MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
41 : isakan aleaa semalaman!



...Author point of view....


Angga menarik nafasnya, lalu ia hembuskan kembali. Menetralkan rasa kesalnya pada sang istri tercinta. Aleaa Kusumo. Bukannya pelit atau pun tak sayang istri, hanya saja Angga tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu dalam waktu dua jam.


Mengumpulkan satu milyar saja butuh satu bulan untuknya, lalu Aleaa dengan mudahnya menghabiskan uang itu dalam kurun waktu dua jam. Naas sekali.


“Awas saja kau membeli barang tak berguna Leaa, abang akan marah.” ancam Angga tak sepenuhnya kesal, ia hanya greget dan penasaran saja, bagaimana bisa Aleaa menghabiskan uang itu dalam waktu dua jam.


Akhirnya Angga memilih untuk kembali bekerja, ia harus menangani banyak proyek pekan ini. Untuk mempersingkat waktunya dalam bekerja, Angga harus lebih cepat dan tangkas. Agar tidak kembali menjadi workholic seperti dulu, saat ia belum menjadi suami.


Beberapa jam kemudian...


Angga menghembuskan nafas lelah, ia menjadi legah sedikit saat pekerjaannya lima puluh persen sudah teratasi, karena Angga yang mengerjakannya seharian penuh.


Angga membuka ponselnya, baru saja ia ingin menghubungi Aleaa, namun jam pada ponsel membuatnya kaget. Tenyata sudah jam 11 malam, dan ia belum mengabari Aleaa sama sekali sejak siang tadi, terkahir kali mereka ber telfonan.


Angga memgambil kunci mobilnya. Malam ini sepertinya Angga akan menggunakan supir saja, karena tubuhnya yang sangat lelah.


30 menit dalam perjalanan.


Angga memasuki pintu utama yang masih terang, halaman luas di luar rumahnya pun juga masih terang, jadi tidak menambahkan kesan horror sama sekali.


“Aleaa pasti sudah tertidur.” ujar Angga dalam batinnya.


Setiap pulang kerja, Aleaa memang selalu menyambutnya, tapi itu jika ia pulang kerja masih di jam-jam normal. Namun,


“Leaa, apa yang kau lakukan?!” pekik Angga kaget, melihat Aleaa yang ternyata sedang duduk di sofa tamu, menghadap ke arahnya.


Aleaa tersenyum senang, namun kantung mata di matanya, tidak membuktikan bahwa Aleaa sedang bergembira. “Leaa menunggu abang lah, yang mau jadi bang toyib! Kerja tidak pulang-pulang.” sergah Aleaa sedikir sewot di akhir kalimat.


“Apa tadi kamu bilang? Abang mau jadi toyib? Ayo coba katakan sekali lagi.” reaksi yang di berikan Angga, tentu saja membuat Aleaa terjengkit geli.


Saat Angga mulai menghampiri dan langsung menggelitikinya, “Ah abang ih! Hahahaha. ” Aleaa yang tadinya ingin marah dan protes, kini beralih menjadi tertawa terus menerus begitu hingga Angga menggendongnya.


“Abang kira kau sudah tidur.” celetuk Angga tengah berada di tangga, melingkarkan tangannya pada punggung dan belakang lutut Aleaa.


“Bagaimana Leaa bisa tertidur, kalau abang saja mau menggeledah barang-barang yang Leaa beli.” jawab Aleaa dengan wajah tertekuk.


Angga tertawa sumbang, setelah menurunkan Aleaa pada lantai kamar. Angga langsung menghela nafas lelah, ia langsung memasuki kamar mandi, tanpa peduli akan banyaknya paper bag brand-brand besar di sekitar.


Aleaa terdiam akan hal itu, jadilah ia hanya menunggu sambil bersender pada senderan kasur yang empuk. Tangannya turun mengusap perutnya sendiri dalam kaus.


Mulai mengantuk dan siap tidur, Aleaa sebisa mungkin menahan matanya untuk tidak terpejam. Hingga akhirnya Aleaa menyerah, ia tertidur dengan kepala yang menunduk dalam.


Cklek.


Angga tersenyum kecil, ia langsung memakai baju di ruang walk in closet. Angga urung ingin meng intrograsi istrinya, melihat wajah tenang Aleaa saja membuat lelahnya langsung hilang.


“Abang hanya tidak ingin kamu menjadi boros, Sayang.” bisik Angga tepat di samping telinga Aleaa.


Angga mengangkat tubuh Aleaa dengan mudah, seolah tubuh Aleaa tidaklah memiliki beban. Ia memposisikan tidur Aleaa supaya nyaman, lalu Angga sendiri merangkak melewati kaki Aleaa di atas ranjang.


“Have a nice dream istri abang.” ujar Angga sambil mengecup kening istrinya, ia membawa Aleaa ke dalam dekapannya. Mengusap punggung istrinya lembut, hingga Angga sendiri mencapai alam bawah sadar.


...★★★...


Aleaa sudah bangun lebih dulu, dari pada Angga yang masih lelap memeluknya. Ia menyingkirkan tangan Angga yang berada di perutnya dengan hati-hati. Lalu Aleaa berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya.


Aleaa ingin ikut menyiapkan sarapan, setelah beberapa hari ini ia istirahat di kamar, namun baru sampai akhir tangga, matanya di buat terkejut oleh suara tangisan asing yang sangat keras.


Aleaa memegang dadanya yang tiba-tiba saja merasa tak enak, perasaan dan firasat buruknya langsung menjadi kelu. Aleaa berlari menuju sumber suara, ia terus berjalan menyusuri seluk beluk rumah besar keluarga Kusumo. Hingga langkahnya berhenti di depan paviliun sedang, yang ia tahu adalah kamar para maid berada.


“ANAK SIAPA ITU CINDY!”


“DASAR CEWEK MURAHAN!”


“KAMU PIKIR KAMU SIAPA?! MANA MUNGKIN PAK ANGGA MENYETUBUHI KAMU!”


“HIKS! ITU BENERAN ANAK MAS ANGGA! CINDY GAK BOONG.”


Indra pendengarannya menajam, Aleaa langsung mendorong pintu itu cepat, tanpa peduli akan kehadirannya yang pasti tak di sukai. Mata Aleaa membulat, deru nafasnya memburu, kedua belah bibirnya terbuka kaget.


Keadaan Cindy sangat acak-acakan. Wajahnya penuh lebam, tubuhnya terduduk lemas dengan tangisan yang tak berhenti mengalir dari kedua kelopak matanya yang bengkak.


“Nyonya! Ini tidak seperti yang anda lihat.” sergah salah satu maid langsung menyerbu Aleaa cepat.


Nafas Aleaa tercekat, ia mengabaikan seruan para maid yang menyuruhnya untuk berhenti mendekat. “Nyonya, dia adalah perempuan gila, mana mungkin Pak Angga melakukannya.” seru maid lainnya.


Tubuh Aleaa menegang, Cindy yang tahu bahwa Aleaa sedang berada di depannya. Langsung saja berlutut di kaki Aleaa, tangannya memegang kaki Aleaa erat. Wajahnya yang memerah mendongak menatap Aleaa seolah sedang meminta pertolongan.


“Nyonya hiks, Cindy tidak berbohong. M-mas Angga yang melakukannya. Hiks. Tolong Cindy Nyonya.. Hiks. ”


Tangis Cindy pecah, bagai mimpi buruk untuk Aleaa. Aleaa merasa sesak, perasaannya bagai sedang tertusuk ribuan jarum. Bahu Aleaa terguncang tanpa. Aleaa menangis masih dalam keadaan berdiri.


Cindy terus meraung meminta pertolongan dan pertanggung jawaban. Sedangkan para maid terus berseru menyuruhnya untuk tidak percaya. Cindy menggeleng keras, tangisan wanita itu perlahan mulai berubah menjadi darah.


Kaki Aleaa basah karena tangisan Cindy, Aleaa berusaha melepaskannya, namun tangisan Cindy semakin keras hingga membasahi lantai. Bahkan Aleaa dapat melihat sendiri, bahwa kakinya sudah di penuhi darah tangisan dari Cindy.


Kepalanya menjadi sakit dan pening, ia memegang masing-masing sisi kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Aleaa menangis tanpa suara, ia terus berusaha untuk memanggil suaminya. Namun yang keluar hanya tangisan. Bibirnya seperti di kunci rapat-rapat.


Hingga akhirnya,


“ABANG!”


Kedua kelopak mata Aleaa terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah warna hitam polos dari pakaian seseorang yang sekarang sedang memeluknya. Tubuh Angga langsung terjengkit bangun. Angga terkejut sedangkan deru nafas Aleaa tersenggal-senggal.


Tubuhnya terduduk kaget karena mimpi buruk yang baru saja menghampirinya, tangis Aleaa pecah karena merasa takut akan mimpi itu yang seperti nyata.


“Hiks.”


Angga langsung memeluk tubuh Aleaa erat, ia mengusap punggung istrinya yang bergetar naik turun. Aleaa mencengkram kaus Angga di bagian dada. Tangisannya mengalir deras, hingga ia menggigit sendiri kaus Angga, berusaha menghentikkan isakannya yang gemetar.


“Ab- banghh, Hiks! Le-lea mim-” ucapan Aleaa yang terpotong-potong, langsung di hentikkan oleh Angga dengan menaruh jari telunjuknya di atas bibir tebal istrinya itu.


“Sssttt tenang Leaa... Itu hanya mimpi. ” ujar Angga lembut, mengerti dengan apa yang ingin istrinya katakan. Angga terus memeluk tubuh bergetar Aleaa, ia tidak menghentikkan usapannya sama sekali walau Aleaa sendiri sudah tampak tenang dan akan kembali terlelap.


...Author point of view off....