MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
46 : satu syarat untuk abang!



...Author point of view....


Angga mengangguk cepat, tampang bodohnya menghiasi pandangan Aleaa sekarang. Angga Kusumo yang terkenal garang dan otoriter dalam bisnis, seketika menjadi pria polos yang sangat naif dan telmi. Telat mikir, di hadapan istrinya.


“Iya insiden, malam di saat Leaa di nyatakan hamil, abang menemani Cindy ke pesta promnight nya. Dia berusaha mencekoki abang Leaa, beruntung abang cepat sadar, hingga akhirnya abang cepat-cepat pulang untuk menemui mu.” jelas Angga jujur, ia menatap lekat mata Aleaa yang menyipit menahan rasa murka.


“Pesta promnight?! Menemani?! Lalu CINDY!” Seru Aleaa keras, tangannya mencengkram masing-masing pundak Angga kuat. Angga menganggukan kepalanya sekilas, menjawabnya.


“Iya sayang, tapi abang berani bersumpah, abang tidak main belakang dengan dirinya. Abang hanya mencintaimu Leaa, hanya mencintaimu!” tekan Angga di setiap kalimatnya, ia merangkum wajah Aleaa erat, berusaha meyakinkan istrinya.


Aleaa menurunkan bibirnya, sebagai senyuman penuh kecewa. “Huhuu, abang jahat sekali!” ujar Aleaa sambil mendorong wajah Angga dengan telapak tangannya.


Aleaa beranjak bangun dari atas kasur, ia mengambil aba-aba untuk segera berlari dari dalam kamar. Namun Angga dengan cepat menahan pinggangnya, “Lepaskan Leaa abang! Dasar buaya darat! Suami menyebalkan! Suami tukang selingkuh! Suami, mmpphh,”


Angga mencium Aleaa tepat di bibirnya, namun hanya dua detik saja, karena setelah itu Angga langsung mendekap kepala Aleaa tepat di dadanya. Angga mengusap punggung Aleaa yang bergetar, ia tetap menahan Aleaa yang meronta-ronta minta di lepaskan.


“Beruntung abang cepat sadar Leaa, abang malam itu sangat frustasi karena kehamilanmu yang mendadak. Abang takut gagal menjadi ayah ketika belum siap. Abang takut Leaa.” ujar Angga sambil berusaha menenangkan Aleaa yang tidak dapat diam.


Aleaa terus menangis dalam pelukan Angga, “Abang membohongi Leaa. Abang pergi dengan perempuan tak tahu malu itu! Abang tahu kalau dia berusaha merebut abang dari Leaa! Tapi ternyata abang memang menaruh hati padanya! Saat Leaa di nyatakan hamil saja, abang memarahi Leaa habis-habisan, namun abang malah bermain dengan wanita ular itu! Abang tidak ada bedanya dengan Cindy!” sentak Aleaa kuat-kuat.


Ia mendorong Angga dengan sepenuh tenaga, hingga akhirnya pelukan itu berhasil terlepas. Sebelum meraih engsel pintu, Aleaa membalikkan wajahnya menatap Angga, yang juga menatapnya kaget.


“Kalau memang abang tidak menerima bayi dalam kandungan Leaa. Leaa bisa mengurusnya sendiri! Leaa bisa mencari uang sendiri!” gertak Aleaa melayangkan jari telunjuknya pada Angga.


“Tapi, tadi kan kau bilang sudah memaafkan abang.” ujar Angga menetralkan nadanya, agar tetap lembut menghadapi istrinya yang sedang marah besar.


“Tidak ada kata maaf untuk abang yang selingkuh! Pokoknya Leaa mau pergi, Leaa mau izin ke Mama. Pasti Mama akan setuju dengan keputusan Leaa.”


Angga menggeram tak terima, “Kalau kau berani melewati pintu itu, abang benar-benar akan marah padamu Leaa!” sergah Angga cepat, matanya menyalang marah.


Aleaa terkekeh hambar, “Seharusnya saya yang marah sama bapak!” sergah Aleaa cepat, sambil menunjuk dada Angga dengan jari telunjuknya. Dadanya membusung dengan wajah yang sedikit mendongak.


“Ooohh, jadi anda sudah kembali menjadi sekretaris saya lagi?!” tanya Angga sambil berjalan menuju tempat Aleaa berdiri.


“Nggak! Leaa enggak sudi jadi sekretaris abang lagi!” rengek Aleaa cepat, sambil menghentakkan kakinya kesal. Ia sudah memutar engsel pintu cepat, berusaha Menghindari Angga.


“Hei! Makanya jangan coba kabur! Dengarkan penjelasan abang dulu, Leaaa! ” gertak Angga mencoba melunak, ia menarik pundak Aleaa untuk menghadapnya. Dan berhasil, akhirnya Aleaa menurut juga.


Wajah Aleaa menunduk dalam. Angga menjepit dagu Aleaa hingga ia bisa menatap wajah cantik istrinya.


“Aleaa pikir abang mengunci Aleaa karena tidak ingin Aleaa belanja lagi abang. Tapi ternyata Aleaa salah, abang mengkhianati Leaa. ” ujar Aleaa menundukkan kembali wajahnya.


“Abang punya alasan lain karena takut memiliki anak Leaa. Tapi ingat. Itu dulu, sekarang abang sudah sangat mencintai engkau dan bayi kita. Mana mungkin abang berniat selingkuh.” balas Angga mengunci pandangan Aleaa, agar tetap menatapnya.


“Lalu apa lagi alasannya? Karena abang malu memiliki anak dari orang yang tidak berada? Tidak setingkat dengan abang. ” jawab Aleaa pelan, matanya berbinar sendu.


“M-maksud abang?” tanya Aleaa gugup, dengan jantung yang bedegup dua kali lebih kencang.


“Kau pikir abang akan memilih mempelai pengganti sembarangan? Kau pikir abang tidak mengenalmu dekat ya? Karena abang yang selalu marah-marah dan membentakmu di kantor. Tapi nyatanya tidak begitu.” ujar Angga datar, sambil mengusap pipi istrinya lembut.


“Sebelum kau menyukai abang, jauh lebih dulu abang yang tertarik padamu. Saat abang menemui gadis yang seperti gelandangan di sebuah club, Abang sudah merasakan feeling yang berbeda.” lanjut Angga lagi,


“Abang tahu dari temanmu, bahwa tujuanmu ke sana untuk mencari pasangan. Karena abang tak terima, makanya abang memaksamu untuk bekerja di kantor abang.” jelasnya jujur.


Aleaa menutup mulutnya tak percaya, mendengar penuturan itu dari Angga. “Tapi kenapa abang tidak pernah mendekati Leaa? Kenapa abang tidak bilang saja pada Leaa, kalau abang sebenarnya menyukai Leaa. Abang justru malah berhubungan dengan banyak wanita ketika di kantor.” ujar Aleaa bingung, sambil mengalungkan tangannya pada leher Angga tanpa ia sadari.


“Abang sudah mendekatimu Leaa, tapi kau saja yang tidak peka-peka. Lagi pula memangnya kau pikir menyatakan rasa suka itu gampang? Tentu saja tidak. Apalagi menyatakannya pada orang yang galak dan cuek seperti dirimu.” balas Angga mendelik kesal, mengingat tingkah Aleaa dulu padanya.


Aleaa tertawa geli, lalu ia kembali bertanya pada Angga, “Kenapa abang tidak ingin memiliki anak? Abang pasti memiliki alasan yang lain..” tanya Aleaa serius, dengan rasa penasaran yang besar.


“Ketika Mama mengandung adik abang, Kenzo. Yang sekarang sedang sekolah di asrama, dulu Papa dan Mama sering kali bertengkar. ” Angga menghembuskan nafas gusar, seolah enggan jika mengingat hal itu.


Aleaa yang cemas melihat ekspresi wajah Angga langsung menghentikan suaminya. “Jangan di lanjutkan abang kalau memang abang tidak ingin mengingatnya. ” ucap Aleaa lembut, namun Angga segera menggeleng.


“Sudah sepantasnya kamu tahu Leaa.” jawab Angga kembali menarik nafasnya, “Abang dulu melihat Papa sering bermain dengan wanita lain di kamar tamu saat Mama sedang pergi dengan Nenek untuk membeli perlengkapan bayi.” lanjut Angga datar.


Aleaa menutup mulutnya terkejut, ia sungguh tidak menyangka jika hubungan mertuanya pernah seperti itu dulu. Karena yang ia lihat sekarang jauh berbeda. Ibu Kusumo tampak biasa-biasa saja, dan akur dengan Pak Kusumo.


“Papa memang sudah meminta maaf, mereka sudah berbaikan. Namun masih membekas di hati abang atas kejadian itu. Hingga saat ini abang masih menyimpan rasa benci pada Papa. ” ujar Angga memincingkan matanya kesal.


Buru-buru Aleaa menggeleng, “Kalau Papa sudah mengakui kesalahannya, dan tidak mengulanginya lagi, abang tidak boleh membenci Papa lagi. Karena bagaimana pun, manusia tidak luput dari kesalahan abang.” balas Aleaa tak terima, jika suaminya menyimpan rasa dendam pada Ayah kandungnya sendiri.


Angga mengangkat wajahnya langsung, ia menjepit dagu Aleaa dengan jarinya. “Berarti kalau begitu abang harus di maafkan juga dong? Secara abang kan sudah menyesali apa yang abang lakukan.” ujar Angga memberikan kompromi pada Aleaa, dengan senyum lebar di bibirnya.


Aleaa bersedekap dada, ia memincingkan matanya sebal. “Itu berbeda abang! Leaa sendiri tidak tahu apakah abang benar-benar akan berubah, atau malah semakin menjadi nantinya.” balas Aleaa kesal.


Angga meringis terkejut, “Tentu abang sudah berubah sayang, abang tidak akan melakukannya lagi. Abang benar-benar khilaf, lagi pula memang Leaa ingin jika abang bermain perempuan terus.” gerutu Angga kesal.


Terakhir ia bermain perempuan adalah disaat beberapa minggu sebelum pernikahannya. Karena Angga merasa frustasi akan menikah dengan perempuan yang samasekali tidak ia cintai.


Aleaa tampak berpikir sekilas, “Hmmm, tapi ada satu syaratnya!” sergah Aleaa berkacak pinggang. Angga menghembuskan nafas lega saat Aleaa mau memaafkannya. Walau harus ada satu syarat.


“Sebutkan saja Leaa, kau ingin tas? Jam tangan? Mobil? Jet pribadi? Atau pulau??” sungut Angga cepat, memberikan tawaran-tawaran manis pada istrinya yang suka sekali menghabiskan uangnya.


...Author point of view off....