MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
37 : aleaa mau memaafkan!



...Author point of view....


Angga mengerutkan keningnya bingung, tapi walau begitu ia tetap memeluk Aleaa. mungkin mimpi seperti itu memang sungguhan ada. Hingga istrinya bisa se takut ini.


“Abang bersyukur mimpi itu ada Leaa, setidaknya kau mau memeluk abang sekarang.” ujar Angga dalam batinnya puas, merasa enak.


Cindy mengeraskan rahangnya marah, ia sangat tak tahan melihat pemandangan yang menurutnya sangat menjijikan ini. Rasa cemburu mengoar dalam hatinya. Hingga Cindy memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan.


“Permisi, selamat malam Bapak Ibu. Cindy izin keluar.” ujar Cindy membungkukkan tubuhnya sekilas, dengan wajah ogah-ogahan. ia memaksa senyumnya.


Angga hanya mengangguk sekilas, karena masih sibuk menenangkan Aleaa yang terus meracau. Saat setelah Cindy keluar, tubuh Angga langsung terdorong ke belakang, karena Aleaa yang mendorongnya.


“Lea!” seru Angga tak terima, Aleaa mengerucutkan bibirnya merasa tak takut, dan kembali melangkah lebih dalam ke ruang kerja Angga.


“Aneh sekali anak ini, bentar-bentar manis, lalu tiba-tiba seperti singa yang sedang mengaung.” gerutu Angga pelan, namun masih bisa terdengar hingga telinga Aleaa.


Aleaa yang tadinya memunggungi Angga, kini ia putar badannya menjadi menghadap Angga. Dengan berkacak pinggang, Aleaa menatap Angga sengit.


“Coba saja kalau Leaa tidak datang! Pasti abang sudah bermesraan dengan cewek itu.” ujar Aleaa ketus, merasa badmood.


Padahal niatnya kesini adalah untuk bermanja ria dengan Angga, namun menjadi urung seketika saat melihat keberadaan wanita lain di dalam ruangan. Beruntung Aleaa bukanlah perempuan yang terima-terima saja, ia tentu tidak akan terima, jika di perlakukan seperti itu.


“Sayangku, kenapa cemberut sih? Abang ingin bekerja Leaa, seharunya kau berada di kamar saja. Biar abang lebih fokus. ” ujar Angga mulai merasa kesal, ia hampiri Aleaa yang berjalan di depannya.


Angga pun juga membiarkan Aleaa, menduduki kursi kebesarannya di ruangan ini. Justru sekarang, Angga lah yang duduk di hadapan Aleaa, terhalang oleh satu meja marmer mahal, di antara mereka.


“Fokus bercanda dengan si Icin Icin itu kan. ” balas Aleaa tajam, Angga menghela nafas tak mengerti, Icin-Icin, apa itu?


“Mana ada Micin disini Leaa. Abang tidak meng konsumsi zat makanan seperti itu.” jawab Angga asal, mengalihkan topik yang dapat membuat istrinya semakin panas, dan garang saja.


“Iish abang nih, tidak mengerti apa yang Leaa katakan.” gerutu Aleaa sambil menekuk wajahnya, Aleaa mulai menggerakan tangannya iseng, membuka satu persatu laci yang berada di meja Angga.


Angga menumpu wajahnya dengan satu tangan, memperhatikan kegiatan yang sedang istrinya lakukan. Ia tampak tidak keberatan sama sekali, dengan Aleaa yang mulai menaruh barang-barang bukan pada tempatnya.


Angga fokus memandang pancaran wajah Aleaa yang berseri dan cerah. Bahkan kedua pipi istrinya, terlihat merah alami. Menambakan kesan manis pada diri Aleaa.


“Kau sangat cantik Leaa. ” ujar Angga tanpa sadar. Mendengar hal itu, sontak Aleaa menjadi tersipu seketika.


Aleaa menundukkan wajahnya, ia menggigit bibir bawah bagian dalam. Menahan pekikkan kesenangan yang akan keluar karena pujian Angga barusan.


Aleaa menghela nafas. Jujur, rasa sakit karena reaksi Angga pada hari itu masih membekas sekali dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Lamat-lamat menunduk memikirkan jawaban, Aleaa akhirnya mendongakkan wajahnya.


“Asal abang mau berubah, menerima janin yang sedang Aleaa kandung. Leaa akan memaafkan abang dengan ikhlas. Leaa akan mencoba melupakan kejadian pahit itu, dalam bayang-bayang Aleaa.” ujar Aleaa jujur, sambil menatap kedua mata elang Angga.


Angga bangkit dari duduknya, ia memutar kursi putarnya, hingga Aleaa kini miring menghadapnya. Angga merengkuh kedua rahang Aleaa, ia membungkukkan tubuhnya. Lalu dengan begitu lembut Angga menyapu bibir Aleaa dengan bibirnya. Mempertemukan bibir mereka, hingga Angga sendiri harus mengusap bibir Aleaa yang tampak lembap karena salivanya.


“Abang tahu tidak? Apa yang abang katakan malam itu, ketika abang tiba-tiba saja datang ke kamar, dalam keadaan mabuk.” ujar Aleaa ingin bercerita.


“Apa? Ayo katakan.. Abang perlu memperhaiki diri abang mulai sekarang. ” ujar Angga penasaran, mengingat dirinya yang tak ingat apa-apa di malam ia bersama Aleaa.


Posisi mereka sekarang berganti, dengan Angga yang duduk di kursi kebesarannya, sambil memangku Aleaa yang terduduk miring di atas pahanya. Angga menatap Aleaa seksama, yang menatap lurus pandangannya.


“Abang bilang kalau Aleaa hamil, abang tidak akan bisa bercinta lagi dengan Leaa. Lalu tidak akan ada cumbuan, dan kasih sayang yang Leaa kasih untuk abang menjadi terbagi dua. ”


Angga hanya bisa melihat wajah Aleaa dari samping, ia melayangkan kecupan pada pelipis Aleaa. “Abang sangat egois, maafkan abang, Leaa.” ujar Angga lagi-lagi merasa bersalah.


Aleaa menggelengkan wajahnya cepat, menurutnya sudah cukup untuk Angga meminta maaf. Aleaa menoleh, ia menangkup rahang Angga yang di tumbuhi cambang tipis. Lalu ia dekatkan ke wajahnya.


“Abang sudah menyadari kesalahan abang, itu saja sudah membuat Leaa merasa cukup. Abang tidak perlu meminta maaf lagi pada, Leaa.” ujar Aleaa lembut, penuh pengertian.


Cup.


Aleaa mendekatkan keningnya pada bibir Angga, secara spontan Angga langsung saja mencium kening istrinya. Hingga menimbulkan nada kecupan.


“Cambang abang tajam sekali..” ujar Aleaa sedikit bergidik geli, merasakan cambang Angga, yang menusuk-nusuk permukaan kulitnya.


“Abang lupa mencukurnya Leaa. Jika Leaa mau. Malam ini Leaa lah yang harus mencukur cambang abang.” tawar Angga menaik turunkan alisnya.


Aleaa mengangguk semangat, ia terlihat tertarik dengan penawaran yang Angga tawarkan. “Bersiaplah abang, Leaa menyusul nanti.” ujar Aleaa tersenyum lebar.


“Leaa harus merapihkan meja kerja abang dulu, yang tadi Leaa buat berantakan.” lanjut Aleaa lagi, sambil menatap meja kerja Angga lewat ekor matanya.


Angga tersenyum senang, ia menurunkan Aleaa dalam pangkuannya. Sebelum pergi menuju kamar mandi di kamarnya, Angga terlebih dahulu memberikan kecupan pada kening istrinya.


...Author point of view off....