dokter sudah sampai di kamar Aleaa, namun sebelum itu tentu saja Angga sudah bersiap-siap untuk merapihkan kamarnya yang seperti kapal pecah. Kegiatan ini biasanya Aleaa yang melakukan, namun karena kondisi Aleaa yang seperti ini, jadilah Angga yang mengerjakannya.
Angga juga sudah memakaikan Aleaa pakaian lagi. Aleaa hanya diam, dan tidak berkata sepatah katapun. Apalagi saat Angga kembali membaringkannya di atas ranjang saat setelah Angga mengantarkannya masuk kedalam kamar mandi, untuk menemaninya mencuci muka dan buang air kecil.
Pil-pil obat sudah Angga buang semuanya ke tong sampah, serta botol obat tersebut. Supaya tidak membuat curiga dokter atau sang Mama.
“Angga, bagaimana ini bisa terjadi?!” tanya Bu Kusumo tajam di depan pintu kamar Aleaa yang tertutup karena Dokter yang meminta, hanya Aleaa dan ia saja yang boleh berada disana.
Angga hanya diam, tanpa menjawabnya. Membuat Bu Kusumo semakin cemas. “Kamu pasti lalai menjaganya Angga!” seru Bu Kusumo naik pitam.
Cklek.
Pintu kamar terbuka, menampakkan Dokter Riliana yang baru saja keluar. Dokter Riliana tersenyum hangat, “Bu Kusumo bisa menjenguk menantunya. Silahkan.. ” ujar dokter Riliana mempersilahkan, dengan menyampingkan badannya dari ambang pintu.
Bu Kusumo mengangguk, ia langsung masuk di ikuti oleh Nenek Kusumo di belakangnya. Namun sebelum Nenek benar-benar masuk, ia lebih dulu berucap.
“Kamu tuh ya Angga! Aleaa seharusnya banyak-banyak istirahat! Pasti gara-gara kamu, dia sampe kayak gini!” ujar Nenek Kusumo kesal, Angga meringis mendapati Nenek yang memarahinya tak kenal tempat.
Baru saja Angga ingin ikut masuk, Dokter Riliana menahannya. “Pak Angga, ada yang harus saya bicarakan dengan anda. Ini rahasia. ” ujar dokter itu datar.
“Baiklah. ” titah Angga mengangguk sedikit ragu, ia pun membawa Dokter Riliana untuk berbicara di ruang kerjanya.
Angga berhadapan langsung dengan Dokter Riliana, di ruang kerja. Angga menunggu dokter Riliana yang tak kunjung membuka suara, “Dokter?” panggil Angga menyadarkan.
“Saya tidak tahu mengapa bisa Pak Angga melakukan hal seperti ini. Pak Angga adalah orang hebat yang sangat di hormati.” ujar Dokter Riliana datar, ia menunjukkan sebutir pil yang Angga kenali, berada di antara jepitan kedua jari Dokter itu.
...Author point of view off....