
Aku masih memejamkan mataku, namun aku samasekali belum tertidur, aku was-was menjaga lingerie itu yang masih ada di balik kausku. Abang pasti akan kelimpungan karena mencari barang itu, lagipula siapa suruh membeli barang semacam itu, jadinya aku sembunyikan 'kan sekarang.
“Aleaa, kamu sudah tertidur?” tanya abang mengguncangkan bahuku dari belakang. Aku tidak menjawab, aku mempertahankan sikap pura-pura ter tidurku untuk menghindarinya.
“Aleaa, kita harus bicara. Tadi kenapa kau menyerangku seperti itu? ” tanya abang lagi yang tak ku hiraukan, aku mendengar helaan nafas pasrah dari abang.
“Baiklah, bocah ingusan ini memang seperti kebo jika tertidur.” bisiknya lirih yang masih dapat kudengar. Sontak aku mengeratkan cengkramanku pada guling. Enak saja aku dibilang kebo olehnya.
Aku menyeringit saat mendengar decitan ranjang di sampingku, ternyata abang langsung berbaring. Aku kira ia akan langsung mengecek tas kerjanya, tapi ternyata ia malah tertidur di sampingku.
“Hufts.” aku mendengar helaan nafas lelah darinya. Aku yakin abang pasti lelah bekerja. Ingin rasanya aku memijat tubuh abang sekarang. Tapi itu tak mungkin, secara aku sedang menyembunyikan barang miliknya.
Tubuhku menegang, aku merasakan berat di pinggang ku, tubuhku tertarik oleh tangannya yang kuat untuk merapat pada dada kerasnya yang sekarang menempel di punggungku.
“Aku tau kamu tidak tidur Aleaa. Cobalah rilex.. ” bisiknya lirih, bulu kudukku otomatis meremang, perasaan hangat menjalar keseluruh tubuhku.
Abang memeluk perutku dengan erat, ia menggantikan bantal yang menjadi senderan kepalaku, menjadi lengannya yang sekarang berada di balik kepalaku.
Abang benar-benar memelukku dengan nyaman, ia menghangati tubuhku dengan tubuhnya. Kakiku yang berada diatas pahaku, sekarang menumpu diatas guling. Sedangkan kakiku yang masih terdampar menempel diatas ranjang, kini ia timpa dengan satu kakinya.
Aku pun mulai tertidur pulas, rasa nyaman yang diberikan abang, sangat membuatku terjun kealam mimpi dengan begitu damai.
...★★★...
Pukul 06:00 kediaman Kusumo.
Teriknya sinar matahari membuatku merasa terusik dari tenangnya alam mimpi. Di dalam mimpiku abang mencium bibirku dengan sangat lembut, tapi aku kembali mengingatkan kalau itu hanya mimpi, karena abang memelukku sepanjang malam.
Aku beranjak bangun dengan lunglai, aku menyiapkan baju ganti di ruang walk in closet. Lalu aku berjalan memasuki kamar mandi, kulepaskan seluruh pakaianku dengan acuh, dan memulai ritual membersihkan diri di bawah guyuran air.
Tidak ada waktu setengah jam untukku mandi, aku langsung saja keluar mengenakkan handuk yang melilit di tubuhku, seperti ada yang mengganjal, namun aku mencoba lupakan karena tak ingat. Aku berjalan kearah kaca besar di lemari khusus, pandanganku yang sedang menyisir rambut jatuh kearah ranjang di belakang.
“Abang!” mulutku membulat, aku baru ingat akan barang itu, aku melirik pintu yang tertutup dengan sempurna.
Dengan cepat aku gunakkan pakaianku, lalu kucoba untuk membuka pintu yang aku kunci semalam ini, aku meringis malu, pasti abang sudah mengetahuinya. Aku berjalan kearah pakaian kotor, aku obrak-abrik pakaian ku semalam, tidak ada lingerie samasekali, aku juga mengecek kunci yang berada di kantong hotpants ku, sudah tidak ada juga.
Tok ~ Tok ~ Tok.
Kugigit jariku gugup, aku menarik nafas lalu membuangnya pelan, aku mencoba merapihkan dress selutut yang kugunakkan pagi hari ini, aku berjalan kearah pintu, lalu kubuka pintunya.
“Pagi Nyonya, Pak Kusumo, Bu Kusumo, dan Kakek Kusumo, beserta Tuan Angga, sudah mengikuti acara sehat yang dibuat oleh kepala komplek ini, mereka meninggalkan nyonya, karena tak ingin mengganggu tidur nyenyak nyonya. ”
Ucap pelayan itu secara lembut, aku tersenyum sambil mengangguk, lalu ia kembali berucap.
“Tapi, barusan Pak Angga datang dan menyuruh saya memanggil nyonya untuk segera kebawah. ”
Uppss! Mati aku. Bisa-bisa abang marah setelah ini. Abang pasti akan memarahiku! Oh tidak. Aku takutt!
Lama terdiam, aku segera mengangguk cepat dengan wajah pias, “Nyonya sakit? Wajah nyonya pucat sekali? ” aku buru-buru menggeleng, pelayan ini sangat perhatian padaku, aku tersenyum lebar.
“Engga usah Bik, habis ini aku langsung kebawah. Makasih ya, ” ucapku sebelum akhirnya ia melenggang pergi dari hadapanku.