
Aku bernafas lega telah berhasil membuat tubuh berat dan besar abang, untuk ku baringkan di atas ranjang. Ku copotkan sepatu serta kaus kakinya asal. Tak lupa juga ku lepaskan jaket, serta yang lainnya. Hingga tubuh abang hanya di lapisi oleh seonggok celana pendek yang tak lain adalah boxer.
Baru saja aku berusaha untuk mengangkat kedua kakinya yang masih menjuntai menyentuh lantai untuk berada di atas ranjang, namun ia lebih dulu terbangun, dan mengambil posisi duduk.
Aku ber inisiatif untuk meninggalkan abang sendirian tanpa berniat untuk menatapnya. Namun abang menahan pinggangku untuk tetap berdiri di antara celah kakinya yang terbuka.
“Lepaskan tangan kotormu ini!” sergahku cepat sambil membalikkan tubuhku.
Namun lagi-lagi abang menahannya, ia menahan pinggangku, hingga aku jatuh terduduk di atas seprai di antara pahanya yang terbuka. Wajahku mengeras, berusaha tidak terkecoh dengan racauan-racauan abang yang mengucapkan cinta.
“Leaa-ku Sayang.. ”
“Wanita-nya Abang... ”
“Perempuan abang yang paling cantik. ”
Racauan kalimat yang di keluarkan abang, seketika membuatku terpaksa untuk menatapnya dari belakang. Mataku yang menajam mulai melemah, melihat matanya yang sayup-sayup sendu.
Entah mengapa, rasa kasihan tiba-tiba saja menyergap ku. Aku merasakan banyak beban yang abang pikul lewat matanya. Namun aku tidak pernah tahu 'apa yang membuat abang bisa sampai kacau seperti ini.
“Abang sangat mencintaimu Lea.. ” ucapnya lirih, sambil mengusap pipiku lembut.
Orang bilang, kalau manusia yang tengah mabuk dan setengah sadar, pasti berkata jujur. Tapi entah kenapa aku sedikit tidak percaya akan hal itu. Mengingat reaksinya yang menolak keras keberadaan janin di dalam perutku.
“Kalau ada dia, abang tidak bisa memainkan ini dengan leluasa. ” suara serak abang, terdengar begitu nyata di samping telingaku.
Abang menyentuh buah dadaku, dia sedikit meremasnya, namun kembali berpindah, hingga ke bawah perutku. “Abang tidak bisa bermain denganmu lagi, karena ada dia, Lea.. ” ujar abang seolah sedang mengadu kepadaku.
Aku menggeleng keras, aku membalikkan tubuhku setengah, agar lebih leluasa untuk memandangnya. “Tidak abang... Tidak... ” jawabku lembut, sangat tidak setuju akan statement yang ia katakan.
“Tentu Leaa... Kau akan fokus kepadanya. Dan melupakan abang. ” kekeuh abang, masih dengan pendapatnya.
Hampir saja isakanku keluar, melihat abang yang sepertinya sangat tersiksa. “Tidak ada bercinta... Dan juga cumbuan.. ” lanjut abang lagi, dengan wajahnya yang kini memelas.
Aku sudah tak tahan lagi, aku menubruk tubuhnya, hingga kembali terjatuh di atas ranjang. Kucium keningnya lamat-lamat. Ia balas menggulingkanku dengan ciuman di bibir, yang sedikit kasar?
Abang menarik lepas seluruh kain yang melekat di tubuhku. Ia ciumi setiap jengkal di tubuhku hingga meninggalkan bekas merah. Abang memasuki dengan cepat. Ia juga meremas payudaraku kasar. Membuat diriku melenguh sakit, dan bukannya nikmat.
Abang kembali melakukan penetrasi setelah aku mencapai puncak ku. Ia tetap melanjutkan hubungan intim ini hingga membuatku menahan isak tangis.
Aku kembali menarik celana abang yang sempat turun hingga dengkul. Tadi abang yang menurunkannya secara tergesa-gesa. Aku pun juga kembali memakai kaus oblong kebesaran ku agar tidak kedinginan.
Ia kembali menatap mataku, aku mengusap rahangnya yang di tumbuhi cambang kasar. “Akan tetap ada bercinta, Abang. ” ucapku gemetar, dengan mata berbinar, menahan kristal bening yang akan segera jatuh.
Abang menjauhkan tubuhnya dari tubuhku, kurasakan ranjang ini sedikit berdecit, saat ia menjatuhkan tubuhnya rebah di sampingku dengan spontan. Bahuku ikut terguncang karena hal itu, namun bukan disaat sekarang saja. Karena sepanjang malam, aku tetap menangis meratapi apa yang sedang terjadi.
“Leaa, abang mencintaimu sayang. ”
“Kenapa harus ada dia. ”
“Abang tidak menginginkannya sekarang Leaa... ”
“Bisa kah kau suruh ia pergi untuk sesaat? ”
Aku tidur memunggungi abang yang tidur terlentang di sampingku. Tidak ada kecupan, atau pelukan hangat yang biasa ia berikan. Hanya ada racauan-racauan orang mabuk, yang mengatakan bahwa ia mencintaiku. Dan tetap mengadu kepadaku, bahwa aku akan menduakan kasih sayangku padanya.
Sepertinya malam ini, abang bukanlah abang yang aku kenal.
... ★★★...
...Author point of view....
Wanita itu berjalan sempoyongan di atas trotoar, heels tingginya ia copot lalu ia lemparkan secara asal. Matanya memerah bukan karena pengaruh anggur, ataupun minum-minuman keras.
Matanya memerah karena menangis merasa malu atas kejadian yang menimpanya satu jam lalu. Saat orang yang ia cintai sepenuh hati mempermalukan dirinya di depan teman-temannya.
“Awas aja! Gue bikin si Alee-Alee itu sengsara! Udah ngerebut Mas Angga dari gue, seenaknya gitu aja. Kalo enggak ada dia, pasti gue udah ama Mas Angga sekarang, hiks!”
Tangisan Cindy meraung-raung di sepanjang perjalanan. Bahkan temannya Cintya saja, tidak ingin menemaninya saat setelah ia di tinggalkan oleh Angga.
Memang tidak ada yang berani buka suara, atau mencemoohnya. Tapi Cindy ingat betul umpatan dari Angga yang mengatakannya *****. Membuat pandangan jelek dari orang-orang, mengarah penuh kepadanya.
“Gara-gara cewek murahan itu gue jadi di permalukan kayak gini! Pokoknya semua orang yang udah buat gue kaya gini. Hidupnya akan sengsara! Hiks! ” ancam Cindy berupa janji pada dirinya sendiri.
Cindy terus berjalan untuk pulang ke tempat tinggal, satu-satunya. Memangnya dimana lagi,tempat yang akan menerima Cindy jika bukan di kediaman Keluarga Kusumo.
Walau ia tinggal terpisah di paviliun kecil tempat para maid tidur. Cindy sering kali menyombongkan dirinya, karena berkata bahwa ia tinggal satu atap dengan anggota Keluarga Kusumo.
“Mas Angga harus sama gue!! Cuman gue yang lebih cocok untuk jadi istrinya! Bukan Ale-Ale seperti itu! ”
Umpatan Cindy terus terdengar. Ia kadang menangis, dan kadang tertawa. Meluapakan segala unek-unek dalam hatinya yang menumpuk dalam.
...Author point of view off....