
Kakiku melangkah dengan begitu lihai, aku tidak mengenakkan high heels lagi, walau sebenarnya dress ini hanya cocok jika dipakai sepatu itu, tapi aku tidak peduli, yang penting aku merasa nyaman dan juga aman, maka kugunakan saja sepatu pantofel.
Tiba-tiba saja Pak Angga mengajakku untuk makan malam diluar, setelah berjam-jam aku menunggunya dirumah. Hingga akhirnya ia datang menjemputku menjelang maghrib tiba, aku segera masuk kedalam mobil, kami tidak mengenakkan supir, Pak Angga sendiri yang menyetir.
Aku duduk dengan bekal di tanganku. Walaupun ia sudah berpesan agar aku tidak membawa apapun, tetap saja aku kekeuh membawanya, karena perjalanan yang cukup jauh, aku takut ia kelaparan.
“Ngapain sih Al.. ” sergahnya menatapku yang baru saja menaruh kotak bekal di dalam dashboard mobil. “Kan saya udah bilang, enggak usah bawa apa-apa.” lanjutnya lagi menatapku kesal.
“Bapak gaboleh gitu, masih untung saya pengertian! Nanti kalau saya kelaparan ditengah jalan, emang bapak mau tanggung jawab?” jawabku asal dengan senyum manis yang kupaksakan.
Pak Angga menggeram, ia menarik pundakku agar menatapnya, lalu ia dekatkan wajah kami, aku bisa merasakan harum parfum woody pada tubuhnya, sangat membuatku tanpa sadar menarik nafas dalam, menikmati wangi tubuhnya.
“Kalau kamu lapar? Tentu saya akan tanggung jawab. Tubuh kamu itu kecil Aleaa, tinggal saya masukin karung, lalu saya angkat, dan saya buang ke pulau amazon!” balasnya tajam tanpa beban sedikit pun. Aku menggeram kesal, aku pegang rahangnya nya, lalu ku tahan.
Tuk.
Ku jedotkan keningnya dengan keningku, ia meringis sakit, segera ia tarik wajahnya menjauh, aku hanya mengedikkan bahu acuh, lagipula siapa suruh bermain-main denganku seperti itu, huhh dasar suami!
“Kau ini sebenarnya perempuan atau laki-laki Alea.” geramnya menatapku tajam, aku bersedekap dada, lalu kubuang saja pandanganku ke depan.
“Aleaa sudah lapar pak. Kenapa bapak hanya bicara sedari tadi.” cercahku sebal, terdengar dentuman yang cukup keras, ternyata itu dari suaranya yang memegang setir mobil dengan kasar.
Aku mendengar ia bergumam banyak tentang diriku, aku tahu dia kesal, namun diam-diam aku tersenyum puas, karena berhasil menjahili nya, hahahaha rasakan itu pak! Jika dulu selalu aku yang kau jahili, sekarang kau yang akan ku usili.
•••
Disepanjang perjalanan, musik-musik pop yang menemani kami, tak jarang aku berteriak keras untuk memenuhi suara isi mobil. Pak Angga selalu menutup mulutku kasar dengan tangan nya yang mampu menangkup semua pipi ku. Tapi selalu ku gigit tangannya jika mengganggu perjalan asyik ku dengan lantunan musik-musik cinta jaman bahala.
“Diaaa Issabella.”
Aku bernyanyi dengan penuh semangat, ini adalah lagu kesukaan ku banget, dan ternyata Pak Angga juga hapal dengan lirik-lirik nya, Aku bersender di lengannya tanpa canggung sedikitpun, padahal tadi siang kita sempat bertengkar, namun sekarang sudah akur kembali, bahkan kedekatan kita sebelum menikah, belum pernah saling bersentuhan seperti ini.
Pak Angga bahkan sesekali mencium rambutku, aku tidak ingin menolak ataupun membrontak. Sikapnya yang manis bisa-bisa membuatku luluh dengan sangat cepat. Bibirku dan bibirnya, masih terus melantunkan banyak lagu yang berputar dengan acak.
“Aleaa.” panggilnya seolah berbisik di ubun-ubunku.
“Apa pak?” tanyaku masih setia bersender di lengannya yang kokoh.
“Jangan panggil aku bapak mulai sekarang.” ujarnya membuat keningku menyeringit.
“Nghhh, lalu Aleaa harus manggil bapak apa?” tanyaku penasaran.
“Abang.” Jawabnya kembali berbisik. Sudut bibirku berkedut ingin tersenyum, aku menundukkan wajahku dengan pipi yang bersemu merah, suara maskulin nya tiba-tiba saja membangkitkan jiwa unyu-unyu ku.
“Tapi kenapa harus abang? Kenapa enggak yang lain aja.” tanyaku tak berhenti bertanya. Pak Angga terkekeh sejenak.
“Karena dulu Tante saya, manggil suaminya abang. Mereka terlihat saling menyayangi dan mencintai. Jadi sedari dulu saya ingin jika nanti punya istri, dia manggil saya abang. Sekarang karena kamu istri saya, jadi saya ingin kamu yang memanggil saya abang, Aleaa.” jelasnya cukup rinci. Suaranya lagi-lagi membuatku meremang gugup.
“Abang? Baiklah abang. ” jawabku tak kalah berbisik, ia menggeram pelan, lalu ia hentikkan mobilnya secara tiba-tiba.
Jantungku berdetak lebih cepat, Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, hembusan nafasnya menerpa kulitku, kedua tangannya yang tadi berada di setir mobil, kini menahan kedua pundakku, agar terus menghadap nya.