
...Author point of view....
“Aleaa hanya ingin abang berada di kamar selama seharian penuh, tanpa ponsel ataupun yang lainnya! Seperti apa yang abang lakukan pada Leaa.” jawab Aleaa semangat dengan air wajah yang menunjuk keceriaan.
“Ha?!”
“Ishh yasudah kalau abang menolak. Biarkan Leaa saja yang berlama-lama disini. Abang tidak perlu menemani Leaa!” gertak Aleaa merasa kesal, ketika keinginannya ingin di tolak.
“Bu-bukan begitu sayang.” ujar Angga berusaha menjelaskan, namun Aleaa dengan cepat berkacak pinggang, “Baiklah.” ucap Angga pasrah.
“Aku tidak akan miskin jika sehari saja tidak bekerja.” ucap Angga berbisik dalam batinnya.
Aleaa tersenyum senang, ia mengecup pipi Angga cepat. “Pokoknya sebelum Leaa menghampiri abang, abang tidak boleh melarikan diri!” sungut Aleaa memberi peringatan.
“Bagaimana aku bisa lari jika yang menahannya adalah perempuan galak seperti dirimu.” ujar Angga tanpa sadar, menikmati keinginan istrinya yang sangat mudah, namun diluar nalar.
Aleaa tersenyum lebar, lalu ia mencubit pipi Angga lumayan keras, hingga menimbulkan ringisan sakit dari sang empu. “Kau ini kalau mencubit pakai perasaan bisa tidak sih?!” sewot Angga kesal akan kebiasaan istrinya.
“Masa mencubit pakai perasaan sih, mana ada abang.” jawab Aleaa tak kalah sewot, Angga berdecak kesal, namun seperkian detik kemudian ia kembali berucap.
“Baiklah, abang akan di sini. Sesuai keinginanmu, Sayang. ”
Aleaa pun akhirnya tersenyum senang, ia mengambil aba-aba untuk mengecek keadaan suaminya yang masih mengenakkan setelan jas lengkap. “Kau mau apa Leaa?!” sentak Angga terkejut, saat Aleaa mengambil ponselnya.
“Melakukan apa yang abang lakukan pada Leaa lah.” jawab Aleaa acuh, dan tetap mengambil tiga buah ponsel pada setelan jas suaminya.
Angga menghembuskan nafas pasrah, ia masih mengingat tentang insiden tersebarnya berita tak mengenakkan. Dan seharusnya ia akan mengurusnya sekarang, namun karena tak ingin membuat Aleaa menjadi ragu untuk memaafkannya kembali, Angga hanya menurut saja.
Aleaa tersenyum puas, “Pokoknya abang harus disini saja. Leaa mau ke bawah bertemu Ibu dan yang lainnya. Leaa mau jalan-jalan bersama mereka. ” pekik Aleaa senang, membuat Angga mendelik kesal.
Saat Angga ingin merebahkan dirinya ke kasur, dengan cepat Aleaa menahannya. “Apa lagi?!” tanya Angga malas, Aleaa hanya cengengesan saja.
“Jajan!” jawab Aleaa sambil mengadahkan tangannya kepada Angga.
Angga tak habis pikir dengan Aleaa, ia segera mengambil dompet yang berada di saku, dan akan segera memberikan kartu ATM-NYA.
Angga mengerutkan keningnya, “Leaa! Satu kartu saja akan cukup untuk memberi makan tujuh turunan kita. Bagaimana kau mau mengambil semua yang berada di dompet abang?!” tanya Angga gregetan.
“Abang tidak boleh pelit dengan ibu hamil tahu! Kenapa sih, begitu saja membentak-bentak Leaa. Lama-lama akan Leaa kunci abang sampai tujuh turunan nih!” ancam Leaa garang, yang tentu saja tidak membuat Angga takut sama sekali.
“Ah baiklah. Terserah kau saja.” desah Angga pasrah, akan sikap keras kepala istrinya yang sulit dI tebak.
Mendengar jawaban itu, Aleaa tersenyum lebar, ia langsung saja mengecup bibir Angga sekilas. Lalu mengecup kening dan kedua pipi Angga juga.
“Abang baik hati sekali sih, Leaa jadi tambah cinta. Terimakasih abang!” seru Aleaa penuh semangat, dengan ceria Aleaa berjalan meninggalkan kamar. Yang sebenarnya tidak ia kunci.
Namun karena tak ingin membuat suaminya kabur-kabur an, Aleaa hanya pura-pura menguncinya saja. Dengan memasukkan badan kunci sekilas, agar memberikan efek suara terkunci saja.
Saat setelah istrinya keluar, Angga langsung memeriksa laptop yang berada di nakas paling bawah ujung ruangan. Di kamar ini terdapat tiga buah laptop, dan Aleaa lupa memintanya, karena ia hanya fokus pada ponsel Angga saja.
Angga segera menghubungi Frank, ia meminta perkembangan kabar berita dari skandal tersebut. Ternyata Cindy sudah berhasil di temukan bersama seorang pria lainnya, yang mengaku adalah pacar dari Cindy. Mengetahui kabar itu, tentu saja Angga menjadi lega.
“Lalu apa lagi?”
“Cindy dan Cintya akan memberikan kesaksian pak, mereka akan mengaku pada media atas perbuatan yang telah mereka lakukan.” ujar Mr.Frank menjelaskan, “Selain itu Cindy juga akan menegaskan bahwa ia dan Pak Angga tidak memiliki hubungan apapun.” lanjut Mr.Frank jujur.
Angga mengangguk meng iyakan,mereka sedang tersambung via video. Menunjukkan wajah masing-masing. Frank tengah berada di rumahnya, sedangkan Angga. Tentu di kamarnya.
“Baiklah, urus segera Frank. Saya tidak ingin ada media yang menunjukkan berita macam-macam lagi.” titah Angga berupa perintah, yang di balas Frank anggukan patuh.
“Baik Pak.”
Sambungan vidio pun selesai. Angga menyandarkan punggungnya pada kepala kasur. Ia mengadahkan wajahnya menatap atap-atap langit kamar, sedangkan tangannya masih berada di atas keyboard laptop.
“Leaa, abang sangat mencintaimu dan bayi kita.” ujar Angga tersenyum tipis, membayangkan wujud anaknya, yang pasti masih sangat lah kecil.
...Author point of view off....