
Semakin dalam masuk ke rumah, baru aku melihat anggota keluarga sedang duduk di atas ruang tamu khusus. Disana terdapat Kakek, Nenek, Ibu dan Ayah. Abang mengantikan langkahnya saat melihat mereka yang langsung mendekat ke arahku dengan pandangan cemas. Setidaknya aku bersyukur mereka sudah sangat baik terhadap ku.
“Aleaa, kamu baik-baik saja? Kamu tidak apa kan nak? Maaf kan Ibu karena tidak datang ke rumah sakit. Ibu benar-benar shock. Wanita itu memang wanita gila!” seru Ibu Kusumo naik pitam di akhir kalimat. Aku tidak bisa menilai wajah abang, karena wajahnya datar dan tidak ber ekspresi.
Tapi aku bisa melihat kilatan marah dari binar matanya. Apakah abang marah saat Ibu memarahi wanita itu? Hufts, pertanyaan macam apa itu, Aleaa. Tentu saja ia marah karena Ibu telah mengatakan wanita yang dicintainya itu gila.
“Aleaa, kamu sebaiknya langsung ke atas ya. Jaga istirahat mu. Jangan kelelahan. Jangan lagi dirimu bekerja pada Angga oke? Setelah kamu menikah kamu hanya perlu ada di rumah.” ujar Ayah mertuaku tiba-tiba.
Aku tidak merasa tersinggung samasekali. Karena aku menyadari maksud pria itu baik. Mungkin berbeda jika abang yang mengatakan hal itu. Tapi jika aku tidak bekerja dengannya, bagaimana aku membiayai hidupku ketika abang nanti menendangku keluar dari rumah?
“Aleaa, lebih baik kamu ke atas sekarang. Angga jangan biarkan Aleaa di culik lagi oleh orang-orang tidak tahu diri itu. Nenek pastikan kau yang akan mendapatkan akibatnya jika Aleaa kembali di culik.” ancam Nenek Kusumo dengan mata yang menajam.
Baru pertama kali aku melihat Nenek Kusumo seperti ini. Apalagi untuk membelaku. Kakek Kusumo mengangguk tegas. Abang hanya terdiam saja, namun ini membalas ucapan mereka dengan sangat singkat, padat dan jelas.
“Aku akan membawa istriku ke kamar. Aku akan memandikan Aleaa terlebih dahulu baru turun ke bawah.” ucap Abang seketika membuat semburat kemerahan muncul di pipiku.
“Apa-apaan dia? Ia pikir aku mau di mandikan oleh dirinya? Tentu tidak. Hufts, aku bersyukur sekali bisa berada diantara mereka... Tapi kau juga harus siap hati Aleaa. Nanti kau bukan lagi menjadi yang pertama, karena abang akan menikah lagi. ” aku menggerutu lirih dalam batinku.
Abang kembali melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga, dan membawaku masuk ke dalam kamar.
...★★★...
Abang membawaku masuk ke dalam kamar. Setelah sampai dikamar, dia samasekali tidak menunurunkan ku, aku mendongak mendapati abang yang sangat tampan. Rahangnya yang tegas, ditumbuhi cambang tipis yang kasar. Lalu hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang sexy. Hufts, hentikan Aleaa.
Terlalu serius menatapnya, hingga aku tak sadar, bahwa sekarang indra pendengaranku sudah mendengar suara derunya air yang mengalir. Refleks aku menoleh dan sedikit terlonjak dalam pelukan abang.
“Kenapa aku dibawa kesini, Abang!” seruku tak terima, sambil mencoba turun dari gendongannya.
Abang menurunkanku kedalam bathub yang belum samasekali terisi air ataupun busa. Dia memposisikan tubuhku dalam posisi setengah tertidur. Sebenarnya aku malu, namun aku tidak bisa berkutik kalau abang sudah seperti ini.
“Abang tidak akan berbuat macam-macam, sebelum kamu siap Aleaa. Jadi tenanglah. Jadilah kucing yang penurut oke?” titahnya pelan dengan sabar dan lembut.
Aku mengangguk meng iyakan. Abang mulai berusaha melepaskan baju yang ku kenakan. Aku mengangkat kedua tanganku keatas, agar dia mudah melepaskannya. Lalu kuangkat pantat ku sedikir keatas, agar abang bisa menurunkan celana serta dalamanku.
Wajahku berpaling enggan menatapnya, aku malu karena tinggal secercah kain lagi yang menutupi area dadaku, sedangkan yang lain, sudah dilepaskan semua olehnya.
Aku melihat abang yang berdiri dari posisi berlututnya. Ia mengambil sabun cair, dan sabun khusus yang di gunakan untuk menghasilkan busa-busa nantinya.
“Cepat berbalik! ” tegasnya memerintah. Aku mengerucutkan bibirku kesal, dia sebenarnya kenapasih, kadang lembut seperti marmut, dan terkadang kasar seperti singa yang mengaung.
Dengan mudah aku putar tubuhku dengan lutut yang menekuk, agar bisa berputar dan kembali berselonjor. Bak mandi ini bulat, bukan panjang. Hingga memudahkanku. Namun belum sepenuhnya aku kembali menyender pada senderan bathtub, aku sudah merasakan keras pada punggungku.
Refleks mataku membulat penuh, kutolehkan wajahku kebelakang, mendapati dada keras yang berwarna ke coklatan. Bibirku terbuka lebar, lalu kudongakkan wajahku masih dalam posisi memunggunginya.
“Abang mau apa!!” seruku terkejut, namun belum sepenuhnya berhasil menghindar, abang sudah menarik tubuhku untuk merapat pada tubuhnya.
Punggungku menempel jelas pada dadanya yang berotot, juga perutnya yang memiliki abs. Selama aku bekerja dengannya, ia memang rajin nge gym. Tapi tak pernah terbayangkan samasekali olehku jika punggungku bisa bersentuhan langsung dengan perutnya.
“Sstt, jangan berisik! Kalau kamu berisik, abang tidak hanya akan memandikanmu saja! Diamlah Aleaa. ” serunya sambil menarik perutku mendekat, hingga punggung serta bokongku semakin menempel saja pada tubuhnya.
Wajahku memerah merasakan sesuatu yang keras dibawah sana. Ia seperti menusuk-nusuk ku. Membuatku sangat tidak nyaman. Aku pun menggeram kesal, “Abang!! Disuruh diam bisa tidaaakk!!” teriakku lantang.
Abang hanya tertawa keras. Ia pun mulai menyabuni tubuhku dengan telapak tangannya. Mataku terpejam saat merasakan sentuhannya di dadaku. Aku menggigit bibir bawahku. Menahan erangan yang ingin lolos keluar.