MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
11 : lepaskan aku abang!



Tanganku yang semula di atas ranjang, kini naik berusaha mendorong dada nya untuk menjauh, aku terus mengguncangkan tubuhku, supaya ia beranjak pergi, namun yang ku terima malah geraman yang keluar dari bibirnya.


Aku berdecak kesal, aku tak suka jika ia ingin mengajakku kembali bermain-main, aku ingin segera mandi untuk turun kebawah, menyapa anggota keluarga lain, tapi abang malah mengunciku dibawah tubuhnya, memang ia pikir tubuhnya tidak berat apa.


“Minggiir!” titahku kesal, ia bukannya melenggang pergi, malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, kebetulan rambut ku tersingkap sepenuhnya keatas, hingga membuatku merasa sangat geli dengan bulu-bulu cambang nya yang mengusik ceruk leherku.


“Apaansih!” aku mendongakkan wajahku berusaha menghindari kecupan bibirnya di leherku, aku paham apa maksudnya kali ini, pasti ia ingin suatu yang lebih dariku.


Tapi aku malas menerima kenyataan, bahwa dia seperti ini bukan denganku saja, abang adalah seorang player, ia bahkan sering membatalkan pertemuan penting hanya untuk ke kelab. Tak jarang ia meminta ku untuk membeli sebungkus kotak merah yang berlabel fiesta.


Awalnya aku kaget saat secara terang-terangan ia meminta ku untuk membeli hal itu. Namun setelah berpikir cukup keras, aku harus memaklumi kegiatan orang kaya seperti pria yang kini sedang bersamaku. Jika saja saat itu dia adalah suamiku, aku pasti akan marah. Namun saat itu aku masih lah hanya sekretaris nya, yang hanya bisa menurut. Toh dia juga tidak pernah berbuat macam-macam padaku.


"Lepasin!" hentak ku keras, aku belum siap menerima hal yang lebih jauh, sebelum ia berubah menjadi orang yang akan menjadikan ku satu-satu nya.


Kali ini ia memang benar melepaskan ciumannya, namun ia samasekali tidak beranjak dari atas tubuhku, memang ia pikir tidak berat apa. Belum lagi aku merasakan ada yang menusuk-nusuk ku dari bawah. Aku bergidik ngeri merasakan hal itu.


“Kenapa kau sangat membenciku Aleaa?” tanya nya sedikit kesal, aku yakin pasti ia geram dan marah karena penolakan ku.


Aku langsung menggeleng cepat tak terima, “Aku tidak pernah benci dengan abang. Aku tidak terima saja kalau abang menjadikanku wanita yang hanya ditiduri, bukan dicintai!” titahku jelas, awalnya aku kira ia yang akan marah, namun setelah aku mengatakan itu abang menjadi terdiam saja.


Bahkan ia menghempaskan tubuhnya di sampingku, sejenak aku bisa bernafas lega, karena kukungan nya yang membuatku sesak. Aku melirik wajahnya yang terpejam dengan ekor mataku, sebenarnya aku kasihan melihat itu.


Rasanya marah, geram, dan jijik. Itu menjijikan untukku. Maka dari itu aku lebih berhati-hati dengannya, tapi melihatnya yang tak pernah sedikitpun menyentuhku, aku jadi merasa lega. Bahwa ia tidak memiliki niat jahat padaku.


“Abang jangan marah... ” Cicitku merasa bersalah, aku tidak tega rasanya jika melihat wajah Abang yang memelas tanpa ia sadari.


“Aku tidak marah Aleaa...” Jawabnya mengalihkan pandangan kearah lain, tidak menatapku. Aku menghela nafas panjang.


“Kalau Abang tidak marah, jangan seperti itu...” pinta ku memelas sambil menusuk-nusuk lengannya yang keras, dengan jari telunjukku.


Aku lihat ia terkekeh, wajahnya kembali menghadapku, aku memiringkan tubuhku bersamaan dengan dirinya yang juga seperti itu, kita tertidur saling berhadap-hadapan. Ia tersenyum menatapku, sedangkan aku masih menggigit bibir bawahku merasa bersalah.


“Jika kita seperti ini terus, aku tidak bisa tahan Aleaa. ” ujarnya lembut, sontak membuat mataku membulat. Sudah berapa kali ia berucap lembut padaku?


“Tahan apa abang? Jangan ditahan, lepaskan bersama Aleaa..” jawabku mengerti, aku tahu wajahnya berubah menjadi merah, aku sendiri berusaha mengusir rasa malu ku.


Aku paham apa makna ucapannya, aku bukanlah perempuan kemarin sore yang tidak mengerti hal-hal tabu, walaupun aku sendiri belum samasekali pernah mencobanya, aku akan terus menarik ulur hati Abang, supaya luluh, dan berhenti bermain perempuan.