MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
35 : penuturan dokter riliana!



...Author point of view....


“Tapi mengapa Pak Angga tidak bisa menghormati wanita yang notabenya adalah istri Pak Angga sendiri?” tanya dokter itu membuat Angga tercengang.


“Baiklah kalau memang sudah menjadi keputusan Pak Angga ingin menunda untuk memiliki anak. Tapi bukan berarti setelah anak itu ada, Pak Angga bisa menundanya lagi.” lanjut Dokter Riliana sambil menatap Angga seksama.


“Saya bilang kesehatan Ibu Aleaa memang baik, tapi tidak dengan pikiran dan batinnya. Ibu Aleaa tampak sangat tertekan, Pak Angga.” jelas Dokter Riliana menekankan setiap kalimat yang ia ucapkan.


“Imunnya turun drastis dari saat kemarin ia di nyatakan hamil. Ibu Aleaa menjadi murung dan tidak ber semangat. Itulah pemicu demamnya terjadi, bukan karena cuaca di sekitar atau apapun. Tapi karena tekanan yang terjadi dalam dirinya.”


Ujar Dokter Riliana sedikit naik pitam, bukan tanpa alasan ia merasa marah seperti ini. Itu karena Dokter Riliana, yang sudah bertahun-tahun di percaya menjadi Dokter andalan keluarga Angga. Bahkan saat Bu Kusumo hamil anak keduanya pun, Dokter Riliana yang menanganinya.


Tapi melihat sebutir pil kontrasepsi di kamar anak temannya, Dokter Riliana sangat kecewa. Apalagi ia tahu Bu Kusumo sangat menginginkan cucu di umurnya yang sudah tua.


Angga menelan ludahnya kasar, tenggorokannya seakan tercekat dan juga kering.“Lalu apa yang harus saya lakukan Dokter? Saya sangat menyesal telah melakukan hal itu.” ujar Angga setelah diam dari keterkejutannya.


“Pak Angga hanya perlu menghilangkan tekanan yang telah Pak Angga lakukan kepada Ibu Aleaa. Dengan begitu demamnya akan turun, dan kondisi janin akan stabil.” jawab Dokter Riliana sedikit menyisipkan sindiran halus.


“Baiklah Dokter. Tapi saya mohon jangan memperkeruh keadaan dengan mengatakan hal ini pada siapa pun.” titah Angga dengan raut wajah serius, yang di jawab anggukan patuh oleh Dokter Riliana.


“Asal Pak Angga tidak berusaha untuk membuat Ibu Aleaa tertekan lagi, saya pasti akan menjaga rapat-rapat hal ini.” balas Dokter Riliana dengan sebuah syarat.


Angga mengangguk, “Biarkan saya mengantar anda keluar.” ujar Angga yang setidaknya dapat membuat Dokter Riliana tersenyum sedikit, karena merasa di hargai.


...★★★...


Angga sudah kembali kedalam rumah setelah mengantarkan Dokter Riliana ke pintu utama. Ia langsung menuju kamarnya bersama Aleaa, yang saat ini masih di isi oleh Ibu dan Neneknya.


Bu Kusumo dan nenek Kusumo sedang bercanda ria dengan Aleaa. Senyum tipis terbit di bibir Angga, melihat Aleaa yang sudah bisa tersenyum, bahkan sesekali tertawa.


“Angga dulu tuh, kaya bolang banget. Keling gara-gara sering main sama anak-anak kampung di rumah buyutnya. Panas-panasan setiap hari. Pokoknya enggak bisa diem deh kayak jagoan. ”


“Tapi dia tuh jagoan kalo di luar doang! Tapi kalo dirumah?? Masih ngompol! ” kedua mata Nenek Kusumo melotot antusias. Aleaa dan Bu Kusumo tertawa renyah mendengat hal itu.


“Sampai akhirnya bapak mertuamu itu beliin capung buat nge gigit si Angga. Saking papahnya itu kesel liat Angga yang ganti-ganti kasur setiap minggunya!”


Mata Angga membulat gusar, ia langsung memasuki kamar tanpa ketukan terlebih dahulu karena memang pintu itu sudah setengah terbuka karenanya.


Masuknya Angga ke dalam kamar, membuat tawa pecah tiga wanita kesayangannya, menjadi diam seribu bahasa. Angga menghembuskan nafasnya pasrah, pasti ia akan di ceramahi setelah ini.


“Angga. Pokoknya nenek masih kesel sama kamu, karena kamu udah lalai jagain Aleaa. Awas aja kamu apa-apa in cucu Nenek. ” ancam nenek Kusumo garang, Angga mengangguk saja, enggan memperpanjang obrolan.


“Leaa, Mama sama Nenek mau siapin makan pagi dulu ya. Kamu sama Angga di kamar aja, biar nanti sarapannya di anterin.” ujar Bu Kusumo mengusap rambut Aleaa lembut.


“Tapi Leaa udah sembuh kok Ma. Nanti Leaa ke bawah aja. ” jawab Aleaa berusaha meyakinkan. Ia merasa tak enak kalau hanya berdiam diri saja.


“Enggak boleh. Pokoknya kamu harus sama Angga aja disini. Jangan ke mana-mana sebelum bener-bener fit, oke?” ujar Nenek lebih dulu menyela, memastikan.


Aleaa hanya mengangguk pasrah, meng-iyakan ucapan Nenek dan Ibu mertuanya. Akhirnya kedua wanita itu pun keluar tanpa menatap Angga sedikit pun.


“Mereka kenapa sih, Yang?” tanya Angga bingung, sambil menutup pintu dan menguncinya.


Aleaa tidak menjawab, ia memutar tubuhnya menjadi memunggungi Angga dalam posisi kedua kakinya yang duduk bersila. Angga menghela nafas. Ia lupa bahwa ada hal yang perlu di selesaikan dengan Aleaa.


“Leaa, maafkan abang.” ujar Angga tulus. Ia duduk di pinggir ranjang, tepat di belakang Aleaa yang memunggunginya.


...Author point of view off....